Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
FeatureTop News

Jeffery Ting, Pebisnis Suku Cadang Alat Berat dari Sarawak

477
×

Jeffery Ting, Pebisnis Suku Cadang Alat Berat dari Sarawak

Share this article
Jeffery Ting
Example 468x60
Jeffery Ting
Jeffery Ting

 Suasana perdagangan suku cadang dan komponen permesinan, terutama  untuk peralatan berat tampak masih belum bergairah.  Kondisi ini seiring  dengan masih lesunya sektor-sektor yang menjadi penggerak pasar mesin-  mesin tersebut, seperti pertambangan dan juga infrastruktur. Usaha tambang  batu bara dan mineral saat ini dalam kondisi mati suri dan belum ada sinyal  positif menuju pemulihan. Sementara proyek-proyek infrastruktur pemerintah  belum memperlihatkan kemajuan signifikan. Daya serap alat konstruksi pada  proyek-proyek tersebut masih rendah karena belum banyak yang terealisasi.

Meski situasi pasar masih lesu, para pemain bisnis suku cadang alat berat dan  permesinan tetap optimis pasar akan kembali pulih. Salah satunya adalah PT.  Miri Mitra Partindo yang menyediakan suku cadang untuk beberapa merk alat  berat. Perusahaan ini ikut membuka “lapak” di di Linde Teves Center (LTC), Jl.  Hayam Wuruk, Jakarta Pusat dan merasakan makin sepinya pasar suku  cadang alat berat akhir-akhir ini.

ALTRAK

 

“Awalnya suku cadang yang kami sediakan untuk keperluan sendiri. Namun, sejak tiga tahun lalu, sambil tetap membeli untuk keperluan sendiri, kami mulai tawarkan parts dan komponen-komponen yang ada kepada kenalan dan pelanggan-pelanggan lainnya,” tutur Jeffery Ting dari PT. Miri Mitra Partindo kepada Majalah EQUIPMENT, Jumat (10/4/2015) di Jakarta.

Miri Mitra Partindo menjadi authorized distributor untuk beberapa merk suku cadang alat berat terkemuka di Indonesia. Jenis suku cadang yang ia tawarkan beragam dan berasal dari berbagai merk. Sebut saja, contohnya, undercarriage merk Berco dari Italia. Tersedia juga seal alat berat bermerk NOK yang berasal dari Jepang. NOK adalah original equipment manufacture untuk Komatsu.

Miri Mitra Partindo juga memasarkan hydraulic breaker merk Hammus, yang digunakan untuk alat pemecah batu di quarry dan usaha penambangan lainnya. Pengusaha asal Sarawak, Malaysia Timur ini bermitra dengan pengusaha asal Korea Selatan dalam memproduksi Hammus. “Ini nama merk kami sendiri bekerjasama dengan pabriknya di Korea,” imbuhnya.

Baca Juga :  10 Besar Produsen Alat Konstruksi Dunia 2019

Jeffery mengakui menurunnya performa bisnis tambang saat ini berdampak terhadap penjualan suku cadang alat berat. Meski beberapa usaha tambang besar masih jalan saat ini, secara keseluruhan bisnis tambang batu bara dan mineral mengalami penurunan signifikan. Namun, ia senang karena bisnis perkebunan dan perhutanan (forestry) tetap tumbuh meski skala bisnisnya tidak sebesar industri pertambangan.

Perusahaan ini melayanan pasar suku cadang di berbagai daerah, terutama Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Di Papua, Jeffery membuka kantor cabang karena jaraknya dari Jakarta yang begitu jauh. “Di sana kami perlu stok suku cadang, supaya kalau ada customer yang membutuhkan, mereka bisa langsung membelinya,” ujarnya.

Di wilayah Sulawesi, perusahaan ini mensuplai suku cadang untuk para pelanggan yang bergerak di bidang tambang batu (quarry). Ia mengklaim, hydraulic breaker laris di sana. Sedangkan di Kalimantan, undercarriage merk Berco dan seal merk NOK yang paling laris, terutama di kalangan kontraktor yang bergerak di bidang perhutanan dan tambang batu bara.

Dari pengalaman selama beberapa tahun menjual suku cadang, Jeffery belajar karakter belanja para pemilik alat di Indonesia. “Kebanyakan konsumen Indonesia lebih suka memilih produk-produk yang murah. Namun, saya tidak selalu menurutinya. Saya tetap berusaha merekomendasikan produk-produk suku cadang kami karena kualitasnya lebih terjamin. Kalau mereka memang memaksa mau membeli produk murah dalam jumlah besar, maka baru saya penuhi dan carikan,” jelasnya. Produk murah biasanya berasal dari Cina.

Tetapi ada juga pertimbangan lain jika mau mengikuti kehendak pelanggan. “Saya perlu melihat fitur penggunaannya terlebih dahulu. Alatnya mau dipakai di mana? Misalnya untuk proyek meratakan jalan. Ini pekerjaan yang relatif ringan. Kalau tambang batubara dan pembalakan kayu memang berat beban pekerjaannya,” jelasnya.

Baca Juga :  Kemitraan Pembiayaan Antara MNC Leasing dan Lovol

Untuk pekerjaan berat, sebaiknya kalau terjadi pergantian suku cadang, dicarikan komponen compatible yang berkualitas menengah. Biasanya kebutuhan ini di-cover dengan produk-produk eks Korea. Sebaliknya, kalau hanya untuk keperluan melengkapi proses rekondisi alat, cukup beli saja suku cadang pengganti yang murah.

Namun, Jeffery mengaku ingin konsisten memasarkan produk-produk suku cadang yang bermutu. Apalagi saat ini ia sedang menjajaki bisnis engine parts. “Engine parts merupakan komponen-komponen kunci yang menentukan hidup matinya sebuah alat. Sebab itu , maka saya harus sangat berhati-hati. Saya mau mencari barang dagangan yang berkualitas bagus. Yang saya inginkan adalah suku cadang yang mutunya kira-kira sebanding dengan genuine parts. Saya ingin menjajaki kerja sama dengan pabrikan-pabrikan yang benar-benar bagus,” tutupnya.

Iklan Berca