Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Iklan Multi
Iklan Multi
Example 728x250
EquipmentTop News

Mengapa Investasi Alat Masih Berat?

652
×

Mengapa Investasi Alat Masih Berat?

Share this article
Hydraulic excavator Komatsu PC2000-8 yang ideal berpasangan dengan dump truck Komatsu HD785-7
Hydraulic excavator Komatsu PC2000-8 yang ideal berpasangan dengan dump truck Komatsu HD785-7
Example 468x60

PT UBM Pameran Niaga Indonesia dan PT Pamerindo Indonesia menggelar lima pameran sekaligus untuk mendukung pertumbuhan berbagai industri di Indonesia, terutama pembangunan infrastruktur dan bisnis tambang. Tetapi, apakah sekarang saat yang tepat untuk investasi alat?

oktober 26
Hydraulic excavator Komatsu PC2000-8 yang ideal berpasangan dengan dump truck Komatsu HD785-7
oktober 38
Kobelco Excavator kelas 40 ton untuk tambang skala menengah.
oktober 39
Doosan DX700LC yang membidik operasi tambang lebih besar dari pendahulunya, Solar 500.

PT UBM Pameran Niaga Indonesia dan PT Pamerindo Indonesia mempertontonkan keperkasaan industri peralatan konstruksi dan pertambangan, termasuk heavy duty truck, dalam lima pameran niaga terbesar dan terkemuka se-Asia Tenggara yang diselenggarakan secara sekaligus di Jakarta International Expo Kemayoran, 13-16 September 2017. Kelima pameran tersebut adalah Concrete Show South East Asia 2017, Mining Indonesia 2017, Construction Indonesia 2017, Oil & Gas Indonesia 2017 dan Marintec Indonesia 2017. Beragam model dan ukuran alat berat/konstruksi dari berbagai merek mengisi penuh area outdoor di lokasi pameran tersebut dan ribuan eksibitor dari industri-industri pendukungnya memenuhi area indoor.

ALTRAK

Sebagian besar produk yang tampil pada pameran kali ini adalah representasi dari industri pertambangan. Dibandingkan pameran Mining & Construction Indonesia  dua tahun lalu (2015), animo eksibitor dalam pameran kali ini sangat luar biasa. Kondisi ini tidak terlepas dari perubahan arah angin kondisi industri tambang dan terus bergairahnya pertumbuhan sektor konstruksi dan infrastruktur. Semenjak tahun 2012, usaha tambang kehilangan gairah untuk tumbuh karena merosotnya harga batu bara. Sementara di sektor tambang mineral pertumbuhannya terhambat oleh kebijakan hilirisasi. Alhasil, dalam sekitar empat tahun terakhir bisnis tambang benar-benar lesu. Akibatnya, pasar barang-barang modal itu ambruk. Dampaknya menjalar ke bisnis-bisnis terkait, seperti leasing dan perbankan serta bisnis-bisnis pendukung lainnya.

Namun, memasuki semester kedua tahun 2016, sudah mulai terasa angin perubahan. Harga batubara mulai merambat naik, meski belum stabil. Perusahaan-perusahaan tambang kembali memacu produksi sehingga permintaan alat berat maupun truk meningkat. Bahkan menurut pengakuan Robert Lie, Direktur Utama PT Gaya Makmur Mobil (GMM), terjadi lonjakan permintaan truk tambang pada kuartal ke-4 tahun lalu. Dia perkirakan permintaan alat tambang akan terus meningkat pada paruh kedua tahun ini.

Baca Juga :  Perhapi: Industri Pertambangan Hadapi Tantangan Dalam Negeri yang Tidak Mudah

Pengakuan yang sama dilontarkan President Director PT Chakra Jawara, T. Bambang Wira. “Penjualan truk pada semester I tahun  2017 ini cukup baik,” kata Bambang, “yang terutama didorong oleh kenaikan permintaan di sektor tambang menyusul kenaikan harga batu bara yang sejak kuartal IV 2016 mengalami kenaikan berkisar di harga acuan USD 83.” Itulah sebabnya kedua perusahaan ini, PT Gaya Makmur Mobil (GMM) dan PT Chakra Jawara, memamerkan produk-produk andalan mereka di sektor tambang pada pameran ini.

Optimisme serupa mendorong beberapa suplier besar alat tambang tampil dengan kekuatan penuh pada eksibisi berskala internasional ini. Volvo Group, contohnya, memboyong dua alat berat yang diklaim sebagai yang terkuat di industri ini, crawler excavator EC950E dan A60H articulated hauler. Kedua unit tersebut hadir di tengah meningkatnya permintaan alat-alat berkapasitas lebih besar di sektor pertambangan Indonesia. Sementara Volvo Truck memamerkan FH16 610 6x4T dan FMX 440 8x4R, yang sudah dibekali dengan teknologi I-shift dengan Crawler Gears, yang menawarkan keseluruhan beban berat untuk truk besar dengan transmisi otomatis guna mengatur kecepatannya saat melaju dan mundur secara perlahan.

PT Trakindo Utama (Trakindo) memanfaatkan pemeran ini untuk meluncurkan Motor Grader Caterpillar seri M generasi terbaru, Cat 14M3 dan Cat 18M3,sebagai wujud komitmen dukungan berkelanjutan perusahaan ini terhadap kemajuan industri tambang. Alat-alat tersebut didesain untuk meningkatkan produktivitas, mencapai biaya operasi yang lebih rendah dan menghadirkan keamanan serta kemudahan dalam operasi. Selain itu, Trakindo mengedukasi para pemilik alat mengenai pentingnya menjaga kesehatan mesin dengan memanfaatkan laboratorium S.O.S (Scheduled Oil Sampling). Laboratorium ini menyediakan serangkaian tes diagnostik untuk menganalisis cairan-cairan, seperti minyak pelumas atau bahan bakar, pada unit-unit alat berat dan peralatan lainnya.

Baca Juga :  Bagaimana menciptakan stabilitas di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu?

Booth PT United Tractors Tbk (UT) menampilkan product ranges yang lebih komplit dan tidak hanya terbatas pada mesin-mesin tambang. Di samping memamerkan alat-alat berat, termasuk truk-truk untuk aplikasi-aplikasi tambang dan konstruksi dari brand-brand Komatsu, UD Trucks, Scania, Bomag dan Tadano, UT juga memanfaatkan pameran ini untuk memperkenalkan program solusi Life Cycle Cost (LCC) untuk peralatan berat. Ini merupakan teknologi terbaru untuk men-support pelanggan dalam merealiasikan keberhasilan bisnis mereka, serta garansi untuk layanan purna jual yang dikenal sebagai UT Guaranteed Product Support (UT GPS).

Untuk mendukung usaha tambang, rangkaian peralatan yang ditampilkan UT selama pameran ini terdiri dari hydraulic excavator Komatsu PC2000-8, dump truck Komatsu HD785-7, UD Trucks Quester serta varian-varian truk terbaru Scania. Komatsu PC2000-8 merupakan hydraulic excavator dengan kategori loader besar, yang berfungsi untuk memuat material ke dalam dump truck. Pasangan ideal alat besar ini adalah dump truck Komatsu HD785-7. Kedua unit ini digunakan dalam tambang skala besar.

Sementara untuk pasar konstruksi, seri-seri alat berat yang ditampilkan UT selama pameran ini adalah hydraulic excavator Komatsu PC195LC-8, asphalt finisher Bomag BF 300 P, single drum rollers Bomag BW 219 D-4, tandem vibratory rollers Bomag BW 100 AD-4, serta rough terrain crane Tadano GR-500EXL.

Tidak hanya menawarkan serangkaian produk yang berkualitas, UT juga menawarkan solusi-solusi bagi para customer dalam mengoptimalkan kinerja alat mereka melalui konsep Life Cycle Cost (LCC). Ini merupakan sebuah konsep yang menganalisis dan menentukan secara efektif biaya investasi peralatan untuk life cycle tertentu dari pertimbangan harga beli, pembiayaan, biaya operasional mencakup biaya bahan bakar, biaya perawatan dan perbaikan hingga resale value. Prinsip dasar dari LCC adalah memangkas semua biaya, meningkatkan produktivitas serta mendongkrak resale value alat.

Baca Juga :  Siasat Satrindo Mitra Saat Sawit Lagi Lesu

Eksibitor lain yang fokus memamerkan mesin-mesin tambang adalah PT Kobexindo Tractors Tbk dengan produk andalannya Doosan Excavator Solar 500 dan DX700, juga NHL Rigid Dump Trucks. Sementara PT Daya Kobelco CMI menampilkan hydraulic excavator SK 330 dan SK480SC – keduanya untuk tambang skala menengah, plus mini excavator kelas 5 ton, SK50P-6. Alat yang terakhir ini membidik pekerjaan konstruksi di daerah perkotaan dan pasar perkebunan kelapa sawit. Kobelco dikenal sebagai sebagai pioneer mini excavator di Indonesia.

Ramainya kehadiran beragam produk selama pameran kali ini menunjukkan kesiapan industri alat-alat konstruksi dan mesin-mesin tambang dalam mendukung sektor-sektor usaha tersebut. Namun, apakah sekarang saat yang tepat untuk investasi alat-alat berat? Apakah produk-produknya sudah ready (siap untuk delivery) ataukah harus menunggu hingga beberapa bulan ke depan? Pertanyaan yang lebih menantang lagi adalah apakah ada lembaga leasing dan/atau perbankan yang bersedia membiayai barang-barang modal terebut?

Di sektor tambang, khususnya batu bara, harga komoditas memang sudah mulai menguat tetapi masih fluktuatif sehingga banyak perusahaan tambang menahan diri untuk melakukan investasi alat. “Permintaan sudah mulai tumbuh tetapi sebagian besar perusahaan tambang masih menahan diri sampai kondisi benar-benar aman. Apalagi perusahaan-perusahaan leasing sangat selektif dalam pembiayaan karena mereka khawatir terjebak lagi ke dalam krisis yang sama,” komentar Budiono Wibowo, Product Support Director Daya Kobelco CMI, ketika dimintai pendapatnya mengenai prospek pembiayaan alat-alat tambang saat ini.@

Iklan Berca