31.6 C
Jakarta
14 Mei, 2021.

Dukung Industri Alat Berat Lokal, Kendalikan Produk Impor

Diperlukan langkah-langkah untuk memprioritaskan penggunaan hydraulics excavator kelas medium (kelas 10-40 ton) yang baru dalam proyek-proyek pemerintah dan BUMN sesuai amanat P3DN dan melakukan pengawasan impor alat bekas kelas medium agar penyerapan alat berat produksi dalam negeri bisa maksimal.

Produksi mesin konstruksi jalan SAKAI, pneumatic tire roller, ikut terimbas oleh pandemic COVID-19. (Foto: EI)

Hingga Februari 2021, tantangan yang dihadapi industri alat berat di Indonesia berat sekali, sesuai dengan namanya, seloroh Ketua HINABI Jamalludin dalam acara webinar bertajuk “Outlook Industri Alat Berat Indonesia 2021” yang diselenggarakan oleh Majalah Equipment Indonesia 10 Februari lalu. Sebetulnya, ia mengatakan kondisi  sebenarnya yang sedang terjadi di industri yang padat modal ini. Karena dampak pandemi COVID-19, yang diperparah lagi oleh kepungan produk-produk impor, penjualan alat-alat berat baru produksi dalam negeri turun drastis.

Industri alat berat memang sangat rentan terhadap krisis. Setiap gejolak ekonomi yang melanda Indonesia pasti berefek terhadap pertumbuhan industri ini, seperti yang sedang terjadi saat ini. Krisis ekonomi yang dipicu oleh pandemi COVID-19 yang berlarut-larut membuat industri alat berat nasional tidak berdaya. Itu sebabnya Jamalludin menggambarkan tren kebutuhan alat besar di Indonesia seperti roller coaster, karena cenderung mengalami fluktuasi luar biasa.

Di era sebelum krisis moneter tahun 1998, pasar alat berat nasional didominasi oleh permintaan di sektor konstruksi. Pasca krisis ekonomi dan moneter itu, trennya bergeser ke industri pertambangan, yang mencapai puncaknya pada tahun 2012, dan kembali lagi didominasi oleh pasar konstruksi sekarang ini seiring dengan meningkatnya proyek-proyek infrastruktur pemerintah di berbagai belahan Indonesia.

“Tren pergeseran dari pasar pertambangan ke pasar konstruksi yang terjadi saat ini mencapai lebih dari 50 persen, dan permintaan yang paling banyak adalah mesin-mesin excavator kelas medium, yaitu 10 – 20 ton,” kata Jamalludin sambil menambahkan bahwa perubahan tren permintaan pasar alat berat itu dipengaruhi oleh kondisi harga komoditas utama (batu bara) dan aktivitas-aktivitas pembangunan infrastruktur.

Dari segi produksi, terutama dari tahun 1998 hingga 2020, kondisi produksi alat berat juga naik turun. Pasca krismon 1998, jumlah produksi alat berada di bawah 1000 unit, tetapi terus mengalami kenaikan hingga tahun 2008 sebagai puncaknya sebelum terjadi krisis Lehman Brothers pada tahun 2009.  Namun, kondisinya cepat pulih kembali ke demand awal, dan produksi mencapai level tertinggi pada tahun 2012.

“Saat itu kapasitas produksi di Indonesia berada di posisi 8.000 unit (7.947), dan 70 persen kebutuhan alat berat nasonal dapat dipenuhi oleh industri alat berat dalam negeri,” ujarnya.

Setelah tahun 2012 kembali terjadi penurunan produksi sampai tahun 2018, padahal Hinabi sudah menambah kapasitas produksi sebanyak 10 ribu setelah terjadi lonjakan produksi pada tahun 2012 itu.  Pada tahun 2018, HINABi mencatat rekor produksi baru, yaitu di level 8 ribu unit (7.981), sementara kapasitas produksi di posisi 10 ribu unit.

Setelah tahun 2018, produksi kembali menurun karena pergolakan harga komoditas dan dalam setahun terakhir tertekan oleh pandemi COVID-19. “Pasca pandemi COVID-19, HINABI hanya memproduksi sekitar 3.500 unit atau sekitar 35% dari kapasitas yang ada. Namun, ada khabar gembira untuk tahun 2021 ini, yakni terdapat potensi untuk meningkatkan produksi di level 30 persen menjadi 4500 unit atau 50 persen dari kapasitas terpasang yang ada,” ujarnya.

Penurunan produksi tidak hanya terjadi di segmen peralatan konstruksi tetapi juga terjadi di segmen alat konstruksi jalan, khususnya roller compactor. Jamalludin menjelaskan, kapasitas produksi meningkat di segmen road construction machinery, tetapi permintaan justru menurun. Jumlah produksi roller compactor tahun 2020 hanya 400 unit sementara kapasitas terpasang sebanyak 1500 unit, sehingga menimbulkan excess capacity.

Pada tahun 2021 ini, kapasitas produksi terpasang HINABI turun menjadi 9 ribu unit dari 10 ribu unit pada tahun sebelumnya karena tutupnya salah satu industri utama (Caterpillar). Namun, dibandingkan tahun 2020, HINABI memperkirakan produksi alat dalam negeri berpotensi untuk meningkat 30 persen untuk peralatan konstruksi dan pertanian, dua sektor usaha yang tetap tumbuh karena meningkatnya proyek-proyek infrastruktur pemerintah dan kebutuhan bahan bakar biodiesel plus pembangunan food estate di sejumlah daerah yang sedang digalakkan pemerintah.

Mampu pasok kebutuhan pasar nasional

Industri alat berat Indonesia memiliki sejarah cukup panjang. Proses produksi barang-barang modal ini di tanah air dimulai sejak tahun 1982. Saat ini, alat-alat berat yang diproduksi oleh industri dalam negeri terdiri dari hydraulic excavator (10 – 45 ton), dump truck – off highway (40 – 70 ton), bulldozer (17 – 28 ton), motor grader (10 ton), vibrator roller compactor (10 – 15 ton) dan static pneumatic tire roller (13 – 15 ton).  Khusus untuk hydraulic excavator, pada tahun 2011 Indonesia sudah berhasil memproduksi mesin 200 ton untuk beroperasi di pertambangan.

“Secara kapasitas, industri alat berat dalam negeri sudah mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Ini strength point kita karena demand yang ada masih di bawah kapasitas produksi yang dimiliki. Namun, saat ini, industri ini harus bersaing dengan produk-produk impor,” terang Jamalludin mengenai tantangan yang dihadapi industri manufaktur alat berat nasional dewasa ini.

Ia mengklaim, Indonesia memiliki fasilitas produksi alat berat paling lengkap dan paling maju di Asia Tenggara saat ini. Lokasi pabrik-pabrik alat berat juga dekat dengan pasar karena Indonesia memiliki tambang-tambang besar, juga proyek-proyek infrastruktur dan industri agrikultur Indonesia juga sedang tumbuh pesat. Kapasitas produksi alat berat juga masih tersedia dan akan bertambah seiring dengan meningkatnya kebutuhan pasar.

Satu-satunya cara untuk menjaga pertumbuhan industri alat berat dalam negeri dalam berhadapan dengan pemain-pemain asing, menurut dia, adalah pengaturan import duty agar produk-produk ini dapat berjaya di negerinya sendiri. Produk-produk impor saat ini masuk ke Indonesia dengan import duty rendah, sementara komponen-komponen impor yang digunakan oleh industri alat berat dalam negeri dikenakan bea masuk tinggi.

Ia menambahkan, banjir produk-produk impor memicu excess capacity. “Ini risiko yang sedang kami hadapi. Yang dikhawatirkan, excess capacity ini 50% dari kapasitas produksi terpasang HINABI, dan hal ini berdampak terhadap pengurangan tenaga kerja. Hal ini yang hendak kami hindari,” tandasnya.

Namun, Jamalludin menyadari di era perdagangan global ini akses pasar semakin terbuka. Serbuan alat-alat impor, terutama di sektor konstruksi, tak terelakkan. Meski demikian, ia berharap pemerintah memperhitungkan dampak buruknya terhadap keberlangsungan industri manufaktur alat berat nasional dan tenaga kerja yang terserap di dalamnya. Saat ini pun jumlah tenaga kerja sudah banyak berkurang, dan bahkan ada beberapa suplier yang tidak dapat melanjutkan usaha mereka.

Untungnya, pada awal tahun 2021 ini, permintaan alat mulai merangkak naik. Padahal,  semula HINABI memperkirakan permintaan akan tetap rendah hingga kuartal pertama tahun ini. Menjelaskan tren belanja alat berat pemerintah pada tahun 2021 ini, Jamaluddin mengatakan, 60% belanja alat berat untuk medium hydraulic excavator (mayoritas kelas 20 ton). Dalam kondisi saat ini, sekitar 65% dari total kebutuhan hydraulic excavator kelas 20 ton disuplai dari produk-produk impor. Jadi, masih ada peluang untuk meningkatkan produksi domestik,  khususnya medium hydraulic excavator kelas 20 ton.

Untuk mendukung pertumbuhan industri alat berat dalam negeri, HINABI sangat memerlukan dukungan dari pemerintah dalam bentuk adanya komitmen untuk tidak mengimpor produk-produk konstruksi pada 2021  agar memberi ruang kepada industri alat konstruksi lokal untuk tumbuh dan berkembang. Sebagaimana diketahui, jelang akhir tahun 2020, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) Basuki Hadimuljono memastikan tidak akan mengimpor produk untuk seluruh kegiatan konstruksi di bawah Kementerian PUPR pada 2021. HINABI berharap adanya penguatan implementasi untuk peningkatan penggunaan produk-produk dalam negeri secara berkelanjutan.

Merespon hal tersebut, HINABI mengharapkan adanya langkah-langkah untuk memprioritaskan penggunaan alat-alat hydraulics excavator baru kelas medium (kelas 10-40 ton) dalam proyek-proyek pemerintah dan BUMN sesuai amanat P3DN dan melakukan pengawasan impor alat berat bekas untuk hydraulic excavator kelas medium agar penyerapan alat berat produksi dalam negeri bisa maksimal.

Jamalludin juga mendorong adanya langkah harmonisasi tarif bea masuk penyediaan fasilitas insentif untuk bahan baku high tensile steel atau di luar SS400 yang belum bisa diproduksi di Indonesia dan komponen-komponen pendukung untuk meningkatkan daya saing produk alat berat dalam negeri terhadap produk impor sejenis. 

 “Sebagai pelaku industri kami tidak mengemis, tetapi tolonglah dibantu di mana kami juga meningkatkan TKDN, yang dalam kondisi sekarang ini sudah di atas 40%. Kami berharap pemerintah memprioritaskan penggunaan alat-alat baru produksi dalam negeri untuk hydraulic excavator kelas medium dalam proyek-proyek pemerintah dan BUMN sesuai amanah P3DN. Regulasinya sudah lengkap, tetapi bagaimana implementasi terhadap peraturan-peraturan itu dengan pengawasan yang baik. Kalau semuanya dijalankan, maka harapan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono yang diucapkan awal tahun 2021 ini, untuk memprioritaskan penggunaan alat-alat konstruksi dalam  negeri untuk proyek-proyek PUPR dapat terwujud,” ucap Jamalludin berharap. @

Related posts

346329
Users Today : 688
This Year : 58789
Total Users : 345629
Views Today : 7840
Total views : 8970300
Who's Online : 23
Your IP Address : 3.236.222.124
Server Time : 2021-05-14