29.7 C
Jakarta
Agu 7, 2020.
Business Feature Top News

Virus Corona Lumpuhkan Industri Alat Berat Global

Penularan Covid-19 secara global menghadirkan banyak tantangan bagi industri peralatan berat.  Banyak  pabrikan terpaksa  menghentikan  operasi  mereka.

Ilustrasi virus corona (Foto: Istimewa)

Dunia seluruhnya sedang berada di bawah cengkeraman Covid-19. Penularannya yang begitu cepat secara global benar-benar menebarkan ketakutan ke seantero jagat. Saat ini hampir semua negara tertular virus yang mematikan itu. Celakanya, selain mengancam nyawa manusia, virus ini menjauhkan manusia dari orang lain secara fisik karena harus menjaga jarak serta mematikan perekonomian di banyak negara. Salah satu sektor bisnis yang sangat terdampak oleh krisis kesehatan global tersebut adalah industri peralatan berat/konstruksi.

Di penghujung kuartal pertama tahun ini, hampir semua produsen alat global melaporkan produksi mereka mengalami penurunan signifikan. Kondisi itu disebabkan karena banyak fasilitas produksi yang ditutup untuk sementara waktu. Kalau pun ada produsen-produsen yang tetap beroperasi, mereka hanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dianggap esensial dari industri-industri yang mereka layani. Namun, cara mereka menjalankan bisnis harus menyesuaikan dengan protokol-protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah-pemerintah setempat. Misalnya, membatasi jumlah orang di fasilitas-fasilitas itu untuk menjamin jarak aman (physical distancing) antar pekerja, mengenakan masker, mengukur suhu, rajin mencuci tangan dan masih banyak lagi.

Perusahaan riset pasar Off-Highway Research melaporkan bulan lalu bahwa penutupan pabrik-pabrik dan aksi lockdown yang dilakukan banyak negara membuat industri peralatan konstruksi global kehilangan produksi 43.000 mesin tahun ini. Jumlah itu setara dengan 4% dari total output 2019 sebanyak 1,07 juta mesin. Saat ini dampak dari penutupan-penutupan itu paling terasa di Perancis, Jerman, Italia dan Inggris – yang dikenal sebagai negara-negara produsen peralatan terbesar di Eropa.

Off-Highway Research juga menyoroti pengalaman China, di mana industri alat konstruksi sedang berusaha untuk menebus waktu yang hilang selama puncak krisis Covid-19 di negeri itu. “Penutupan pabrik-pabrik dan lockdown di China merugikan produksi industri alat konstruksi sebesar 6%. Beberapa OEM sama sekali tidak tutup, tetapi kebanyakan ditutup selama dua-enam minggu dan kemudian harus meningkatkan produksi begitu mereka dibuka kembali. Aktivitas sekarang sangat tinggi karena industri mengantisipasi beberapa stimulus pemerintah,” kata direktur pelaksana Off-Highway Research, Chris Sleight, dilansir dari khl.com (6/4).

Sebelum merebaknya Covid-19, Off-Highway Research memperkirakan berkurangnya permintaan global untuk peralatan berat pada tahun ini. Menurut Sleight, industri ini mencapai puncaknya pada tahun 2018 dan 2019, dan lembaga itu sudah memperkirakan penurunan 5% atau lebih pada tahun ini dari rekor tertinggi yang dicapai pada tahun-tahun tersebut. “Covid-19 kemungkinan besar akan memperburuk itu, tetapi kami juga mengharapkan respon kebijakan yang kuat dari pemerintah-pemerintah di seluruh dunia untuk menghidupkan kembali ekonomi mereka. Masih terlalu dini untuk memperkirakan dampaknya,” ungkapnya.

Memasuki Mei ini, banyak pabrikan besar dunia yang kembali beroperasi, meski belum normal 100 persen, setelah pabrik-pabrik mereka sempat ditutup selama beberapa minggu bahkan bulan. Volume produksi mereka tentu belum normal karena terbentur masalah rantai pasok yang masih belum lancar dan juga daya serap pasar yang masih rendah. Lagi pula, masih banyak negara yang memberlakukan lockdown, termasuk PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Indonesia.

Permintaan kuartal pertama turun drastis

Salah satu pabrik alat berat di China (Foto: EI)

Pandemi Covid-19 telah merusak penjualan mesin di pasar global. Permintaan alat berat, truk dan banyak sekali komponen jauh lebih rendah selama kuartal pertama tahun ini yang sebagian besar disebabkan oleh pandemic virus corona baru itu. Akibatnya, produksi alat mengalami penurunan signifikan karena kalangan pabrikan mengurangi volume produksi secara drastis.

AEM (Association of Equipment Manufacturers) baru-baru ini merilis hasil survei yang dilakukan terhadap para presiden, CEO dan pemilik produsen alat di AS. Mayoritas responden mengatakan pandemi Covid-19 berdampak negatif bagi industri mereka karena permintaan yang berkurang dan menyebabkan gangguan rantai pasokan.

“Pandemi Covid-19 memiliki dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya di kalangan produsen-produsen alat dan ada 2,8 juta pria dan wanita di industri kami,” kata Dennis Slater, Presiden AEM, dalam siaran pers yang mengumumkan hasil survei itu, seperti dikutip oemoffhighway.com (1/5).

“Bahkan sebelum krisis saat ini, para produsen menghadapi masa-masa sulit sebagai akibat dari perang dagang yang berkepanjangan dengan China, semakin meningkatnya krisis infrastruktur dan menurunnya harga komoditas. Pandemi Covid-19 telah berhasil mengubah situasi yang sudah mengerikan ini menjadi lebih buruk.”

Berdasarkan laporan Komite Peralatan Konstruksi Eropa (CECE), 2019 adalah tahun yang lebih baik untuk sektor peralatan konstruksi Eropa dari yang diperkirakan, dengan total penjualan 2019 di Eropa tumbuh 3,4%. Namun, ketika Covid-19 menyebar dengan cepat ke seluruh dunia dan memperlambat atau menghentikan banyak operasi manufaktur dan bisnis, dampak negatifnya terhadap pasar mulai terlihat.

CECE mengatakan Indeks Iklim Bisnisnya menunjukkan tren optimis pada awal tahun, yang berubah menjadi penurunan dramatis pada bulan Maret dengan tanda-tanda awal gangguan akibat Covid-19. Survei Barometer sekilas CECE yang dilakukan antara 23 dan 27 Maret menunjukkan 32% responden terkena dampak krisis secara signifikan dan 30% pabrik sudah tutup. Survei itu juga menunjukkan 40% responden mengantisipasi penurunan penjualan 10-30% untuk tahun ini.

Sekitar pertengahan Maret, ketika dampak virus corona mulai muncul di lebih banyak belahan dunia — terutama di pasar Eropa dan Amerika Utara — banyak produsen menarik kembali prediksi pasar mereka karena banyak fasilitas produksi mereka yang terpaksa dihentikan sementara. Mereka mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi dampaknya.

Caterpillar Inc. mengumumkan penjualan dan pendapatan selama kuartal pertama 2020 turun 21% dibandingkan kuartal pertama 2019. Dalam siaran pers pabrikan itu dijelaskan hasil kuartal pertamanya turun karena volume penjualan yang lebih rendah sebagai buntut dari makin berkurangnya permintaan para pengguna akhir dan dampak dari perubahan-perubahan persediaan di kalangan dealer-dealernya.

Caterpillar memperkirakan laporan keuangan tahun 2020 untuk sisa tahun ini akan dipengaruhi oleh ketidakpastian global karena covid-19. Karena itu, perusahaan global ini telah menarik kembali perkiraan pendapatannya dan untuk saat ini tidak akan memberikan prospek keuangan untuk tahun 2020.

Saat penularan Covid-19 semakin menjalar ke berbagai negara, Caterpillar menangguhkan beberapa operasinya untuk sementara karena gangguan rantai pasokan, menurunnya permintaan dan/atau regulasi-regulasi lokal di mana pabrik-pabriknya beroperasi. Tetapi pada pertengahan April 2020, pabrikan itu mengatakan sekitar 75% dari fasilitas produksi utamanya secara global dan di ketiga segmen utamanya terus beroperasi. Beberapa fasilitas yang ditutup sementara juga sudah mulai dibuka kembali.

Namun, pada akhir April lalu Caterpillar mengumumkan sejumlah karyawan di berbagai fasilitasnya yang tersebar di banyak negara diberhentikan sebagai bagian dari langkah global yang diambil untuk mengurangi biaya dalam menanggapi pandemi Covid-19 (khl.com, 1/5). Caterpillar memperkirakan krisis saat ini akan sangat terasa dampaknya pada kuartal kedua tahun ini.

Penjualan Volvo Construction Equipment (Volvo CE) dilaporkan turun 17% selama kuartal pertama tahun ini, dan pesanan yang masuk turun 7%. Pabrikan asal Swedia itu mengatakan permintaan di Cina – pasar  peralatan konstruksi terbesar di dunia – memang meningkat menjelang akhir kuartal, tetapi tidak cukup untuk mempengaruhi penjualan selama kuartal pertama.

Dalam rilis pers hasil kuartal pertama, Volvo CE mengatakan pasar utama alat konstruksi global Eropa dan Amerika Utara keduanya turun pada kuartal pertama, masing-masing turun 1% dan 2% dalam 2 bulan pertama tahun ini. Di Asia (tidak termasuk Cina) permintaan turun sebesar 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dampak Covid-19 lebih menonjol di Cina, yang turun 44% selama periode tersebut, karena gangguan pasar. China memang mengalami rebound pada bulan Maret, dengan permintaan naik 2% dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun 2019, berkat langkah-langkah stimulus pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur.

“Langkah-langkah untuk menghentikan penyebaran pandemi COVID-19 mulai memengaruhi operasi kami di Cina pada Februari, dan berdampak parah pada pertengahan Maret, ketika rantai pasokan global kami terganggu dan produksi dihentikan di sebagian besar operasi kami,” komentar Presiden Volvo CE, Melker Jernberg.

Sentimen-sentimen ini ditegaskan kembali oleh Martin Lundstedt, Presiden dan CEO Volvo Group. “Rantai pasokan global kami terganggu dan produksi terhenti di sebagian besar operasi kami. Penurunan produksi dan permintaan yang lebih rendah berdampak pada penjualan dan laba grup secara negatif selama Q1,” ungkapnya.

Komatsu, saat pameran Conexpo Maret lalu di Las Vegas, AS, meng-update mengenai dampak penyebaran COVID-19 pada rantai pasokannya dan mengkonfirmasikan bahwa kemampuan produksi pabrikan asal Jepang itu aman hingga Mei. Komatsu menegaskan bahwa pihaknya menjalankan bisnis sesuai dengan pedoman yang ditentukan oleh pemerintah-pemerintah di mana pun pabrik-pabriknya  berada.

“Sesuai dengan kebijakan-kebijakan dari pemerintah-pemerintah negara tuan rumah di mana kami, Komatsu Group, melakukan bisnis, kami melakukan upaya-upaya terbaik untuk mencegah penyebaran Covid-19. Kami menempatkan prioritas utama pada kesehatan dan keselamatan pelanggan-pelanggan kami, warga masyarakat setempat dan karyawan-karyawan,” kata Komatsu dalam sebuah pernyataan, seperti diwartakan khl.com (8/4).

Fasilitas-fasilitas Komatsu di Eropa telah menghentikan produksi mereka, dengan beberapa pabrik kini akan ditutup lebih lama dari yang direncanakan. Produksi pabrik Komatsu di wilayah Amerika sudah dihentikan, yang berlokasi di Brasil. Kebijakan serupa dilakukan pada pabrik Komatsu di India yang telah memperpanjang penangguhan produksinya. Sementara pabrik-pabrik Komatsu di Cina sudah memulai kembali produksi mereka sejak Februari lalu. Pabrik-pabrik OEM ini di Jepang juga terus beroperasi. Dalam sebuah pernyataan, Komatsu menyatakan tekadnya untuk berupaya meminimalisir dampak krisis kesehatan global ini pada produksinya dengan cara pengadaan alternatif dan realokasi inventory.

Sementara Hitachi Construction Machinery Group (HCMG) menyesuaikan secara bertahap produksi di empat dari tujuh pabriknya di Jepang dari April hingga Mei tahun ini untuk mengintegrasikan produksi, perakitan dan pengecatan. Pabrikan asal Jepang ini memutuskan untuk mengurangi produksi peralatan, termasuk excavator dan wheel loader, mengingat menurunnya permintaan di seluruh dunia akibat penyebaran COVID-19 (aggbusiness.com/8/4).

Pemulihan secara bertahap

Salah satu pabrik JCB di Inggris mulai kembali operasinya setelah sempat berhenti karena Covid-19 (Foto: JCB)

JCB menghentikan produksi di semua pabriknya di Inggris pada Maret lalu karena dampak pandemi virus corona. Penyebaran virus corona yang begitu masif menyebabkan permintaan alat global mengalami penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meski karyawan-karyawan pabrik dirumahkan untuk sementara, namun staf-staf kantor  terus bekerja selama 39 jam seminggu, yang kebanyakan  bekerja dari rumah.

“Langkah-langkah ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah JCB tetapi benar-benar diperlukan untuk melindungi bisnis. Karena kami terus berurusan dengan implikasi-implikasi kesehatan dari pandemi COVID-19, menjadi lebih sulit untuk mempertahankan kelangsungan bisnis dalam iklim ekonomi yang bergejolak seperti ini,” kata CEO JCB, Graeme Macdonald dalam rilis pabrikan asal UK itu.

Ia menambahkan, JCB merupakan eksportir global dan permintaan di seluruh dunia untuk produk-produk JCB telah turun tajam karena para pelanggan membatalkan pesanan-pesanan mereka dan menunda pengiriman. “Ini bukan hanya masalah Inggris, ini adalah masalah di seluruh dunia dan dengan negara-negara seperti Perancis, Spanyol dan Italia akan terkunci, pasar-pasar utama untuk peralatan konstruksi menghilang dalam semalam.”

Setelah melewati  masa sulit itu, kini pabrik-pabrik JCB di UK itu sudah kembali kembali beroperasi normal. Kebijakan itu mengikuti kondisi di China yang secara perlahan-lahan memilih untuk bekerja lagi di pabrik daripada bekerja dari rumah. Sebagaimana diketahui, pabrik JCB di Pudong, dekat Shanghai, sempat menghentikan produksinya ketika dampak pandemi mulai terjadi di China. Setelah ditutup selema beberapa, fasilitas itu sekarang sudah beroperasi kembali sepenuhnya. Operasi pabrik ini membantu kelancaran pabrik-pabrik JCB lainnya di UK karena rantai pasokannya semakin lancar.

Manitou Group melaporkan pendapatan kuartal pertama turun 25% dibandingkan tahun sebelumnya. “Bisnis kuartal pertama terganggu oleh globalisasi krisis COVID-19, yang secara besar-besaran mempengaruhi sektor konstruksi dan, pada tingkat yang lebih rendah, industri ini. Permintaan di sektor pertanian dan aktivitas-aktivitas layanan tetap kurang terpengaruh karena ketahanan yang lebih besar dari sektor-sektor ini. Tahun ini tentu akan sangat sulit, tetapi saya yakin bahwa semua orang di Manitou akan memungkinkan grup, berkat komitmen dan responsif mereka, untuk mengatasi krisis ini,” kata Michel Denis, Presiden & CEO Manitou Group dalam siaran pers yang mengumumkan hasil kuartal pertamanya tahun ini.

Seperti banyak perusahaan lain, Manitou harus menutup sementara banyak fasilitasnya, termasuk di Perancis, Italia, dan India. Dalam siaran persnya, Manitou mengatakan dapat secara bertahap membuka kembali pabrik-pabriknya di Prancis dan Italia setelah memastikan kesehatan dan keselamatan para pekerja. Implementasi langkah-langkah baru dan memulai kembali rantai pasokan harus berdampak pada kinerja industri selama beberapa bulan mendatang.

John Deere mengumumkan hasil kuartal pertama pada bulan Februari saat kuartal berakhir pada 2 Februari 2020. Pabrikan itu mengatakan penjualan dan pendapatan bersih di seluruh dunia turun 4%. “Kinerja kuartal pertama John Deere mencerminkan tanda-tanda awal stabilisasi di sektor pertanian AS,” kata John C. May, Chief Executive Officer dalam siaran pers perusahaan yang mengumumkan hasil kuartal pertamanya.

“Kepercayaan para petani, meskipun masih lemah, telah meningkat sebagian karena harapan untuk meredakan ketegangan perdagangan dan ekspor pertanian yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, aktivitas-aktivitas di sektor konstruksi telah melambat yang mengarah pada penurunan penjualan dan laba untuk divisi Konstruksi & Kehutanan kami.”

Juga memengaruhi bisnis peralatan konstruksi Deere adalah langkah mengurangi produksi pabrik dan menurunkan ketersediaan alat sebagai tanggapan terhadap kondisi pasar saat ini. “Pada saat hasil kuartal pertama dirilis, COVID-19 belum mulai berdampak pada pasar yang dilayani divisi John Deere. Namun, perusahaan mengantisipasi pada saat itu menurun 5-10% di divisi Pertanian & Taman  dan 10-15% di bisnis Konstruksi & Kehutanan untuk tahun 2020.

Di segmen alat-alat pertanian, asosiasi alat pertanian Italia, FederUnacoma, melaporkan penurunan tajam penjualan mesin-mesin traktor pada Maret 2020. Penjualan untuk semua segmen peralatan turun: traktor -34,4%; combine harvester -12,5%; traktor dengan platform pemuat  -21,1%; trailer -39,3% dan telehandler pertanian -10,5%.

FederUnacoma memperkirakan, saat fasilitas-fasilitas manufaktur dibuka kembali pun, tingkat produksi akan berkurang karena kemungkinan pemberlakuan langkah-langkah keamanan yang lebih ketat dan berkurangnya pengeluaran para pelanggan yang juga terkena dampak negatif pandemi tersebut.

AEM juga melaporkan penjualan unit traktor-traktor pertanian dan mesin-mesin pemanen yang bergerak sendiri turun di seluruh AS dan Kanada selama Maret 2020. “Meskipun angka penjualan pada Maret kemungkinan dipengaruhi oleh COVID-19, terlalu cepat untuk memberi tahu dampak jangka panjang dari krisis saat ini pada penjualan peralatan pertanian,” kata Curt Blades, Senior Vice President dari Ag Services AEM.

Secara keseluruhan, industri alat berat global sangat terpukul selama 3 bulan pertama tahun 2020. Kuartal kedua diperkirakan hampir sama. Meskipun lebih banyak manufaktur diperkirakan akan mulai membuka kembali atau sedikit meningkatkan produksi, permintaan kemungkinan akan tetap rendah sembari berbagai pasar berjuang untuk secara bertahap kembali seperti sedia kala. Banyak end user juga tidak memiliki modal untuk investasi peralatan baru yang kemungkinan akan membuat permintaan makin sedikit, kecuali kalau pemerintah di berbagai negara memberikan stimulus-stimulus untuk menggerakkan perekonomian. Kebijakan-kebijakan seperti ini akan membantu membangkit industri alat berat dari keterpurukannya. #

 

153 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Related posts