25.9 C
Jakarta
Apr 2, 2020.
Construction Construction EQ Equipment Top News

Gejolak Industri Alat Berat Karena Covid-19

Bagaimana industri peralatan berat mengelola krisis rantai pasok berbagai komponen di tengah gempuran wabah virus corona (COVID-19) yang terus menjalar?

Penyebaran wabah virus COVID-19 menekan laju pertumbuhan ekonomi global karena banyak industri di berbagai negara bergantung pada pasokan dari pabrik-pabrik di Tiongkok. Dengan semakin meluasnya persebaran penyakit itu, makin banyak warga Tiongkok yang tinggal di rumah atau bekerja dari rumah dan dilarang melakukan perjalanan, termasuk untuk bekerja, seperti yang terjadi di kota Wuhan, provinsi Hubei yang dicurigai sebagai cikal bakal virus corona. Apalagi belakangan makin banyak perusahaan di provinsi-provinsi lain di Cina yang mengambil tindakan pencegahan untuk membendung penyebaran virus corona. Kondisi tersebut, jika berkepanjangan, akan menyebabkan terganggunya rantai pasok global.

Salah satu industri yang sudah merasakan dampak dari wabah virus corona itu adalah sektor peralatan konstruksi. Beberapa produsen alat global mengurangi  kapasitas produksi dari pabrik-pabrik mereka karena tidak ada produksi yang efektif dalam bisnis manufaktur di China,  terutama yang memproduksi berbagai komponen dan suku cadang.

Alejandro Alvarez dari Ayming, sebuah perusahaan konsultan khusus di bidang rantai pasok dan kinerja operasi, mengakui rantai pasok global telah menjadi sangat kompleks dan ekonomi Tiongkok memainkan peran yang sangat penting dalam ekonomi global sehingga mungkin ada beberapa kejutan yang tidak menyenangkan kalau dilakukan pembatasan impor (khl.com, 10/2).

Tiongkok merupakan pengekspor barang-barang setengah jadi terbesar yang dapat dijual kembali antar industri atau digunakan untuk menghasilkan barang-barang lain, dikutip dari Bloomberg.com (5/2/2020). Rantai pasok di kawasan Asia — yang mengimpor sekitar 40% barang setengah jadi dari China — memiliki eksposur terbesar, menurut analisis Bloomberg Economics berdasarkan data terperinci terbaru yang dikeluarkan oleh Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan. AS mengimpor sekitar 10% barang-barang setengah jadi dari pabrik-pabrik Cina.

“Menemukan pasokan-pasokan alternatif akan sangat sulit untuk produk-produk di mana China merupakan pemasok dominan secara global,” tambah ekonom Bloomberg Maeva Cousin.

Saat ini dilaporkan banyak produsen alat konstruksi terkemuka dunia mengalami krisis rantai pasok global akibat wabah COVID-19 di China itu. JCB, contohnya, menghentikan sama sekali produksi pada pabrik-pabriknya di Inggris karena permintaannya mengalami penurunan luar biasa. Namun, pabriknya di Shanghai yang sempat ditutup kini sudah kembali beroperasi.

Haulotte Group di Perancis juga menutup sementara tiga fasilitas produksinya sebagai respon terhadap pendemi Covid-19. Namun, kegiatan-kegiatan distribusi dan servis tetap jalan seperti biasa. Masih di Perancis, Manitou menutup operasi-operasinya yang diperkirakan hingga akhir Maret ini.

Sementara Caterpillar sudah membuka kembali sebagian besar fasilitas produksinya di Tiongkok mulai Senin (10/02) setelah mendapat rekomendasi dari pemerintah setempat. Caterpillar memiliki beberapa fasilitas produksi di Tiongkok. Meski tak satu pun dari pabrik-pabriknya yang berada di provinsi Hubei, yang terkena dampak terburuk penyebaran virus corona, pabrikan asal AS itu telah menunda pembukaan kembali pabrik-pabrik itu setelah Tahun Baru Imlek selama seminggu. Seorang juru bicara perusahaan itu, dikutip kantor berita Reuters,  mengatakan Caterpillar mengikuti petunjuk pemerintah setempat dan memantau dampak wabah virus corona pada jaringan dealer dan rantai pasoknya. Pasar China menyumbang hingga 10% penjualan Caterpillar.

Gara-gara Covid-19, booth Volvo Group pada pameran CONEXPO 2019 di Las Vegas, AS, 10-14 Maret silam tidak dikawal oleh tim sales maupun servis. Pabrikan asal Swedia itu terpaksa menarik semua stafnya dari arena pameran jelang hari-hari terakhir. Perusahaan ini mengutamakan keselamatan staf-stafnya. 

Perusahaan analisis pasar S&P Global Platts sejak awal sudah memperkirakan wabah ini akan berdampak negatif pada perdagangan bahan baku global dalam beberapa bulan ke depan. Diprediksikan konsumsi dan pemrosesan komoditas seperti bijih besi dan baja kemungkinan akan menurun di seluruh negeri dan menyebabkan efek riak dalam ekonomi di seluruh dunia. Yang tidak jelas adalah seberapa parah situasi ini akan terjadi. Kini Covid-19 sudah menjalar di Indonesia? Apa yang terjadi selanjutnya akan tergantung pada seberapa cepat wabah virus corona itu dapat dikendalikan penyebarannya dan dibersihkan hingga tuntas. (Dari berbagai sumber)

737 total views, 1 views today

Related posts