27 C
Jakarta
21 Sep, 2021.

SSAB Menjadi Produsen Baja Pertama yang Bebas dari Energi Fosil

SSAB, produsen dan pemasok baja terkemuka di dunia, bertekad menjadi produsen baja pertama di dunia yang mengaplikasikan teknologi HYBRIT untuk memasarkan produk baja yang bebas dari energi fosil. Sudah tersedia pada tahun 2021, SSAB akan mendistribusikan produk baja yang dibuat dengan hidrogen sebagai prototipe untuk klien. Pada 2026, perusahaan ini akan mulai menjual baja yang bebas energi fosil dengan skala komersial, dikutip dari rilis SSAB, Selasa (22/6).

Saat emisi karbondioksida diperkirakan mencapai 1,5 miliar ton pada 2021, dunia semakin memerlukan proses produksi yang ramah lingkungan.

Biasanya, baja diproduksi melalui proses manufaktur yang sarat akan energi. Menurut International Energy Agency, produksi baja membutuhkan 8% dari volume permintaan energi global dan menghasilkan 7% emisi karbondioksida global. Itu sebabnya, SSAB telah merintis program global untuk menjadi perusahaan yang sepenuhnya bebas dari energi fosil. Dengan reputasi dan kredibilitasnya, SSAB akan memimpin dekarbonisasi di industri baja dan menjadi produsen baja pertama yang bebas dari energi fosil.

Sejak Juni, program global ini mulai dijalankan SSAB di Swedia, Finlandia, dan Amerika Serikat. Setelah itu, program ini akan digelar secara global.

Inovasi industri yang orisinal

Program SSAB ini berawal dari proses produksi baja terbaru yang berbasis teknologi. Alih-alih menggunakan bahan bakar fosil, proses manufaktur memakai hidrogen. Dengan proses tersebut, SSAB akan membuat berbagai produk, termasuk pelat baja gulungan (hot rolled steel sheet) dan gulungan besi (coil), yang tak hanya memiliki mutu terbaik, namun juga mengurangi jejak karbon.

“Teknologi baru kami yang penuh terobosan dan bebas dari energi fosil adalah inovasi orisinal pertama dalam produksi baja dalam beberapa abad terakhir,” kata John Kuan, Country Manager, Asia Tenggara, SSAB. “Pelanggan-pelanggan SSAB akan memperoleh baja premium dan berkekuatan tinggi dengan kualitas yang sama, namun telah disesuaikan untuk masa depan yang lebih lestari.”

Pengurangan emisi karbon sangat vital, sebab tingkat permintaan baja diprediksi meningkat drastis di beberapa negara selama tahun-tahun mendatang. Di Indonesia, misalnya, penyedia informasi pasar S&P Global Platts melaporkan, volume permintaan baja akan mencapai 22,7 juta metrik ton pada 2024, atau 50% lebih besar dari angka pada 2018.

Sebagian besar permintaan ini berasal dari sektor konstruksi, namun 38% di antaranya dari sektor-sektor non-infrastruktur, termasuk pertambangan. Di sektor ini, sejumlah produk SSAB seperti wear plate Hardox® telah banyak dipakai perusahaan-perusahaan Indonesia. 

Transparansi yang lebih baik

Untuk menjamin program pelestarian alam kepada klien dan publik, SSAB telah fokus pada Environmental Product Declaration (EPD) untuk seluruh produknya. EPD adalah dokumen yang diverifikasi secara independen dan menjelaskan informasi tentang dampak lingkungan dari sebuah produk. 

Dengan EPD, klien bisa mengamati wear plate Hardox® dan membandingkan jejak karbonnya dengan produk-produk buatan perusahaan lain. Meski demikian, SSAB selalu memiliki emisi CO2 yang terendah di industri baja.

SSAB menyadari bahwa produksi baja yang sepenuhnya bebas dari energi fosil membutuhkan waktu. SSAB juga telah bermitra dengan sejumlah produsen terkemuka di sektor-sektor lain, seperti Volvo. Produsen mobil asal Swedia ini dan SSAB bermitra untuk memproduksi mobil-mobil pertama di dunia dengan baja yang bebas dari energi fosil.

Bahkan, Volvo telah berencana memproduksi mobil konsep dan mesin pertama dengan baja SSAB yang dibuat dengan Hidrogen pada 2021 ini. Tahap produksi berskala kecil akan dilakukan pada 2022, lalu diikuti tahap produksi massal dalam beberapa tahun berikutnya.

SSAB adalah perusahaan baja yang berbasis di Nordik dan Amerika Serikat. Perusahaan ini menawarkan berbagai produk dan layanan bernilai tambah yang dikembangkan melalui kerja sama erat dengan para klien.#

Related posts