Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Iklan Multi
Iklan Multi
Example 728x250
EquipmentFeatureTop News

Polandia Jadi Pintu Ekspor Indonesia ke Eropa Tengah

601
×

Polandia Jadi Pintu Ekspor Indonesia ke Eropa Tengah

Share this article
Example 468x60
husn 2
Menteri Perindustrian, Saleh Husin (foto diambil dari internet)

Polandia membuka peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan pelabuhan mereka sebagai pintu masuknya produk Indonesia ke Eropa Tengah dan kawasan Eropa lainnya. Hal tersebut disampaikan  Menteri Perindustrian Saleh Husin dalam kunjungannya ke Polandia belum lama ini.  Kesediaan Polandia untuk memanfaatkan pelabuhan mereka merupakan hasil kesepakatan kerja sama antar kedua negara  dalam perdagangan ekspor-impor, pendidikan dan transfer ilmu pengetahuan serta teknologi.

“Pertama, yang menggembirakan adalah Polandia membuka peluang kita untuk memanfaatkan pelabuhan mereka menjadi pintu masuknya produk Indonesia ke Eropa Tengah dan kawasan Eropa lainnya. Ini diharapkan meningkatkan ekspor andalan kita seperti minyak kelapa sawit atau crued palm oil/CPO,” ujar Saleh Husin di Warsawa, Polandia, usai menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) antara Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dengan Kementerian Perekonomian Republik Polandia di Warsawa – Polandia (10/9/2015).

ALTRAK

Perwakilan pihak Polandia yang melakukan penandatanganan nota kesepahaman itu ialah Menteri Perekonomian sekaligus Wakil Perdana Menteri  Polandia, Janusz Piechocinski.

Husin menjelaskan bahwa nota kesepahaman itu juga mencakup pengembangan industri kimia, kedigantaraan, kemaritiman, komponen dan suku cadang, industri permesinan khususnya untuk pertambangan, pemadam kebakaran, industri baja khusus, pengolahan makanan, dan industri alat kesehatan.

Selain itu Husin juga memastikan bahwa pemerintah Polandia membuka kesempatan bagi Indonesia untuk mengekspor produk tekstil dan komoditas-komoditas lainnya. Sementara itu, pihak Indonesia membuka diri bagi investor-investor Polandia untuk berinvestasi di Indonesia.

“Akhir September nanti, sekitar 20 pengusaha terkemuka Polandia akan berkunjung ke Indonesia,”jelas Husin.

Kerja sama juga mencakup kemitraan di bidang pendidikan, utamanya dilakukan oleh Alstom Power dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Alstom Power  merupakan salah satu perusahaan multinasional yang kondang dalam rekayasa teknologi. Sedangkan ITB merupakan salah satu kampus terbaik dalam negeri yang konsen terhadap pengembangan rekayasa teknologi. Dalam kerja sama tersebut, pihak Alston Power memberikan peluang kepada sekitar 20 mahasiswa ITB untuk belajar dan bekerja (magang) di pabrik produsen turbin pembangkit listrik milik Alstom.

Baca Juga :  Kobexindo Tractors bukukan lonjakan pendapatan 154% pada triwulan III-2021

Dubes RI untuk Polandia, Peter Frans Gontha mengatakan bahwa penandatanganan MoU akan dilakukan pada akhir September atau paling lama awal Oktober.

“Penandatangan MoU-nya akan dilakukan di Bandung sekitar akhir September atau awal Oktober mendatang. Pihak Alstom yang akan datang ke Indonesia, mereka sangat serius dan ini kesempatan emas bagi kita,” kata Frans Gontha yang mendampingi Menperin pada kunjungan kerja tersebut.

Pada saat yang sama Frans Gontha menjelaskan alasan kerja sama dengan Polandia negara tersebut tengah berkembang pesat entah di bidang ekonomi maupun penguasaan teknologi.

Frans Gontha menambahkan bahwa aktivitas industri Polandia yang pesat membutuhkan bahan baku yang dihasilkan oleh Indonesia. Salah satunya ialah industri makanan minuman yang kebutuhan minyak nabatinya dapat dipenuhi oleh CPO asal Indonesia.

Investasi Infrastruktur Listrik dan Maritim

Selama di Polandia, Menteri Perindustrian tidak hanya bertemu dengan pejabat pemerintahan, tetapi juga mengunjungi pusat-pusat industri seperti produsen komponen pembangkit listrik dan perkapalan.

Husin menegaskan bahwa Indonesia mau menarik investasi dari Polandia dan mempererat kerja sama kedua negara.  “Kita (Indonesia) sedang memacu infrastruktur seperti listrik. Kita  dapat menggandeng Alstom Power sebagai produsen turbin pembangkit listrik,” ujarnya.

Salah satu opsinya, jelas Husin, produsen turbin di Indonesia dapat menjalin kemitraan baik dalam investasi maupun produksi bersama atau joint production.

Menurut data Kemenperin, hingga saat ini terdapat 3 perusahaan di Indonesia yang sudah dapat memproduksi turbin berkapasitas hingga 27 MW. Diantaranya adalah dua perusahaan generator berkekuatan 10 MW dan sepuluh perusahaan boiler berkekuatan hingga 660 MW.

Sementara itu, industri galangan kapal nasional dapat menjalin kemitraan dengan galangan kapal Polandia. Dalam hal biaya produksi, industri galangan kapal Polandia lebih kompetitif dibanding negara produsen kapal di negara-negara Eropa lainnya, namun tetap berkualitas.

Baca Juga :  EquipmentWatch Umumkan Para Pemenang Penghargaan 2020

Husin menjelaskan bahwa  salah satu keunggulan industri maritim Polandia adalah dukungan sektor pendidikan melalui Gdynia Maritime University.

“Ini bisa menjadi ide menarik untuk diterapkan di Indonesia yaitu memperkuat kerja sama antara industri dengan program studi di perguruan tinggi yang berkorelasi dengan kemaritiman,” kata Husin saat mengunjungi industri perkapalan di pelabuhan Gdynia, Gdansk.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenperin, Harton, melalui press release yang dikeluarkan pihak Kementerian pada 11 September 2015 mengatakan bahwa pada tahun 2014, neraca perdagangan Indonesia ke Polandia  untuk semua produk industri mengalami surplus sebesar USD 252,2 juta.

Ekspor produk industri yang paling besar dari Indonesia ke Polandia adalah produk mesin elektronika, peralatan musik, dan perlengkapan TV dengan nilai USD 136,2 juta. Selanjutnya adalah produk karet dan barang sejenisnya dengan nilai USD 48,1 juta, serta produk sabun, lilin, semir, dan perawatan gigi dengan nilai 22,2 juta USD. Total nilai ekspor untuk semua produk industri sebesar USD 395,9 juta.

Sementara itu, impor produk industri Polandia ke Indonesia yang paling besar pada tahun 2014 adalah produk susu, telur burung, madu, produk binatang dengan nilai USD 27,6 juta. Kemudian produk reaktor nuklir, boiler, mesin, serta komponen dengan nilai USD 20,4 juta.  Sedangkan produk mesin elektronika, peralatan musik, perlengkapan TV dengan nilai USD 16,5 juta. Total nilai impor untuk semua produk industri sebesar USD 143,8 juta.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan Berca