
Gencarnya proyek pembangunan infrastruktur dalam negeri yang digalang pemerintah harus ditunjang oleh ketersediaan alat-alat berat konstruksi. Penambahan jumlah proyek pembangunan infrastruktur selalu beriringan dengan peningkatan jumlah kebutuhan peralatan berat. Demikian ditegaskan oleh Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan, Kamis (18/6).
“Kebutuhan alat berat pada tahun 2012 sebesar 16.000 unit, dan tahun ini diperkirakan mencapai 24.000 unit. Pada tahun 2010, Indonesia mengimpor alat berat sebesar 2 miliar dollar AS, sedangkan ekspor alat berat mencapai 450 juta dollar AS,” jabar pria yang akrab disapa Putu ini mengenai kondisi terkini pasar alat berat nasional.
Ia menambahkan, ketersediaan alat berat secara memadai akan sangat mendukung strategi kebijakan pemerintah dalam mendorong kebutuhan untuk pembangunan nasional. Sejauh ini, industri alat berat dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan tersebut, sehingga upaya rekondisi dan impor dari sektor industri alat berat masih diperlukan yang tentunya sinergi dengan sektor industri yang lain.
Putu menambahkan, peluang pasar di industri alat berat masih cukup besar dan menarik bagi investor dalam dan luar negeri. Pemerintah terus memberikan dukungan dan fasilitas bagi investor yang akan menanamkan modalnya di Indonesia.
“Dengan masuknya investasi tersebut, diharapkan dapat memperluas lapangan pekerjaan sekaligus mempercepat laju pertumbuhan industri dan ekonomi bangsa yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat,” jelas Putu.
Selain itu, pemerintah juga akan terus menggalakkan program peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), terutama untuk proyek-proyek pemerintah dan BUMN. “Berbagai fasilitas diberikan kepada industri yang telah memiliki nilai tingkat komponen dalam negeri,” tambahnya.
Sehari sebelumnya (Rabu, 17/6) saat melakukan kunjungan kerja ke PT Jakarta International Machinery Centre (Jimac) Perkasa di Jakarta, ia mengatakan bahwa rekondisi alat berat yang diimpor dari sejumlah negara adalah suatu upaya untuk memenuhi kekurangan suplai. “Apa yang dilakukan oleh Jimac Group merupakan suatu peluang untuk mengantisipasi kebutuhan alat berat yang belum bisa diproduksi di dalam negeri,” ujar Putu
Kegiatan rekondisi merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki kondisi alat berat yang sudah tidak berfungsi lagi agar dapat dipasarkan kembali. Rekondisi yang diikuti pemasaran kembali itu dimaksudkan untuk menghemat anggaran pembelanjaan alat berat yang dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan harga seiring tuntutan pasar global. @


















