

Sekretaris Perusahaan United Tractors, Sara K. Loebis, mengemukakan, pihaknya optimis bisnis industri alat berat pada 2022 akan terus membaik mengikuti tren yang terjadi sepanjang 2021. Emiten anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini menargetkan bisa menjual 3.700 unit alat berat sepanjang tahun 2022.
Sara yakin, target ini akan tercapai karena sejumlah indikasi mendukung proyeksi tersebut. Hingga April 2022, penjualan alat berat UNTR telah menembus 2.000 unit, atau sudah mencapai 55,73 persen dari target tahun ini. UNTR berhasil membukukan pertumbuhan penjualan alat berat dan batubara selama Januari hingga April 2022, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2021.
Berdasarkan perkembangan operasional bulanan, penjualan alat berat UNTR melesat sebanyak 1.153 unit, atau meningkat 126,84 persen, dari 909 unit pada periode Januari hingga April 2021 menjadi 2.062 unit pada periode sama tahun ini. Capaian penjualan bulanan pada April 2022 sendiri sebanyak 368 unit. Pangsa pasar UNTR hingga April 2022 mencapai 29 persen.
Secara total, penjualan Komatsu dalam periode tersebut paling banyak ke sektor tambang sebesar 61 persen, 12 persen ke sektor kehutanan, 18 persen ke sektor konstruksi, dan 9 persen ke sektor agro.
Selanjutnya, untuk bisnis kontrak pertambangan melalui Pamapersada Nusantara, produksi batubaranya turun dari 37 juta ton pada periode empat bulan berjalan 2021 menjadi 32,3 juta ton sampai April 2022. Kemudian, untuk volume penjualan batubara Tuah Turangga Agung juga tercatat turun, dari 4,618 juta ton pada per April 2021 menjadi 3,992 juta ton per April 2022.
Capaian hingga April 2022 ini didominasi penjualan pada Februari 2021 yang melesat 1,437 juta ton dengan perincian 1,186 juta ton thermal coal dan 251.000 ton coking coal. Sementara pada April 2022 tercatat pejualan batubara thermal mencapai 702.000 ton dan 344.000 ton coking coal.
Selain itu, pada bisnis penjualan emas UNTR mencatat penjualan 23.000 GEOs untuk April 2022. Adapun, selama periode Januari – April 2022 penjualannya mencapai 97.385 GEOs, turun dari periode yang sama 2021 yang mencapai 124.030 GEOs.
Saat ini manajemen belum merevisi naik, meski penjualan alat berat UNTR telah mencapai 55,73 persen selama empat bulan (Januari-April 2022) dari target tahun ini sebanyak 3.700 unit. “Perihal target penjualan alat berat, kami akan sesuaikan lagi, namun saat ini saya belum dapat menyampaikan angkanya,” katanya kepada Equipment Indonesia baru-baru ini.
Terkait recana ekspansi usaha, Sara mengemukakan, UNTR tahun ini menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 800 juta. Capex tersebut digunakan, antara lain, untuk bisnis kontraktor penambangan dan tambang batubara, mengganti alat berat yang sudah usang, penambangan emas (kebutuhan eksplorasi), dan bisnis distribusi alat berat.
Capex tersebut seluruhnya akan dipenuhi dari dana kas internal Perseroan. “Per triwulan I 2022, realisasi/serapan capex UNTR mencapai US$ 95 juta atau setara dengan Rp1,4 triliun,” kata Sara.
Gambaran dan prospek penjualan alat berat yang kinclong ini diakui oleh tim analis PT Mandiri Sekuritas. Menurut tim analis PT Mandiri Sekuritas, pencapaian penjualan alat berat merek Komatsu, batubara dan emas selama periode Januari hingga April 2022, jelas membuka peluang manajemen UNTR untuk merevisi naik tidak hanya target penjualan alat berat, tapi juga kinerja keuangan tahun ini.
Terkait dengan pencapaian UNTR selama periode tersebut di atas, tim analis PT Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi “buy” (beli) saham UNTR dengan target harga Rp 37.150 per lembar saham. Target tersebut menggambarkan peluang pesatnya pertumbuhan kinerja keuangan UNTR tahun 2022. Kinerja keuangan UNTR juga diprediksi didukung investasi dari segmen di luar bisnis batubara.
Tim analis NH Korindo Sekuritas Indonesia juga mengemukakan, UNTR menunjukkan peluang pertumbuhan kinerja keuangan di atas ekspektasi sepanjang tahun ini. Potensi tersebut terlihat dari tingginya realisasi pertumbuhan kinerja keuangan UNTR hingga Maret 2022, seiring berlanjutnya peningkatan kinerja operasional seluruh segmen bisnis.
Kondisi tersebut mendorong tim analis PT NH Korindo Sekuritas memperkirakan permintaan alat berat tetap tinggi tahun ini. Pada Januari, Februari, Maret, dan April 2022 UNTR mencatatkan volume penjualan Komatsu masing-masing sebanyak 530 unit, 528 unit, 636 unit dan 368 unit.
Pencapaian penjualan alat berat selama empat bulan pertama 2022 seiring meningkatnya aktivitas pertambangan dan konstruksi. Adapun penjualan alat berat pada bulan April 2022 relatif rendah seiring hari kerja yang sedikit selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri.
Ekspektasi kinerja UNTR tersebut menggambarkan kuatnya penjualan alat berat dan peningkatan harga jual batubara,” ungkap analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Arief Machrus, dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, dikutip Sabtu (11/6).
Arief memperkirakan pendapatan UNTR meningkat sebesar 8,51 persen menjadi Rp 86,22 triliun pada 2022, dari Rp 79,46 triliun pada 2021. “Laba bersih UNTR kami perkirakan tumbuh sebesar 12,45 persen, dari Rp 10,28 triliun pada 2021 menjadi Rp 11,56 triliun pada 2022,” kata Arief.
Asal tahu saja, UNTR telah membukukan kenaikan laba bersih sebesar 131,51 persen menjadi Rp 4,32 triliun pada triwulan I 2022 dibandingkan periode yang sama 2021 sebesar Rp 1,86 triliun. Kenaikan laba bersih UNTR, sejalan dengan peningkatan pendapatan bersih sebesar 56 persen, dari Rp 17,89 triliun per Maret 2021 menjadi Rp 27,97 triliun per Maret 2022.
Melambungnya penjualan alat berat UNTR per Maret 2022 ditopang oleh sektor pertambangan, yang didorong oleh komoditas batubara dan nikel. Hal ini tercermin pada penjualan selama triwulan I 2022. Pada periode tersebut, penjualan ke sektor tambang masih mendominasi. Sebanyak 60 persen penjualan alat berat ditujukan ke sektor tambang.
Makin membaik kinerja UNTR juga tergambar pada harga sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama semester pertama 2022. Pada periode 30 Desember 2021 hingga 10 Juni 2022, harga saham UNTR melambung sebesar Rp 10.050 atau tumbuh 45,37 persen, dari Rp 22.150 per unit menjadi Rp 32.200 per saham.
Harga saham HEXA melambung

Manajemen PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) juga terus menjaga momentum tingginya permintaan dan penjualan alat berat. Manajemen HEXA optimistis penjualan alat berat tahun buku 2021 yang berakhir Maret 2022 lalu tumbuh signifikan.
Kenaikan harga komoditas menyebabkan penjualan alat berat ke sejumlah sektor mengalami peningkatan. Sektor yang mendominasi adalah agribisnis dan pertambangan. Ini sejalan dengan tren tingginya harga batubara dan komoditas lainnya.
Berdasarkan laporan yang diliris HEXA, total penjualan alat berat perseroan selama periode April 2021 hingga Desember 2021 mencapai 1.817 unit, meningkat 105,08 persen, jika dibandingkan periode sama 2020 sebanyak 886 unit.
Dalam laporan keuangan HEXA, terungkap, total pendapatan perseroan mencapai US$ 308,871 selama periode April 2021 – Desember 2021, tumbuh 79,47 persen, dari periode sama tahun 2020 sebesar US$172,098 juta.
Pendapatan HEXA tersebut berasal dari penjualan alat berat senilai US$ 181,688 juta, melambung 132,40 persen, dari US$ 78,178 juta, penjualan suku cadang senilai US$ 77,992 juta, naik 58,70 persen, dari US$ 49,145 juta, pendapatan jasa layanan dan pemeliharaan naik 6,82 persen dari US$ 44,476 juta menjadi US$ 47,511 juta, dan pendapatan sewa dan perbaikan meningkat 426,67 persen, dari US$ 300 menjadi US$ 1,580 juta di periode April 2021 – Desember 2021.
Peningkatan kinerja HEXA tercermin pada harga sahamnya di BEI. Harga saham HEXA melambung sebesar Rp 1.800 (39,13 persen), selama periode 30 Desember 2021 hingga 10 Juni 2022, dari Rp 4.600 menjadi Rp 6.400 per lembar saham.
Penjualan alat tambang dominan di KOBX

Tren serupa terjadi pada PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) yang membukukan laba bersih pada triwulan I 2022 sebesar US$ 3,94 juta, melejit 295,58 persen dibanding periode yang sama tahun 2021 sebesar US$ 996,97.
Direktur Utama KOBX, Andry B Limawan, belum lama ini mengatakan, peningkatan laba bersih tersebut terdorong oleh tumbuhnya penjualan sebesar 106,23 persen menjadi US$ 46,52 juta.
Penjualan secara konsolidasi tersebut, kata Andry, ditopang keempat segmen yang dimiliki KOBX, yaitu penjualan unit alat berat, suku cadang, jasa perbaikan maupum kontraktor rambang dan sewa. “Penjualan unit alat berat tercatat US$ 38,14 juta, tumbuh 135 persen. Ini tumbuh tertinggi dibandingkan segmen lainnya,” katanya.
Andry menyakini, tren positif alat berat, khususnya pertambangan akan berlanjut setidaknya hingga akhir 2022, sehingga KOBX optimis terget pertumbuhan penjualan sebesar 20 persen akan tercapai.
Adapun langkah menjaga pertumbuhan usaha secara berkelanjutan, KOBX berupaya memanfaatkan semua peluang bisnis yang menguntungkan. Seperti yang dilakukan tahun ini dengan masuk ke sektor konstruksi untuk mendukung dan memperkuat strategi diversifikasi Perseroan. “Mesin konstruksi jalan Dynapac dan Doosan Portable Power akan menambah jajaran produk KOBX dan berkontribusi positif terhadap kinerja Perseroan dimasa mendatang,” katanya.
Menurut data BEI, harga saham KOBX meningkat sebesar Rp 342 (143,70 persen), dari Rp 238 menjadi Rp 580 per saham pada periode 30 Desember 2021 hingga 10 Juni 2022.
Kenaikan kinerja juga turut dirasakan oleh PT Intraco Penta Tbk. Distributor alat berat yang berkode saham INTA di BEI itu optimistis mampu mencapai target penjualan sebanyak 409 unit pada 2022, tumbuh sebesar 8,78 persen dari 376 unit pada 2021. Lonjakan harga minyak sawit mentah atau (CPO) dan batubara diperkirakan mampu mendorong penjualan alat berat INTA pada 2022.
INTA berhasil membukukan total pendapatan usaha sebesar Rp 611,38 miliar pada 2021. Perseroan mampu mencetak laba kotor Rp 36,28 miliar tahun lalu. Pencapaian ini berbanding terbalik jika dibandingkan tahun 2020. INTA mengalami rugi kotor sebesar Rp 83,55 miliar pada 2020.
Seperti halnya harga saham UNTR, KOBX dan HEXA mengalami peningkatan yang signifikan, harga saham INTA juga naik sebesar Rp 6, atau melesat 8,82 persen, dari Rp 68 menjadi Rp 74 per saham pada periode 30 Desember 2021 sampai dengan 10 Juni 2022.

















