25.9 C
Jakarta
Apr 2, 2020.
Aftermarket Top News

Ini Hasil Pemakaian B30 pada Alat Berat

Bagaimana hasil uji coba pemakaian B30 pada alat-alat berat yang dilakukan Balitbang Kementerian ESDM?

Uji coba lapangan pemakaian B30 di Adaro (Kredit foto: Balitbang ESDM)

Kebijakan untuk memanfaatkan Bahan Bakar Nabati (BBN), khususnya biodiesel (bio-fuel), sudah ditetapkan sejak 2008.  Pemerintah pun sudah menetapkan peta jalan (road map) penggunaan biodiesel. Secara bertahap dimulai dari B2,5, kemudian B5; B10; B15 dan mulai September 2018 lalu sudah meningkat menjadi B20. Dan mulai 1 Januari tahun ini, pencampurannya ditingkatkan menjadi B30.

Dadan Kusdiana, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) ESDM mengatakan sebelum meningkatkan campuran biodiesel, pihaknya terlebih dahulu melakukan pengujian mulai dari laboratorium, test bench hingga tes di lapangan. Dalam tahap pengujian ini, tidak hanya internal pemerintah tetapi  juga melibatkan berbagai stakeholder di luar pemerintah baik di sisi produsen maupun konsumen. Konsumen misalnya, Agen Pemegang Merek (APM) untuk kendaraan. Sedangkan untuk alat berat, menurutnya, pihaknya menggandeng Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi).

Untuk B30 proses pengujiannya sudah dimulai akhir 2018 lalu. Kemudian Mei 2019 mulai tes untuk kendaraan sampai 50.000 kilometer atau ekuivalen dengan 1.000 jam. Berdasarkan tes tersebut, November 2019 pihaknya mengeluarkan rekomendasi untuk menjalankan B30. 

Hasilnya, dari sisi kinerja daya (horse power) ada yang turun sampai 1,7%, tetapi ada juga yang naik sampai 1,6%. Demikian juga untuk konsumsi bahan bakar, menurutnya, ada yang konsumsi bahan bakarnya lebih boros 2,6%, tetapi ada juga yang lebih hemat 3,6%. “Jadi kosumsinya plus minus 2,5%. Tergantung engine,” ujarnya kepada Equipment Indonesia di kantornya di kawasan Cipulir, Jakarta Selatan, Kamis (6/2).

Dadan mengatakan, hasil pengujian pada kendaraan ini menjadi baseline untuk penggunaan B30 pada segmen lain seperti pada alat berat, kereta api, kapal laut dan sebagainya. Asumsinya, bila pengujian pada kendaraan atau otomotif lolos, maka pada alat berat juga lolos karena mesin otomotif relatif lebih kompleks.

Tes lapangan pemakaian B30 di tambang PT Berau Coal

Meski demikian, Balitbang ESDM tetap melakukan pengujian rekonfirmasi penggunaan B30 pada alat berat. Pengujian rekonfirmasi ini dilakukan di pertambagan milik Adaro, KPC dan Berau Coal. Hasil dari pengujian rekonfirmasi ini sedang dievaluasi. Ia mengungkapkan ada satu tempat di KPC yang sudah sampai 2.000-an jam dari target 2.500 jam, karena pengujian rekonfirmasinya dimulai sejak Oktober tahun lalu. Tetapi untuk di Adaro dan Berau Coal, baru dimulai November. Karena terkendala cuaca hujan sehingga tidak beroperasi, proses pengujian rekonfirmasi ini baru sampai 1.500 jam.

Tetapi, secara umum, menurutnya, hasil pengujian pada alat berat ini juga tidak beda jauh dengan pada otomotif. Dari sisi kinerja dan konsumsi bahan bakar, sama seperti pada otomotif, ada yang naik dan ada yang turun. Tetapi masih dianggap wajar baik oleh kontraktor tambang maupun dealer alat berat.

Setelah kebijakan mandatori B30 ini dijalankan sejak 1 Januari lalu, menurut Dadan, hingga saat ini pihaknya belum menerima komplain dari stakeholder pengguna. Kementerian ESDM sendiri membuka hotline di nomor 136 sebagai saluran untuk menyampaikan berbagai keluhan dari pengguna.

“Sampai sekarang tidak ada yang menyampaikan komplain. Artinya, kalau saya simpulkan, ini belum ada masalah atau kami punya keyakinan tidak ada masalah dengan spek biodiesel-nya,” ujarnya.

Dadan menjelaskan fase paling kritis memang ketika masih dalam kondisi B100. Pada fase ini peluang untuk terjadi penurunan kualitas sangat tinggi karena sifat biodiesel yang higroskopis dan ada tendesi melakukan aksi oksidasi. Karena itu, dalam fase ini hindari melakukan interaksi dengan udara.

Berdasarkan kajian Balitbang ESDM, proses blending atau pencampuran menjadi B30 harus dilakukan dalam waktu tidak lebih dari enam hari. Sedangkan untuk B30 sendiri, menurutnya, bisa disimpan untuk waktu enam bulan.  Karena itu, ia tak khawatir biodiesel yang diterima konsumen kualitasnya sudah turun sebab diterimanya sudah dalam bentuk B30, bukan lagi B100.

Menurutnya, pihak Kementerian ESDM melakukan pemantauan kualitas dan juga volume mulai dari B100 hingga proses pencampuran. Sampel dari B100 terlebih dahulu dikirimkan ke pihak Balitbang untuk memastikan spek-nya sesuai dengan yang ditentukan. Sebelum dicampur juga akan diverifikasi dan dimonitor apakah kualitasnya masih sama. “Jadi kualitas itu ada sebelum berangkat dan pas mau dicampur. Kemudian, ketika mau diterima oleh badan usaha BBM (Pertamina) itu dicek lagi kualitasnya,” ujarnya.

Kewajiban menggunakan B30 ini sudah berlaku sejak 1 Januari lalu. Dan menurut Dadan, tidak ada peluang atau celah untuk tidak menggunakan B30. Kecuali memang ada kebijakan relaksasi untuk wilayah dataran tinggi dengan suhu di bawah 9 derajat Celcius seperti untuk wilayah operasi Freeport Indonesia. Sebenarnya, biodiesel hanya mampu digunakan pada suhu minimal 12 derajat Celcius. Tetapi berdasarkan ujicoba di dataran tinggi Dieng, suhu 9 derajat Celcius pun masih bisa berkerja.

Rencana B40 dan B50

Test bench pemakaian B30 di PT Trakindo Utama

Presiden Joko Widodo saat kick off program B30 beberapa waktu lalu mendorong agar penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) ini tidak berhenti di B30, tetapi terus ditingkatkan menjadi B40, B50 hingga mencapai B100.

Dadan mengatakan saat ini pihaknya sedang melakukan uji teknis untuk B40 dan B50. Tahapannya saat ini masih pengujian di laboratorium. Tahapannya akan sama seperti pada B30 dimana semua stakeholder baik dari pemerintah maupun produsen dan pengguna ikut dilibatkan. Rencananya, Juli nanti, menurut Dadan, baru akan keluar rekomendasinya.

Ada dua scenario untuk meningkatkan penggunaan BBN ini. Pertama, B30 yang ada sekarang ditambahkan 10% menjadi B40. Tetapi spek biodiesel-nya ditingkatkan. Misalnya kadar air dan monogliserida-nya diturunkan. Dadan mengatakan spek biodiesel yang digunakan saat B20 berbeda dengan spek biodiesel yang digunakan untuk B30. Untuk biodiesel pada program B30 kadar airnya sebesar 350 ppm. Sedangkan kadar air pada biodiesel B20 mencapai 500 ppm. Untuk monogliserida, untuk biodiesel pada B20 sebesar 0,8%. Sedangkan yang saat ini pada B30 sebesar 0,55%.

Bisa saja hasil uji teknis nanti, tidak merekomendasikan untuk tidak menambahkan campuran menjadi B40. Karena itu, saat ini juga sedang diwancanakan green fuel. Menurut Dadan, arahnya memang ke depan untuk yang di atas B30, mengunakan green fuel. Bahan dasarnya sama dari sawit, tetapi sifatnya 100% sama dengan solar. Sehingga mau dicampur berapa pun tidak masalah.

Tetapi karena green fuel ini lebih mahal, maka kemungkinan penggunaannya bertahap berbarengan dengan kesiapan kilangnya. Mislanya, pada tahap pertama 10% green fuel akan ditambahkan pada B30 yang ada sekarang sehingga menjadi B40. #

58 total views, 1 views today

Related posts