
Tanpa meninggalkan bisnis intinya, beberapa perusahaan tambang mulai beralih dari bisnis produksi batubara ke pengembangan bisnis Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Bagaimana perkembangannya?


PT Bukit Asam Tbk (PTBA) selama ini identik dengan batubara. Demikian juga dengan PT United Tractors Tbk melalui anak usahanya, PT Tuah Turangga Agung (TTA). Keduanya dikenal sebagai produsen batubara. Namun, seiring dengan menguatnya dorongan untuk mengembangkan energi yang ramah lingkungan, tanpa meninggalkan bisnis inti mereka, kedua perusahaan itu mulai melakukan transisi ke bisnis Energi Baru dan Terbarukan (EBT).
PTBA sudah mempersiapkan diri dengan sebuah rencana jangka panjang yang disebut peta jalan (roadmap) hingga tahun 2050 terkait dengan pengembangan bisnis EBT. Suryo Eko Hadianto, Direktur Utama PTBA, mengatakan, pengalihan dari batubara, sebagai suatu sumber energi paling murah, ke EBT merupakan suatu tantangan. Kehadiran EBT adalah tuntuntan dunia supaya kita tetap mampu mempertahankan (sustain) hidup di dunia.
Dunia dan segala isisnya, termasuk lingkungan harus dijaga dan dirawat dengan baik. Setiap orang mempunyai kewajiban untuk memelihara, menjaga dan merawat lingkungan hidup. “Kita berharap, supaya dunia ini tetap terjaga dari aspek lingkungan, maka tuntutan dunia harus kita sikapi secara positif. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, kita memang harus menyelamatkan dunia ini secara bersama-sama. Kita harus bersama-sama menjaga keberlanjutan (sustainability) lingkungan hidup,” tegas Suryo.
Dia menyebutkan beberapa hal yang harus dilakukan PTBA untuk menyikapi hal tersebut. Pertama, PTBA harus siap bertransformasi bisnis dari batubara ke energi, dan di energi ini PTBA harus masuk ke EBT. Karena bagaimanapun EBT adalah energi masa depan, energi yang sangat ramah terhadap lingkungan. PTBA akan masuk ke sana.
Dalam menyikapi hal ini, PTBA seperti halnya nasehat Nabi Besar kita “bekerja dan berusahalah seperti kamu akan hidup seribu tahun lagi, tetapi berdoalah seolah-olah besok pagi kamu akan mati”. Nah, demikian juga dalam bisnis batubara. Saat ini, PTBA tetap berupaya semaksimal mungkin dalam bisnis batubara seolah-olah bisnis “emas hitam” ini tidak pernah ada akhirnya, tetapi tetap harus mempersiapkan transformasi bisnis seolah-olah besok pagi batubara sudah tidak laku lagi. Dengan kerangka berpikir seperti itu, maka kapanpun juga bisnis batubara mengalami penurunan, PTBA sudah siap, mungkin paling siap.
Suryo mengemukakan, PTBA sudah mempunyai roadmap sampai dengan tahun 2050. Dalam roadmap itu PTBA mewuwujudkan visinya sebagai perusahaan energi dan kimia kelas dunia yang peduli lingkungan.
Itu dari sisi rencana. Dari sisi kegiatan yang langsung bisa dilihat, tahapan pertama PTBA masuk ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berbasis batubara. Jadi, lompatannya tidak jauh dari batubara, sehingga terukur.
Suryo menjelaskan, PTBA sudah masuk ke PLTU kecil 2×8 MW di Pelabuhan Tarahan, 3×10 MW di Tanjung Enim, 2×120 MW di Kabupaten Lahat, itu PT Bukit Pembangkit Innovative (BPI), anak perusahaan PTBA. Sekarang PTBA sedang develop 2×620 MW yang dikenal sebagai PLTU Sumatera Selatan (Sumsel) VIII. Pembangunan PLTU Sumsel VIII ini diperkirakan selesai pada awal tahun 2022 dan sudah bisa beroperasi pada akhir tahun 2022. Memang ada sedikit permasalahan di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam hal penyerapan, sehingga mengalami kemunduran waktu dari penyerapan pembangkit. Tapi kalau pembangkit sendiri sudah siap di awal tahun 2022.
Untuk PLTU Sumsel VIII ini, PTBA menggunakan teknologi canggih, yaitu Teknologi Ultra Super Critical. Ini merupakan teknologi pembangkit listrik yang memiliki tingkat efisiensi yang lebih baik dalam menghasilkan energi listrik. “Kami sudah menggunakan teknologi Ultra Super Critical di PLTU Sumsel VIII, sehingga emisi karbonnya sudah bisa direduksi sampai 90%, sehingga PLTU ini cukup ramah terhadap lingkungan, karena emisinya tinggal 10 persen. PLTU Sumsel VIII merupakan PLTU Mulut Tambang terbesar, tidak hanya di Indonesia tapi juga di Asia Tenggara dan berpotensi menyuplai listrik terbesar untuk seluruh Sumatera,” katanya.
Terkait hilirisasi batubara, menurut Suryo, dalam hal ini gasifikasi batubara, bagi PTBA merupakan sebuah keniscayaan. Kenapa keniscayaan? Semua orang pasti tahu bahwa tekanan terhadap bisnis batubara cukup kuat dari dunia, sehingga kita tidak pernah bisa menghindar.
Sesuai hukum alam tentang life cycle of product, industri batubara akan mengalami hal itu. Suatu saat nanti batubara ini akan redup, akan tidak digunakan lagi. Supaya sustain, kita harus mempersiapkan produk derivatifnya yang bisa dipakai untuk bisnis yang lebih luas, tidak hanya sekedar dibakar. Ini adalah sebuah lantera, sebuah cara supaya kita tidak masuk dalam kegelapan batubara.
Bagi PTBA, kata Suryo, ini memang sebuah proyek yang diupayakan supaya bisa running well. “Kami yakin ini akan running dengan baik, dan mendapatkan dukungan cukup kuat dari Permintah di era Presiden Joko Widodo (Jokowi). Presiden sendiri sangat mendukung program hilirisasi batubara. Saat ini, PTBA bekerja sama dengan salah satu investor dari Amerika Serikat, yaitu Air Products, dan sebagai off taker nanti adalah PT Pertamina (Persero) untuk menggarap proyek gasifikasi batubara menjadi Dimethyl Ether (DME).”
Saya melihat, dia meneruskan, dukungan Pemerintah sangat besar untuk gasifikasi batubara. Hal ini membuat transformasi ke produk hilirisasi dari batubara lebih dimudahkan dan akan tereksekusi dengan baik. Saat ini, hampir semua perjanjian tiga pihak, antara PTBA, Pertamina dan Air Products sudah relatif soft, apalagi dengan dukungan Pemerintah.
Suryo menambahkan, untuk tahun 2022, target produksi batubara PTBA sebanyak 35-37 juta ton. Target tersebut sekitar 16,7-23,3 persen di atas perkiraan produksi batubara PTBA pada tahun 2021 sebanyak 30 juta ton. Hingga Oktober 2021, PTBA sudah memproduksi 25,7 juta ton batubara. “Saya yakin, PTBA bisa mencapai target produksi 30 juta ton hingga akhir tahun 2021,” kata Suryo.

Menekuni bisnis Energi Terbarukan tentu tidak mudah, karena proses transisi dari batubara membutuhkan jalan panjang, seperti diakui PT United Tractors Tbk (UNTR) yang juga sudah mulai menjalani bisnis yang terbilang baru ini.
“Proses transisi nasional dari energi berbasis batubara ke renewable energy membutuhkan waktu yang panjang, mengingat kebutuhan energi untuk lebih dari 250 juta jiwa tidak akan mudah dipenuhi jika hanya mengandalkan renewable energy,” kata Sara Kristi Loebis, Sekretaris Perusahaan UNTR.
Saat ini, menurut Sara, UNTR sudah mulai merintis langkah-langkah ke bidang tersebut, melalui pengembangan PLT Mini Hydro (PLTMH) dan pengembangan bisnis Solar PV. “Kami masih mempelajari bentuk-bentuk renewable energy lainnya yang dapat memetik manfaat atau dipacu dari kompetensi dan portfolio UNTR,” ujarnya.
UNTR, kata Sara, optimistis bahwa bisnis alat berat tetap dibutuhkan meski porsi pertambangan batubara akan menurun. “Mengenai masa depan pertambangan, walaupun porsi pertambangan batubara mungkin akan mulai menurun, pertambangan mineral untuk kebutuhan renewable energy tetap masih membutuhkan alat berat. Sementara itu, produsen alat berat (principal) terus mengupayakan pengembangan produk alat berat yang makin efisien bahan bakar atau berbasis elektrik,” ujar Sara.
Melansir laporan bulanan yang diterbitkan di laman UNTR, anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) itu perlahan terus melakukan transisi korporasi. Dalam upaya pengembangan usaha di sektor energi yang ramah lingkungan, UNTR telah menetapkan bisnis EBT sebagai salah satu strategi transisi korporasi. Salah satunya adalah pengembangan dan penggunaan teknologi Solar Photovoltaic (PV).
Melalui anak usahanya, PT Energia Prima Nusantara (EPN), UNTR telah memasang solar PV di sejumlah perusahaan dalam grup UNTR dan Astra di wilayah Jabodetabek mencapai 1,2MWp. Sampai dengan akhir tahun 2022, ditargetkan akan terdapat penambahan instalasi baru sebesar 10MWp dan diharapkan akan meningkat pada tahun berikutnya.
UNTR juga melakukan studi pengembangan beberapa proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bersama mitra usaha yang memiliki reputasi dan pengalaman di bidang tersebut. Potensi proyek yang dibidik masing-masing memiliki kapasitas di atas 10MW di area Sumatra dan Sulawesi.
Untuk kapasitas yang lebih kecil, UNTR telah membangun dua Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM), yaitu PLTMH Kalipelus berkapasitas 0,45 MW di Jawa Tengah dan PLTM Besai Kemu di Lampung yang memiliki kapasitas sebesar 7MW. PLTM Besai Kemu saat ini masih dalam proses konstruksi dan diperkirakan akan beroperasi pada akhir tahun 2022. Selain itu, UNTR juga sedang mengembangkan beberapa proyek PLTM lainnya dengan total potensi lebih dari 18MW di area Sumatra.
Selain itu, UNTR aktif melakukan studi, tinjauan dan MoU untuk mengembangkan jenis energi terbarukan lainnya seperti Floating Solar PV, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), Hybrid Solar PV dan Battery Storage, serta Waste to Energy.
Di segmen usaha energi, PT Bhumi Jati Power (BJP) yang 25% sahamnya dimiliki oleh anak perusahaan UNTR saat ini sedang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 2×1.000 MW di Jepara, Jawa Tengah. Hingga bulan Juli tahun 2021, progres konstruksi proyek ini telah mencapai 99%. BJP merupakan perusahaan patungan bersama antara anak usaha Perseroan, Sumitomo Corporation dan Kansai Electric Power Co Inc. (WS/YM)
















