

Kenaikan harga batubara yang terjadi sejak awal tahun 2021 hingga 2022, menjadi katalis positif bagi perusahaan pertambangan. Penjualan dan bisnis penyewaan alat berat ikut merasakan dampak kenaikan harga komoditas batubara itu. Peningkatan harga-harga komoditi memicu permintaan alat berat. Kinerja produksi alat berat yang moncer tak lepas dari pengaruh lonjakan harga komoditas.

Seperti apa dampak kenaikan harga batubara terhadap kinerja industri alat berat? Coba kita simak perkiraan produksinya. Rekor baru produksi alat berat diproyeksikan terealisasi pada tahun 2022. Perkiraan ini sejalan dengan naiknya harga komoditas dan pemulihan ekonomi.
Industri alat berat nasional mencatat lonjakan produksi sebesar 96,67 persen menjadi 6.740 unit pada 2021. Produksi alat berat pada tahun 2021 didominasi oleh mesin-mesin hydraulic excavator sebanyak 6.133 unit, diikuti bulldozer 410 unit, dump truck 111 unit, dan motor grader 86 unit.
Lonjakan volume produksi terjadi setelah pada tahun 2020 mengalami penurunan 43,44 persen menjadi 3.427 unit. Meski begitu, angka produksi alat berat pada tahun 2021 sudah melampaui capaian tahun 2019, sebelum pandemi sebanyak 6.060 unit.
Jamaludin, Ketua Umum Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi) memperkirakan produksi alat berat sekitar 9.000 unit pada 2022, naik sebesar 33,53 persen dari produksi tahun lalu. Jika tercapai, angka produksi alat berat pada tahun 2022 akan melampaui level tertinggi pada tahun 2018 sebanyak 7.981 unit yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Melihat bergeliatnya sektor pertambangan dan harga komoditas yang melonjak, Jamaludin menaikkan angka proyeksi produksi alat berat menjadi 9.000 unit, dari sebelumnya 8.000 unit. Untuk tahun 2022 ini, fokus industri diperkirakan masih pada sektor pertambangan.
Sejalan dengan optimisme Hinabi terhadap produksi alat berat tahun 2022, PT United Tractors Tbk (UNTR) berani membidik peningkatan penjualan sekitar 23 persen hingga 25 persen.
Sara. K. Loebis, Sekretaris Perusahaan UNTR, mengemukakan, untuk memenuhi target pertumbuhan tahun 2022, UNTR tetap bekerja sama dengan principal. UNTR terus berupaya memaksimalkan kebutuhan para pelanggan di semua sektor, baik pada alat berat maupun layanan perbaikan.
Sara mengemukakan, penjualan UNTR pada tahun 2021 diperkirakan melampaui target 3.000 unit. Selama periode Januari hingga November 2021, UNTR telah mencatat penjualan sebanyak 2.950 unit dengan pertumbuhan tahunan sebesar 99 persen, dari periode yang sama 2020 sebanyak 1.481 unit.
Capaian penjualan alat berat sampai dengan November 2021 didominasi oleh sektor pertambangan (53 persen), diikuti konstruksi (25 persen), kehutanan (12 persen), dan agrobisnis (10 persen). Khusus pada November 2021, volume penjualan Komatsu mencapai 360 unit dengan pangsa pasar 22 persen.
Volume penjualan batubara UNTR pada periode Januari hingga November 2021 mencapai 8.484.000 ton, naik 2,97 persen, dari periode yang sama tahun 2020 sebanyak 8.239.000 ton. Adapun volume penjualan emas UNVR hingga November 2021 mencapai 307.000 (Gold Equivalent Ounces/GEOs), naik 2,67 persen, dari 299.000 GEOs pada periode yang sama tahun 2020.
Pada tahun 2021, UNTR mengalami penurunan pangsa pasar, dari 33 persen menjadi 22 persen. Itu karena kehadiran merek-merek alat berat lain yang banyak memasuki sektor industri, khususnya tipe ukuran kecil dan menengah. Untuk tahun 2022, Sara optimistis dapat tetap mempertahankan pangsa pasar tersebut.
Kontributor utama pendapatan HEXA: sektor tambang dan agribisnis

Sebagaimana UNTR, manajemen PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) juga optimistis penjualan alat berat tahun buku 2021 (berakhir Maret 2022) dapat tumbuh signifikan. Menurut Listiana Kurniawati, Sekretaris Perusahaan HEXA, kenaikan harga komoditas menyebabkan penjualan alat berat ke sejumlah sektor mengalami peningkatan. Sektor yang mendominasi adalah agribisnis dan pertambangan. Ini sejalan dengan tren lonjakan harga batubara dan komoditas lainnya dalam bebebrapa bulan ini.
Merujuk laporan HEXA, total penjualan alat berat perseroan selama periode April 2021 hingga Desember 2021 mencapai 1.817 unit, meningkat 105,08 persen, jika dibandingkan periode sama tahun 2020 sebanyak 886 unit.
Penjualan alat berat pada periode April 2021 hingga Desember 2021 itu, terdiri atas penjualan excavator bertonase lebih dari 6 ton sebanyak 1.503 unit, naik 106,17 persen, dari 729 unit pada periode yang sama tahun 2020. Penjualan mini excavator naik 90,34 persen, dari 145 unit menjadi 276 unit dengan pangsa pasar 22,2 peren pada periode April – Desember 2021. Adapun penjualan wheel loader melejit 191,67 persen, dari 12 unit menjadi 35 unit. Ini disertai kenaikan pangsa pasarnya, dari 4,3 persen menjadi 6,5 persen, serta penjualan produk Bell Equipment mencapai tiga unit dengan pangsa pasar 1,7 persen.
Menurut laporan HEXA, dari penjualan excavator, sebanyak 1.503 unit bertonase lebih dari 6 ton itu, terdapat 454 unit berasal dari sektor tambang, atau melambung 213,10 persen, dari 145 unit pada periode April 2020 hingga Desember 2020. Sektor pertanian menyerap 488 unit, naik 18,45 persen, dari 412 unit. Sedangkan sektor kehutanan turun 20,09 persen menjadi 346 unit, dari 433 unit. Sektor konstruksi juga merosot 27,14 persen, dari 276 unit menjadi 201 unit di periode April 2021 hingga Desember 2021.
Lebih jauh lagi, dalam laporan keuangan HEXA, terungkap, total pendapatan perseroan mencapai US$308,871 selama periode April 2021 – Desember 2021, naik 79,47 persen, dari periode sama tahun 2020 sebesar US$172,098 juta.
Adapun pendapatan HEXA tersebut berasal dari penjualan alat berat senilai US$181,688 juta, naik 132,40 persen, dari US$78,178 juta, penjualan suku cadang senilai US$77,992 juta, naik 58,70 persen, dari US$49,145 juta, pendapatan jasa layanan dan pemeliharaan naik 6,82 persen dari US$44,476 juta menjadi US$47,511 juta, dan pendapatan sewa dan perbaikan meningkat 426,67 persen, dari US$300 menjadi US$1,580 juta selama periode April 2021 – Desember 2021.
Di tengah Pandemi Covid-19, HEXA yang memiliki aset US$273,257 juta per 31 Desember 2021 itu berhasil membukukan laba tahun berjalan sebesar US$38,907 juta (US$0,05 per saham) pada periode April hingga Desember 2021. Laba HEXA meningkat 88,11 persen jika dibandingkan dengan periode sama tahun 2020 sebesar US$20,683 juta (US$0,02 per saham).
Hingga 31 Desember 2021, mayoritas saham HEXA dimiliki oleh Hitachi Construction Machinery Co Ltd, Japan sebesar 48,59 persen, disusul Itochi Corporation dan Hitachi Construction Machinery Asia and Pasific masing-masing sebesar 25,05 persen dan 5,07 persen.

Distributor alat berat lainnya, PT Intraco Penta Tbk (INTA), membidik pertumbuhan penjualan 5 persen hingga 15 persen pada 2022. Proyeksi pertumbuhan tersebut sejalan dengan strategi INTA dalam mengembangkan diversifikasi usaha pada tahun ini.
Astri Duhita Sari, Sekretaris Perusahaan INTA, mengatakan, sepanjang tahun 2021 INTA membukukan total penjualan senilai Rp262 miliar atau sebanyak 376 unit. Pada 2022, pihaknya menargetkan dapat menjual lebih dari 400 unit.
Penjualan alat berat merek LiuGong menjadi salah satu penopang kinerja penjualan tahun 2021 dengan capaian lebih dari Rp100 miliar sampai dengan November 2021. Angka itu mengalami peningkatan 559 persen, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020.
Kendati peluang di sektor pertambangan, khususnya nikel dan komoditas lainnya masih terbuka, INTA juga berupaya merambah sektor utama lainnya seperti perkebunan, kehutanan, pertanian, dan konstruksi.
Permintaan alat berat dari sektor pertambangan hingga saat ini masih memberikan kontribusi yang positif bagi INTA. Adanya kenaikan harga komoditas dan konstruksi juga ikut mendorong penjualan alat berat INTA.
LiuGong merupakan prinsipal asal Cina yang meneken kontrak dengan INTA pada akhir tahun 2020. Melalui nota kesepahaman anak perusahaan INTA, PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS) dengan PT LiuGong Machinery Indonesia, perseroan diberikan kewenangan untuk memasarkan dan mendistribusikan alat berat serta suku cadang dengan merek LiuGong dan Dressta.
PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) juga diperkirakan memiliki pertumbuhan bisnis yang sangat positif pada tahun 2022 ini. Pemicunya adalah geliat sektor pertambangan dengan tren penguatan harga komoditas batubara. Melonjaknya harga batubara sejak kuartal IV/2020 hingga tahun 2022 dapat menjadi katalis positif pertumbuhan bisnis perusahaan ini. KOBX dikenal sebagai salah satu pemasok utama alat berat untuk industri pertambangan Indonesia. Perusahaan ini merupakan distributor alat berat merek Doosan, Tata Daewoo Heavy Duty Truck, dan Terex Rigid Dump Truck.
Emiten di bidang penjualan dan distributor alat berat termasuk penjualan suku cadang dan servis alat berat itu optimistis dengan laju bisnisnya tahun ini. KOBX tetap fokus pada pemberian servis atau produk terbaik bagi para pelanggan, meski permintaan unit pertambangan tetap tinggi.
Pendapatan KOBX ditargetkan US$110 juta pada 2021 lalu. Target pendapatan tersebut ditopang oleh segmen penjualan alat berat pertambangan dan non tambang, service, suku cadang dan sewa alat berat.
Mengutip laporan keuangannya, KOBX berhasil meraih lonjakan pendapatan hingga 154 persen menjadi US$89,48 juta per September 2021, dari sebelumnya US$35,20 juta pada periode yang sama di tahun 2020.
Bahkan KOBX berhasil membalikkan keadaan dengan mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$4,68 juta per September 2021. Jika dibandingkan pada periode yang sama tahun 2020, KOBX masih merugi sebesar US$5,47 juta.
















