27 C
Jakarta
Apr 5, 2020.
Equipment Industry Mining Mining EQ Top News

Tambang Besar Lesu, Alat Berkapasitas Sedang Makin Diminati Pasar

Saat sektor tambang terus bergejolak yang menyebabkan pasar alat berat makin tergerus, beberapa pemain alat menyasar usaha tambang menengah ke bawah dengan menawarkan mesin-mesin yang lebih kecil. 

Memasuki tahun 2020, kondisi industri tambang, khususnya batubara, belum juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Harga batubara masih terus bergejolak dan entah sampai kapan situasi yang tidak pasti ini berlangsung. Masalah batubara belum beres, kini muncul persoalan baru di segmen mineral. Terhitung sejak 1 Januari tahun ini, Pemerintah Indonesia melarang ekspor nikel. Larangan itu mempertimbangkan stok nikel nasional yang diperkirakan tinggal 700 juta ton. Kalau terus dikeruk dan dikirim ke luar negeri, diprediksikan ketersediaannya akan habis dalam tempo 8 tahun ke depan.

Kondisi industri batubara yang terus memburuk dan kebijakan larangan ekspor nikel tersebut menjadi pukulan berat baik bagi perusahaan-perusahaan tambang maupun kontraktor-kontraktor tambang, termasuk para pemasok alat-alat tambang. Ketua Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi), Jamaludin, mengakui kondisi industri alat berat pada tahun 2020 ini makin sulit. Ia memperkirakan, industri alat berat secara keseluruhan akan mengalami kontraksi 5% hingga 10%. “Secara keseluruhan turun, karena demand-nya tidak ada,” ujarnya dalam perbincangan dengan Equipment Indonesia beberapa waktu lalu.

Pemicu utama kelesuan pasar alat-alat tambang, kata Jamaludin, adalah harga komoditas tambang, terutama batubara, yang diperkirakan masih turun. Padahal, pertambangan batubara merupakan industri yang paling banyak menyerap peralatan berat. Tidak heran dia mengidentikkan alat berat dengan batubara. Ketika industri tambang lesu, pasar alat berat ikut surut.

Bagaimana perusahaan-perusahaan supplier peralatan berat merespon kondisi tersebut? Direktur Sales PT Hexindo Adiperkasa Tbk Dwi Swasono memprediksikan penjualan alat berat perusahaan ini pada tahun 2020 akan mengalami penurunan. “Penjualan alat berat Hexindo pada FY2020 diperkirakan turun sekitar 11% dibandingkan FY2019. Hal ini seiring dengan permintaan pasar di tingkat global maupun nasional yang menurun. Tak hanya itu, harga komoditas pun belum stabil,” ungkapnya kepada Equipment Indonesia jelang akhir 2019.

Namun, Hexindo masih jeli melihat celah-celah pasar di sektor lain untuk meningkatkan penjualan alat-alatnya. Alih-alih menyasar proyek-proyek konstruksi berskala besar pemerintah yang diperkirakan berkurang volumenya pada periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo, Hexindo justru makin giat membidik proyek-proyek infrastruktur swasta.

“Kami tetap gencar membidik sektor swasta yang mengerjakan proyek-proyek infrastuktur untuk perkebunan swasta, HTI dan tambang,” tambah Presiden Direktur PT Hexindo Adiperkasa Tbk, Djonggi TP. Gultom.

Beralih ke mesin yang lebih kecil

Kelesuan industri batubara yang berkepanjangan membuat PT Trakindo Utama mengubah fokusnya di sektor pertambangan. Perusahaan ini tidak terutama bergantung pada usaha-usaha tambang besar, tetapi terus menggarap pasar di segmen menengah ke bawah. “Perusahaan-perusahaan ini tidak mengandalkan alat-alat berkapasitas sangat besar, tetapi yang berukuran sedang,” kata Kiswanto, Mining Product Lifecycle Manager PT Trakindo Utama, saat ditemui di sela-sela sebuah diskusi tentang ‘Outlook Industri Tambang Tahun 2020 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Kiswanto, pasar batubara mungkin tidak akan membaik dalam waktu dekat. Hal itu membuat penjualan excavator kelas 100 ton ke atas akan turun sekitar 10 persen pada tahun 2020. Meski pasar alat-alat tambang makin sulit, menurutnya, Trakindo optimistis masih ada peluang pasar di sektor pertambagan pada tahun ini. “Saya melihat masih ada harapan, terutama di tambang kelas menengah. Tahun 2020 Trakindo sudah forecast akan mendapat kontrak-kontrak baru terutama di daerah Kalimantan Utara, Samarinda dan sekitarnya,” ujarnya.

Memang, diakuinya, kontrak-kontrak baru tersebut umumnya tambang-tambang skala kecil. Tetapi prospeknya cukup menjanjikan. Karena itu, menurut Kiswanto, Trakindo akan menyasar tambang-tambang skala menengah ke bawah. “Di segmen usaha tambang yang skala besar, karena harga batubara tidak terlalu menggairahkan, strategi yang biasa dilakukan adalah overhauling, dan sebagian perusahaan batubara memilih opsi rental alat mengingat kondisi yang semakin tidak menentu daripada membeli alat sendiri,” ia menjelaskan.

Kiswanto mencontohkan Kaltim Prima Coal (KPC), salah satu perusahaan tambang besar yang sudah memilih opsi rental. KPC sudah menyewa tiga unit excavator Caterpillar dari Trakindo, dua unit  kelas 100 ton dan satu unit kelas 200 ton.

Selain berhadapan dengan kondisi harga batubara yang lesu, anak usaha PT Bumi Resources Tbk ini juga sedang menunggu kepastian perpanjangan kontrak PKP2B yang habis pada tahun 2021. Bila diperpanjang, masa kontrak KPC akan ditambahkan 2 kali 10 tahun. Dalam masa penantian perpanjangan kontrak ini, rental alat menjadi opsi yang dipilih.

Kiswanto mengatakan ke depan luas konsesi tambang umumnya tidak lagi seperti dulu dimana satu perusahaan bisa mendapatkan konsesi hingga ratusan ribu hektar. Dalam kondisi demikian, excavator yang menjadi pilihan rata-rata yang kelas 100 ton hingga 200 ton. “Dalam situasi uncertain seperti sekarang beli alat kecil,  yang mudah dipindah-pindah, lebih masuk akal. Sekarang ini untuk cari kontrak tambang yang luasnya seperti dulu sudah sangat jarang. Rata-rata makin mengecil. Makanya alat-alat kelas 100-200 ton menjadi pilihan,” ujarnya.

Pada tahun 2019, penjualan excavator kelas 100-120 ton di Indonesia hingga Okotber sebanyak 84 unit. Prediksi awalnya sepanjang tahun terjual 160 unit. Tetapi diturunkan lagi menjadi 120 unit. “Mungikin sampai Desember hanya 100 unit untuk excavator 100-120 ton, karena data per Oktober 84 unit yang terjual,” kata Kiswanto. Market share Caterpillar yang dijual Trakindo, untuk excavator 100-120 ton, sekitar 15%. #

49 total views, 4 views today

Related posts