Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Iklan Multi
Iklan Multi
Example 728x250
BusinessMiningTop News

(Menjaga) Asa Emiten Alat Berat di Tengah Tingginya Harga Batu bara

98
×

(Menjaga) Asa Emiten Alat Berat di Tengah Tingginya Harga Batu bara

Share this article
Example 468x60

Invasi militer yang dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina sejak 24 Februari memicu lonjakan harga batu bara. Satu bulan pasca invasi itu (24/3), harga batu bara melesat lebih dari 36 persen ke level US$326 per ton.

Kobelco Excavator SK 330 untuk aplikasi tambang. Foto: Kobelco

Kenaikan harga batu bara tidak dapat dilepaskan dari posisi Rusia sebagai penghasil batu bara terbesar kelima di dunia dengan produksi sebesar 8,37 juta ton. Kenaikan harga batu bara dan komoditas lain akibat invasi ini akan berimplikasi positif pada kinerja emiten pertambangan batu bara dan industri alat berat.

ALTRAK

Tingginya harga dan kenaikan volume produksi batu bara diperkirakan memberikan asa tersendiri bagi emiten alat berat dan pengusaha tambang batu bara. Momentum tingginya harga tersebut membuka peluang para emiten penjual dan penyewa alat berat serta para pengusaha tambang batu bara untuk meningkatkan kinerjanya.

Sejumlah emiten tambang batu bara memasang target kinerja operasional produksinya pada tahun 2022. Strategi menggenjot produksi di tengah tingginya harga komoditas sangat tepat. Strategi ini diperkirakan membuat kinerja keuangan perusahaan akan meningkat.

Beberapa emiten tambang batu bara menaikkan target produksinya. PT Bumi Resources Tbk (BUMI), misalnya, menggenjot produksi batu bara 85 juta ton hingga 90 juta ton tahun ini. PT Indika Energy Tbk (INDY) juga menargetkan produksi batu bara sebanyak 34 juta ton hingga  35,8 juta ton pada 2022.

Manajemen PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menargetkan produksi batu bara sebanyak 58 juta ton hingga 60 juta ton tahun ini. Target ini naik dari realisasi produksi batu bara ADRO tahun 2021 sebanyak 52,70 juta ton. Sementara manajemen PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menargetkan volume produksi batu bara sebanyak 17 juta ton hingga 19 juta ton pada 2022, tumbuh dari produksi batu bara tahun lalu sebanyak 18,2 juta ton.

Memanfaatkan momentum naiknya harga sejumlah komoditas yang berlanjut hingga tahun ini, PT United Tractors Tbk (UNTR) terus memacu penjualan alat berat. Belum berakhirnya krisis perang Rusia – Ukraina dan terganggunya pasokan komoditas energi membuat harga batu bara akan tetap tinggi.

Melansir laporan bulanan yang diterbitkan di laman UNTR, anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) itu menjual 528 unit Komatsu pada bulan Februari 2022. Pangsa pasar UNTR untuk year-todate Februari 2022 sebesar 30 persen. Penjualan ini melesat 162,69 persen, jika dibandingkan dengan penjualan pada Februari 2021 sebanyak 201 unit alat berat.

Menurut Sekretaris Perusahaan UNTR, Sara K. Loebis dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (05/4/2022), penjualan ke sektor pertambangan masih mendominasi penjualan alat berat Komatsu pada Februari 2022, yakni mencapai 48 persen. Persentase penjualan terbesar kedua diraih sektor konstruksi sebesar 31 persen. Kemudian, di peringkat ketiga dan keempat ditempati sektor kehutanan dan agribisnis masing-masing 12 persen dan 9 persen.

Secara akumulasi, selama periode Januari 2022 hingga Februari 2022, UNTR telah berhasil menjual 1.058 unit alat berat, meningkat sebesar 154,33 persen, dari periode sama tahun 2021 sebanyak 416 unit.

Baca Juga :  Lonking Wheel Loader CDM 843

Pada periode Januari – Februari 2022, penjualan alat berat Komatsu masih didominasi oleh sektor pertambangan, yaitu sebesar 57 persen, melesat dari periode sama tahun 2021 sebesar 43 persen. Persentase penjualan terbesar kedua diraih sektor konstruksi sebesar 18 persen, turun dari periode sama tahun 2021 sebesar 30 persen. Adapun di peringkat ketiga ditempati oleh sektor kehutanan sebesar 15 persen, turun dari periode sama tahun lalu sebesar 17 persen, dan sektor agribisnis stabil sebesar 10 persen.

Penjualan alat berat Komatsu sebanyak 1.058 unit hingga akhir bulan Februari 2022 itu  menujukkan UNTR telah merealisasikan 28,59 persen dari target penjualan hingga akhir tahun 2022 sebanyak 3.700 unit alat berat.

Di sisi lain, dalam laporan bulanan tersebut juga terungkap, volume produksi batu bara UNTR dari lini usaha PT Pamapersada Nusantara (PAMA) turun 11,56 persen menjadi 15,3 juta ton, dari periode yang sama tahun 2021 sebanyak 17,3 juta ton. Pada periode tersebut, PAMA mencatatkan volume pengupasan lapisan penutup atau overburden (OB) removal sebanyak 133,2 juta bank meter cubic (bcm). Realisasi ini tumbuh 10,17 persen, dari volume OB pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 120,9 juta bcm.  Sementara volume penjualan batu bara dari PT Tuah Turangga Agung (TTA) merosot 29,32 persen pada periode Januari – Februari 2022, dari 2,602 juta ton menjadi 1,839 juta ton.

Hal yang sama juga terjadi pada penjualan emas. Volume penjualan emas UNTR selama periode Januari – Februari 2022 mencapai 50.000 (glod equivalent ounces/GEOs), turun 24,24 persen, dari 66.000 GEOs pada periode yang sama tahun 2021.

Pendapat Analis
Dump truck Sinotruk dalam operasi tambang. Foto: Sinotruk

Tersulut harga batu bara, Cindy Alicia Ramadhania, analis pasar modal PT NH Korindo Sekuritas Indonesia, dalam laporan riset baru-baru ini mengemukakan, permintaan alat berat milik UNTR masih tinggi. Target penjualan alat berat Komatsu sebanyak 3.700 unit bukan tidak mungkin akan tercapai.

Peningkatan permintaan alat berat didorong oleh kenaikan harga batu bara dan aktivitas pada sektor penggunaan alat berat. Sentimen kenaikan harga batu bara tentunya memberikan dampak positif bagi UNTR.

“Selama setahun, harga batu bara melejit 301,94 persen. Ke depan, harga batu bara diprediksi masih akan menguat karena permintaan yang cukup tinggi di tengah terganggunya pasokan akibat tensi geopolitik Rusia – Ukraina,” ungkap Cindy.

Adapun dari segmen pertambangan emas, UNTR menargetkan penjualan emas pada tahun 2022 sebanyak 300 ribu ounce. Sepanjang tahun 2021, volume penjualan emas UNTR mencapai 330 ribu ounce dan untuk periode Januari – Februari 2022 tercatat sebanyak 50 ribu ounce.

Permintaan alat berat UNTR meningkat seiring kenaikan produksi batu bara ketika harganya melejit. Mengutip laporan penjualan alat berat UNTR sepanjang 2021, volume penjualan alat berat meningkat 97 persen menjadi 3.088 unit, jika dibandingkan sebanyak 1.564 unit pada 2020.

Pendapatan UNTR pada 2021 mencapai Rp79,46 triliun, tumbuh 31,67 persen, dari Rp60,35 triliun pada 2020. “Kinerja UNTR pada 2022 akan tetap tinggi. Pendapatan UNTR pada 2022 diperkirakan Rp86,22 triliun, naik 8,51 persen, dari Rp79,46 triliun pada 2021. Laba UNTR diperkirakan naik 12,45 persen menjadi Rp11,56 triliun pada 2022, dari Rp10,28 triliun pada 2021,” kata Cindy.

Baca Juga :  Manitou Group luncurkan brand baru untuk attachment

Di antara saham sektor alat berat, saham UNTR disarankan untuk dicermati oleh investor. Itu karena peningkatan kinerja akan membuat peluang pembagian dividen UNTR juga lebih baik tahun ini. Apalagi, UNTR terkenal cukup loyal membagikan dividen.

Cindy mengemukakan, kenaikan harga komoditas membuat para emiten berpeluang untuk memperbaiki kinerja keuangannya setelah hampir dua tahun tertekan karena pandemi Covid-19. Lebih jauh, asa emiten industri alat berat ke depan akan terjadi pertumbuhan permintaan terhadap produk-produk alat berat beserta suku cadanganya.

Menurut Cindy, pergerakan saham emiten alat berat berhasil tersulut oleh tren kenaikan harga komoditas. Sentimen itu pun membuat saham sektor ini sangat prospektif tahun ini. Banyaknya sentimen positif dan gambaran kinerja UNTR yang menjanjikan itu mendorong Cindy untuk merekomendasikan “beli” (buy) saham UNTR. “Saham UNTR berpeluang naik ke level Rp31.200 per lembar tahun ini,” katanya.

Seperti UNTR, manajemen PT Intraco Penta Tbk (INTA) pun optimistis industri alat berat semakin baik pada 2022 dan menargetkan pertumbuhan penjualan. INTA memasang target penjualan alat berat sebanyak 409 unit pada 2022, meningkat jika dibandingkan realisasi penjulan tahun lalu sebanyak 376 unit.

Sekretaris Perusahaan INTA, Astri Duhita Sari, mengaku, harga komoditas batu bara dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang masih tinggi mendorong penjualan alat berat INTA tahun ini. Realisasi penjualan alat berat INTA selama Januari 2022 mencapai 38 unit.

INTA juga akan melanjutkan diversifikasi bisnis ke sektor lain, selain sektor tambang, seperti infrastruktur, pertanian, kehutanan, perkebunan, industri dasar, dan sektor lainnya. Diversifikasi ini bertujuan untuk menciptakan transformasi sehingga dapat mencetak pertumbuhan yang lebih berkesinambungan.

Dampak kenaikan harga komoditas dan mulai bangkitnya industri alat berat juga dinikmati oleh PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA). Perusahaan distributor alat berat itu mampu membukukan kenaikan laba bersih hingga 88 persen secara year on year (yoy) pada 2021. 

Berdasarkan laporan keuangan HEXA, laba bersih per akhir Desember 2021 tercatat sebesar US$38,91 juta. Adapun, pada periode yang sama tahun 2020, laba bersih HEXA hanya US$20,68 juta. 

Angka ini, sejatinya melebihi yang telah ditargetkan HEXA. Sebelumnya, manajemen HEXA memproyeksikan, laba bersih sepanjang 2021 tembus US$31,75 juta. Namun, realisasinya ternyata lebih tinggi. 

Melesatnya laba bersih ini ditopang lonjakan penjualan HEXA yang mencapai 80 persen, dari US$172,10 juta menjadi US$308,87 juta pada 2021. Penjualan alat berat masih menjadi kontributor terbesar bagi HEXA dengan total nilai mencapai US$181,69 juta. Kemudian, penjualan suku cadang sebesar US$77,99 juta, dan jasa pemeliharaan dan perbaikan senilai US$47,61 juta. Adapun, dari jasa penyewaan alat berat, HEXA berhasil mengantongi penghasilan sebesar US$1,58 juta. 

Sebagai informasi, pada 21 Oktober 2021, HEXA membagikan dividen tunai tahun buku yang berakhir pada 31 Maret 2021 sebesar US$20,477 juta (US$0,024378 per saham). Dividen tersebut mencapai 80 persen dari laba HEXA per Maret 2021 sebesar US$25,597 juta.

Baca Juga :  Motor grader tambang XCMG GR5505 dikirim ke Rio Tinto

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) HEXA yang digelar pada 17 September 2021 lalu juga sepakat tambahan dividen tunai dari saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya sebesar US$50 juta (US$0,059524 per saham), sehingga total dividen tunai sebesar US$70,477 juta (US$0,083902 per saham).

Berita gembira juga datang dari manajemen PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX). Manajemen KOBX mampu membalikkan kinerja keuangan pada 2021 dengan mencatatkan perolehan keuntungan. Menurut laporan keuangan KOBX per 31 Desember 2021 yang dikutip Selasa (05/4/2022), emiten penyedia alat berat itu berhasil membukukan laba sebesar US$13,52 juta (US$0,005951 per saham) tahun lalu. Emiten beraset US$116,22 juta per 31 Desember 2021 – naik 2,36 persen dari US$113,54 juta per 31 Desember 2020 – itu, menderita rugi US$10,47 juta (US$0,004605 per saham) pada 2020. Pencapaian laba tersebut seiring peningkatan pendapatan bersih KOBX sebesar 134,10 persen menjadi US$119,32 juta pada 2021, jika dibandingkan sebesar US$50,97 juta pada 2020.

Seiring pendapatan, beban pokok KOBX juga meningkat sebesar 127,61 persen menjadi US$96,94 juta pada 2021, dari tahun 2020 sebesar US$42,59 juta. Meski begitu, laba kotor KOBX melesat 167,06 persen menjadi US$22,38 juta tahun lalu, dari US$8,38 juta pada 2020.

Selain karena penjualan, pencapaian laba KOBX juga didukung oleh penurunan beban umum dan administrasi, serta beban operasi lainnya masing-masing 14,76 persen dan 99,87 persen pada 2021. Adapun pendapatan operasi lain KOBX meningkat sebesar 797,89%  menjadi US$8,53 juta tahun lalu, dari US$950 ribu pada 2020.

Penurunan beban dan kenaikan pendapatan operasi lain tersebut menyebabkan emiten di bidang industri alat berat itu mencetak laba usaha US$16,41 juta pada 2021, sedangkan pada 2020, KOBX mengalami rugi usaha US$5,97 juta.

Sementara jumlah liabilitas KOBX turun 11,54 persen, dari US$91,67 juta pada 2020 menjadi US$81,09 juta pada 2021. Sedangkan jumlah ekuitas KOBX, melonjak 62,08 persen menjadi US$35,43 juta pada 31 Desember 2021, dari US$21,86 juta pada 31 Desember 2020.

Tren kenaikan harga dan volume penjualan batu bara turut membawa berkah bagi penyedia alat berat. Prospek harga komoditas yang cerah memantik harga saham emiten penjual dan penyewa alat berat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama triwulan pertama 2022.

Berdasarkan data BEI, selama periode Januari 2022 hingga Maret 2022, emiten alat berat kompak menguat. Penguatan dipimpin oleh saham HEXA yang menguat Rp1.600 (35,16 persen), dari Rp4.550 menjadi Rp6.150 per saham.  Demikian pula saham INTA selama triwulan I 2022 naik Rp9 (14,06 persen), dari Rp64 menjadi Rp73 per saham.

Penguatan saham juga dialami KOBX yang naik Rp30 (12 persen) menjadi Rp280, dari Rp250 per saham. Saham UNTR sebagai pemimpin pasar alat berat juga menguat Rp3.725 (17,07 persen), dari Rp21.825 menjadi Rp25.550 per saham selama triwulan I 2022. (ws/ym)

Iklan Berca