26.2 C
Jakarta
23 Jun, 2021.

Pemerintah Naikan Target Produksi Batu bara

Ilustrasi kegiatan penambangan batu bara (Foto Ist)

Tren harga batu bara yang menguat sejak akhir tahun 2020 membuat Pemerintah optimis terhadap prospek pasar salah satu sumber energi murah ini. Sebab itu, Pemerintah telah merivisi target produksi, seperti tertuang dalam Keputusan Menteri No. 66.K/HK.02/MEM.B/2021. Aturan ini merupakan Perubahan atas Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 255.K/30/MEM/2020 tentang Pemenuhan Kebutuhan Batu bara Dalam Negeri Tahun 2021.

“Tambahan jumlah produksi batu bara sebesar 75.000.000 ton sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kesatu B, tidak dikenakan kewajiban persentase penjualan batu bara untuk kepentingan dalam negeri (DMO),” tulis Kepmen itu.

Tidak hanya itu, dalam penjelasannya Pemerintah mengatakan tambahan produksi yang diberikan ini nantinya bisa dialokasikan oleh perusahaan batu bara untuk ekspor. Ini untuk mengeliminasi dampak pandemi Covid-19.

Masih di beleid ini, ditegaskan bahwa dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor pertambangan pada 2020 mengakibatkan penurunan keekonomian kegiatan pertambangan secara global. Oleh karenanya, Pemerintah merasa perlu memberi dukungan melalui penambahan jumlah produksi batu bara 2021 untuk penjualan ke luar negeri.

Terkait hal ini, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan dari sisi pemerintah, kenaikan target tersebut juga dengan mempertimbangkan outlook harga yang lagi bagus sehingga bisa menambah penerimaan negara.

“Kalau peningkatan produksi, realisasi produksi pada 2020 sekitar 566 juta ton yang mana melebihi target awal 550 juta ton. Sedangkan pada 2021 tentu kondisi perekonomian lebih baik dibandingkan tahun 2020 sehingga akan mendorong penguatan demand, baik ekspor maupun domestik. Proyeksi realisasi konsumsi domestik pada 2021 akan lebih tinggi dari target awal yang ditetapkan pemerintah sebesar 137 juta ton,” terang Hendra.

Ia mengakui saat ini pun sudah ada beberapa perusahaan yang telah dan akan mengajukan proposal revisi RKAB dengan menaikkan produksi ke pemerintah. “Namun ada juga perusahaan yang belum memutuskan untuk revisi RKAB atau tetap konservatif mengikuti recana produksi di dalam RKAB yang sudah disetujui pemerintah pada awal 2021,” ujar Hendra.

Menurutnya, revisi RKAB dimungkinkan karena pemerintah memberikan kesempatan kepada para pelaku usaha untuk mengajukan proposal revisi RKAB diajukan paling cepat di awal kuartal-II.

Ia menilai perusahaan tentu tertarik memanfaatkan peluang tersebut karena didorong oleh harga komoditas yang sedang membaik sehingga pelaku usaha mencoba memaksimalkan produksi. “Selain itu, perusahaan mencoba memaksimalkan produksi yang sedikit terhalang di kuartal-I serta awal kuartal-II tahun ini akibat curah hujan masih tinggi. Namun, kami tidak memiliki data yang pasti berapa banyak perusahaan yang mengajukan proposal tersebut,” tambahnya.

Hendra menjelaskan bahwa jika membaca Kepmen tersebut, kenaikan produksi ini ditujukan untuk ekspor yang diproyeksikan akan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2020.

“Dari pengamatan kami, perekonomian di negara-negara tujuan utama ekspor batu bara kita sudah mulai membaik apalagi dengan semakin lancarnya proses vaksinasi Covid-19. Bahkan Cina pertumbuhannya sangat bagus. Purchasing Manager Index (PMI) yang selama ini menjadi salah satu indikator untuk mengukur potensi demand, dari negara-negara tujuan ekspor batu bara kita berada di level yang positif,” ungkapnya.

Ia kemudian melanjutkan berdasarkan pertimbangan di atas APBI yakin bahwa potensi demand batu bara, baik untuk pasar ekspor maupudomestik, pada tahun 2021 ini diperkirakan akan lebih baik dibandingkan tahun 2020.

Related posts

005852
Users Today : 2056
Views Today : 11770
Total views : 159210
Who's Online : 132
Your IP Address : 3.235.223.5
Server Time : 2021-06-23