27.2 C
Jakarta
6 Mar, 2021.

Industri Alat Berat 2021 Akan Tumbuh Positif Seiring Pemulihan Ekonomi

Pertumbuhan industri alat berat Indonesia ke depan akan sangat ditentukan oleh efektivitas program vaksinasi yang dilaksanakan secara nasional mulai pertengahan Januari 2021 ini.

Pemerintah perlu memprioritaskan penggunaan peralatan berat yang diproduksi di dalam negeri untuk menggairahkan pertumbuhan industri nasional (Foto: Komatsu Indonesia)

Menutup tahun 2020 lalu, tepat pada hari Kamis (31/12), pemerintah Indonesia menerima 1,8 juta dosis vaksin buatan Sinovac. Vaksin yang diangkut dengan pesawat Garuda Indonesia dari China itu menambah jumlah vaksin yang diterima Indonesia setelah pada awal Desember menerima 1,2 juta dosis dari produsen yang sama. Dus, sebelum melangkah ke tahun 2021 ini, Indonesia sudah mengantongi 3 juta dosis vaksin. Pemerintah sendiri  juga sudah mejalin kerja sama dengan sejumlah produsen vaksin seperti AstraZenca, Novavax dan Pfizer-BioNTech untuk mengamankan persediaan vaksin.

Vaksin memang menjadi game changer pada tahun 2021 ini. Program vaksinasi yang digelar oleh berbagai negara di dunia diharapkan akan mengakhiri pandemi Covid-19 yang telah menganggu kehidupan manusia sepanjang 2020 beserta segala aktivitasnya termasuk kegiatan ekonomi. Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan vaksinasi hanyalah satu strategi untuk keluar dari wabah global ini. Sembari menunggu proses vaksinasi berjalan yang membutuhkan waktu satu tahun empat bulan atau hinga kuartal pertama 2022, masyarakat diimbau untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan setidaknya ada tiga alasan ekonomi akan kembali ke jalur positif pada tahun 2021. Pertama, sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yaitu ekspor, konsumsi dan investasi akan membaik. Kinerja ekspor diperkirakan akan membaik sering dengan pemulihan pertumbuhan ekonomi di negara-negara mitra dagang utama Indonesia yaitu China yang diperkiran tahun depan akan tumbuh 7,8% dan Amerika Serikat yang diperkirakan tumbuh 4,3%. “Tahun 2021 kami perkirakan pertumbuhan ekonomi global itu 5%,” ujar Perry akhir Desember lalu.

Dari sisi konsumsi, Perry mengatakan konsumsi baik konsumsi swasta maupun pemerintah akan tumbuh positif setelah mengalami kontraksi yang dalam pada tahun 2020. Konsumsi swasta atau rumah tangga merupakan kontribuor sekitar 58% produk domestik bruto Indonesia. “Stimulus fiskal untuk mendukung perlindungan sosial terus berlangsung dan ini mendukung konsumsi,” ujar Perry.

Dari sisi investasi, pertumbuhan didukung baik belanja modal pemerintah terutama dari belanja infrastruktur dan juga investasi swasta yang dipicu oleh Undang-Undang No.11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Tahun 2021, pemerintah mengalokasikan belanja infrastruktur sebesar Rp417 triliun, naik sekitar 48% dari Rp 281,1 triliun di tahun 2020.

Alasan kedua, mengapa tahun ini harus optimistis, lanjut Perry, adalah program vaksinasi. Secara bertahap pemerintah akan memulai vaksiasi pada pertengahan Januari 2021 hingga kuartal pertama 2022. “Meskipun secara bertahap, itu akan memungkinkan mobilitas manusia semakin meningkat dan mobilitas ekonomi juga semakin baik. Vaksinasi ini istilah kami adalalah sebagai prasyarat untuk mendukung pemulihan ekonomi,” tandasnya.

Perry mengatakan dengan vaksinasi sektor-sektor ekonomi akan kembali pulih secara bertahap. Beberapa sektor yang pemulihannya cepat, menurut dia, adalah makanan dan miniuman, farmasi dan pertambangan, khususnya pertambangan logam.

Faktor ketiga yang tak kalah penting untuk mendukung pemulihan ekonomi pada tahun 2021 ini adalah sinergi kebijakan yang erat antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Bank Indonesia sendiri akan melanjutkan kebijakan suku bunga rendah dan likuiditas longgar. Suku bunga acuan saat ini sudah berada di level 3,75%. Suku bunga acuan yang rendah ini diharapkan akan menjalar ke sektor riil dengan penurunan suku bunga kredit perbankan. Pada November lalu, kredit modal kerja berada di level 9,32%, menurun dari posisi pada Oktober yang sebesar 9,38%.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat membuka perdagangan saham tahun 2021 pada Senin (4/1) mengatakan vaksiniasi akan mendorong optimisme pemulihan ekonomi. Ekonomi global, menurut Airlangga, diperkirakan akan tumbuh sebesar  4,2% hingga 5,2%. Sementara ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 4,5% hingga 5%.

Prospek Industri Alat Berat

Hydraulic Excavator Kobelco kelas 20 ton yang sedang menunggu giliran untuk dimobilisasi ke lokasi pelanggan. Menurut Ketua HINABI Jamaluddin, meski sektor pertambangan diperkirakan tumbuh positif pada tahun 2021 ini, tetapi tidak serta merta akan mendongkrak permintaan alat berat baru (Foto: EI)

Atmosfer penuh optimistis juga dirasakan pada industri alat berat, mesikupun belum akan pulih setidaknya seperti kondisi pada 2019. Jamaluddin, Ketua Himpunan Alat Berat Indonesia (HINABI) mengatakan permintaan alat berat sudah mulai menggeliat sejak akhir tahun 2020. Ia memperkirakan pada tahun ini produksi alat berat tumbuh 20% hingga 30%. Tahun 2020 lalu, produksi alat berat, kata Jamaluddin, mencapai titik nadir yaitu berada di kisaran 3.000 unit. “Tahun ini diperkirakan sekitar 4.000 unit,” ujarnya.

Jamaluddin mengatakan meski sektor pertambangan diperkirakan tumbuh positif pada tahun ini, tetapi tidak serta merta akan mendongkrak permintaan alat berat baru seperti halnya pada tahun 2018. Menurutnya, hampir dua tahun industri alat berat mengalami kelesuan yaitu 2019 dan 2020. Selama periode tersebut banyak unit eksisting yang parkir. “Harga batu bara sekarang bagus. Artinya, mining hidup kembali itu sudah kelihatan. Tetapi si miner mengoptimalkan unit yang parkir dulu,” ujarnya seraya menambahkan permintaan alat berat baru sudah ada meski masih relatif kecil.

Produksi alat berat mengalami pertumbuhan yang signifikan pada tahun 2017 dan 2018. Pada tahun 2017, produksi alat berat mencapai 5.609 unit, naik 52,5% dibandingkan tahun 2016 yang sebanyak 3.678 unit. Kemudian pada tahu 2018, produksi alat berat mencapai 7.981 unit, naik 42% dari 2017. Pada tahun 2019, produksi alat berat turun menjadi 6.060 unit atau turun 24%.

Jamaluddin belum bisa memperkirakan sampai kapan produksi alat berat ini akan naik kembali ke posisi pada tahun 2017 dan 2018. Ia mengakui industri ini sangat fluktuatif. Pasca krisis tahun 1998, industri alat berat pulih setelah 5 tahun. Sementara pada krisis 2008, tidak sampai setahun langsung pulih. “Memang krisis terparah itu adalah saat ini. Kita susah memprekdiksi karena ini pandemi yang menyangkut nyawa, sehingga orang mau keluar saja takut dan sebagainya,” ujarnya.

Sebagai contoh, saat ini, meski sudah ada permintaan alat berat baru, tetapi Jamaluddin mengatakan produsen alat berat dalam negeri anggota HINABI mengalami kesulitan dari sisi tenaga kerja. “Kita tidak leluasa merekrut tenaga kerja baru dalam kondisi pandemi ini,” ujarnya.

Selain kendala tenaga kerja, pasokan material juga terkendala karena secara global permintaan meningkat sementara para pemasok tidak siap karena masih terimbas pandemi. “Memang sekarang kebutuhan akan material seluruh dunia itu meningkat. Tinggal bagi-bagi porsinya bagaimana,” ujarnya.

Selain sektor pertambangan yang pulih, permintaan alat berat juga tentu datang dari sektor konstruksi. Pemerintah sendiri mengalokasikan belanja infrastrukur yang besar pada tahun 2021 ini yaitu mencapai Rp417 triliun, naik sekitar 48% dari Rp 281,1 triliun di tahun 2020. Hanya saja, Jamaluddin mengingatkan agar pemerintah perlu memprioritaskan penggunaan alat-alat yang diproduksi di dalam negeri. HINABI, katanya, sudah kembali mengirim surat ke pemerintah soal proteksi produsen alat berat dalam negeri ini. “Harapan saya adalah utamakan industri dalam negeri untuk proyek-proyek pemerintah,” ujarnya.

Selain itu, HINABI juga mendesak harmonisasi tarif bea masuk. Menurutnya, dalam perdagangan bebas impor alat berat utuh dikenakan tarif bea masuk 0%. Sementara, di sisi lain, impor komponen untuk produksi alat berat dalam negeri dikenakan tarif bea masuk 5% hingga 10%. “Tidak kompetitif dong. Kita minta diharmonisasikan,” ujarnya.

Selain produsen-produsen alat berat, perusahaan-perusahaan dealer juga memproyeksikan penjualan alat berat pada tahun ini akan tumbuh positif. Sara K. Loebis, Sekretaris Perushaan PT United Tractors Tbk (UNTR) yang mengageni alat berat merek Komatsu mengatakan penjualan alat berat secara industri pada tahun 2020 lalu sebesar 4.900 hingga 5.000 unit. “Untuk 2021 diperkirakan ada pertumbuhan 10%,” ujar Sara.

Terkait pandemi Covid-19, Sara mengatakan memang pandemi berdampak pada industri alat berat karena harus menyesuaikan prosedur dan protokol kerja. Namun, ia  mengatakan sebenarnya yang lebih utama menghambat pasar alat berat adalah harga komoditas, khususnya batu bara. “Pandemi sempat menghambat ketika perlu penyesuaian prosedur atau protokol kerja. Sesudahnya berjalan kembali dengan protokol baru,” ungkapnya.

Petrus Halim, Direktur Utama PT Intraco Penta Tbk (INTA) juga memperkirakan penjualan alat berat pada tahun ini tumbuh sebesar 10%. “Karena tahun 2020 industri alat berat turun cukup drastis, sehingga pertumbuhan 10% rasanya konservatif namun sangat realistis,” ujarnya.

Ada pun latar belakang perkiraan pertumbuhan tersebut, kata Petrus, adalah pertumbuhan atau prospek dari sektor-sektor yang dilayani INTA. Yang paling utama adalah sektor nikel, yang pergerakannya sangat optimis. Laju industrinya cukup baik ditandai dengan banyak investasi di sektor hilir. Investasi sektor hilir ini akan memastikan permintaan atas bijih nikel (nickel ore), akan semakin tinggi.

“Alat-alat INTA digunakan di hulu untuk kegiatan pertambangan tersebut. Itu sebabnya INTA cukup optimis dengan sektor nikel, walaupun dengan satu catatan bahwa pemakaian alat berat sektor nikel tidak seintensif seperti sektor batu bara. Tapi itu satu tanda yang baik bahwa nikel akan terus mendukung untuk industri alat berat,” ujar Petrus.

Industri batu bara, jelas Petrus, tentu masih menjadi driver permintaan alat berat. Walaupun harga batu bara tidak menentu sejak tahun 2012, naik dan turun cukup drastis, namun produksi dan ekspor Indonesia terus naik secara volume. Artinya, tidak bisa dipungkiri bahwa sektor batu bara ini walaupun fluktuatif, namun tetap menjanjikan dan memberikan kontribusi yang besar bagi kinerja INTA.

“Maka kami dengan senang hati melihat perkembangan harga batu bara mulai naik cukup banyak beberapa minggu terakhir (Desember 2020) diiringi oleh faktor politik antara China dan Australia. Dimana mereka sedang kondisi yang tidak terlalu baik, sehingga impor batu bara dari Australia dihalangi oleh pemerintah China, maka Indonesia yang menerima keuntungan dari semua itu,” ia menjelaskan.

Sektor infrastrutur juga masih tetap berkontribusi pada penjualan alat berat INTA. Petrus mengatakan infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah Jokowi, memang bersifat multiyear. Artinya, tidak ada yang selesai dalam satu tahun, semuanya memakan waktu lebih dari satu tahun. Maka kelanjutan dari proyek- proyek yang sudah ada, maupun proyek-proyek baru yang lain, akan menjadi kontribusi besar bagi penjualan alat berat.

Namun, faktor kunci yang menentukan semua pertumbuhan bisnis alat berat ke depan dalam kondisi pandemi ini adalah efektivitas vaksinasi yang akan segera dilakukan pemerintah pada pada awal tahun 2021 ini. Vaksinasi  itu jelas berdampak positif bagi perekonomian nasional. “Di balik semua yang sudah dijelaskan, INTA perlu menyikapi bagaimana efektifnya vaksin yang sudah kita tunggu-tunggu. Jika vaksin tersebut kurang efektif atau kurang cepat dilaksanakan secara luas, maka pasti akan mengganggu kelancaran dari proyek-proyek tersebut,” ungkapnya. EI

 

Related posts