30.4 C
Jakarta
Oct 18, 2019.
Image default

Mengapa Impor Alat Berat dan Spareparts Turun?

PT. Indonesia Kendaraan Terminal mencatat sepanjang semester pertama 2019 impor alat berat dan komponen-komponennya turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Mesin-mesin excavator yang diproduksi pada salah satu fasilitas perakitan alat berat di Jakarta (Dok. EI)

PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) mengungkapkan sepanjang semester pertama tahun ini pertumbuhan kargo untuk segmen alat berat dan spareparts (potongan/bagian dari alat berat), terutama impor mengalami kelesuan bila dibandingkan tahun lalu. Penyebabnya, karena industri tambang terutama harga batubara kalori rendah (low rank) turun. Sektor konstruksi juga tidak segairah tahun lalu.

IPCC mencatat, akumulasi impor alat berat sepajang Januari-Juni 2019 sebanyak 5.406 unit. Jumlah ini turun 29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 7.614 unit. Sedangkan untuk ekspor alat berat, sepanjang semester pertama 2019 sebanyak 1.823 unit, turun 2,95% dibandingkan semester pertama 2018 yang mencapai 2.366 unit.

Kelesuan juga terjadi pada aktifitas ekspor-impor spareparts. Secara akumulasi selama enam bulan tahun ini, impor suku cadang alat berat sepanjang semester pertama 2019 sebesar 19.443 meter kubik, turun 16,83% dibandingkan semester pertama 2018 yang mencapai 23.378. Ekspor suku cadang alat berat juga turun 43,03% dari 24.975 meter kubik menjadi 14.227 pada Januari-Juni tahun ini.

Track, salah satu parts alat berat (Dok. EI)

Bila di Terminal Internasional mengalami kelesuan, kegiatan bongkar muat alat berat di Terminal Domestik cenderung lebih baik. Secara akumulasi selama enam bulan tahun ini,  aktifitas bongkar muat segmen alat berat terlihat meningkat sebanyak 370,42 persen menjadi 101.625 unit dibandingkan tahun 2018 pada periode yang sama sebanyak 21.603 unit.

Demikian juga kegiatan bongkar muat spareparts di Terminal Domestik. Sepanjang semester pertama 2019 mengalami kenaikan 1.273,30 persen dari 564 meter kubik menjadi 7.751 meter kubik.

Reza Priyambada, Investor Relation IPCC, mengatakan penurunan yang terjadi pada segmen alat berat di Terminal Internasional seiring berkurangnya impor dan ekspor dari sejumlah perusahaan alat berat.” Penurunan tersebut seiring dengan kondisi industri pertambangan maupun konstruksi yang belum meningkat signifikan.  Dengan berkurangnya kegiatan impor dan kenaikan tipis pada ekspor alat berat, maka spareparts pun ikut terkena dampaknya,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Equipment Indonesia, Rabu (30/7).

Reza menambahkan peningkatan pada Terminal Domestik disebabkan karena masih adanya bongkar muat alat berat dan spareparts maupun permintaan penggunaan alat berat antar wilayah di Indonesia. “Diharapkan pada semester kedua, pertumbuhan alat berat dapat lebih baik terutama dengan meningkatnya aktivitas pertambangan dan konstruksi yang umumya meningkat pada periode tersebut,” ujarnya.

Kelesuhan industri alat berat di tanah air juga terekam dari data yang dirilis Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi). Menurut Hinabi, produksi alat berat pada semester pertama 2019 ini hanya 3.240 unit, turun 4,1% dibandingkan periode Januari-Juni 2018 yang tercatat sebanyak 3.379 unit. Realisasi produksi semester pertama 2019 ini meleset dari target Hinabi yang ditetapkan sebesar 4.000 unit. Tahun ini, Hinabi memproyeksikan total produksi alat berat hanya 6.500 unit, lebih rendah dari produksi tahun lalu yang mencapai 7.981 unit.

Dari sisi penjualan, PT United Tractor Tbk (UNTR) selaku distributor alat berat brand Komatsu juga membukukan penjualan alat yang tidak menggembirakan. Berdasarkan data yang dirilis perusahaan, sepanjang Januari-Juni 2019, penjualan Komatsu hanya 1.947 unit, menurun 20,13% dibandingkan semester pertama 2018 yang terjual 2.400 unit.

Penurunan terlihat pada segmen pertambangan dan perkebunan. Pada semester pertama tahun lalu, porsi penjualan Komtastu pada dua segmen ini masing-masing 55% dan 15%. Sedangkan, tahun ini turun menjadi 47% dan 14%. Sedangkan, kontribusi penjualan pada segmen konstruksi dan kehutanan terlihat naik. Kontribusi sektor konstruksi naik dari 21% menjadi 27% pada semester pertama tahun ini. Penjualan segmen forestry naik dari 9% menjadi 12%.@

Related posts

Cat® Global Operator Challenge, Ajang Untuk Perkuat Kompetensi Operator

William Syukur

Kobelco dan Teknologi Daur Ulang Energi

William Syukur

Bagaimana Membeli Excavator via Lelang?

William Syukur