25.9 C
Jakarta
Apr 2, 2020.
Business Construction Industry Top News

Bagaimana Prospek Bisnis Rental Alat Berat di Asia Tenggara?

Asia Tenggara – yang meliputi Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura, Kamboja dan Filipina – adalah wilayah yang menjanjikan bagi sektor persewaan, dengan prospek proyek-proyek infrastruktur besar dan pergeseran dinamika tenaga kerja yang memberi alasan untuk meyakini bahwa model rental akan semakin meningkat untuk diadopsi. Berikut ini laporan Thomas Allen tentang peluang bisnis rental alat berat di kawasan Asia Tenggara yang dilansir www.khl.com.

Alat-alat bekas Caterpillar dari Divisi Rental & Used Equipment PT Trakindo Utama (Dok. Trakindo)

Grant Keller, Rental Services Manager Caterpillar untuk Kawasan Asia Pasifik, melihat adanya indikasi positif untuk pertumbuhan industri rental alat berat di kawasan Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan. “Indikator-indikator pasar menunjukkan prospek positif dengan pertumbuhan yang diharapkan untuk beberapa tahun ke depan,” ujarnya, seperti dilansir khl.com. Berbagai faktor mendorong pertumbuhan ini, menurutnya, antara lain, karena banyak kontraktor tidak memegang kontrak jangka panjang, sehingga menyulitkan mereka untuk membeli alat sendiri. Salah satu opsi paling mungkin dalam kondisi seperti ini adalah memanfaatkan peralatan rental. 

Dia juga menunjuk proyek-proyek infrastruktur pemerintah yang muncul setelah pemilihan umum baru-baru ini di beberapa negara di kawasan Asia Tenggara, seperti di Indonesia.

Salah satu megaproyek infrastruktur yang tentu saja mempengaruhi kawasan ini adalah Belt and Road Initiative (BRI)  dari China untuk secara efektif mengembalikan rute perdagangan Jalur Sutra antara Asia dan Eropa.

Ma Zhongyi, Direktur Penjualan Kawasan Asia-Pasifik XCMG, mengatakan, “Karena implementasi strategi BRI China secara bertahap dan mendalam di Asia Tenggara, saat ini, perusahaan-perusahaan besar mengadopsi strategi aset-ringan ketika mengontrak proyek-proyek luar negeri, dan lebih banyak mesin konstruksi disewa secara lokal atau atas dasar ‘sewa-dulu beli-nanti’ (hire-first buy-late).

Pendekatan ini, menurut dia, juga mempromosikan perkembangan industri-industri rental lokal. Melihat lebih dekat pada masing-masing negara di kawasan ini, pasar sewa alat berat/konstruksi di Indonesia sedang berkembang, digambarkan oleh Zhongyi sebagai “relatif matang”.

Taeick Kim, Direktur Tim Bisnis Asia Tenggara Doosan Bobcat, mengatakan, “Di Jakarta dan wilayah-wilayah terdekat, ada ratusan perusahaan rental ukuran kecil hingga menengah. Perusahaan-perusahaan tersebut  juga menjual mesin-mesin baru dan bekas.” Ia menambahkan bahwa pasar rental di kawasan ini menikmati pertumbuhan yang stabil.

Namun, tantangan bagi Doosan Bobcat adalah bahwa perusahaan-perusahaan penyewaan di Indonesia tidak terbiasa dengan merek Doosan-Bobcat, dan harga-harga produk-produk Bobcat masih lebih tinggi daripada merek-merek Jepang yang populer – faktor kunci bagi perusahaan-perusahaan rental yang sensitif dengan harga.

Sementara itu, pasar Malaysia lebih fokus pada alat berat daripada mesin-mesin kecil (compact equipment). Kim mengatakan, “Mayoritas pelanggan cenderung memiliki alat berat yang kompak daripada menyewa.”

Kontraktor-kontraktor utama lebih suka membeli mesin-mesin yang lebih kecil dan memanfaatkan karyawan-karyawan mereka sendiri untuk mengoperasikan dan merawat alat-alat itu. Mereka memiliki akses ke tenaga kerja asing yang relatif murah dari tempat-tempat seperti Bangladesh, Nepal dan Myanmar. Padahal, karyawan-karyawan itu sering memperlakukan peralatan mereka dengan kasar.

Sebagai anggota Persemakmuran dan tetangga dekat Singapura, Malaysia telah mengalami perkembangan yang relatif cepat di masa lalu, menurut Zhongyi; “Pedagang-pedagang Malaysia juga menjalin hubungan yang baik dengan rekan-rekan mereka di Jepang, Australia, dan Hong Kong.” Akibatnya, pasar sewa untuk peralatan konstruksi, secara keseluruhan, cukup matang.

Zhongyi mengatakan bahwa pertumbuhan pasar Malaysia juga dibantu oleh proyek-proyek infrastruktur yang dilakukan sebagai bagian dari BRI China.

Selain itu, “Malaysia memiliki populasi lebih dari 30 juta, yang mencakup wilayah yang lebih kecil, sehingga sebagian besar proyek di Malaysia relatif kecil, dengan periode konstruksi yang pendek dan biaya rendah,” kata Zhongyi. Akibatnya, kontraktor-kontraktor memilih sewa sebagai strategi yang lebih hemat biaya daripada membeli peralatan dalam jumlah besar.

Di Thailand, di mana ada banyak perusahaan rental kecil, “pasar makin  tumbuh dalam beberapa tahun terakhir,” menurut Zhongyi. Pertumbuhan ini, katanya, didorong oleh masuknya alat-alat bekas dari Jepang dan negara-negara lain di mana mesin konstruksi sangat maju.

Mengomentari Singapura, Zhongyi mengatakan ada banyak perusahaan penyewaan di sana, dan “ketika terjadi penurunan ekonomi, beberapa proyek akan dimulai untuk menggerakkan perekonomian”.

Meskipun pasar konstruksi di Kamboja sangat panas, bisnis sewa tidak begitu kuat. Zhongyi bilang, “Ada banyak perusahaan yang didanai Cina, tetapi sebagian besar peralatan mereka dibeli dan jarang disewa. Saat ini, hanya sedikit mesin pembuat jalan XCMG, seperti roller, yang disewakan.”

Menurut Kim, tidak ada persewaan yang kuat di Vietnam, dan perusahaan-perusahaan rental yang ada fokus pada peralatan yang lebih besar, tetapi pasar diyakini memiliki potensi besar.

Berbagai tantangan dan tren

Armada rental Terra Rent dari PT Intraco Penta Wahana (IPW) – salah satu anak usaha dari Intracopenta Group (Dok. EI)

Mempertimbangkan tantangan-tantangan dan tren-tren umum di pasar sewa Asia Tenggara, para pekerja asing murah yang dipekerjakan di beberapa negara memiliki reputasi kurang merawat mesin-mesin saat mereka menggunakannya. Menurut Keller, salah satu tantangan besar untuk bisnis sewa di kawasan ini adalah mesin-mesin yang rusak karena minimnya perawatan, di samping ketepatan waktu dalam membayar sewa.

Bagaimanapun, ini harus berubah, ketika pasar matang. Keller mengatakan, “Asia Tenggara adalah kawasan yang sedang berkembang dan jaringan dealer Cat terus bekerja sama dengan para pelanggan untuk memahami kebutuhan-kebutuhan sewa mereka. Seiring bertambahnya usia, para customer akan mencari penyedia solusi jenis layanan rental satu atap (one-top rental service) .”

Masalah lain dengan tenaga kerja adalah sulitnya mendapatkan tenaga-tenaga operator yang terampil, yang merupakan isu khusus di Malaysia, menurut Zhongyi. Sebagian dari problem ini disebabkan karena akses yang sulit ke lokasi-lokasi kerja; “Karena infrastruktur yang buruk di daerah pedesaan, operator belum tentu mau bepergian ke luar kota untuk bekerja,” ujar Zhongyi.

Ada juga tantangan geografis dan budaya: “Ada perbedaan dalam pengabsahan peralatan, hari-hari libur dan bea cukai antara negara bagian Malaysia, dan Malaysia Barat dan Timur dipisahkan oleh lautan. Hal ini menghambat pengembangan bisnis rental alat,” kata Zhongyi.

Dia berharap bahwa pengaruh mesin-mesin Cina di Malaysia akan tumbuh, mengambil pangsa pasar dari merek-merek Jepang, Jerman dan AS yang telah mendominasi pasar dengan mesin bekas mereka.

“Diyakini bahwa seiring perkembangan zaman, pemerintah Malaysia akan mengeluarkan regulasi-regulasi tentang periode masa pakai mesin, dan peralatan baru dari Tiongkok secara bertahap akan menggantikan mesin-mesin bekas dari merek Jepang, Eropa dan Amerika,” kata Zhongyi.

Memang, salah satu karakteristik yang sangat penting dari pasar sewa Asia Tenggara adalah pengaruh perusahaan Jepang, seperti yang telah disinggung.

Banyak proyek pembangunan besar yang sedang dilakukan di kawasan ini didanai oleh investasi asing, seringkali dari Jepang, serta Cina dan AS. Secara umum, proyek-proyek yang didanai Jepang ditangani oleh kontraktor-kontraktor Jepang, yang menggunakan perusahaan-perusahaan rental Jepang atau mesin-mesin buatan Jepang, menurut Kim.

“Kami telah melihat dan mengalami bahwa pa brikan-pabrikan Jepang bekerja sama dengan penuh semangat dan strategis dengan perusahaan-perusahaan rental Jepang yang dimiliki oleh investor-investor Jepang atau melalui usaha patungan,” kata Kim.

Persaingan di antara berbagai pemain untuk mempromosikan dan mengembangkan model rental di Asia Tenggara adalah tanda bahwa kawasan tersebut memiliki potensi yang belum dimanfaatkan. 

Pengaruh Jepang

Mini excavator Yanmar dari Probesco Kanamoto Rental (Dok. EI)

Asia Tenggara memiliki peluang pertumbuhan yang menarik bagi empat perusahaan penyewaan besar Jepang – AKTIO, Nikken, Kanamoto, dan Nishio Rent All. Masing-masing perusahaan rental itu telah membangun operasi di negara-negara di kawasan itu, karena berbagai alasan dan dalam berbagai struktur kepemilikan, termasuk usaha patungan, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki, dan kepemilikan minoritas dan mayoritas.

Ada beragam produk yang serupa, dari penyewaan peralatan konstruksi standar dan aerial platform, hingga mesin-mesin forklift, crane, dan rental acara/pameran.

Mungkin Kanamoto yang paling aktif dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2015 perusahaan rental ini telah mendirikan perusahaan patungan baru di Indonesia, Vietnam, Thailand, Filipina dan Malaysia. Saat ini juga sedang mendorong penyewaan jangka panjang dari alat-alat tambang dan quarry yang sangat besar di Cina.

Meskipun banyak anak perusahaan rental di Asia Tenggara berukuran kecil, beberapa di antaranya signifikan, seperti bisnis AKTIO di Thailand, yang memiliki sembilan lokasi dan lebih dari 400 karyawan.

Dengan berinvestasi di wilayah tersebut, perusahaan yang termasuk empat besar itu berharap mendapat manfaat dari tingginya investasi infrastruktur di sana. Mereka juga ‘mengurangi risiko’ bisnis mereka dengan melakukan diversifikasi di luar Jepang, meskipun hal itu tetap menjadi tujuan jangka panjang daripada yang dicapai saat ini. Pasar-pasar baru ini juga merupakan cara sempurna bagi Kanamoto untuk mendistribusikan kembali armada bekasnya dari Jepang, baik melalui penjualan atau dengan menggunakan armada-armada anak perusahaan saat itu.

Beberapa juga berkembang di luar Asia Pasifik. Nishio memiliki dua kepemilikan saham perusahaan rental yang signifikan di Australia – termasuk spesialis aerial platform Skyreach – dan AKTIO mendirikan perusahaan rental patungan dan untuk penjualan di Bangladesh pada tahun 2015.

Di bawah ini adalah ringkasan dari anak-anak perusahaan utama mereka di Asia:

Kanamoto

Indonesia (PT Kanamoto Indonesia & PT Probesco Kanamoto Rental)

China (Kanamoto (China) Investment Co Ltd)

Hong Kong (pemegang saham AP Rentals)

Singapura (Kanamoto & JP Nelson Equipment (S) Pte Ltd, patungan)

Thailand (Siam Kanamoto Co Ltd)

Filipina (KNK Machinery & Equipment Corp)

Vietnam (Kanamoto Fecon Hassyu Construction Equipment Rental)

Nikken

Indonesia (PT Berlian Amal Perkasa – saham minoritas)

Myanmar (Diamond Rental Myanmar Co Ltd)

Thailand (NDT (Thailand) Co Ltd)

Thailand (TSK Diamond Rental Co Ltd- crane rental)

Nishio Rent All

Indonesia (PT Nishio Rent All Indonesia)

Australia (Skyreach – Nishio, saham mayoritas)

Australia (Fork Force Group Pty Ltd – Nishio, memegang saham mayoritas)

China (Nishio Rent All Shanghai – rental untuk pameran/event)

Hong Kong (Nishio T&M (Hong Kong) Co Ltd)

Malaysia (Nishio Rent All (M) Sdn. Bhd.)

Singapura (Nishio Rent All Singapore Pte Ltd)

Thailand (Nishio Rent All (Thailand) Co Ltd)

Vietnam (Nishio Rent All Vietnam Co Ltd)

AKTIO

Indonesia (PT AKTIO Equipment Indonesia)

Malaysia (AKTIO Malaysia Sdn Bhd)

Myanmar (AKTIO Myanmar Co Ltd)

Bangladesh (AKTIO Bangladesh, JV dengan Nobeeco Ltd)

Singapura (AKTIO Pacific Pte Ltd dan Trans-Euro Pte Ltd))

Taiwan (AKTIO Taiwan, perusahaan patungan)

Thailand (AKTIO (Thailand) Co Ltd)

76 total views, 2 views today

Related posts