Bagaimana seorang pemimpin bisnis dapat menciptakan stabilitas selama terjadi ketidakpastian yang berkepanjangan?

Selama kurang lebih tiga bulan terkurung dalam rumah untuk mencegah penularan massif Covid-19, makin banyak orang merasakan dampak buruk dari pandemi ini. Mereka mengalami banyak tekanan, baik secara psikis, sosial maupun ekonomi. Selama pemerintah memberlakukan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) di berbagai daerah, tidak sedikit orang mengalami kesulitan ekonomi karena kehilangan pekerjaan menyusul penutupan sejumlah kegiatan bisnis. Banyak pekerja yang pendapatannya berkurang karena mereka bekerja dari rumah. Ini karena kebijakan beberapa perusahaan yang memangkas gaji atau meniadakan berbagai tunjangan lain bagi para pekerja kantoran.
Saat ini jumlah penderita yang teridentifikasi positif tertular Covid-19 terus mengalami eskalasi di beberapa daerah, sementara di belahan lain tren penularannya menurun. Untuk mengurai keruwetan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19, pemerintah mulai melonggarkan pembatasan sosial di beberapa daerah dengan memberlakukan kenormalan baru (new normal). Sesuai namanya, new normal, kondisinya tidak seperti sebelum pandemi, karena kita berkegiatan dan berbisnis secara berbeda untuk menyesuaikan dengan tuntutan situasi. Makin banyak kegiatan bisnis yang kembali beroperasi, tetapi warga beraktivitas dengan mematuhi berbagai protokol kesehatan.
Perkembangan penularan Covid-19 yang fluktuatif itu menimbulkan ketidakpastian. Hingga kini belum ditemukan vaksin untuk memutus mata rantai penyebaran virus yang mematikan itu. Akibatnya, tidak dapat diprediksi bilamana pandemi ini berakhir. Mungkin karena alasan itu, Presiden Joko Widodo menyarankan kita untuk hidup berdampingan dengan Covid-19.
Ketika ketidakpastian terus berkuasa, bagaimana seharusnya para pemimpin merespons tantangan-tantangan fiskal baru dan pedoman-pedoman apa yang harus mereka ikuti? “Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia sedang mengevaluasi kembali bagaimana mereka berbisnis untuk mengatasi tantangan yang kita semua hadapi saat ini,” kata Jadon Newman, CEO Noble Capital, sebuah perusahaan investasi swasta, dilansir dari forconstructionpros.com (4/6).
“Masa krisis merupakan saat ketika para pemimpin terbaik melangkah, menenangkan karyawan-karyawan mereka, meyakini kemampuan-kemampuan yang mereka miliki untuk mengatasi situasi sulit ini, dan berusaha melampaui norma-norma yang ada untuk mempengaruhi perubahan-perubahan yang membuat perusahaan lebih kuat dalam jangka panjang.
“Meskipun kesehatan dan kesejahteraan anggota-anggota tim harus menjadi perhatian utama pimpinan, hal itu tidak pernah lebih penting dari upaya-upaya untuk menemukan cara-cara baru dan kreatif untuk meraih penghasilan yang lebih besar. Masa-masa sulit sering menjadi kesempatan lahirnya inovasi, dan hal itu dimulai oleh para pemimpin yang tidak akan lumpuh karena masalah, tetapi justru melihat persoalan-persoalan itu sebagai peluang untuk tumbuh,” kata pendiri dan CEO Noble Capital ini.
Alih-alih melarikan diri dari masalah, Newman menawarkan lima tips berikut ini untuk membantu para pemimpin mengarahkan bisnis mereka di tengah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini:
Kembali ke nilai-nilai inti Anda
Nilai-nilai inti perusahaan bertindak sebagai kompas saat menghadapi badai lautan, memberi stabilitas dan membantu menjaga arah bahkan ketika gelombang-gelombang ketidakpastian mendekat. “Nilai-nilai inti Anda yang tidak berubah memberikan kejelasan di tengah turbulensi,” kata Newman. “Mereka berfungsi sebagai kerangka kerja untuk menginformasikan proses pengambilan keputusan Anda, terutama selama periode-periode ketidakpastian.”
Kuat dan jujur
“Pemimpin-pemimpin yang paling siap menghadapi krisis memiliki tingkat ketahanan yang baik,” kata Newman. “Mereka memiliki disiplin mental, menerima kondisi hidup yang tidak aman dan tidak panik ketika badai menerjang mereka. Langkah selanjutnya adalah berkomitmen untuk transparan dengan para karyawan. Bagikan pemikiran, keprihatinan, dan semangat Anda, dan perkuat nilai-nilai perusahaan.
Pelajari, kembangkan ide-ide baru dan sesuaikan
Krisis menyebabkan para pemimpin mengevaluasi kembali proses dan mempertimbangkan perbaikan-perbaikan yang disesuaikan dengan iklim bisnis yang berubah. “Sangat penting untuk belajar dari krisis saat ini,” kata Newman, “dan berdasarkan data yang Anda miliki tentukan apa yang dapat dilakukan perusahaan Anda secara berbeda untuk menyesuaikan. Rangkullah itu sebagai peluang yang menarik untuk berinovasi dan menjadi lebih baik. Kumpulkan ide-ide dari orang-orang yang paling tepercaya. Cermati layanan-layanan dan produk-produk baru yang bisa Anda buat.”
Jadilah orang yang memiliki banyak akal ekstra
“Satu hal yang kami pelajari selama resesi terakhir adalah bagaimana menjadi orang yang memiliki banyak akal,” kata Newman. “Sekarang adalah waktu untuk menata lagi dan kembali fokus untuk mencapai operasi-operasi bisnis yang ramping dan efisien. Kembangkan rencana untuk mengurangi biaya tanpa mengganggu fungsi-fungsi bisnis penting. Jangkau jaringan Anda dan mitra-mitra eksternal untuk memanfaatkan berbagai sumber daya apa pun yang mungkin Anda miliki di luar perusahaan. Berdayakan semua anggota tim dan pemimpin di perusahaan Anda untuk menjalankan tingkat tanggung jawab yang baru.”
Tingkatkan, perbaiki komunikasi
“Yang terpenting adalah membangun komunikasi dengan anggota-anggota tim, para klien dan mitra eksternal,” Newman menekankan. “Tingkatkan penggunaan teknologi saat berhadapan dengan klien, termasuk konferensi video, email, dan bahkan pesan-pesan teks bila perlu. Bangun kerja sama dengan business leadership Anda untuk mengembangkan rencana komunikasi yang sesuai untuk bisnis Anda.” “Bagaimana suatu perusahaan mengatasi tantangan-tantangan besar menentukan jenis perusahaan mereka,” ujar Newman. “Ketika para pemimpin melangkah dan membimbing perusahaan melewati badai-badai itu, mereka mengembangkan kapabilitas-kapabilitas kepemimpinan yang lebih dalam yang akan bertahan lama melampaui krisis saat ini. Demikian juga, perusahaan mereka akan lebih kuat untuk itu.” (Sumber: forconstructionpros.com)


















