27 C
Jakarta
21 Sep, 2021.

HBA Agustus Cetak Rekor Tertinggi Selama Satu Dekade

Permintaan Cina, Jepang dan Korea Selatan yang meningkat membuat harga batubara terus naik. Kali ini HBA yang dirilis Pemerintah menjadi yang tertinggi selama satu dekade. Namun harga batubara ke depan masih akan bergantung pada kondisi Cina.

Ilustrasi proses penambangan batubara. Foto: Komatsu

Penguatan harga batubara terus berlanjut. Ini terlihat dari Harga Batubara Acuan (HBA) yang dikeluarkan oleh Kementerian ESDM. Pemerintah menetapkan Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Agustus di angka USD130,99 per ton. Ini merupakan harga tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.

Sebagaimana diketahui, HBA adalah harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya. HBA ini mengacu pada batubara dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%.

Dalam keterangan Pemerintah disebutkan bahwa menguatnya permintaan dari Cina, Jepang dan Korea Selatan menjadi penggerek utama harga batubara global. “Melambungnya harga batubara dunia dipengaruhi musim penghujan yang ekstrim di Cina yang mengganggu kegiatan produksi dan transportasi batubara di negara tersebut. Sementara kebutuhan batubara meningkat untuk keperluan pembangkit listrik yang melampaui kapasitas pasokan batubara domestik negara tersebut,” terang Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi di Jakarta, Selasa (3/8).

Pada Juni lalu, Cina mengimpor batubara dalam jumlah tertinggi sepanjang tahun ini. Ini karena pasokan domestik tidak mampu memenuhi kebutuhan. Di sisi lain, terjadi kenaikan kebutuhan listrik  karena cuaca panas yang mencatat rekor tertinggi. Hal ini membuat beban listrik di beberapa wilayah timur dan selatan, termasuk pusat bisnis Shanghai, tinggi. Cuaca yang panas mendorong penggunaan AC tinggi.

Para analis memperkirakan rata-rata persediaan batubara di enam pembangkit listrik tenaga batubara di Tiongkok timur telah turun menjadi kurang dari 15 hari. Konsumsi listrik Cina pada Juni naik 9,8 persen dari tahun sebelumnya menjadi 703,3 miliar kilowatt per jam karena konsumsi semester pertama melonjak 16,2 persen.

Selain Cina, penguatan harga batubara juga didorong oleh meningkatnya permintaan batubara dari Jepang dan Korea Selatan yang turut membuat harga si emas hitam ini melambung. Sebelumnya, pada Februari 2021 rekor HBA tertinggi dicatatkan sebesar USD127,05 per ton.

Sempat melandai pada Februari-April 2021, HBA mencatatkan kenaikan beruntun pada periode Mei-Juli 2021 hingga menyentuh angka USD115,35 per ton pada Juli 2021. Ternyata, kenaikan tersebut terus konsisten hingga Agustus 2021 dengan mencatatkan rekor tertinggi baru.

Terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand. Pada faktor turunan supply dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

Nantinya, HBA bulan Juli ini akan dipergunakan pada penentuan harga batubara pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).

Related posts