30.4 C
Jakarta
Oct 18, 2019.
Image default

Mengapa Otomatisasi Teknologi Pengeboran & Peledakan Kian Jadi Tren?

Ketika tren digitalisasi mesin bor semakin menguat, apa saja solusi-solusi yang ditawarkan PT. Trakindo Utama dan PT. Sandvik Mining & Construction Indonesia?

Teknologi alat bor terus berkembang. Seiring dengan tren digitalisasi saat ini, teknologi mesin pengeboran juga berkembang ke arah sana. Berbagai alat untuk drilling dan blasting di pertambangan yang muncul belakangan sudah dilengkapi dengan fitur-fitur canggih dan smart sehingga bisa beroperasi dengan sistem otomatisasi (automation), menurut Kiswanto, Product Manager Drills di PT. Trakindo Utama, saat d konferensi Drill & Blast In Industry 4.0 di Shangri-La Hotel Jakarta baru-baru ini.

Kata dia, kinerja alat drilling dan blasting konvensional biasanya ditentukan sepenuhnya oleh keahlian seorang operator dalam mengoperasikan alat. Kemampuan seorang operator dalam mengkombinasikan rotasi, pull down (tekanan) dan compressor akan sangat mempengaruhi hasil kerjanya.

Tetapi sehebat-hebatnya seorang operator, dia masih tetap manusia yang memiliki sisi kelemahan. Misalnya, kelelahan atau mood yang kurang bagus. Karena itu, salah satu kelemahan alat drilling manual adalah sering terjadi over drill. Misalnya, target pengeboran sedalam 10 meter, tetapi aktualnya 11,5 meter atau kurang. Kalau lebih bahan peledak yang dituangkan pun menjadi berlebihan. Otomatis hal ini akan membuat cost meningkat. Demikian juga kalau kedalamannya kurang akan menyebabkan permukaan dasar tambang bergelombang. Buldozer pun akan bekerja keras untuk meratakan permukaan.

Kerja-kerja manual seperti ini tampaknya akan semakin ditinggalkan. Perusahaan-perusahaan penyedia alat berat untuk drilling dan blasting kini sudah menyediakan alat-alat yang bekerja dengan sistem otomatisasi yang semakin meminimalisir peran operator. Caterpillar, Kiswanto mencontohkan, sejak tahun 2015 sudah mengembangkan digitalisasi untuk unit mesin drill.  PT. Trakindo Utama selaku agen tunggal produk-produk Caterpillar di Indonesia memasarkan Rotary Blasthole Drill MD6250 untuk auto-drill.

Solusi serupa ditawarkan PT. Sandvik Mining & Construction Indonesia. Agus Budi Syahputra, Sales Manager PT. Sandvik Mining & Construction Indonesia, mengatakan saat ini tren permintaan mesir bor adalah yang sudah dilengkapi dengan fitur digital. Customer, menurutnya, sudah mulai meninggalkan alat-alat yang bekerja secara manual.

“Kalau berbicara masalah permintaan customer akhir-akhir ini, beberapa pelanggan sudah mulai mengarah ke industri 4.0 dimana unit ini bisa lebih mudah diketahui kondisinya, productivity-nya,” ujarnya saat ditemui di acara yang sama.

Tetapi untuk peralatan drilling, menurut Agus, tren ke arah digitalisasi baru mulai terasa dalam setahun terakhir. Beda halnya pada excavator yang sudah mulai beberapa tahun lalu. “Karena alat bor di beberapa tambang ada yang sebagai support equipment, bukan sebagai yang utama seperti excavator dan truk,” ujarnya.

Sandvik sendiri sudah mulai memperkenalkan automatisasi pada alat berat sejak 10 tahun lalu, yaitu dimulai dari alat berat untuk tambang bawah tanah. Saat ini peralatan drilling milik Sandvik yang sudah menggunakan teknologi automatisasi adalah Sandvik DT921i, Sandvik DPi series dan Pantera DP1100i. “Unit-unit yang sudah bisa masuk tahap automation itu yang i-series,” ujarnya. @

 

Related posts

Demolition Robot Husqvarna, Mesin Penghancur Mini Yang Sangat Bertenaga

Ambisi Pabrikan-Pabrikan Cina Kuasai Pasar AS

Watermaster, Alat Keruk Spesialis Perairan Dangkal