26.1 C
Jakarta
Nov 21, 2019.
Image default

Ketika otomatisasi teknologi pengeboran dan peledakan kian jadi tren

Tren digitalisasi mesin bor semakin menguat dewasa ini. Apa saja solusi-solusi yang ditawarkan PT. Trakindo Utama dan PT. Sandvik Mining & Construction Indonesia?

Teknologi alat bor terus berkembang. Seiring dengan tren digitalisasi saat ini, teknologi mesin pengeboran juga berkembang ke arah sana. Berbagai alat untuk drilling (pengeboran) dan blasting (peledakan) di pertambangan yang muncul belakangan sudah dilengkapi dengan fitur-fitur canggih dan smart sehingga bisa beroperasi dengan sistem otomatisasi (automation).

Kinerja alat drilling dan blasting konvensional biasanya ditentukan sepenuhnya oleh keahlian seorang operator dalam mengoperasikan alat. Kemampuan seorang operator dalam mengkombinasikan rotasi, pull down (tekanan) dan compressor akan sangat mempengaruhi hasil kerjanya.

Tetapi sehebat-hebatnya seorang operator, dia masih tetap manusia yang memiliki sisi kelemahan. Misalnya, kelelahan atau mood yang kurang bagus. Karena itu, salah satu kelemahan alat drilling manual adalah sering terjadi over drill. Misalnya, target pengeboran sedalam 10 meter, tetapi aktualnya 11,5 meter atau kurang. Kalau lebih bahan peledak yang dituangkan pun menjadi berlebihan. Otomatis hal ini akan membuat cost meningkat. Demikian juga kalau kedalamannya kurang akan menyebabkan permukaan dasar tambang bergelombang. Buldozer pun akan bekerja keras untuk meratakan permukaan.

Kerja-kerja manual seperti ini tampaknya akan semakin ditinggalkan. Perusahaan-perusahaan penyedia alat berat untuk drilling dan blasting kini sudah menyediakan alat-alat yang bekerja dengan sistem otomatisasi yang semakin meminimalisir peran operator.

Kiswanto, Product Manager Drills, PT. Trakindo Utama, mengatakan Caterpillar sudah sejak 2015 mengembangkan digitalisasi untuk unit mesin drill. “Mesin drill yang dulu itu manual semua. Jadi, kesuksesan untuk menyiapkan quality hole sangat tergantung kepada keahlian operator,” ujarnya kepada Equipment Indonesia saat ditemui di sela-sela konferensi Drill & Blast In Industry 4.0 di Shangri-La Hotel Jakarta, Rabu (14/8).

Senada dengan Kiswanto, Agus Budi Syahputra, Sales Manager PT. Sandvik Mining and Construction Indonesia mengatakan saat ini tren permintaan customer mesir bor adalah alat-alat yang sudah dilengkapi dengan fitur digital. Customer, menurutnya, sudah mulai meninggalkan alat-alat yang bekerja secara manual.

“Kalau berbicara masalah permintaan customer akhir-akhir ini, beberapa pelanggan sudah mulai mengarah ke industri 4.0 dimana unit ini bisa lebih mudah diketahui kondisinya, productivity-nya,” ujarnya saat ditemui di acara yang sama.

Tetapi untuk peralatan drilling, menurut Agus, tren ke arah digitalisasi baru mulai terasa dalam setahun terakhir. Beda halnya pada excavator yang sudah mulai beberapa tahun lalu. “Karena alat bor di beberapa tambang ada yang sebagai support equipment, bukan sebagai yang utama seperti excavator dan truk,” ujarnya.

Sandvik sendiri sudah mulai memperkenalkan automatisasi pada alat berat sejak 10 tahun lalu, yaitu dimulai dari alat berat untuk tambang bawah tanah. Saat ini peralatan drilling milik Sandvik yang sudah menggunakan teknologi automatisasi adalah Sandvik DT921i, Sandvik DPi series dan Pantera DP1100i. “Unit-unit yang sudah bisa masuk tahap automation itu yang i-series,” ujarnya.

 

Mesin bor manual vs digital

Di antara semua unit mesin tambang, mesin bor termasuk yang paling susah. Dalam operasinya, operator harus mengkombinasikan antara rotasi, pull down (tekanan) dan compressor. “Si operator harus memantau, tangannya harus cepat karena tuasnya berdiri sendiri-sendiri. Harus terampil dan dia harus fokus,” ta Kiswanto.

Namun, lanjut Kiswanto, sering terjadi operator bekerja berdasarkan feeling dan juga tergantung mood, sehingga terjadi over drill atau kurang. “Kalau lebih risikonya apa? Bahan peledak yang dituang jadi lebih. Otomatis rugi. Cost untuk peledakan meningkat,” ia mengingatkan resikonya.

Dengan digitalisasi, menurut Kiswanto, proses drilling dilakukan dengan sistem auto-drilling. “Jadi si operator memasukkan nomor jenis bit tertentu, karena bit itu kan sudah didesian untuk range kekerasan batuan tertentu. Dari pabriknya sudah di-setting. Begitu kita masukan di situ, target kedalamannya berapa, bikin coloring dulu setengah meter atau 1 meter, baru dia drill sampai 10 meter. Kedalaman 10 meter dia otomatis akan balik. Seperti  itu. Jadi, tugas operator akan jauh lebih mudah,” jelasnya.

Selain auto-drill, digitalisasi juga dilakukan pada drill train. Dalam menentukan titik-titik yang akan dibor misalnya. Selama ini prosesnya dilakukan manual dan dicatat di kertas. Selama ini operator membawa kertas untuk mencatat kedalaman di setiap lubang. Sekarang dengan teknologi digitalisasi tidak perlu mencatat secara manual lagi. “Desain  drill pack yang dibikin oleh enjiner dikirim by wifi, masuk ke monitornya dia, kemudian dia akan menggambar drill pit-nya. Saya mengebor sekian lubang di sini, sekian lubang di sini, jarak antar lubang sekian. Di tanah sudah enggak usah ada patok-patok, pakai bendera. Kemudian dia akan presisi ke titik mana yang akan dibor,” jelas Kiswanto.

Drill train itu, jelas Kiswanto, bekerja berdasarkan informasi level. Saat tambang pertama kali dibuka, permukaan tanah masih bergelombang. Dalam proses manual biasanya kedalaman pengeboran akan sama, baik pada level permukaan tanah yang tinggi maupun yang rendah. Misalnya, ditargetkan kedalaman 10 meter, kedalaman pada permukaan yang datar dan rendah juga akan tetap sama 10 meter. Akibatnya, permukaan tambang masih bergelombang. Tetapi, dengan digitalisasi hal itu tidak terjadi karena berdasarkan level.

Hasil dari kegiatan drilling juga dilaporkan secara real time ke kantor. Sehingga setiap saat diketahui jumlah lubang yang dibor. “Jadi bisa diperkirakan selesainya kapan, enggak usah sibuk ngomong, karena sudah real time,” ujarnya.

Data yang dilaporkan juga memiliki tingkatan atau strata kekerasan batuannya. Informasi strata kekerasan ini penting sekali bagi crew blasting. “Data elektronik ini akan dikirim secara real time ke crew blasting. Crew blasting menerjemahkan data ini ke software mereka, sehingga mereka akan meramu bahan peledak sesuai dengan kondisi kekerasan batuan. Jadi lebih akurat. Sudah tidak menduga-duga lagi. Cost-nya lebih efisien,” ujarnya.

Cocok saat harga batubara lesu

Saat harga batubara lesu seperti saat ini, digitalisasi peralatan tambang adalah salah satu jalan keluar untuk mengencangkan ikat pinggang alias efisiensi. Kiswanto mengatakan dengan digitalisasi problem akurasi bisa diatasi. Kektidakakauratan dalam kegiatan pengeboran selama ini membuat biaya menjadi bengkak. Ia merujuk pada kesaksian beberapa kontraktor bahwa problem utama di lapangan adalah akurasi, dari mulai ketepatan drill hingga kualitas lubang. “Kalau lubang pengeboran tidak tepat pada posisi yang dibor, hasil pecahan batunya jelek,” imbuhnya.

Trakindo saat ini memasarkan mesin bor Caterpillar  Rotary Blasthole Drill MD6250 untuk auto-drill. Untuk segmen batubara modelnya hanya satu untuk saat ini. Tersedia model-model lain untuk pembuatan lubang pengeboran yang besar, seperti di Freeport dan Newmont.

Kiswanto menjelaskan tren yang terjadi saat ini di kalangan para penambang, yakni  cenderung mengecilkan ukuran hole. Hal ini berkaitan dengan isu lingkungan. Banyak tambang yang makin dekat dengan lingkungan tempat tinggal. Salah cara untuk meminimalisir polusi adalah mempercekil diameter. Dan untuk industri batubara umumnya digunakan drill kecil dengan ukuran lubangnya 5-8 inci. Caterpillar belum punya alat itu hingga saat ini, tetapi November tahun ini sudah punya. “Kami sudah  siap untuk memasarkan di Indonesia mesin bor dengan diameter lubang 5-8 inci,” pugkasnya.

Related posts

Sukses 46 Tahun KTB di Industri Otomotif Indonesia

Mengenal Road Stabilizer Sakai PM550/550-s

William Syukur

Mengenal Lebih Dekat Teknologi Crushing Italia, MB Crusher

William Syukur