Program e-catalog mendongkrak penjualan alat berat konstruksi, terutama ke sector pemerintahan, menurut Ketua PAABI Djonggi Gultom.

Di tengah kelesuan industri pertambangan akhir-akhir ini, pertumbuhan sektor konstruksi dan infrastruktur menumbuhkan secercah harapan bagi para produsen dan delaer alat berat konstruksi di Indonesia. Program pembangunan infrastruktur yang terus dipacu oleh pemerintahan Joko Widodo menggenjot penjualan barang-barang modal tersebut. Sepanjang semester I 2016 saja sudah terjual separuh dari target penjualan yang dipatok sebanyak 6000 unit sepanjang tahun berjalan.
Demikian diungkapkan Ketua Perhimpunan Agen Alat Berat Indonesia (PAABI) Djonggi Gultom seusai diskusi bertajuk “Sikap dan Tindak Lanjut atas Putusan MK, Alat Berat Bukan Kendaraan Bermotor” yang diselenggarakan ASPINDO di Jakarta, Kamis (23/6).
Djonggi mengatakan, secara angka PAABI memproyeksikan pada tahun 2016 ini terdapat sekitar 6000-an unit yang akan terjual. Proyeksi itu optimis bisa tercapai mengingat jelang berakhirnya semester I tahun ini, jumlah alat yang sudah terjual sudah mendekati separuhnya.
“Sampai semester I tahun ini alat-alat yang sudah terjual masih kurang dari separuhnya. Jadi, masih di bawah 3000 unit. Tapi kami yakin trennya akan terus meningkat,” ungkapnya meyakinkan.
Faktor utama yang memicu peningkatan penjualan alat berat, menurut Djonggi, adalah kian gencarnya pemerintah membangun proyek-proyek infrastruktur. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) saja pada tahun 2016 ini membutuhkan sekitar 10.525 unit alat berat konstruksi.
“Yang menjadi tumpuan harapan sekarang ini adalah sektor infrastruktur. Proek-proyek konstruksi menjadi primadona. Secara sektoral konstruksi terus naik, sementara sektor tambang drop. Konstruksi naiknya sudah 40 persen, sementara sektor tambang turunnya 50 persen,” urainya menambahkan.
Kalau dibandingkan dengan penjualan tahun sebelumnya, kata Djonggi, penjualan tahun ini turun sampai 20 persen. Namun, kalau dilihat per sektor, pasar konstruksi naik, meski secara total turun 20-25 persen.
Naiknya penjualan alat di sektor konstruksi karena terbantu dengan adanya program e-katalog yang lagi gencar digalakkan pemerintah. “Dengan adanya e-catalog kami terbantu. Penjualan kami sekarang banyak ke sektor pemerintahan, terutama untuk program konstruksi,” jelasnya.
Program e-katalog merupakan sistem informasi elektronik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga barang tertentu dari berbagai penyedia barang/jasa pemerintah, dimana proses audit dilakukan secara online (e-Audit), dan tata cara pembeliannya pun melalui katalog elektronik (e-Purchasing). Program e-catalog diluncurkan oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP untuk mempercepat proses pengadaan barang dan jasa pemerintah. Melalui sistem ini pemerintah bisa memilih barang dan jasa yang akan dibeli melalui website e-catalog LKPP tanpa harus melalui berbagai tahap pelelangan.@



















