
Salah satu tantangan dalam mengembangkan industri beton precast di Indonesia adalah bagaimana menghasilkan produk yang bermutu. Menurut Nyoto Irawan, ini persoalan krusial karena pemainnya makin banyak, sementara itu belum ada batasan yang jelas mengenai standar mutu. AP3I sendiri sejauh ini belum mengeluarkan standar baku plus pengawasan terhadap para pemain. “Yang tidak profesional pun menyerobot masuk saja karena kriterianya belum jelas,” ujarnya sembari menjelaskan bermunculannya pemain-pemain baru yang sulit diawasi mutu produk mereka dan hal ini bisa menjadi bumerang bagi industri beton pracetak itu sendiri.
Nyoto Irawan sendiri sudah berkecimpung di industri ini selama lebih dari 30 tahun. “Makin saya tahu, makin saya merasa bodoh. Karena masih saja banyak hal yang mesti dipelajari. Walaupun teknologi precast tumbuh lebih pelan daripada perkembangan barang-barang elektronik, tetapi tetap saja perkembangan termutakhirnya kita harus tahu,” tukasnya mengenai tantangan menggeluti industri yang satu ini.
Ia menyayangkan bahwa dalam industri beton precast di Indonesia belakangan ini, yang diperhatikan bukan development-nya, tapi hanya cost-nya thok. Akibatnya, banyak pemain yang mengabaikan pentingnya durabilitas atau kualitas proyek. “Orang tidak tahu apa isi di dalam beton itu. Apakah benang, bambu, ataukah besi? Kalau pakai rangka besi, berapa ukurannya? Kalau semennya dikurangi, juga mutunya, maka harganya bisa berubah. Jadi, kalau yang dilihat komponen harganya saja, wah itu susah. Dikurangi sedikit saja, harganya dapat langsung berubah,” kata pengusaha yang ikut aktif di Yayasan Hidung Merah, Red Nose ini. Ia berharap AP3I mampu menyusun standarisasi produksi beton pracetak yang ketat dan diawasi pelaksanannya.

Diakui, aplikasi beton precast dalam berbagai proyek infrastruktur dan konstruksi merupakan cara kerja baru yang revolusioner. Dalam banyak proyek skala besar sekarang ini, para kontraktor lebih banyak menggunakan beton precast ketimbang beton cor. Sebab, beton precast memang memiliki keunggulan lebih jika dibandingakn dengan beton cor.
Pertama, lebih terjamin dari segi mutu, karena semua proses kerja dilakukan di lingkungan pabrik. Semua material dan cara pengolahan, cetakan, bentuk hingga kwalitas terkontrol. Produknya pun bisa diuji terlebih dahulu sebelum digunakan. Tingkat presisinya pun dijamin.
Kedua, efisiensi waktu karena pelaksanaan pembangunan menjadi lebih cepat. Pengerjaan cetak beton dilakukan di tempat lain (pabrik), dan bisa langsung dipasang di lokasi konstruksi tanpa harus menunggu lama. “Untuk membangun suatu gedung kita hanya membawa panel-panel, lalu tinggal pasang-pasang saja. Efisien pasangnya karena dilakukan secara paralel. Jadi, pekerjaan di lokasi proyek menjadi lebih sederhana,” urainya. Selain itu, penggunaan beton precast mengurangi biaya pemakaian bekisting.
Ketiga, penggunaan beton precast dapat mengurangi biaya konstruksi karena tidak mengerahkan banyak tenaga kerja baik untuk pengerjaan maupun untuk supervisi, ditambah lagi dengan durasi proyek yang lebih singkat. Keselamatan tenaga kerja juga lebih terjamin.
Menurut Nyoto Irawan, penggunaan beton pracetak di area perkotaan sangat membantu karena paling praktis. Untuk pengerjaan pipa bawah tanah (underground ducting), ia mencontohkan, dapat dilakukan dengan sangat efisien karena tidak perlu lagi menggali tanah yang bisa mengganggu lalulintas. “Jadi, mutu, efisiensi dan keselamatan kerja lebih terjamin,” tukasnya.

















