29.5 C
Jakarta
Dec 7, 2019.
Image default

Mengapa Marton Fokus Pada Ketersediaan Suku Cadang & Edukasi Pelanggan?

Pembeli adalah raja. Jargon yang populer di dunia pemasaran ini benar-benar dihayati oleh jajaran manajemen PT Marton Tekindo Abadi. Sebagai pemasok berbagai brand alat berat dan aksesorisnya, perusahaan yang berdiri sejak 1986 ini membangun kepercayaan customer dengan berkomitmen pada kebutuhan mereka.

 “Moto kami adalah berusaha committed terhadap kebutuhan-kebutuhan para pelanggan. Jadi, committed to customer needs,” kata Wijaya Surio, BSBA selaku Operational General Manager Marton saat berbicang-bincang dengan Equipment Indonesia di Jakarta baru-baru ini.

Komitmen terhadap kebutuhan pelanggan tidak terlepas dari pengalaman sang pendiri, Marzuki Widjaja. Sebelum mendirikan perusahaan ini, Marzuki adalah seorang salesman alat-alat berat. Sebagai  orang yang pernah meniti karir dari bawah, dia sangat memahami apa yang menjadi kebutuhan para pelanggan. Pemahaman itulah yang kemudian diterjemahkan menjadi visi perusahaan dan dihayati dalam operasional sehari-hari.

Komitmen terhadap kebutuhan pelanggan, terutama terkait dengan support dan after sales services. Menurutnya, secanggih apa pun sebuah unit alat berat yang ditawarkan, bila tanpa  ketersediaan suku cadang, maka akan berdampak fatal bagi operasional pelanggan atau kontraktor yang menggunakannya. Wijaya mencontohkan penggunaan mesin bor dalam siklus pekerjaan tambang yang selalu menjadi yang pertama. “Kalau pengeboran berhenti, rentetan pekerjaan berikutnya tidak bisa jalan,” ujarnya.

Menurutnya, mindset yang ditanamkan di perusahaan ini adalah bila unit mengalami breakdown, harus secepatnya diatasi dengan menyediakan spareparts yang dibutuhkan. Untuk itu, setiap produk yang di-handle oleh Marton memiliki stok spareparts-nya. Bahkan, bila suku cadang yang dibutuhkan tidak tersedia, maka Marton dengan cepat memutuskan untuk mecopot dari unit-unit yang distok.  “Keputusannya tidak usah lama-lama. Tidak usah panjang-panjang. Parts itu harus diambil dari unit-unit yang sengaja distok. Jalur ini tidak usah panjang-panjang,” ungkapnya meyakinkan. Terobosan ini ditempuh untuk meminimalisasi down time mesin. 

Marton, lanjut Wijaya, juga memiliki sistem yang mengevaluasi manajemen stok dari setiap spareparts dari unit-unit yang dijual. Barang-barang yang turn over-nya tinggi, misalnya empat kali dalam setahun, otomatis stoknya ditambahkan. Critical parts yang sangat dibutuhkan pada saat break down mesin, jelasnya, stoknya harus selalu sudah disiapkan. “Jadi, sistem ini yang kami bangun. Makanya para customer itu tidak usah khawatir,” ujarnya.

Kesigapan dalam menyediakan spareparts yang dibutuhkan berbuah manis. Kepercayaan yang merupakan modal penting dalam bisnis, berhasil mereka dapatkan dari para pelanggan. “Waktu kami beralih dari merek Sandvik ke produk yang namanya dulu Junjin drill (sekarang Soosan CSM drill), orang beli Junjin bukan karena kenal mereknya. Mereka tidak tahu mereknya apa. Tetapi mereka tahu perusahaan kami yang mem-back up, men-support. Ini yang membuat customer percaya,” dia menambahkan.

Selain menjamin ketersediaan spareparts, Marton, menurut Wijaya, juga proaktif mengedukasi pelanggan-pelanggannya. Tak hanya menawarkan alat, Marton  juga membangun sumber daya manusia (SDM) dari customer lewat pelatihan. Marton secara proaktif menawarkan pelatihan.

Marton secara rutin melakukan inspeksi alat milik customer. Uniknya, hal itu dilakukan, walaupun terkadang masa garansi sudah lewat. “Ini membuat para pelanggan memiliki trust terhadap perusahaan kami. Bukan terutama produknya lagi yang dilihat, tetapi komitmen Marton,” ujarnya. @

 

Related posts