
Industri alat berat Indonesia mengalami berbagai tantangan di era penuh disrupsi ini, mulai dari gangguan rantai pasok karena pandemi, krisis tenaga kerja terampil, keterbatasan ketesediaan bahan bakar fosil hingga problem polusi karena gas buang yang disemburkan mesin-mesin diesel. Apakah peralatan elektrik bisa menjadi solusi?

Industri alat berat sedang berada dalam masa transisi karena rupa-rupa persoalan yang mendera. Pandemi Covid-19 membuat industri ini mengalami gangguan rantai pasok yang mengakibat terbengkelainya proses produksi dan pengiriman produk hingga saat ini. Kemajuan teknologi informasi yang begitu cepat menantang bisnis model tradisional yang mengandalkan pertemuan dari muka ke muka secara langsung dengan bisnis gaya baru yang bertumpu pada media online. Dewasa ini makin banyak dealer memanfaatkan berbagai platform media sosial atau bahkan mengembangkan aplikasi sendiri untuk berbisnis secara daring.

Persoalan lain yang berada di depan mata adalah keterbatasan ketersediaan bahan bakar fosil yang memicu kenaikan biaya bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini mendorong para produsen untuk mengembangkan mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar alternatif. Sementara tingginya pemakaian BBM pada alat berat memicu polusi. Belum lagi deru mesin-mesin itu menimbulkan kebisingan (polusi suara). Operasi alat-alat berat memang memiliki dampak lingkungan maupun sosial. Rentetan berbagai persoalan itu menimbulkan disrupsi terhadap kelangsungan bisnis alat berat nasional.
Bagaimana para pelaku industri alat berat menghadapi berbagai perubahan yang berlangsung begitu cepat dewasa ini? Apakah peran distributor/dealer berubah di era yang penuh disrupsi ini? Apa saja teknologi-teknologi yang berkembang di industri alat berat dan bagaimana trennya di Indonesia? Bagaimana respons pasar terhadap produk-produk yang menggunakan teknologi baru seperti mesin elektrik?
Untuk mendiskusikan berbagai persoalan tersebut, Majalah Equipment Indonesia dan PT Pamerindo Indonesia dengan dukungan asosiasi-asosiasi terkait – PAABI, HINABI, ASPINDO, PERTAABI dan APPAKSI – menyelenggarakan Dealer Summit, sebuah acara yang didedikasikan bagi para pemain industri alat berat di Tanah Air, pada Jumat (15/9/2023) di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta. Acara ini merupakan rangkaian dari pameran Mining & Construction Indonesia yang berlangsung selama empat hari, 13-16 September 2023.
Pembicara-pembicara yang tampil di panggung Dealer Summit kali ini adalah Ketua PAABI (Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia) Etot Listyono, Ketua HINABI (Himpunan Industri Alat Berat Indonesia) Jamaluddin, Direktur PERTAABI Rochman Alamsjah, Priyongga Setyoadi (Sales & Product Head PT Indotruck Utama), Agung Prabowo (Technical Specialist PT Pertamina Lubricants), Ceisar Centiaga (Strategic Marketing Head PT United Tractors Tbk), Dr. Eng Mohammad Adhitya dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Sun Haikuo (Deputy Director ENFEI), dan Direktur Kelembagaan Sumber Daya Konstruksi Ditjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR Ir. Nicodemus Daud M.Si yang tampil secara daring. Mengangkat tema “Tantangan Bisnis Alat Berat di Era Penuh Disrupsi”, Dealer Summit kali ini menyoroti berbagai tantangan di industri alat berat nasional, dan tren-tren industri yang berkembang untuk merespon persoalan-persoalan yang muncul.
Mesin elektrik

Sebagai solusi terhadap krisis bahan bakar fosil dan sekaligus mereduksi problem polusi udara maupun suara, Volvo Construction Equipment (Volvo CE) melalui PT Indotruck Utama sebagai distributor tunggalnya di Indonesia memperkenalkan alat konstruksi bertenaga listrik. Mengapa mesin dengan teknologi ramah lingkungan sangat penting saat ini dan ke depan?
“Pemerintah Indonesia berkomitmen kuat untuk mewujudkan Net Zero Emission (NZE) atau nol emisi karbon yang ditargetkan tercapai pada tahun 2060. Zero Emission itu untuk mengatasi risiko perubahan iklim di masa depan, yang antara lain disebabkan oleh tingginya kadar emisi gas buang dari kendaraan bermotor dan industri,” kata Priyongga Setyoadi, Sales & Product Head PT Indotruck Utama saat menjelaskan mengenai produk-produk elektrik Volvo yang sudah hadir di Indonesia.
Menurut Priyonggo, konsentrasi gas rumah kaca (GRK) pada atmosfer bumi telah meningkat melampaui konsentrasi alamiahnya sehingga membuat udara di bumi semakin panas dan memicu perubahan iklim global. PT Indotruck Utama dengan dukungan kuat dari prinsipalnya, Volvo CE, sangat mendukung upaya menciptakan industri konstruksi dan pertambangan yang ramah lingkungan. Mereka juga memiliki komitmen tinggi dalam menciptakan net zero emission yang sudah ditetapkan berbagai pemerintahan seluruh dunia, termasuk Indonesia. Karena itu, sebagai dealer alat berat, perusahaan ini bertekad dan terus berkomitmen mengembangkan dan menghadirkan alat-alat yang ramah lingkungan.
“Transisi energi bukan lagi sebuah konsep yang abstrak dan sulit dipahami tetapi sudah hadir di tengah kita. Jika kita ingin menekan masalah polusi, menciptakan lingkungan kerja yang lebih ramah lingkungan dan efisien, kita harus bertindak sekarang,” kata Priyongga.

Terdapat dua tipe peralatan elektrik Volvo yang sudah dipasarkan Indotruck, yaitu Compact Excavator ECR25 Electric dan Compact Wheel Loader L25 Electric. ECR25 Electric memiliki postur ramping yang memungkinkannya mampu bekerja secara leluasa di ruang-ruang terbatas dengan kemampuan kontrol yang tinggi.
“Alat ini memiliki sistem hidraulik yang presisi dan responsif yang diperlukan untuk pekerjaan-pekerjaan yang menuntut akurasi. Soal performa, mini excavator elektrik Volvo ini dapat melakukan pekerjaan yang sama seperti mesin-mesin diesel, namun tanpa meninggalkan gas buang dan tanpa brisik,” paparnya.
Ia menambahkan, manfaat lain yang diperoleh para customer ketika mengaplikasi peralatan elektrik, adalah dapat mengurangi gangguan pekerjaan di dalam kota yang ramai dan padat penduduk, serta mengurangi kemacetan pada jam-jam sibuk, sekaligus meningkatkan efisiensi pekerjaan mereka.
ECR25 Electric memilki bobot operasi 2.680-2.780 kg, kedalaman penggalian (panjang lengan) 2.672-2.965 mm, tinggi dump maksimal 2784-2957 mm, tenaga dorong 22,3 kN, dan lebar seluruhnya 1.550 mm. Kecepatan tertinggi electric motor 18 kW dan kapasitas baterai 20 kWh. Tingkat tekanan suara pada posisi operator 74 dB, sementara level kekuatan suara di sekitar mesin 48 dB.
Selanjutnya, L25 Electric menggabungkan platform wheel loader kompak Volvo yang telah terbukti dengan tenaga baterai, memberikan semua kinerja yang diperlukan dengan tanpa mengeluarkan gas buang sama sekali dan tingkat kebisingan yang sangat rendah.
Compact Wheel Loader L25 Electric memiliki electric motor driveline (net) 22 kW, kapasitas bucket standar 0.9 m³, tenaga dorong 54,5 kN, kapasitas angkat hidrolik 55 kN, ketinggian dump maksimal 2.495 mm, dan bobot operasi 4.900-5.270 kg. Sedangkan voltasi baterai 48 V dan kapasitasnya 40 kWh.
Priyonggo memastikan ECR25 Electric sudah dilengkapi dengan berbagai attachment sesuai kebutuhan customer. Selama acara Dealer Summit ini, PT Indotruck Utama sengaja men-display mini excavator elektrik ini dan memberikan kesempatan kepada para pengunjung untuk melakukan uji coba.
Dalam tiga tahun terakhir, sejak 2020, hingga beberapa tahun ke depan, PT Indotruck Utama menghadirkan alat-alat elektrik baik untuk industri konstruksi maupun pertambangan di Tanah Air. Untuk tahap awal, perusahaan ini sudah memperkenalkan peralatan konstruksi kecil (mini excavator dan compact wheel loader). Namun, dalam beberapa tahun ke depan, secara bertahap, akan diperkenalkan alat-alat elektrik ukuran besar yang beroperasi di sektor pertambangan.
“Tahun depan (2024), Volvo akan menghadirkan excavator elektrik ukuran medium mulai dari kelas 20 ton, 30 ton, hingga 50 ton. Ke depan semua produk Volvo sudah elektrik. Dan, konsep utama dari ala-alat elektrik Volvo ini adalah eco friendly atau sangat bersahabat dengan lingkungan,” ungkapnya.
Hybrid excavator

Untuk membantu menciptakan ekosistem ramah lingkungan dan mengedepankan keberlanjutan, PT United Tractors Tbk dan Komatsu sudah memperkenalkan hybrid excavator kelas 30 ton, Komatsu HB365 pada pertengahan tahun 2022. Produk ini merupakan hasil riset teknologi hybrid yang dilakukan Komatsu sejak 1999. “HB365 adalah pionir hybrid excavator kelas 30 ton di Indonesia,” kata Strategic Marketing Head PT United Tractors Tbk, Ceisar Centiaga, saat menjelaskan produk ini di forum Dealer Summit tersebut.
Bagaimana cara kerja Hybrid Excavator Komatsu HB365? “Excavator ini memanfaatkan energi kinetik yang dihasilkan oleh pergerakan mengayun dan putaran engine untuk menghasilkan energi elektrik yang tersimpan di kapasitor melalui inverter. Energi yang tersimpan tersebut digunakan kembali untuk pergerakan mengayun dan membantu putaran mesin. Hal ini yang membuat unit menjadi lebih hemat dalam penggunaan bahan bakar karena beban kerja engine berkurang,” terang Centiaga.
Ia menambahkan, HB365 menggunakan komponen hybrid yang lebih tahan lama dan andal dalam memanfaatkan energi listrik untuk menghasilkan performa bertenaga dan membantu mengurangi jejak emisi hingga 13 kg/jam serta hemat konsumsi bahan bakar hingga 17% jika dibandingkan dengan excavator model non-hybrid.
Terobosan UT dan Komatsu ini sejalan dengan target Pemerintah Indonesia untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2060. Pemerintah sudah mendorong semua pihak untuk melakukan pengembangan dan pemanfaatan teknologi yang mampu mereduksi kadar emisi karbon, termasuk salah satunya dengan pemanfaatan energi listrik pada kegiatan industri. Menurut Centiaga, Hybrid Excavator Komatsu HB365 dapat diaplikasikan di berbagai sektor seperti tambang batu bara dan mineral serta pekerjaan konstruksi.
Sinkronisasi regulasi

PAABI menyambut secara antusias berbagai terobosan yang dilakukan pabrikan-pabrikan alat berat dan dealer-dealer mereka. Namun, Ketua PAABI, Etot Listyono, menilai Indonesia masih menghadapi banyak tantangan yang tidak mudah dalam menciptakan Net Zero Emission. Termasuk juga lewat pengoperasian alat-alat elektrik. Pasalnya, masih perlu dilakukan studi kelayakan tentang produk-produk elektrik, mulai dari teknologi dan aplikasi baterai, hingga infrastruktur baik tempat pengisian daya maupun manajemen sampahnya. Hal lain yang masih perlu dilakukan studi kelayakan adalah bagaimana model bisnisnya, baik unit-unit itu sendiri maupun suku cadang atau aspek after sales service lainnya.
“Ekosistem ini harus disiapkan dan diciptakan terlebih dahulu dengan baik sebelum kemudian alat-alat elektrik membanjiri pasar Indonesia yang pada akhirnya bisa mewujudkan Net Zero Emission pada 2060. Artinya, semua pihak, terutama pemerintah, masih harus kerja keras dalam menyiapkan ‘landasan pacu’ sebelum alat-alat elektrik bisa terbang tinggi di Indonesia,” ungkapnya.
Ketua HINAB,I Jamaluddin, mengemukakan pentingnya peralihan dari alat-alat diesel ke elektrik untuk membantu para pelanggan mengurangi jejak karbon yang mereka hasilkan sekaligus mengimplementasikan solusi-solusi berkelanjutan. Namun, menurutnya, alat-alat elektrik tidak hanya terbatas pada excavator berbasis baterai, tetapi juga dapat diterapkan pula pada dump truck. Paling tidak itu yang dipraktekkan di Komatsu. Bahkan dump truck elektrik Komatsu bisa menggunakan berbagai macam “bahan bakar” ramah lingkungan baik baterai, hidrogen, dan yang lainnya. “Bahan-bahan bakar ramah lingkungan ini juga dapat meningkatkan performa dump truck Komatsu,” ujarnya berpromosi.
Menurut Direktur PERTAABI, Rochman Alamsjah, selain menyediakan infrastruktur, pekerjaan rumah lain yang harus dilakukan pemerintah adalah menjaga sinkronisasi berbagai regulasi yang ada. Dia antara lain menyebut aturan larangan impor besi dan baja, aturan Penyelenggaraan Bidang Perindustrian, Proyek Hilirisasi, TKDN, Neraca Perdagangan, Kode Harmonisasi Sistem, dan Perijinan Impor. Belum lagi masalah pajak seperti pajak karbon, pajak alat berat, pajak penghasilan badan (pengusaha batu bara), dan PP No 15 Tahun 2022.
Satu hal lagi yang ditekankan Rochman Alamsjah adalah perlunya pemerintah memberikan insentif yang menarik bagi para pelaku pasar industri alat berat dan pertambangan yang menggunakan mesin-mesin elektrik ini. Pasalnya, alat berat elektrik masih tergolong baru di Indonesia. “Sebagai produk dengan teknologi baru, harganya masih sangat mahal. Hal ini juga dipengaruhi oleh biaya bea masuk yang sangat tinggi. Sebab itu, pemerintah perlu memberikan diskon menarik untuk bea masuk alat-alat elektrik, sehingga harganya bisa sedikit lebih turun. Tanpa upaya seperti itu, maka alat-alat elektrik akan sulit bersaing dengan mesin-mesin diesel yang harganya masih murah,” ungkapnya.
Harapan serupa disoroti Dr. Eng Mohammad Adhitya dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia, yang banyak membuat penelitian mengenai kendaraan elektrik di Indonesia. Ia menilai teknologi alat berat listrik tidak berbeda jauh dengan kendaraan elektrik, harganya masih terlampau mahal sehingga butuh waktu untuk memacu pertumbuhan pasarnya. Namun, kondisi bisa berubah cepat jika pemerintah membangun infrastruktur dan memberikan insentif. “Selama infrastruktur belum memadai dan pemerintah belum menyediakan insentif, butuh waktu bagi alat berat elektrik untuk diterima pasar, apalagi untuk mesin-mesin elektrik yang bekerja di area pertambangan yang umumnya berada di daerah terpencil dengan pasokan listrik yang terbatas,” ujarna mengingatkan.
Bila berbagai regulasi seperti di atas belum dibenahi, infrastruktur belum mulai dibangun, dan insentif belum diberikan, maka cita-cita mewujudkan Net Zero Emission pada 2060 bagai menapaki jalan terjal. Tugas berat tidak hanya pada manufaktur dan dealer, tetapi pada pemerintah yang harus menyediakan regulasi dan membangun infrastruktur. Kalau regulasi dan infrastruktur sudah siap, maka produsen dan distributor akan berlomba-lomba memproduksi dan menjual alat-alat elektrik untuk berbagai industri di Indonesia.
















