
Harga timah yang menguat sejak awal tahun ini telah membuat PT Timah,Tbk (TINS) mencatat performa finansial positif. Selain itu, manajemen pun terus melakukan pembenahan. Dari sisi operasi produksi, kinerja kuartal II tahun ini tidak sebagus kinerja periode yang sama tahun lalu.
Pada kuartal II 2021, TINS mencatat produksi bijih timah sebesar 11.457 ton. Pada kuartal II tahun 2020, perseroan berhasil memproduksi bijih timah hingga 25.081 ton. Sebagian besar dikontribusi oleh kegiatan penambangan timah di laut.
Sementara produksi logam timah pada kuartal II tahun ini tercatat sebesar 11.915 ton atau turun 57%. Pada triwulan II tahun 2020, produksi logam timah mencapai 27.833 ton. Sementara penjualan logam timah pada triwulan II tahun 2021 sebesar 12.523 ton. Juga turun sebesar 60% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berhasil mencatat penjualan logam timah sebanyak 31.508 ton.
Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan menjadi salah satu faktor yang membuat operasional TINS tidak berjalan normal. Kondisi ini berdampak pada menurunnya performa produksi, baik produksi bijih timah maupun logam timah.
Selain itu manajemen memastikan akan terus melakukan perbaikan dan pengawasan. Di antaranya mengawasi IUP milik Perseroan, sehingga risiko terjadinya kebocoran timah di lapangan bisa ditekan. Dengan penertiban yang berkelanjutan, ruang gerak penambang timah ilegal di IUP TINS menjadi terbatas.
Meski secara operasional mengalami penurunan dibanding kuartal II tahun lalu, perseoran berhasil membukukan kinerja keuangan yang positif. Hal ini tidak terlepas dari komitmen manajemen untuk terus berbenah, sehingga pada 2 Agustus 2021 saham TINS menjadi konstituen di papan IDX30 dan LQ45 yang merupakan indeks prestisius di pasar modal Tanah Air. Naiknya harga logam timah akibat menyusutnya pasokan di pasar, ditambah efisiensi yang terukur menjadi faktor naiknya margin dan laba Perseroan.
Pada triwulan II tahun 2021 TINS berhasil membukukan laba operasi sebesar Rp630 miliar, naik signifikan dari triwulan II tahun 2020 yang tercatat minus Rp227 miliar. Sementara laba tahun berjalan sebesar Rp270 miliar. Kemudian EBITDA perseroan melesat menjadi Rp1,04 triliun. Arus kas operasi naik signifikan menjadi Rp2,58 triliun dibanding triwulan II tahun 2020 sebesar Rp620 miliar. Sementara pendapatan TINS turun 27% dari Rp8,03 triliun menjadi Rp5,87 triliun.
Meski demikian TINS memiliki rasio profitabilitas yang sehat. Ini terlihat dari rasio GPM (Gross Profit Margin) sebesar 19% naik dari posisi triwulan II tahun 2020 sebesar 3%. Kemudian rasio NPM (Net Profit Margin) sebesar 5%.
Melihat kinerja anak perusahaan yang terus bertumbuh,diharapkan mampu menopang pencapaian kinerja TINS sampai dengan akhir tahun 2021. “Peningkatan permintaan logam seiring meredanya pandemi Covid-19 mendorong stabilnya harga logam yang berdampak juga berkembangnya industri hilir logam timah, diharapkan menjadisalah satu motor pendongkrak kinerja TINS di tahun pemulihan ini,” ungkap Wibisono selaku Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TINS.
Sebagai BUMN yang bergerak di industri pertimahan, TINS terus berupaya memberikan performa terbaiknya dengan terus menerapkan tata kelola pertambangan yang baik (Good Mining Practice). #


















