25.9 C
Jakarta
Apr 2, 2020.
Business Feature Industry Mining Top News

Investasi Infrastruktur Dongkrak Permintaan Agregat

Kembali terpilihnya Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia untuk periode yang kedua menjadi khabar gembira bagi suplier-suplier peralatan konstruksi, tidak terkecuali para pemasok bahan-bahan bangunan, termasuk produsen-produsen quarry. Bagaimana tidak, eks Gubernur DKI Jakarta ini sudah berkomitmen untuk melanjutkan proyek-proyek infrastruktur senilai sekitar AS$400 miliar.

Guy Woodford, dilansir dari aggbusiness.com, mengutip laporan Bank Dunia pada April 2019, menyebutkan bahwa Indonesia yang berpenduduk sekitar 260 juta jiwa telah memetakan pertumbuhan ekonomi yang mengesankan sejak mengatasi krisis keuangan Asia akhir 1990-an. PDB per kapita negara ini terus meningkat, dari AS$ 807 pada tahun 2000 menjadi AS$ 3.877 pada tahun 2018.

Saat ini, Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia, ekonomi terbesar ke-10 di dunia dalam hal paritas daya beli, dan anggota G-20. Digambarkan oleh Bank Dunia sebagai ‘negara berpenghasilan menengah’, lembaga keuangan internasional yang sangat dihormati ini memuji Indonesia atas keberhasilannya dalam mengentaskan kemiskinan, menekan tingkat kemiskinan lebih dari setengah sejak 1999, menjadi 9,8% pada 2018.

Disebutkan dalam Laporan Bank Dunia itu, meskipun ketidakpastian global meningkat, prospek ekonomi Indonesia semakin  positif, dengan permintaan domestik sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Didukung oleh investasi yang kuat, inflasi yang stabil, dan pasar lapangan kerja yang kuat, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan mencapai 5,2% pada tahun 2019.

Menurut laporan GlobalData (Mei 2019) tentang Konstruksi di Indonesia – Tren dan Peluang Utama hingga 2023, industri konstruksi di negeri ini terus berkembang dengan cepat, terutama didorong oleh investasi berkelanjutan pemerintah dalam infrastruktur transportasi dan energi. Dilaporkan tingkat pertumbuhan tahunan 6,1% secara riil pada tahun 2018.

Nilai output industri diharapkan terus berkembang pada tingkat yang sehat selama periode perkiraan (2019-2023), dengan investasi-investasi dalam proyek-proyek perumahan, transportasi dan infrastruktur turisme (pariwisata) yang terus mendorong pertumbuhan.

Dalam anggaran 2019, pemerintah meningkatkan total pengeluaran untuk infrastruktur transportasi dari Rp410,7 triliun (US $ 28,8 miliar) pada tahun 2018 menjadi Rp415 triliun (US $ 29,1 miliar) pada tahun 2019.

GlobalData mengatakan fokus pada pengembangan sumber daya energi lokal juga diperkirakan akan meningkat, yang akan mendorong pertumbuhan industri, sehingga semakin meningkatkan permintaan untuk peralatan konstruksi dan quarry. Pemerintah menargetkan untuk  menghasilkan daya listrik 114GW pada 2024 dan 430GW pada 2050, untuk memenuhi permintaan listrik yang meningkat di berbagai belahan Indonesia.

Pipeline proyek konstruksi secara keseluruhan di Indonesia – sebagaimana dilacak oleh GlobalData dan termasuk semua megaproyek dengan nilai di atas AS$ 25 juta – mencapai Rp 9 kuadriliun (US $ 630,9 miliar). Pipeline itu, yang mencakup semua proyek dari pra-perencanaan hingga pelaksanaan, seimbang, dengan 50,8% dari nilai pipeline berada di proyek-proyek dalam tahap-tahap pra-eksekusi dan eksekusi pada Mei 2019.

Mengingat dukungan yang luar biasa dari kondisi ekonomi  dan sektor konstruksi Indonesia, sedikit yang skeptis bahwa Presiden Widodo akan gagal untuk menyukseskan janji pengeluaran pekerjaan umum yang besar. Hal ini menciptakan kepastian yang lebih besar di antara pembeli bahan-bahan bangunan dan peralatan penggalian, yang semakin mencari berusaha untuk berinvestasi brand-brand pabrik premium.

Produsen alat berat raksasa asal Amerika Serikat, Caterpillar, adalah salah satu produsen peralatan orisinal (OEM) terkemuka di dunia yang ingin membangun kehadiran yang kuat di pasar Indonesia.

Berbicara tentang permintaan agregat di Indonesia saat ini, Annas Fadly, territory sales manager,  divisi Global Construction & Infrastructure, Caterpillar, mengatakan: “Selama lima tahun terakhir permintaan telah meningkat, didorong oleh proyek-proyek besar di sektor konstruksi dan infrastruktur dari pemerintah dan sektor swasta. Dorongan untuk pembangunan di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh dorongan pemerintah baru untuk mempercepat proyek-proyek seperti jalan tol Trans-Sumatera dan jalan tol di seluruh Jawa, Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, Jakarta Light Rail Transit ( LRT), bandara Jakarta yang baru, pelabuhan Priok baru (juga dikenal sebagai pelabuhan Kalibaru) yang akan tiga kali lipat kapasitasnya dari Tanjung Priok jika sudah beroperasi penuh pada tahun 2023, berbagai proyek bendungan dan irigasi, serta perumahan.”

Fadly mengatakan, permintaan agregat Indonesia ke depan  setidaknya akan sebanding dengan level saat ini dan mungkin sedikit lebih tinggi, karena jumlah proyek-proyek infrastruktur yang didanai pemerintah dan swasta, termasuk perumahan dan gedung perkantoran, masih harus diselesaikan.

Kembali ke tren di kalangan para pelanggan alat konstruksi di Indonesia, Fadly melanjutkan, “Sebagian besar dari mereka adalah pelanggan ritel, dan kebanyakan menggunakan excavator 20 ton dengan menggunakan hammer untuk penghancuran primer dan truk 10 ton. Pelanggan-pelanggan lain hanya menggunakan peledakan dan hammer untuk peledakan sekunder, lebih memilih excavator 20-30 ton. Pemain-pemain besar dari perusahaan semen atau anak perusahaan dari perusahaan-perusahaan milik negara (BUMN) mengoperasikan peralatan yang lebih besar dan memanfaatkan teknologi yang tersedia.”

Pemerintah Indonesia, kata Fadly, sudah menetapkan peraturan dan kebijakan baru seputar ekstraksi mineral termasuk pasir, kapur, marmer, granit, dan andesit. “Dulu, izin penambangan dikeluarkan oleh pemerintah daerah, sekarang semua izin baru diberikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Sayangnya, dengan permintaan yang tinggi seperti itu, penambangan ilegal dan penggalian bahan bangunan tetap menjadi tantangan bagi pemerintah dan hal itu berdampak buruk bagi lingkungan. Namun, dengan penegakan peraturan dan kebijakan baru yang lebih hati-hati, kita dapat berharap membatasi tingkat degradasi lingkungan.”

Volvo Construction Equipment (Volvo CE) adalah pabrikan peralatan orisinal  (OEM) lainnya yang memiliki kehadiran kuat di pasar quarry, tambang dan konstruksi Indonesia. Produsen asal Swedia itu memasukkan beberapa tipe alat pada proyek-proyek terbaru, seperti satu unit excavator Volvo EC200 yang membantu membangun jalan untuk pembangkit listrik tenaga air, Volvo R60D dan EC950E yang mengerjakan proyek tambang batubara, dan paver Volvo ABG5820 yang mendukung upaya untuk meningkatkan jaringan transportasi di Sulawesi Tengah.

“Permintaan diperkirakan akan tumbuh lebih lanjut. Pembangunan infrastruktur sedang meningkat, terutama proyek-proyek jalan raya, bandara, dan pelabuhan. Oleh karena itu, untuk mendukung pengembangan infrastruktur, ada permintaan tinggi untuk agregat. Excavator-excavator 20 hingga 40 ton dari Volvo seperti EC210D, EC350DL dan EC480DL sangat cocok untuk memenuhi permintaan agregat Indonesia,” kata Lambert Gerrit, Marketing Director Volvo CE Indonesia. “Seiring meningkatnya permintaan agregat, itu berarti masa depan yang lebih cerah bagi Volvo CE.”

Menyebut contoh lain kehadiran Volvo CE saat ini di pasar Indonesia, Gerrit, mencatat bagaimana kontraktor CV Mutiara Batang Toru, menggunakan dua excavator Volvo EC200D untuk membantu membangun jalan di area hutan hujan yang menantang untuk proyek pembangkit listrik tenaga air baru di daerah Sumatera Utara.

“Kedua excavator Volvo EC200D dapat memindahkan lebih dari 800 ton agregat setiap hari untuk menyelesaikan pekerjaan jalan dalam jadwal yang ketat,” jelasnya.

Gerrit menambahkan, “Sektor konstruksi jalan sangat tertinggal pada masa lalu, oleh karena itu dibutuhkan lebih banyak jalan untuk memenuhi pertumbuhan penduduk. Proyek-proyek pelabuhan di pemerintah juga sedang meningkat. Dan semua perkembangan ini membutuhkan agregat.

“Untuk memenuhi kebutuhan pasar pada masa mendatang, Volvo CE memastikan mesin-mesinya dapat diakses oleh para customer karena kami terus meningkatkan jaringan dealer kami.

“Di bagian depan alat-alat ini, kami menawarkan Volvo breaker, yang dirancang untuk menangani pekerjaan yang paling sulit di pertambangan, quarry, pembongkaran dan konstruksi. Volvo breaker adalah pilihan utama para pelanggan kami dalam hal bekerja di aplikasi berat seperti tambang batu,” kata Gerrit.

Dia menyoroti bagaimana ekspansi besar jaringan jalan negara menjadi bagian dari rencana pemerintah Indonesia untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Gerrit mencatat bagaimana beberapa kontraktor Sumatra menggunakan alat berat Volvo CE pada salah satu proyek terbesar, Jalan Tol Trans-Sumatera.

“PT Rodateknindo Purajaya dan PT Baniah Rahmat Utama menggunakan mesin-mesin kami untuk membentang aspal. Kontrak untuk Jalan Tol Trans-Sumatra adalah yang terbesar dari tujuh proyek jalan yang saat ini sedang dikerjakan perusahaan. Perusahaan tersebut  memiliki tujuh unit Volvo CE, termasuk tiga compactor, dua excavator, paver, dan wheel loader.”

Gerrit mengatakan, usaha tambang batu di Indonesia semakin besar, yang berdampak terhadap kebutuhan alat yang makin besar. “Dengan demikian, permintaan alat-alat yang produktivitasnya tinggi tetapi biaya per tonnya rendah akan meningkat. Para pelanggan lebih tertarik pada alat-alat yang konsumsi bahan bakarnya lebih rendah dan alat berat Volvo CE terkenal akan hal itu,” pungkas Gerrit berpromosi. (Sumber: aggbusiness.com)

37 total views, 2 views today

Related posts