Harga batu bara di pasar global dalam tren menguat. Bahkan HBA pada Juli ini menjadi yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Namun, muncul masalah, pasokan batu bara domestik khusus untuk kelistrikan menurun.

Pemerintah mengumumkan Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Juli di angka USD 115,35 per ton. Hal ini melanjutkan tren penguatan harga salah satu sumber energi ini dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan jika hendak ditarik lebih jauh lagi, maka tren penguatan ini sudah terjadi sejak kuartal IV tahun 2020. Lebih menarik lagi, capaian harga saat ini merupakan yang tertinggi selama 10 tahun terhitung sejak November 2011.
Kenaikan harga batu bara ini dipicu oleh kenaikan permintaan secara khusus dari Cina dan beberapa negara di kawasan Asia Timur. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi menjelaskan konsumsi batu bara Tiongkok terus mengalami lonjakan.
“Kapasitas pasokan batu bara domestik Tiongkok terus menipis seiring kembalinya geliat aktivitas pembangkit listrik,” ungkap Agung.
Sejauh ini Tiongkok cukup kewalahan memenuhi kebutuhan batu bara dalam negeri dari tambang dalam negerinya. Ini terjadi karena ada kendala operasional seperti kecelakaan tambang dan perubahan cuaca berupa hujan yang ekstrim.
Bulan lalu dilaporkan biaya pembangkit listrik naik di atas tarif dasar untuk listrik berbahan bakar batu bara. Ini terjadi karena kelangkaan pasokan batu bara. Padahal disebutkan bahwa puncak dari permintaan batu bara untuk musim panas belum terjadi. Masih ada kemungkinan permintaan batu bara Cina terus naik.
Selain Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan juga menunjukkan grafik kenaikan serupa. Kenaikan permintaan beberapa negara ini kemudian berimbas pada kenaikan harga batu bara global.
Agung mengatakan kenaikan ini merupakan rekor tertinggi baru setelah sebelumnya pada Juni lalu juga menembus USD100,33 per ton. Capaian ini juga menempatkan HBA Juli sebagai yang tertinggi sejak November 2011. Kala itu HBA menyentuh mencapai USD116,65 per ton. “Kenaikan ini menjadi yang paling tinggi dalam satu dekade,” tegas Agung.
Sebagai informasi, HBA adalah harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%.
Terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand. Pada faktor turunan supply dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.
Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.



















