
Brand CHL masih asing di pasar material handling Indonesia. Wajar memang, brand asal Negeri Tirai Bambu ini merupakan pemain baru. Diageni oleh PT. Indonesia Equipment Center (IEC), CHL memiliki serangkaian produk material handling yang siap membantu customer melakukan pekerjaan mereka.
Sebagai pemain baru, IEC cukup agresif memperkenalkan produk-produknya. Menurut Tito Sugiarto, General Manager IEC, CHL Material Handling adalah varian terbaru dari produk HELI yang diproduksi dengan kualitas ekspor. Pabrikan ini sudah memiliki pengalaman puluhan tahun memproduksi alat-alat berat konstruksi, termasuk forklift. HELI sendiri adalah produk material handling yang sudah cukup terkenal dan masuk top ranking di negara asalnya, Tiongkok.
“Jika HELI dibuat untuk memenuhi pasar dalam negeri, maka CHL adalah brand yang khusus dijual di luar negeri, termasuk Indonesia. Soal kualitas, tidak perlu diragukan,” ungkap pria yang akrab disapa Tito ini. Ia tidak mau menyamakan produk-produk CHL ini dengan mesin-mesin material handling sejenis asal negeri Tiongkok. “Produk-produk CHL yang kami ageni memiliki kualitas yang tinggi serta disain dan layanan purna jual yang prima,” dia beralasan.
Produk-produk CHL, lanjut Tito, diproduksi satu pabrik dengan HELI. Pada tahun 1985, HELI menjalin kerja sama dengan TCM Manufacturing di Tiongkok. Hal ini memungkinkan produk-produk CHL memiliki model, main frame, dan komponen-kompone yang sebagian besar mengadopsi dari TCM.
CHL mengeluarkan beragam tipe produk, dan IEC memasarkan semua produk material handling CHL di tanah air mulai dari forklift baik yang menggunakan engine power maupun elektrik, warehouse truck, port machinery untuk menangani kontainer di pelabuhan, airport equipment, towing, hingga attachment.
“Produk-produk material handling tersebut memiliki cakupan yang sangat luas, karena dapat dimanfaatkan di pelabuhan, pabrik, transportasi, logistik, jasa rental dan lain sebagainya,” ia memaparkan. Selain memasarkan produk-produk material handling, IEC juga memiliki divisi proyek yang mencakup produk-produk seperti genset dan vibratory hammer yang banyak digunakan di proyek-proyek konstruksi.
Salah satu problem utama dari banyak produk alat berat buatan Tiongkok, khususnya di segmen forklift yang dipasarkan di Indonesia adalah sistem jual putus. Tito pun mengakui hal tersebut dan memahami kekhawatiran kalangan industri ketika mempertimbangkan untuk memanfaatkan alat bantu forklift. Tapi ia menegaskan, IEC sebagai distributor tunggal sangat memperhatikan kebutuhan customer akan layanan purna jual yang baik bagi setiap produknya.
“Kami memiliki komitmen penuh dengan principle, juga dengan customer-customer kami dan komitmen internal manajemen perusahaan bahwa kami akan memberikan layanan yang prima terhadap produk-produk yang kami sediakan,” tutur Tito.
Sesuai dengan tagline-nya, ‘Leading in Service Innovation’, IEC ingin mendapatkan nilai tambah di mata customer. Tito mencontohkan, saat customer membeli produk dari IEC dan terpaksa menunggu karena barang yang dibutuhkan termasuk kategori inden, maka IEC akan memberikan skema agar customer tetap bisa bekerja dengan meminjam alat dari IEC atau rental dari pihak ketiga dengan biaya yang ditanggung oleh pihak IEC.
“Kita ingin memberikan unique selling point-nya bukan melulu dari segi harga murah saja, namun juga kepuasan customer,” ujarnya berpromosi. Terkait kekhawatiran customer mengenai ketersediaan suku cadang, Tito juga menjamin IEC memiliki stok hingga 100%. “Bukannya melebih-lebihkan, namun kami menjamin ketersediaan parts hingga 100% karena stok ada di unit. Misalnya, jika ada customer yang yang butuh parts, namun stok di gudang sedang kosong, maka strategi kami adalah dengan melakukan kanibal dari unit lainnya,” tukas Tito.
Lantaran belum setahun berdiri, IEC yang berkantor di bilangan Kelapa Gading ini baru memiliki cabang sekaligus merangkap warehouse di Kranggan, Pondok Gede. “Target kami hingga pertengahan tahun depan, IEC sudah memiliki cabang di kota-kota besar di Semarang, Surabaya dan Palembang. Sampai akhir tahun depan komitmen kami adalah menjangkau seluruh pulau Jawa dengan membuka lebih banyak kantor cabang di kota-kota besar di Jawa,” tandasnya.



















