Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BusinessTop News

Apakah Bisnis Alat Berat Terangkat di Tahun Macan 2022?

86
×

Apakah Bisnis Alat Berat Terangkat di Tahun Macan 2022?

Share this article
Example 468x60
Pergerakan harga batubara yang cenderung menguat membuat penjualan alat-alat tambang naik signifikan sepanjang tahun 2021 ini. Apakah bisnis barang-barang modal itu masih menjanjikan pada tahun 2022?  
Antrean alat-alat berat menuju lambung kapal di terminal IPCC di pelabuhan Tanjung Priok yang hendak diangkut ke luar daerah. Foto: Istimewa

Pertanyaan yang mengemuka seiring dengan semakin bergairahnya industri batubara Indonesia adalah apakah harga batubara yang cenderung menguat saat ini mampu memanasi mesin-mesin peralatan tambang  hingga tahun 2022? Sebelum kita menyoroti dapur distributor-distributor alat-alat tambang, mari kita intip kesibukan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) dalam menangani bongkar muat mesin-mesin besar tersebut.

ALTRAK

Peningkatan harga batubara tampaknya memberikan imbas secara tidak langsung pada kinerja bongkar muat di Terminal IPCC. Hingga 30 September 2021, IPCC berhasil meraih laba Rp16,60 miliar (Rp9,13 per saham). Jika dibandingkan periode sama 2020, emiten beraset Rp1,88 triliun per 30 September 2021 itu merugi Rp32,73 miliar (Rp18 per saham). Pencapaian laba tersebut didukung oleh membaiknya sektor otomotif yang diikuti dengan mulai meningkatnya penjualan kendaraan dan alat berat. Kenaikan tersebut sejalan dengan pertumbuhan permintaan di sektor pertambangan dan perkebunan baik di dalam maupun di luar negeri.

Sofyan Gumelar, Sekretaris Perusahaan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC), mengatakan meningkatnya harga komoditas batubara berimbas positif pada kegiatan bongkar muat kargo alat berat di terminal IPCC. Di Terminal Internasional IPCC, hingga Agustus 2021, terjadi peningkatan arus bongkar muat kargo alat berat. Pada kegiatan impor, jumlah alat berat yang ditangani oleh IPCC mencapai 2.932 unit sepanjang delapan bulan di tahun 2021, dimana angka tersebut mengalami peningkatan 32,79% dibandingkan periode delapan bulan di tahun 2020 dengan jumlah 2.205 unit.

Adapun alat berat merek Komatsu menguasai pangsa pasar bongkar muat impor di Terminal IPCC dengan jumlah 815 unit sepanjang tahun ini hingga Agustus 2021. Bongkar muat produk Komatsu meningkat 350,28% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020 dengan jumlah 181 unit. Disusul oleh merek Kobelco dan Caterpillar dengan jumlah masing-masing 788 unit dan 332 unit di sepanjang delapan bulan di tahun 2021.

Pada kegiatan ekspor alat berat, brand Hitachi yang paling banyak melakukan bongkar muat dengan jumlah 804 unit, meningkat 50,84% dibandingkan dengan kegiatan serupa pada 2020 sebanyak 533 unit. Diikuti oleh alat berat merek Sumitomo sebanyak 535 unit dan Caterpillar sebanyak 164 unit.

Di Terminal Domestik, kegiatan bongkar muat alat berat juga mengalami kenaikan. Permintaan barang-barang modal itu di sejumlah wilayah di luar Jakarta maupun pulau Jawa meningkatkan aktivitas bongkar muat pada segmen ini. Hingga Agustus 2021, jumlah alat berat yang telah ditangani oleh IPCC mencapai 3.923 unit atau meningkat 39,01% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020 dengan jumlah 2.822 unit.

Penjualan Alat Berat UNTR Meningkat Pesat
Barisan peralatan tambang PT United Tractors Tbk pada salah satu pameran di Jakarta. Foto: EI

Harga batubara yang menguat menjadi angin segar bagi PT United Tractors Tbk (UNTR). Menurut Henry Wibowo, Head of Indonesia Research & Strategy JP Morgan Sekuritas Indonesia, kenaikan harga batubara di atas US$200 per ton menjadi kabar baik bagi UNTR. Harga batubara dan kebutuhan peralatan yang meningkat membuat kinerja emiten distributor alat berat merek Komatsu ini makin bagus. Sekitar empat bulan, sejak tanggal 07 Juli 2021 hingga 02 November 2021, harga saham UNTR meningkat 12,88%, yaitu dari Rp20.375 menjadi Rp23.000 per saham.

Baca Juga :  Liebherr Memulai Pembangunan Pabrik Komponen Baru di China

Berdasarkan laporan kuartal III/2021, penjualan alat berat UNTR tercatat menunjukkan pertumbuhan pesat. Selama periode Januari – September 2021, penjualan alat berat Komatsu melonjak 84%, dari 1.191 unit menjadi 2.194 unit. Penjualan ke sektor pertambangan mendominasi hingga kuartal III/2021, yakni sebesar 49% dari total penjualan, disusul penjualan ke sektor konstruksi sebesar 27%, kehutanan 14%, dan perkebunan 10%. Pendapatan UNTR dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat juga mengalami  peningkatan sebesar 18% menjadi Rp5,6 triliun per September 2021.

Iwan Hadiantoro, Direktur UNTR, memaparkan, target penjualan Komatsu pada tahun 2021 sebanyak 2.800 hingga 3.000 unit. “Saat ini, UNTR diuntungkan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi, terutama dari sektor pertambangan. UNTR masih mempertahankan pangsa pasarnya sebesar 21% selama periode Januari – September 2021,” tuturnya.

Pendapatan bersih konsolidasi UNTR hingga September 2021 naik 24% menjadi Rp57,822 triliun, dari Rp46,466 triliun per September 2020. Dari pendapatan bersih tersebut, UNTR membukukan laba bersih Rp7,817 triliun (Rp2.096 per saham) per September 2021, tumbuh 46% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp5,338 triliun (Rp1.431 per saham).

Hexindo targetkan penjualan hingga 1.500 unit 
Armada tambang yang ditawarkan oleh PT Hexindo Adiperkasa Tbk. Foto: EI

PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) menargetkan penjualan alat berat yang lebih signifikan pada tahun ini dibandingkan tahun 2020 lalu. Merujuk pada paparan publiknya, distributor alat berat merek Hitachi dan Bell Equipment ini membidik total pendapatan US$359,42 juta pada 2021. Adapun laba bersih HEXA ditargetkan sebesar US$31,75 juta pada 2021.

Menurut Dwi Sasono, Direktur HEXA, proyeksi pendapatan dan laba bersih tersebut didasarkan pada penjualan alat berat HEXA yang berpeluang meningkat hingga akhir tahun 2021. HEXA menargetkan penjualan alat berat mencapai 1.500 unit pada 2021, naik 18,48%, dari 1.266 unit pada 2020. Penjualan alat berat HEXA di sektor pertambangan diprediksi meningkat. Pasalnya, harga sejumlah komoditas tambang sedang dalam tren meningkat sepanjang tahun 2021.

Menurut data StockWatch, selama periode 30 Desember 2020 sampai dengan 02 November 2021, harga saham HEXA di BEI mengalami kenaikan 25,23%, dari Rp3.290 menjadi Rp4.120 per saham.

Sebagai informasi, pendapatan bersih HEXA naik 83,57% menjadi US$73,85 juta per Juni 2021, dari US$40,23 juta per Juni 2020. Akan tetapi, laba emiten beraset US$266,52 juta per 30 Juni 2021 itu turun 1,91% menjadi US$7,69 juta per Juni 2021, dari US$7,84 juta per Juni 2020. Ini disebabkan oleh kenaikan beban umum dan administrasi 6,75%, dari US$4,15 juta menjadi US$4,43 juta, serta lonjakan beban penjualan sekitar 23,93%, dari US$4,68 juta menjadi US$5,80 juta per Juni 2021.

Baca Juga :  GIICOMVEC 2026 Resmi Dibuka Sekjen Kementerian Perindustrian
Pendapatan bersih KOBX meningkat 143,3%

PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) mencatat lonjakan pendapatan yang luar biasa hingga kuartal ketiga 2021. Pendapatan bersih KOBX meningkat 143,3% menjadi US$56,39 juta pada semester I 2021, dibandingkan US$23,18 juta pada semester I 2020.  Melansir laporan keuangan semester I 2021, segmen unit alat berat sebagai kegiatan utama mencatatkan kontribusi paling dominan hingga 77% atau senilai US$43,33 juta. Perolehan ini melambung 235% dari periode yang sama tahun 2020 sebesar US$12,92 juta.

Namun, seiring dengan pertumbuhan pendapatan bersih, beban pokok pendapatan KOBX ikut terkerek hingga 131% menjadi US$44,48 juta. Meski demikian, emiten alat berat ini tetap mencatatkan peningkatan laba kotor hingga 203%, dibandingkan periode yang sama tahun 2020 menjadi US$11,91 juta.

Setelah dikurangi beban dan pajak, KOBX dapat membalikkan rugi bersih menjadi laba pada semester I-2021. Sebelumnya, per Juni 2020 KOBX mencatatkan rugi usaha senilai US$4,04 juta. Pada semester I 2021, emiten beraset US$110,99 juta per 30 Juni 2021 itu meraup laba US$3,04 juta.

Optimisme KOBX untuk menjual lebih banyak alat tambang pada tahun ini tercermin pada pergakan harga sahamnya di BEI. Selama periode 30 Desember 2020 sampai dengan 02 November 2021, harga saham KOBX meningkat  sebesar 49,15%, dari Rp118 menjadi Rp176 per saham. Selama periode tersebut, harga saham KOBX sempat ditutup pada harga terendah Rp111 per unit pada 28 Januari 2021, dan tertinggi di posisi Rp202 per unit pada 06 Mei 2021.

INTA targetkan penjualan alat berat tumbuh 10-15% 
Peralatan tambang merek LiuGong. PT Intracopenta Tbk merupakan salah satu dealer mesin-mesin LiuGong di Indonesia. Foto: EI

Target penjualan alat berat yang positif dikemukakan oleh manajemen PT Intraco Penta Tbk (INTA). Astri Duhita Sari, Sekretaris Perusahaan INTA mengemukakan, pihaknya menargetkan penjualan alat berat tumbuh sekitar 10-15% hingga akhir tahun 2021. Pasalnya, permintaan alat berat dari industri nikel relatif tinggi, selain kebutuhan alat berat untuk komoditas batubara.

Namun, hingga Juni 2021, pendapatan INTA turun 30,18% menjadi Rp282,63 miliar, dari Rp404,83 miliar per Juni 2020. Penurunan pendapatan usaha ini mengakibatkan INTA merugi Rp92,54 miliar (Rp28 per saham) per Juni 2021, turun 4,42%, dari Rp96,82 miliar (Rp29 per saham) per Juni 2020. Adapun aset INTA turun 2,42% menjadi Rp2,82 triliun per 30 Juni 2021, dari Rp2,89 triliun per 31 Desember 2020.

Penurunan kinerja keuangan INTA tergambar pada harga saham di BEI. Harga saham INTA turun Rp190 menjadi Rp144 per saham selama periode 30 Desember 2020 hingga 02 November 2021. Pada periode tersebut, harga saham INTA sempat ditutup pada harga tertinggi di posisi Rp200 per unit pada tanggal 8 Januari 2021, dan terendah di level Rp78 per saham pada tanggal 23 September 2021.

Baca Juga :  Astra UD Trucks bagi-bagi hadiah

Superkrane Naikkan Belanja Modal

Beragam merek dan model crane yang disewakan oleh Superkrane. Foto: EI

PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN), yang bergerak di bidang jasa penyewaan alat angkat jenis crane, membidik belanja modal hingga akhir tahun 2021. Eddy Gunawin, Sekretaris Perseroan SKRN dalam paparan publik secara daring belum lama ini mengemukakan, awalnya, SKRN merencanakan dana belanja modal sebesar Rp50 miliar untuk tahun 2021. Akan tetapi, karena kondisi ekonomi yang membaik, maka SKRN menaikkan belanja modal dua kali lipat sampai Rp100 miliar.

“Kami melihat potensi yang terus membaik, maka pada tahun 2021 ini capex yang terealisasi adalah Rp150 miliar dan total yang ditambahkan ke fleet adalah 21 crane. Semua belanja capex telah terealisasi. Sampai dengan Juli 2021, total alat angkat (crane) dan alat berat pendukung lainnya yang sedang disewakan ada sekitar 75% utilisasinya,” paparnya.

Hingga Semester I-2021, SKRN mampu meraih laba sebesar Rp1,19 miliar (Rp 0,79 per saham). Jika dibandingkan periode sama 2020, SKRN dengan asset Rp1,46 triliun per 30 Juni 2021 – turun 5,81% dari Rp1,55 triliun per 31 Desember 2020 itu merugi sebesar Rp11,38 miliar (Rp7,59 per saham).

Pencapaian laba SKRN terjadi di tengah penurunan pendapatan bersih sebesar 33,53%, dari Rp251,62 miliar per Juni 2020 menjadi sebesar Rp167,26 miliar per Juni 2021. Akan tetapi, manajemen SKRN mampu melakukan efisiensi di tengah pandemi Covid-19.

Beban usaha dan beban lain-lain SKRN turun masing-masing 14,41% dan 74,48% pada semester I-2021. Hal inilah yang memungkinkan laba usaha SKRN tumbuh sebesar 36,74% menjadi Rp22,63 miliar pada semester I 2021, dari Rp16,55 miliar pada semester I 2020.

Menurunnya pendapatan SKRN disebabkan karena permintaan yang masih belum pulih ke kondisi normal. SKRN berupaya untuk memperbaikinya dengan menjajaki prospek baru di dalam negeri maupun di pasar luar negeri. “Kami berhasil melakukannya pada Maret 2021 dengan menyewakan dua unit crane 650 ton dan 750 ton ke Vietnam untuk minimal enam bulan dan berpotensi diperpanjang sampai total dua tahun,” tutupnya.

Menurut data StockWatch, harga saham emiten di bidang jasa penyewaan crane termasuk operator, alat-alat berat/fleets lainnya dan dalam bidang jasa konstruksi itu stabil sebesar Rp730 per saham selama periode 30 Desember 2020 sampai dengan 02 November 2021. Pada periode tersebut, saham SKRN sempat ditutup pada harga tertinggi sebesar Rp1.000 per saham pada 08 Februari 2021, dan terendah Rp650 pada tanggal 27 Mei 2021. #

 

Iklan Berca