Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Iklan Multi
Iklan Multi
Example 728x250
BusinessMiningTop News

Covid-19 Menginfeksi Industri Tambang

78
×

Covid-19 Menginfeksi Industri Tambang

Share this article
Example 468x60
Industri pertambangan Indonesia melakukan berbagai langkah untuk mengendalikan dampak destruktif dari pandemi virus corona baru (Covid-19).
Excavator tambang Liebherr R9150 (Foro: Liebherr)

Wabah penyakit virus corona baru (Covid-19) tak hanya telah mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga membuat roda perekonomian berputar lambat. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya tumbuh 2,3%, jauh di bawah tahun lalu yang sebesar 5,02%.  Tetapi Indonesia masih lebih baik dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan minus 3% pada tahun ini menurut International Monetary Fund (IMF).

ALTRAK

Kelesuhan ekonomi Indonesia sudah tergambar dalam Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dipublikasikan Bank Indonesia (BI) pada 13 April lalu. Hasil SKDU mengindikasikan bahwa kegiatan dunia usaha menurun pada triwulan I-2020. Hal ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada triwulan I-2020 sebesar -5,56%, turun cukup dalam dibandingkan 7,79% pada triwulan IV-2019.

Turunnya kegiatan usaha terjadi pada sejumlah sektor ekonomi seperti sektor Industri Pengolahan, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, sektor Pertambangan, sektor Pengangkutan dan Komunikasi, serta sektor Konstruksi. “Hal tersebut terutama disebabkan oleh adanya penurunan permintaan dan gangguan pasokan akibat wabah Covid-19,” tulis BI dalam publikasinya.

Sejalan dengan kinerja kegiatan usaha, kapasitas produksi terpakai dan penggunaan tenaga kerja pada triwulan I-2020 tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, kondisi keuangan dunia usaha dari aspek likuiditas dan rentabilitas masih cukup baik, meski menurun pada triwulan I-2020, dengan akses terhadap kredit perbankan yang relatif normal.

Pada triwulan II-2020, responden memperkirakan kegiatan usaha akan meningkat, dengan SBT sebesar 2,13%. Berdasarkan sektor ekonomi, diperkirakan peningkatan kegiatan usaha terutama terjadi pada sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan (SBT  1,57%) seiring dengan masih berlangsungnya panen padi di beberapa daerah, serta sektor Jasa-jasa (SBT 1,32%).

Potret industri tambang di tengah pandemi

Excavator tambang Caterpillar 6015B yang dipasarkan PT Trakindo Utama (Foto: EI)

Hasil survei BI mencatat kegiatan usaha sektor Pertambangan dan Penggalian pada triwulan I-2020 masih tumbuh negatif. Hal ini terindikasi dari SBT kegiatan usaha sebesar -0,62%. Meski pertumbuhannya minus, tetapi sudah lebih kecil dibandingkan triwulan IV 2019 yang minus 1,25%.

Menurunnya harga minyak dunia serta curah hujan yang tinggi membatasi operasi sektor Pertambangan dan Penggalian. Sementara itu, tingkat penggunaan tenaga kerja sektor Pertambangan dan Penggalian pada triwulan I-2020 terindikasi sedikit menurun dengan SBT jumlah tenaga kerja sebesar 0,20%, menurun dibandingkan 0,32% pada triwulan sebelumnya.

Sejak Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi global pada 11 Maret lalu, sejumlah perusahaan tambang merasakan dampaknya. Dampak yang paling tersa adalah dalam hal pengaturan man power atau tenga kerja di lapangan yang harus disesuaikan dengan protokol pencegahan Covid-19.

Baca Juga :  Mengenal Lebih Dekat Mini Excavator Cat 307.5 Next Gen

“Jasa pertambangan saat ini masih belum ada pengaruh signifikan, kecuali kebijakan tertutup, man power yang tinggal  di mine site tidak bisa keluar (cuti) dan yang di luar (cuti) tidak bisa masuk ke mine site,” ujar Frans Kesuma, Ketua Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (Aspindo) kepada Equipment Indonesia, Selasa (14/4).

Frans mengatakan dampak lain yang dirasakan oleh para kontraktor tambang adalah terganggunya pasokan suku cadang (spareparts) alat berat. Meski, menurutnya, pasokan masih normal, tetapi frekuensi delivery atau pengiriman menjadi menurun.

Cut Fika Lutfi, Sekretaris Perusahaan PT Vale Indonesia Tbk, mengatakan  tekanan dan pelambatan perekonomian regional dan global yang diakibatkan oleh merebaknya Covid-19 berdampak terhadap harga komoditas dunia, termasuk nikel yang menjadi produk Vale. Ia mengatakan karena formula penjualan produk Nikel Matte milik Vale Indonesia didasarkan pada referensi harga nikel di London Metal Exhange, maka melemahnya harga nikel tersebut berpengaruh terhadap kinerja keuangan Perseroan.

“Namun demikian, Perseroan memiliki Perjanjian Penjualan Jangka Panjang yang bersifat wajib beli dengan konsumen. Hal ini memberikan kepastian bahwa semua hasil produksi Nikel Matte akan dikirimkan kepada konsumen,” ujar Cut Fika dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada 30 Maret lalu.

Lebih lanjut Cut Fika menjelaskan  Perseroan belum mengalami kendala dalam hal pasokan bahan baku sehingga kegiatan operasional Perseroan masih berjalan normal. Namun demikian, Perseoran juga dengan sungguh-sungguh melakukan langkah antisipasi guna mengurangi dampak menyebarnya Covid-19 terhadap kegiatan operasional.

“Untuk mengurangi paparan interaksi karyawan, Perseroan telah menerapkan kebijakan work from home bagi karyawan pendukung kegiatan usaha dengan memanfaatkan tekhnologi daring yang tersedia. Hal ini sesuai dengan imbauan pemerintah, baik pusat maupun daerah. Perseroan juga mengambil segala tindakan yang diperlukan guna mendukung para karyawan yang tidak dapat meninggalkan tempat kerjanya terutama di Departemen Pertambangan dan Fasilitas Pengolahan, seperti bantuan logistik dan keuangan, penyemprotan disinfektan pada kendaraan bergerak dan di lokasi kerja yang kritikal, melakukan pemeriksaan suhu tubuh menggunakan pengukur suhu tembak (thermo gun), penerapan social distancing, serta penyediaan hand sanitizer di beberapa titik dan Alat Pelindung Diri yang memadai,” jelasnya.

Vale Indonesia, jelasnya, juga telah menyiapkan Business Continuity Plan untuk mengantisipasi dampak yang lebih serius dari penyebaran Covid-19 ini terhadap kegiatan operasional Perseroan. “Skenario produksi kami kembangkan berdasarkan tingkat penyebaran, ketersediaan tenaga kerja dan juga faktor-faktor teknis dan non-teknis lainnya. Perseroan akan senantiasa mengedepankan kesehatan dan keselamatan pekerja dalam pengambilan keputusan terkait kegiatan operasional,” ujarnya.

Baca Juga :  INTA kian fokus garap pasar non-tambang

Di tengah pandemi Covid-19 ini, harga minyak dunia yang turun, menurut Cut Fika, justru menguntungkan Vale Indonesia. Ia mengatakan penurunan harga minyak dunia sejak awal tahun berperan dalam penurunan biaya produksi mengingat sekitar 30% kontribusi biaya operasi berasal dari biaya bahan bakar minyak.

Perusahaan tambang batubara,  PT Golden Energy Mines Tbk juga masih mengoperasikan pertambangannya di tagah pandemi Covid-19. Manajemen telah mengambil langkah-langkah proaktif dalam menerapkan praktik  social distancing di ruang kerja dan memberlakukan work from home untuk karyawan yang berlokasi di Jakarta untuk meminimalisir penyebaran Covid-19.

“Sampai saat ini kegiatan operasional tambang Perseroan masih beroperasi dengan melakukan peningkatan langkah-langkah kesehatan dan keselamatan dimana manajemen melakukan pemantauan yang intens terhadap kegiatan operasional Perseroran,” ujar  Sudin, Sekretaris Perusahaan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia 24 Maret lalu.

Karena masih beroperasi, ia mengatakan keuangan perusahaan pun dinilai masih kuat untuk menghadapi dampak buruk dari covid-19. “Manajemen Perseroran yakin bahwa meskpun terdapat ketidakpastian tentang seberaepa cepat situasi Covid-19 akan terkendali dan mengingat langkah-langkah yang telah diambil serta kesehatan finansial Perseroan, tidak ada dampak negatif terhadap kelangsunga usaha Perseroan smpai dengan tanggal surat ini,” ujar Sudin.

Perusahaan tambang emas dan tembaga PT Merdeka Copper Gold Tbk juga masih beroperasi dengan tetap menerapkan protokol pencegahan Covid-19. Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia pada 31 Maret lalu, manajemen Merdeka menjelaskan Perusahaan terus mengoperasikan tambangnya di Tujuh Bukit dan Wetar serta terus melanjutkan proyek ekspansinya dengan beberapa pembatasan untuk tindakan pencegahan Covid-19.

Disebutkan bahwa semua jalur pasokan untuk kedua proyek tersebut tetap terbuka. Pemeriksaan atas persediaan pasokan telah dilakukan dan rencana langkah-langkah mitigasi telah dirancang untuk memastikan persediaan pasokan penting mencukupi untuk kegiatan operasional. Pada proyek di Tujuh Bukit, perusahaan memiliki stok bijih yang dapat diproses jika diperlukan.

Langkah-langkah pencegahan dan mitigasi untuk memastikan keamanan karyawan dan masyarakat sekitar tempat operasi.  Perjalanan bisnis oleh karyawan di kantor pusat Merdeka terus dibatasi, dan karyawan di kantor pusat di Jakarta disarankan untuk bekerja dari rumah.

“Sedangkan di lokasi tambang dan proyek pengembangan, kami telah menerapkan beberapa langkah kontrol untuk menangani wabah Covid-19, termasuk membatasi akses ke lokasi tambang yang bersifat tidak penting, pre-screening untuk semua karyawan atas gejala dan riwayat perjalanan dengan adanya kemungkinan terpapar Covid-19, program edukasi pencegahan Covid-19, dan langkah-langkah persiapan untuk menangani apabila terdapat kasus terduga Covid-19 di lokasi tambang,” jelas manajemen Merdeka.

Tetap beroperasi dengan menerapkan protokol mitigasi juga diterapkan oleh PT Kapuas Prima Coal Tbk. Perusahaan tabang timbal dan zinc ini telah melakukan langkah-langkah preventif sejak Januari 2020, dimana perusahaan melakukan monitoring terhadap seluruh aktifitas keluar masuk karyawan dan operasi perseroan, termasuk di dalamnya monitor terhadap suhu tubuh, pencatatan riwayat perjalanan, pencatatan riwayat jenis penyakit 2-3 bulan sebelumnya, dan disinfektasi di setiap lokasi.

Baca Juga :  Probesco Perkenalkan Case Excavator CX210B

“Protokol ini kami jalankan baik di lokasi penambangan, pelabuhan maupun kantor pusat sesuai dengan rujukan dari Pemerintah Pusat. Tujuan dari Tindakan preventif ini untuk memastikan seluruh kegiatan produksi tidak terhambat,” jelas Hendra S. William, Direktur oleh PT Kapuas Prima Coal Tbk dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada 23 Maret lalu.

Hendra mengatakan pandemi Covid-19 ini juga berdampak pada harga komoditas seng (zn), timbal (Pb) dan perak (Ag). Namun, ia mengatakan tidak akan terlalu berpengaruh kepada perusahaan.

“Karena kami sudah mengamankan kontrak penjualan hingga bulan Juni 2020. Fluktuasi harga komoditas global adalah risiko yang sudah sering kami hadapi. Kami justru terus meningkatkan produksi supaya perputaran kas dapat berjalan lancar,” ungkapnya.

Tak beroperasi dan kehilangan kontrak

Articulated hauler Volvo

Bila masih ada perusahaan yang tetap mengoperasikan tambangnya dengan berbagai protokol mitigasi, ada juga perusahaan tambang yang terpaksa menghentikan operasionalnya. Perusahaan tambang batubara, PT Bayan Resources Tbk misalnya, memutuskan menghentikan operasional pertambangan di kecamatan Tabang, kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sejak 25 Maret lalu hingga 14 Mei.

Tambang tersebut dioperasikan oleh tiga anak usahanya yaitu PT Bara Tambang dan PT Fajar Sakti Prima sebagai pemegag izin operasi produksi dan PT Indonesia Pratama sebagai kontraktor yang mengerjakan.

“Penghentian kegiatan operasional tersebut dilakukan dengan memperhatikan himbauan dan arahan dari Pemerintah terkait dengan pandemi global wabah virus corona (Covid-19). Hal ini dilakukan guna menghindari penyebaran Covid-19 di kedua wilayah tambang tersebut yang memiliki jumlah tenaga kerja yang cukup banyak,” tulis Direktur PT Bayan Resources Tbk ,Alastair Mcleod dan Russell Neill, dalam keterangan kepada Bursa Efek Indonesia pada 15 April.

Pengalaman tragis juga dialami oleh perusahaan batubara  PT Alfa Energi Investama Tbk. Karena pandemi Covid-19 ini, Perseroran mengalami pembatalan kontrak jual beli batubara dengan salah satu buyer dengan nilai kontrak senilai -/+ US$ 2,8 juta.

“Pembatalan kontrak jual beli batubara tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan Perseroran pada kuartal pertama tahun ini,” ujar Lyna, Direktur Keuangan sekaligus Sekretaris Perusahaan dalam keterbukaan informasi kepada BEI pada 20 Maret 2020. EI

Iklan Berca