Mengintip ketatnya persaingan pasar bisnis crane di Indonesia, produk-produk Eropa & Jepang versus Tiongkok. Bagaimana potensi pasarnya?
Berbagai rencana besar yang digulirkan pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia turut menggairahkan pertumbuhan industri crane. Di bidang infrastruktur, contohnya, Presiden yang akrab disapa Jokowi ini menargetkan pembangunan 1.000 km jalan tol baru yang tersebar di 25 ruas tol di seluruh Indonesia.
Pemerintah, berdasarkan data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, juga punya rencana membangun jalan (non tol) baru sepanjang 2.650 km di seluruh Indonesia, sebagai bagian dari program pemerintah untuk meningkatkan konektivitas nasional.
Di luar itu, masih ada rencana proyek-proyek besar lainnya, seperti pembangunan pelabuhan, bendungan, rehabilitasi irigasi, serta pembangunan 1 juta hektar jaringan irigasi baru hingga akhir periode pemerintahan pada 2019. Realisasi proyek-proyek tersebut akan menyerap banyak peralatan berat/konstruksi, termasuk crane.
Kegunaan utama alat ini adalah untuk mengangkat material (barang), mulai dari yang ringan hingga super berat, dan pemakaiannya sangat multi fungsi serta lintas sektoral. Jenis, model dan juga ukurannya bermacam-macam, bergantung aplikasinya.
Meski kebutuhan crane tidak sebanyak daya serap alat-alat berat yang bekerja di sektor pertambangan dan konstruksi, namun bergairahnya pertumbuhan berbagai industri di Indonesia dewasa ini membuat alat angkat ini laris di mana-mana. “Potensi pasar crane di Indonesia besar sekali. Kebutuhan crane sangat banyak, tetapi pemainnya masih sedikit,” kata Benny Kurniajaya, CEO JIMAC Group kepada Majalah Equipment awal Desember 2014 di Jakarta. JIMAC Group merupakan distributor tunggal alat-alat berat/konstruksi merk SANY. Salah satu jenis produk andalannya untuk pasar Indonesia adalah crane yang dipasarkan dalam rupa-rupa model dan ukuran yang menggarap pasar di berbagai industri.
Besarnya potensi pasar crane di Tanah Air dibenarkan oleh Indra Kurniawan Budiman, salah satu pebisnis rental crane di Jakarta. Dia menyewakan beragam jenis crane sesuai kebutuhan para customernya. “Aplikasi crane sangat membantu kelancaran pekerjaan di berbagai industri. Sayangnya, meski kebutuhan banyak, tetapi pemainnya masih sedikit,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela acara bauma China di Shanghai, 26 November 2014.
Terdapat beragam jenis crane yang tersedia di pasar saat ini, seperti mobile crane, crawler crane (telescopic) dan cargo crane. Bahkan bukan cuma model dan ukurannya yang bermacam-macam, melainkan juga merknya. “Kalau sebelumnya kita sudah akrab dengan merk-merk Eropa dan Jepang, kini pasar diramaikan dengan kehadiran merk-merk baru asal Tiongkok,” kata Mei Dwinarto Widjojo dari PT Universal Crane Persada Jaya.
Kehadiran merk-merk baru asal Tiongkok itu mulai menggerogoti pasar crane yang selama ini didominasi oleh produk-produk Eropa dan Jepang. Di kelompok produk-produk crane buatan Eropa, terdapat brand-brand antara lain Grove, Liebherr, Terex dan Linkbelt. Sementara brand-brand asal Jepang yang popular di pasar Indonesia adalah Tadano, Kato, Kobelco dan Sumitomo.
Menurut pria yang akrab disapa Han ini, salah satu faktor yang mendongkrak pasar crane buatan Tiongkok di Indonesia adalah karena hampir semua brand alat berat terkemuka dunia, termasuk crane, dewasa ini diproduksi di negeri tirai bambu itu, sementara pabrikan-pabrikan Cina sendiri terus melakukan improvement pada produk-produk mereka sendiri supaya kian kompetitif berhadapan dengan brand-brand global.
Resale value tetap tinggi
Berbicara mengenai brand crane, terutama mobile crane, yang menjadi pemimpin pasar di Indonesia selama ini, Indra dan Han sepakat menyebut Tadano. Sementara di segmen crawler crane, merka melihat posisi Sumitomo dan Linkbelt mulai diambil alih oleh Kobelco.
“Dulu Linkbelt dan Sumitomo ada di mana-mana. Kini masih ada, tetapi semuanya tahun tua. Banyak yang sudah menjadi bangkai karena dihajar oleh Kobelco,” kata Han mengenai perkembangan terkini di pasar crawler crane.
Dari segi daya tahan dan kehandalan, menurut Indra, Tadano dan Kato jagonya. Han tidak menampik hal itu, tetapi dia memberikan catatan bahwa itu benar untuk crane-crane Tadano dan Kato yang buatan Jepang aseli, padahal belakangan ini hampir semua pabrikan crane, termasuk dari brand-brand terkenal, sudah mulai memproduksi mesin-mesin mereka di Tiongkok.
“Kualitas produk-produk crane Jepang yang diproduksi di Jepang tidak persis sama dengan mesin-mesin Jepang yang dibuat di pabrik mereka yang berada di Tiongkok,” kata Indra merujuk pada pengalamannya menyewakan berbagai merk crane.
Dalam konteks itu, Indra melihat produk-produk buatan Tiongkok, seperti Sany ke depannya akan lebih baik, terutama karena harganya terjangkau dan customer mendapatkan barang baru. “Harga Tadano itu kira-kira dua kali harga Sany,” imbuhnya yang diamini oleh Han.
Tetapi, Han mengungkapkan, khusus untuk mobile crane, meski harga produk-produk Jepang lebih mahal dari mesin-mesin buatan Tiongkok, namun pasar belakangan ini mulai melihat adanya penurunan mutu dibandingkan dulu. “Crane-crane Jepang dan Tiongkok sekarang ini sama-sama punya kelemahan. Dulunya Tadano dan Kato selalu lebih unggul dari produk Cina. Sekarang ini belum tentu,” ia ungkapnya.
Kelemahan utama crane-crane yang diproduksi di Tiongkok, menurut Han dan Indra, terletak pada undercarriage. Namun, hampir pada semua mobile crane, komponen telescopic-nya bagus, termasuk produk-produk dari brand asli Tiongkok sekalipun. Mereka mencontohkan telescopic dari mobile crane Sany yang memang tidak kalah dengan Kato dan Tadano.
Meski demikian, Han melanjutkan, yang belum ketahuan sekarang adalah berapa resale value produk buatan Tiongkok nantinya karena semua yang beredar di pasar saat ini masih baru. “Kalau mesin-mesin buatan Eropa dan Jepang sudah ketahuan harga second-nya bagus.
“Meski unitnya sudah tahun tua, tetapi pasar sudah membuktikan kapabilitasnya. Itu sebabnya orang tetap berani beli dengan harga tinggi produk bekasnya Tadano dan Kato, juga produk-produk Eropa seperti Grove,” kata Indra.
Han mencontohkan mobile crane Tadano miliknya yang dilepas dengan harga menarik baru-baru ini. Mesin buatan tahun 1984 itu laku dengan harga Rp 1,6 miliar setelah dilakukan perbaikan-perbaikan kecil seperti pengecatan ulang. “Kalau dokumennya lengkap, harganya bisa Rp 2 milyar. Padahal alat itu baru dibeli dengan harga Rp 1 milyar sekitar dua tahun sebelumnya.
Indra dan Han sependapat bahwa kalau crane-crane asli Eropa dan Jepang, boleh dibilang, tiga tahun bisa tanpa masalah sehingga penggunaannya benar-benar maksimal. Di atas lima tahun, bahkan setelah 10 tahun baru rewel. “Dari segi lifetime, mereka itu luar biasa awetnya. Apakah crane-crane Tiongkok mampu seperti itu,” kata Han.
Berdasarkan pengalaman Indra dan Han selama ini, kalangan kontraktor cenderung mengangkat beban dalam kondisi overlaod. Hal ini sangat berbahaya untuk crane-crane yang material bajanya kurang bagus. “Kalau produk Eropa, seperti Grove dan Liebherr kami masih berani coba angkat hingga 30% dari kapasitas angkat yang direkomendasikan. Produk Jepang juga masih bisa, lebih 10-15% masih bagus untuk crane baru. Namun, kalau crane-crane Tongkok, kami belum berani. Sebaiknya mengikuti petunjuk pabrikan guna menghindari kesalahan fatal,” Han mengingatkan.
Beruntung, pabrikan-pabrikan Tiongkok tidak kehilangan cara. Untuk mensiasati masalah overlaod, beberapa pabrikan melengkapi crane-crane mereka dengan sistem komputerisasi. “Alarm akan langsung berbunyi kalau muatannya melebihi kapasitas. Ini menjadi awasan bagi operator untuk segera mengurangi beban,” kata Indra sembari mencontohkan mobile crane Sany.
Catatan penting lainnya dari Indra dan Han untuk produk-produk crane buatan Tiongkok adalah ketersediaan suku cadang. Yang terjadi selama ini, customer sangat bergantung pada distributor dan/atau pabrikan untuk mendapatkan suku cadang karena mereka tidak menjualnya di pasar bebas. Lain halnya dengan produk-produk Jepang, seperti Kato dan Tadano. “Kita bisa beli di pasar bebas suku cadangnya. Jadi, beli produk Jepang itu simple. Kita bisa beli di mana-mana,” Indra berharap agar hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi dealer crane-crane Tiongkok.
Tren baru
Mencermati pertumbuhan berbagai industri di Indonesia dewasa ini, terutama di sektor minyak dan gas (migas), bongkar muat di pelabuhan, infrastruktur dan industrial serta juga pertambangan, Indra mengatakan ada gejala di mana kontraktor-kontraktor tidak akan memakai crane-crane tua lagi. Itu sebabnya di Jakarta, menurutnya, mesin-mesin yang sudah mulai uzur dibuang ke daerah. Alasannya, meski masih kuat, mesin-mesin tua butuh perawatan ekstra karena kerap mengalami masalah di lapangan.
“Mengoperasikan mesin membuat kita sebagai pemilik alat tidak bisa tidur nyenyak karena sering ditelepon. Karena HP kita siaga 24 jam, malam-malam customer telepon karena crane rusak. Akibatnya, kita tidak bisa tidur enak. Selalu ada masalah yang dikeluhkan pelanggan,” ucapnya sembari terkekeh. Sebaliknya, dia melanjutkan, kalau investasi mesin baru, minim gangguan sehingga bisa tidur nyenyak dan makan enak.
Masalahnya, Han menimpali, investasi mesin baru tidak murah, jauh lebih mahal dari investasi peralatan besar lain, apalagi yang buatan Eropa dan Jepang. Namun, para pemain crane sekarang ini sudah punya banyak pilihan, terutama dengan kehadiran produk-produk Cina, seperti merk Sany.
Alasan mengapa kalangan kontraktor mulai beralih ke crane-crane Tiongkok adalah karena sebagian besar pelanggan crane tidak terikat dengan merk. Mereka juga tidak mau pusing dengan ukuran. Kalau ditawari crane yang brandnya terkenal atau yang kelasnya lebih tinggi, mereka tetap minta harga sewa yang sama, asalkan performanya bagus. “Jadi, dengan menginvestasi crane-crane buatan Tiongkok seperti Sany, mereka bisa mendapatkan unit yang
harganya jauh lebih murah tetapi dengan harga sewa yang kurang lebih sama,” kata Indra.
Sekedar informasi, sistem sewa crane sedikit berbeda dari alat yang lain. Sebagaimana dijelaskan Indra, untuk sewa harian, sistem pembayarannya adalah per shift. Untuk kelas 50 ton sekitar Rp 7 juta per shift (satu shift = 7 jam kerja) untuk wilayah Jakarta.
Han mengingatkan, karena nilai investasi crane relatif mahal, maka dituntut kehati-hatian dalam mengoperasikannya. Ada banyak kasus di mana mobile crane terjungkal karena overload, distribusi beban yang tidak seimbang atau landasan yang labil. “Biasanya masalah muncul bukan pada saat muatan diangkat, tetapi ketika sudah berada di atas. Karena muatan sudah ada di ujung telescopic ditambah lagi dengan tiupan angin, goncangan, atau radius terlalu jauh, maka kesalahan sekecil apapun bisa berakibat fatal.”
Indra bilang, crane yang pernah terjungkal, resale value-nya jatuh. “Main crane jangan sampai alat itu pernah terbalik. Kalau sampai crane terbalik, harga jual kembalinya akan jatuh, bahkan tidak sampai 50%,” kata dia.
Kelalaian yang kerap dilakukan operator dan pekerja lapangan, Han menambahkan, adalah mereka hanya berpatokan pada load chart. “Meski load chart sudah memperhitungkan jarak radius horizontal dan elevasinya, tetapi lupa memperhatikan faktor-faktor lain di luar load chart itu,” dia menyarankan. @























