31.1 C
Jakarta
29 Nov, 2021.

Harga Batu Bara Makin Membara

Harga batu bara sebagai sumber energi semakin melambung seiring pemulihan ekonomi yang terjadi paska pandemi COVID-19. Trend ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Ilustrasi truk tambang Cat® 777E yang sedang mengangkut material tambang. Foto: Trakindo

Rekor demi rekor harga batu bara terus dicatat dalam sebulan terakhir. Dari semua komoditi tambang yang harganya menguat, batubara tercatat yang paling tinggi. ICE Newcastle (Australia), salah satu referensi harga batu bara mencatat harga batu bara pada awal Oktober menyentuh US$ 206,25/ton. Ini merupakan rekor tertinggi sejak tahun 2008.

Kemudian Harga Batubara Acuan (HBA) yang dikeluarkan Kementerian ESDM untuk bulan Oktober ditetapkan sebesar US$161,63 per ton. Kenaikan harga salah satu komoditi andalan Indonesia ini dipicu permintaan yang melonjak di beberapa negara.  

Selain Tiongkok, India, kenaikan permintaan batu bara juga terjadi di Korea Selatan dan Kawasan Eropa. “Meningkatnya permintaan batu bara dari Korea Selatan dan Kawasan Eropa seiring dengan tingginya harga gas alam,” terang Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama  Kementerian ESDM, Agung Pribadi.

Setelah sempat melemah di awal masa pandemi pada April 2020, harga batu bara kembali menguat pada akhir tahun. Tren positif ini terus berlanjut hingga saat ini. Sejak akhir tahun 2020 sampai awal Oktober telah terjadi penguatan hingga 160,87%. 

Pemulihan ekonomi global yang terjadi saat ini mendorong kenaikan kebutuhan energi. Hal ini membuat permintaan atas sumber energi ikut menguat. Tidak hanya batu bara yang permintaanya naik. Permintaan minyak dan gas bumi pun ikut naik. Kondisi ini berimbas pada harga gas yang menguat signifikan. Bahkan kenaikan harga gas telah membuat beberapa negara akhirnya memutuskan kembali ke batu bara.

Ini yang dilakukan beberapa negara di kawasan Eropa seperti Inggris. Negaranya Ratu Elisabet ini telah mengumumkan mengaktifkan kembali beberapa PLTU guna menekan biaya pembangkit listrik.

Gas memang menjadi salah satu sumber energi pilihan di kawasan Eropa. Meski sama sama dari kelompok energi fosil, dampaknya terhadap emisi karbon lebih rendah dibanding minyak dan batu bara. Oleh karenanya, banyak negara di kawasan Eropa lebih memilih memanfaatkan gas untuk pembangkit listrik ketimbang PLTU.

Namun dalam sebulan terakhir harga gas ternyata menguat secara signifikan. Hal iIni menyebabkan biaya pembangkitan listrik naik tajam. Pada 28 September 2021 biaya pembangkit listrik dari gas menyentuh EUR 75,725/MWh. Sementara biaya pembangkitan menggunakan batu bara sebesar EUR 50,53/MWh.

Beberapa analisis mencoba membedah pasar gas saat ini dari sisi konsumsi dan pasokan. Sekarang ini konsumsi gas meningkat. Sementara pasokan masih tetap sama bahkan berkurang. Kondisi ini membuat stok gas berkurang.

Dari sisi pasokan dijelaskan bahwa ketika pandemi COVID-19, harga minyak anjlok. Banyak perusahaan migas melakukan efisiensi di antaranya dengan tidak banyak melakukan akivitas pengeboran. Selain itu, perusahaan migas juga lebih mengutamakan mengambil minyak. Tidak banyak yang memproduksi gas.

Masalah lainnya lagi, ketika musim panas kemarin, energi baru yang banyak di kawasan Eropa kurang optimal. Hal ini membuat pemanfaatan gas lebih banyak dari biasanya. Sebentar lagi masyarakat Eropa akan memasuki musim dingin sehingga kebutuhan gas akan meningkat.

Kelangkaan pasokan gas ini juga telah memunculkan persaingan dalam memperebutkan pasar gas. Ini juga membuat biaya transportasi gas menjadi lebih mahal dari biasanya yang, pada akhirnya, akan mempengaruhi harga gas.

Ketika batu bara semakin dicari

Excavator tambang Volvo CE. Foto: VCE

Selain faktor harga gas yang melejit yang membuat batu bara diburu, permintaan batu bara dari beberapa negara konsumen terbesar juga meningkat tajam. Sebut saja Tiongkok dan India. Otoritas Tiongkok mengatakan negaranya membutuhkan pasokan batu bara dalam jumlah besar. Pihaknya siap membayar berapa pun harganya.

Dewan Listrik Tiongkok baru baru ini menegaskan pihaknya butuh batu bara dalam jumlah besar untuk pemanasan dan pembangkit listrik di musim dingin. Sementara pasokan dari tambang nasional belum cukup, meski sudah lebih dari 90% bahan bakar yang digunakan negara ini dipasok dari dalam negeri.

“Jika Anda melihat China, mereka belum dapat melakukan restock pada periode yang seharusnya mereka restock,” terang Jan Dieleman, kepala bisnis transportasi laut Cargill International. Ia kemudian memastikan pasar energi yang sangat kuat, yang mungkin akan memindahkan banyak batu bara setidaknya pada periode musim dingin berikutnya.

Sementara Sara Chan, Analis Morgan Stanley, menyebutkan dari riset yang dilakukan pada 27 September terlihat rendahnya stok batu bara di beberapa produsen listrik independen. Ini membuat  telah dengan cepat mendorong permintaan batubara. Ini yang menyebabkan lonjakan harga batubara saat ini. 

Sementara perselisihan dengan Australia belum menunjukkan titik terang membuat Tiongkok belum juga membeli batu bara dari negeri Kanguru itu. Informasi terakhir China sedang mempertimbangkan untuk membuka kembali impor batu bara dari Australia.

Saat ini impor batu bara terbesar Tiongkok masih berasal dari kawasan Asia, khususnya Indonesia. Menjadi masalah produksi batu bara Indonesia tahun ini terganggu karena curah hujan yang tinggi. Ini membuat Tiongkok memburu batu bara hingga ke Afrika Selatan.

Sepanjang tahun ini, Tiongkok telah mengimpor 4,4 juta ton batu bara termal dan kokas dari Afrika Selatan. Padahal pada tahun 2015, Tiongkok sama sekali tidak mengimpor batu bara dari sana. Tiongkok juga memburu batu bara dari Rusia dan Amerika Serikat. Ini terlihat dari angka-angka ekspor dari kedua negara.

Dari sisi pasokan, setidaknya pasokan dari Kolombia dan Indonesia selama ini terganggu dengan curah hujan yang tinggi. Kemudian beberapa tambang di negara produsen lain tutup karena pandemi. Investasi dalam proyek-proyek pertambangan baru hampir terhenti dalam beberapa tahun terakhir. Kemudian dukungan dari perbankan dan lembaga pembiayaan juga mulai berkurang.

Kondisi yang tidak jauh berbeda terjadi di India. Stok batu bara India telah mencapai tingkat yang sangat rendah. Ini berdampak pada sektor listrik negara itu. Hal ini karena permintaan batubara termal India kembali pulih dari kehancuran permintaan karena pandemi pada paruh pertama tahun 2021. Permintaan listrik sedang meningkat ketika negara itu mencapai jalan menuju pemulihan ekonomi menyusul lonjakan virus corona pada awal tahun ini.

Permintaan listrik rata-rata India meningkat 23 GW per tahun menjadi 186 GW antara 1-23 Agustus. S&P Global Platts Analytics memperkirakan permintaan listrik rata-rata dari Oktober hingga Desember mencapai 167 GW. Dengan pembangkit listrik tenaga batu bara sebesar 126 GW atau sekitar 12 GW lebih tinggi dari tahun ke tahun.

Namun harga yang melambung ini juga sempat menyuitkan pembeli India. Sempat ada rencana untuk mengurangi impor dan mengandalkan stok domestik. Namun karena terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi, maka stok domestik kini jatuh ke level terendah.

Harga FOB 4.200 kkal/kg batu bara GAR dari Indonesia naik 125,34% dari USD$44,4/mt pada 1 Januari hingga menyentuh rekor tertinggi $100,05/mt pada 29 September. Harga FOB 3.800 kkal/kg batubara GAR dari Indonesia naik 127,27% dari $33/mt pada 4 Januari menjadi $75/mt pada 29 September. EI

Menurut Otoritas Listrik India, total stok batubara India pada awal 2021 mencapai 37,41 juta mt. Ini telah turun menjadi 8,317 juta mt pada 27 September. Ini berarti cukup hanya untuk pembakaran batu bara selama lima hari.

Data FCEA pada 27 September juga menunjukkan bahwa 101 pembangkit listrik tenaga batu bara memiliki stok dengan pembakaran batu bara kurang dari delapan hari. Dengan sisa 89 pembangkit dengan pembakaran batu bara empat hari atau kurang. Kapasitas 101 pembangkit tersebut sebesar 125,53 GW atau 76% dari total kapasitas 167,586 GW.

Kementerian listrik federal India dalam surat tertanggal 30 Agustus mengarahkan pembangkit listrik termal untuk meningkatkan impor untuk tujuan pencampuran.

Sejauh ini India mengimpor sebagian besar kebutuhannya dari Indonesia, Australia dan Afrika Selatan, di sampin didatang dari Kolombia, Rusia, Kazakistan, dan Mozambik. Impor dari Indonesia naik 1,15% secara tahunan selama Januari hingga Juni hingga menyentuh 42,9 juta mt. Impor dari Australia mencapai 12,32 juta mt, dan 7,84 juta mt dari Amerika Serikat.

Pelaku pasar sekarang menunggu untuk melihat apakah permintaan listrik India akan bertahan dan bagaimana perusahaan listrik akan mengelola biaya untuk mengamankan bahan bakar. Setiap kemajuan produksi dalam negeri juga diawasi dengan ketat.

Kenaikan harga batu bara yang cukup kuat ini membangkitkan optimisme perusahaan tambang nasional. “Kami optimis terhadap prospek bisnis batu bara pada semester II ini namun akan tetap berhati-hati,” terang Febriati Nadira, Head of Corporate Communication PT Adaro Energy,Tbk (ADRO).

Adaro, menurut Nadira, akan berupaya memaksimalkan upaya untuk terus fokus terhadap  keunggulan operasional bisnis inti, meningkatkan efisiensi dan produktivitas operasi, menjaga kas dan mempertahankan posisi keuangan yang solid di tengah situasi sulit yang berdampak terhadap sebagian besar dunia usaha.

“Adaro akan terus mengikuti perkembangan pasar dengan tetap menjalankan kegiatan operasi sesuai rencana di tambang-tambang milik perusahaan dengan terus fokus untuk mempertahankan margin yang sehat dan kontinuitas pasokan ke pelanggan,” tandas Nadira.

Adaro, lanjut Nadira, melihat secara fundamental jangka panjang pasar batu bara masih menjanjikan. Ini didukung oleh pertumbuhan terutama wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan. “Kami masih me-maintain ekspor di wilayah Asia Tenggara, China, Asia Timur, India, Selandia Baru,” terang Nadira.

Sejauh ini, Adaro komit untuk memenuhi kebutuhan dan pasokan batubara untuk pasar dalam negeri. “Hingga semester I tahun 2021, Indonesia merupakan tujuan penjualan terbesar, yang meliputi 28% penjualan batu bara Adaro,” tandas Nadira.

Hal yang sama juga disampaikan Sekretaris Perusahaan PTBA Apollonius Andwie, yang mengatakan pihaknya tetap memantau kenaikan harga batu bara saat ini. “Kami memanfaatkan untuk meningkatkan produksi menjadi 30 juta ton pada tahun 2021. Dengan target ekspor menjadi 47% pada akhir tahun,” ujarnya Appolonius.

Meski menghadapi tekanan terkait transisi energi, batu bara dalam beberapa tahun ke depan masih akan tetap menjadi pilihan.  EI

Related posts