29.5 C
Jakarta
Dec 7, 2019.
Image default

SRH, Stone Crusher Premium dari China

PT Sicoma Indo Perkasa memperkenalkan solusi Stone Crushing dan Screening Equipment yang efisien merek SRH dari Metso.

PT Sicoma Indo Perkasa menawarkan solusi yang lebih efisien dalam usaha penggilingan batu (stone crushing) dengan memperkenalkan Crusher dan Screening Equipment merk SRH. Solusi crushing & screening yang dikembangkan oleh perusahaan keluarga yang didirikan pada 1992 di kota Shaoquan, Guangdong, China ini merupakan bagian dari Metso Group melalui proses akuisisi pada 2013. 

Unggul Aribowo, Distribution Business Manager SRH, mengatakan bahwa pabrikan ini fokus mengembangkan teknologi crusher yang hemat biaya (cost efficient) dan efektif. Model-model produknya beragam dari mulai jaw crusher, cone crusher, impact crusher hingga VSI (Vertical Shaft Impactor). VSI adalah mesin penghancur yang dirancang khusus untuk membuat pasir (sand making).

Masih menurut Unggul, mesin-mesin SRH bertarung di mid market, yang potensi pasarnya sangat besar, termasuk di Indonesia. “Salah satu faktor yang membuat Metso tertarik untuk membeli SRH adalah karena dikenal sebagai produsen mid market stone crushing. Sementara Metso sendiri bermain di premium market,” ungkapnya saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menjelaskan keunggulan-keunggulan SRH, Unggul mengatakan mesin-mesin SRH terkenal dengan daya tahan (endurance) tinggi. Rahasia ketahanan itu terletak pada kadar mangannya yang lebih tinggi dibandingkan produk-produk kompetitor. “Kandungan mangan produk-produk kami sudah 18 persen, sementara pemain-pemain lainnya masih rata-rata 13 atau 14 persen. Artinya, dari segi daya tahan, mesin-mesin SRH lebih lebih tahan lama. Termasuk kandungan mangan pada suku cadangnya, sudah lebih tinggi,” ungkapnya.

Kelebihan lainnya, SRH menggunakan control panel merek Schneider yang dikenal lebih baik dari yang lain dan menggunakan motor WEG yang kualitasnya setara dengan motor Eropa. 

Sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kesadaran customer, SRH mengembangkan SRH Process Simulator yang sebetulnya merupakan adaptasi dari software Bruno-nya Metso. “Dengan kehadiran perangkat ini, kami bisa mempresentasikan simulasi kebutuhan para pelanggan. Kalau pelanggan memerlukan crusher yang mampu menghasilkan 150 ton aggregate per jam, kami akan melakukan simulasi berdasarkan data-data yang diperlukan, seperti jenis material batunya, berapa maksimal ukuran batu yang masuk, dan berapa ukuran produk akhir yang diinginkan. Semua data itu dimasukkan ke dalam SRH Process Simulator, dan hasilnya akan kelihatan,” Unggul memaparkan.

Bahkan SRH Process Simulator dapat memperlihatkan konfigurasinya apakah memakai jaw to jaw crusher, jaw to cone crusher, atau berapa banyak jaw yang diinginkan, apa tipe jaw yang dipakai, menggunakan jaw tipe apa di fase primer, berapa unit jaw yang dibutuhkan dan seterusnya. “Apa yang kami tawarkan kepada customer benar-benar riil,” ujarnya.

Unggul meyakinkan bahwa SRH Process Simulator sangat membantu dalam memberikan rekomendasi mesin crusher yang tepat kepada customer. “Kita perlu mengetahui ukuran material yang masuk untuk menentukan tipe primary crusher. Jika informasinya salah, bisa jadi kita menawarkan produk yang lebih mahal atau produk yang lebih murah yang bisa saja tidak dapat dipergunakan.” Untuk informasi yang lebih lengkap dapat diakses di www.shaoruiheavy.com/?lang=en.

Jaw to Jaw veersus Jaw to Cone

Stone crusher termasuk mesin produksi yang paling banyak dibutuhkan para kontraktor sekarang ini. Hal itu diakui Rendy Sesario, Direktur PT. Sicoma Indo Perkasa selaku distributor SRH. Namun, ia menilai, teknologi crusher yang banyak digunakan di jobsite hingga kini masih menggunakan cara kerja lama, yaitu Jaw to Jaw dan bukan Jaw to Cone.

Apa yang membedakan keduanya? “Dari sisi nilai investasi, jaw to jaw lebih rendah dibandingkan dengan jaw to cone.  Namun, hasil produknya kurang bagus untuk ready mix dan hotmix karena bisa boros semen dan aspal untuk mengikat butir-butir bebatuan yang satu dengan yang lainnya,” ungkap Rendy. 

Menurut Unggul Aribowo, banyak pengguna crusher di Indonesia yang belum memahami perbedaan tersebut. “Kami sedang mencoba memberikan pengertian perbedaan antara Jaw to Jaw dan Jaw to Cone dengan menggunakan SRH Process Simulation yang menggunakan puluhan tahun database dari System Bruno-nya Metso. Pada jaw to jaw crusher, baik pada penghancuran primer maupun sekunder, semuanya menggunakan tipe jaw.  Bentuk aggregate yang dihasilkan pipih atau flakey,” ia menjelaskan. Aggregate yang berbentuk pipih ini membutuhkan lebih banyak semen ataupun aspal karena ada banyak ruang di antara biji-biji batu itu.

 “Jika pelanggan care terhadap bentuk akhir produk, kami menawarkan yang namanya Jaw to Cone crusher. Hasil akhirnya berbentuk cubical (kubus). Aggregate berbentuk kubus, untuk beberapa sektor, sangat penting, seperti untuk batching plant dan asphalt batching plant. Kalau  bentuknya kubus, maka akan lebih efisien dalam penggunaan material aspal maupun semen,” pungkasnya. 

PT Sicoma Indo Perkasa yang didirikan pada tahun 2011 bergerak di bidang pembuatan concrete mixer, batching plant, stone crusher, asphalt mixing plant, batching plant accessories, concrete pump dan masih banyak lagi. Dengan berbagai keahlian itu, perusahaan ini tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga menyediakan jasa commissioning dan instalasi. Menurut Rendy, Sicoma memiliki keahlian dalam membangun struktur baja untuk stone crusher mulai dari dudukan (fondasi) untuk crusher hingga corong untuk conveyor. @

Related posts