Sebenarnya kualitas alat-alat China tidak jelek-jelek amat. Dan mesin-mesin Eropa atau Jepang yang disebut-sebut berkualitas juga tidak berarti tidak bisa rusak. Yang membedakan adalah ketika mesin-mesin rusak, sudah dari jauh hari tersedia suku cadang dan tenaga-tenaga teknisi berkualitas.

PT Gaya Makmur Tractors (GMT) akan mempersiapkan layanan purna jual (After Sales Service/ASS) terbaik berstandar Eropa untuk produk-produk XCMG dan Shantui. Mimpi GMT itu bukan isapan jempol belaka. Infrastrukturnya sudah mulai berjalan tahun ini, seperti pembenahan organisasi, persiapan tenaga teknisi yang betul-betul ahli dan mumpuni, serta mendorong tersedianya spare parts yang memadai. Dengan ASS yang bagus, maka mesin-mesin China yang diageni GMT itu dapat bersaing dengan alat-alat yang menjadi market leader saat ini, di samping untuk mengikis stigma di pasar bahwa produk-produk China tidak memiliki yang memadai.
GMT melakukan sejumlah langkah strategis dalam menciptakan ASS kelas dunia karena saat ini momentumnya sedang bagus. Pertumbuhan mesin-mesin China sangat pesat di pasar dunia, termasuk di Indonesia. Sayang, sering kali penetrasi pasar itu tidak disertai dengan layanan ASS yang prima. Padahal, bila layanan ASS berkualitas, penjualannya akan terus meningkat.
Demikian benang merah wawancara Majalah Equipment Indonesia dengan Direktur PT GMT, Surateman, di ruang kerjanya di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, Jumat (10/2). Pria yang sudah makan asam garam di dunia alat berat mengaku, alat-alat berat China yang dijual GMT sudah diterima pasar dengan baik. Hanya saja, selama ini alat-alat ini lebih banyak bergerak di sektor konstruksi, perkebunan, dan kehutanan. Ke depan, dia ingin membawa produk-produk itu ke pasar yang lebih besar, yaitu sektor mining, meski pasarnya sangat ketat persaingannya. Justru karena itu, dia mempersiapkan infrastruktur ASS yang sebagus mungkin agar nanti bisa memenangi persaingan di sektor yang satu ini. Surateman sangat yakin dengan ASS yang bagus, maka alat-alat China pun bisa bersaing dengan alat-alat produk Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang.
Surateman mengakui sebenarnya kualitas alat-alat China tidak jelek-jelek amat. Dan mesin-mesin Eropa atau Jepang yang disebut-sebut berkualitas juga tidak berarti tidak bisa rusak. Yang membedakan adalah ketika mesin-mesin Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang rusak, teknisi-teknisi yang berkualitas sudah disediakan. Suku cadang juga sudah disiapkan jauh-jauh hari.
Beda dengan mesin-mesin China yang tidak memiliki persedian suku cadang yang memadai dan miskin teknisi berkualitas. Selain itu, kadang-kadang aplikasi mesin-mesin China tidak sesuai peruntukannya. Fakta-fakta seperti ini dibenarkan dan diakui Surateman. Bahkan menurut dia, ini yang membuat mesin-mesin China belum dijadikan sebagai produk utama para investor di sektor mining, tetapi hanya sebagai produk pendukung
Kini, GMT mulai mencoba membenahi. Langkah pertama yang dilakukannya adalah memperbaiki organisasi. Sebelumnya, GMT hanya memiliki lima jabatan penting yaitu satu general manager, dua manajer spare part (suku cadang) dan dua manajer servis. Sekarang, Surateman menciptakan organisasi yang lebih gemuk dengan 13 jabatan penting. “Ada tiga GM yang terdiri dari satu GM Spare Part, dua GM Servis, kemudian beberapa manager. Total ada 13, dan ke-13 posisi itu semuanya sudah terisi,” kata Surateman.
Setelah organisasi GMT tertata dengan baik, mereka mulai secara bertahap mempersiapkan tenaga-tenaga teknisi yang berkualitas tinggi. Untuk jangka pendek, GMT merekrut orang-orang yang memiliki latar belakang pengetahuan dan pengalaman alat berat. Kemudian, mereka yang lolos seleksi akan menjalani pelatihan selama tiga bulan.
Pelatihan ini diberikan oleh tenaga-tenaga profesional dari lembaga lain yang bekerja sama dengan GMT. Setelah menjalani pelatihan oleh lembaga kredibel, para teknisi ini kemudian masih akan diberikan pelatihan tambahan selama satu sampai dua hari khusus tentang materi XCMG.
Sementara untuk persiapan jangka panjang, sejak Januari 2023, GMT sudah mengangkat orang khusus yang ditugaskan untuk membuat training center. Orang ini, kata Surateman, adalah semacam kepala sekolah. Dia ditugaskan untuk menyusun kurikulum pengajaran dan silabus untuk training center tersebut yang nantinya akan didirikan. Tugas lain sang kepala sekolah adalah mencari tenaga-tenaga pengajar berkualitas tinggi.
Rencananya, kata Surateman, GMT akan membuka tiga training center masing-masing di Jakarta untuk area Jawa, Pekanbaru untuk wilayah Sumatera, dan di Balikpapan untuk wilayah Kalimantan dan Indonesia Timur. Untuk jangka panjang training-training center itu bukan tidak mungkin akan berkembang menjadi universitas. Harapannya, training center ini akan menghasilkan tenaga-tenaga teknisi yang handal yang mampu memenuhi kebutuhan dan permintaan para pelanggan mereka di lapangan.
Selain mempersiapkan personel dan teknisi-teknisi berkualitas, GMT terus mendorong ketersediaan suku cadang. Sehubungan dengan itu, aku Surateman, mereka terus mendorong para prinsipal XCMG dan Santui untuk menyediakan suku cadang sejak jauh-jauh hari. Bila perlu sebelum sebuah mesin baru diluncurkan, suku cadangnya sudah ready stock dalam jumlah yang memadai. Sehingga, begitu alat masuk ke pasar, maka suku cadangnya sudah tersedia, persis seperti yang dilakukan brand-brand alat berat Jepang, Eropa dan Amerika.
Ke depan untuk semakin mengoptimalkan layanan dan ketersediaan suku cadang ini, mulai tahun ini GMT membuka lima cabang besar sebagai tambahan di Indonesia. Kantor-kantor cabang itu akan dibangun di Jambi, Sampit, Manado, Kendari, dan Samarinda. Nantinya di kantor-kantor cabang ini selain menyediakan suku cadang, juga dilengkapi oleh personel. “Nanti di sana ada kepala cabang, ada manajer, ada bagian ini, ada bagian itu, termasuk analis spare part. Nah ini yang kita lakukan sekarang,” paparnya.
Hal lain yang dilakukan GMT untuk mengoptimal ASS, terutama terkait persediaan suku cadang, adalah menambah stock item suku cadang. Untuk itu, tahun ini GMT mengalokasikan anggaran tiga setengah kali lipat dari anggaran stok suku cadang sebelumnya. Menurut Surateman, ketersediaan tenaga teknisi yang berkualitas dan suku cadang sangat penting. Sebab pada prinsipnya, investor – termasuk mereka yang bergerak di sektor tambang – membeli mesin sebagai investasi. Untuk bisa investasi, maka alat itu harus bisa operasi terus. Supaya operasi terus maka alat itu jangan sampai rusak. Namun tidak ada alat yang sempurna di dunia. Even itu produk non China.
Dengan dukungan layanan purna jual yang bagus, Surateman sangat yakin mesin-mesin China akan berusia panjang dan dapat bersaing dengan produk-produk market leader seperti Caterpillar, Komatsu, maupun yang lain. Karena itu, misi GMT adalah menciptakan ASS yang bagus dan setara dengan mesin-mesin dari Eropa, Amerika Serikat dan Jepang untuk mesin-mesin China. ASS yang bagus akan membuat para pelanggan puas. Dan, kepuasan akan mendorong mereka untuk membeli kembali (repeat order) alat-alat yang dijual. EI



















