30.7 C
Jakarta
Feb 18, 2020.
Image default

Epiroc SmartROC, Teknologi Pengeboran Pintar

Epiroc memperkenalkan mesin bor pintar untuk quarry dan pertambangan, yang mampu meningkatkan efisiensi pemakaian bahan bakar hingga 40 persen, dengan performa pengeboran terbaik.  

PT Epiroc Southern Asia memperkenalkan mesin bor permukaan dengan fitur-fitur pintar yang mengusung nama SmartROC. Alat ini diklaim mampu menjawab berbagai tantangan dalam industri di sektor pertambangan (batubara maupun mineral) dan quarry, sebagaimana dikatakan Cory Osman, Business Line Manager Surface and Exploration Drilling PT. Epiroc Southern Asia kepada Equipment Indonesia dik Jakarta beberapa waktu lalu. 

Cory mengatakan, SmartROC didesain dan dibuat untuk menjawab beberapa tantangan di dunia pengeboran. Tantangan pertama adalah kesulitan mendapatkan tenaga pengeboran yang handal. Menurutnya, mengoperasikan mesin bor tidak sama dengan mengoperasikan peralatan berat lain, seperti excavator misalnya. Sementara pelatihan operator butuh waktu juga.

Tantangan kedua adalah bagaimana membuat ongkos pengeboran menjadi jauh lebih murah. Biaya yang paling besar biasanya dari ongkos bahan bakar dan drilling accessories atau rock tools seperti mata bor dan batang bor. “SmartROC dirancang untuk mengkompensasi tantangan-tantangan tersebut. Sebab itu, dibuatlah mesin bor yang memungkinkan operator tidak terlalu berpengaruh terhadap proses pengeboran dan komponen-komponen mesin menjadi lebih awet,” ujarnya.

Bagaimana cara kerja SmartROC? Menurut Cory, cara kerja SmartROC Epiroc hampir sama dengan mesin konvensional. Menggunakan engine yang sama dengan mesin konvensional. Juga dilengkapi dengan kabin. Namun, yang membedakan adalah sistem kontrolnya. “Bagaimana control system mengendalikan sistem pengeboran dengan mengontrol beban engine dan drilling  parameter, itulah yang membedakan cara kerja SmartROC,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tugas operator pada  SmartROC hanya sebagai pengawas (supervisor), karena yang melakukan pengerjaan pengeboran adalah mesin itu sendiri.  Dia mencontohkan, ketika mesin bor SmartROC bergerak atau berpindah, engine hanya menyediakan tenaga untuk berpindah saja. Jika mesin itu baru mengebor hingga kedalaman satu meter, yang biasanya tidak  memerlukan banyak tenaga kompresor, control system pada alat ini bisa mengatur kebutuhan tenaga 10 persen saja, misalnya.

“Kemampuan seperti ini tidak dimiliki oleh mesin bor konvensional. Pada saat mulai mengebor, mesin langsung jalan dengan kekuatan penuh (full load). Engine dipakai maksimal sepanjang operasi pengeboran, meski tidak dibutuhkan tenaga yang maksimal,” ia menjelaskan perbedaannya.

Cory menambahkan, pada mesin SmartROC ini, control sistemnya akan membantu menyesuaikan drilling parameter sesuai dengan kondisi batuan sehingga tenaga mesin dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan.

“Mesin SmartROC bisa mengidentifikasi kondisi dan formasi batuan, dan menyesuaikan drilling parameter dengan kondisi dan formasi batuan. Dampaknya adalah umur asesoris bor jauh lebih hemat, proses pengeboran jauh lebih efektif dan kualitas lubang pengeboran lebih terjaga. Selain itu, dengan melakukan manajemen pada beban engine, pemakaian bahan bakar bisa 40 persen lebih hemat dari mesin bor konvensional,” paparnya.

Menjelaskan manfaat terpenting mesin SmartROC, Cory mengatakan, yang paling utama adalah penghematan pemakaian bahan bakar hingga 40 persen. Ini berdasarkan testimoni para pelanggan yang sudah mengoperasikan  mesin bor jenis ini. Kalau bekerja 20 jam/hari, alat ini bisa menghemat hingga 200 liter per hari dibandingkan mesin konvensional, baik merk Epiroc maupun mesin bor konvensional dari brand lain. Hitungannya adalah satu jam hemat 10 liter, dan dipakai selama 20 jam sehari berarti menghemat 200 liter atau satu drum per hari atau setara dengan 6000 liter per bulan. Kalikan saja itu dengan harga solar sekitar Rp 10.000 per liter, sekitar Rp 60 juta per bulan penghematannya.

“Dengan semakin sedikit bahan bakar yang dibakar, maka engine makin awet. Kalau merujuk pada Operation Maintenance Manual dari OEM engine, data yang paling akurat untuk melakukan perawatan berkala adalah data fuel burn atau data bahan bakar yang terbakar dibandingkan dengan engine hour.  Semakin banyak bahan bakar yang dibakar, maka semakin pendek usia engine itu. Sebaliknya, semakin sedikit bahan bakar yang dikonsumsi, semakin panjang usia engine itu,” dia menjelaskan.

Rata-rata customer melakukan overhaul engine di HM 12 ribu. Namun, berdasarkan pengalaman para pelanggan yang menggunakan mesin SmartROC, kata Cory, sampai HM 20 ribu unit-unit mereka belum juga melakukan overhaul karena tidak banyak solar yang dibakar. “Engine SmartROC berputar tidak seberat engine konvensional,” ujarnya.

Umur asesoris bor yang lebih panjang juga berarti cost per meter untuk drilling accessories jauh lebih rendah. Ini disebabkan karena sistem kontrol pada SmartROC dapat menyesuaikan parameter pengeboran dengan kondisi batuan. “Tidak ada energi berlebih yang merusak asesoris bor. Sebab mesin bor ini dapat mensensor energi balik dari mesin bor. Kalau ada energi balik, berarti bebatuannya lunak, sehingga SmartROC mengurangi energinya,” dia menjelaskan.

Mudah dirawat

SmartROC tidak hanya menawarkan cara kerja yang pintar, tetapi juga memudahkan dalam perawatannya. Sebetulnya mesin bor Epiroc ini lebih gampang dirawat dan diperbaiki ketimbang unit-unit konvensional. Mesin bor konvensional, kalau ada kerusakan, unitnya diam saja. Mesin ini tidak akan memberi informasi, hanya lampu yang nyala pada panel.

Sebaliknya pada SmartROC, Cory menjelaskan, jika terjadi kerusakan atau error, akan muncul pemberitahuan pada monitor, dan menginformasikan secara persis komponen-komponen yang error. Hebatnya lagi, lampu di elektrik kabinet akan berkedap-kedip untuk menunjukkan bagian yang bermasalah itu. Jadi, pada dasarnya mesin bor SmartROC self-diagnostic.

SmartROC juga bisa dikombinasikan dengan GPS System atau Hole Navigation System. Biasanya, sebelum melakukan pengeboran, diperlukan memberi tanda pada titik-titik yang akan dibor. Namun, dengan penggunaan Hole Navigation System, maka hal itu tidak diperlukan lagi karena drill plan dibuat pada komputer dengan mengatur burden dan spacing pengeboran plus kedalamannya. Operator tinggal mengopi file itu pada USB untuk ditransfer pada komputer mesin bor. Operator akan dipandu ke titik-titik yang sudah digambar. Begitu mendekati titik, mata bor akan turun dan operator menekan tombol auto-drill untuk memulai pengeboran.

Di samping itu, pengeboran tidak lagi berdasarkan meter tetapi kordinat yang diminta. Meski dilakukan di permukaan tanah yang bergelombang, pengeboran akan berakhir pada kedalaman yang sama alias rata. Dampaknya, hasil peledakannya bagus, floor dari tambang akan rata, sehingga penggalian lebih mudah dan ban-ban truk yang lewat pun lebih awet. 

Berbicara soal aplikasi, Cory mengatakan SmartROC digunakan untuk pengeboran di pertambangan (mineral dan  batubara) serta quarry, terutama pada pekerjaan-pekerjaan di mana pengeboran merupakan pekerjaan utama. Di tambang, contohnya, setiap kegiatan dimulai dengan pengeboran. Setelah di-blasting baru digali dan diangkut.

SmartROC memiliki beberapa tipe, seperti top hammer, down the hole (DTH) dan dan COPROD. Dari segi model, yang diperkenalkan Epiroc di Indonesia adalah SmartROC Top Hammer T35, T40 dan T45. Yang membedakan ketiganya adalah kapasitas pengeborannya. Di Indonesia metode pengeboran yang paling popular yang digunakan pada pertambangan dan quarry adalah top hammer.

Cory mengakui biaya investasi awal SmartROC jelas jauh lebih mahal, sekitar 25 hingga 30 persen dari mesin bor konvensional. Namun, dengan running cost yang rendah, biasanya pada tahun ketiga, customer akan mengeluarkan biaya lebih banyak untuk mengoperasikan mesin konvensional dibandingkan SmartROC. “Total owning and operating cost SmartROC akan jauh lebih rendah dibandingkan mesin konvensional,” pungkasnya.

Related posts