
Pemerintah Indonesia resmi membuka kembali keran ekspor batubara pada tanggal 01 Februari 2022, setelah sebelumnya menerbitkan kebijakan pelarangan ekspor selama sebulan penuh pada 01-31 Januari 2022.

Ridwan Djamaluddin, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, mengatakan, kondisi pasokan dan persediaan batubara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) kini semakin membaik.

“Terhitung sejak 01 Februari 2022, Pemerintah memutuskan untuk membuka kembali ekspor batubara,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (1/2/2022).
Kebijakan membuka kembali keran ekspor itu hanya diberikan untuk perusahaan-perusahaan yang telah memenuhi kewajiban persentase penjualan untuk kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO), dan telah menyampaikan surat pernyataan bersedia membayar denda atau dana kompensasi atas kekurangan DMO pada tahun 2021.
Sedangkan, perusahaan-perusahaan tambang batubara yang belum memenuhi DMO tahun 2021 dan belum menyampaikan surat pernyataan bersedia membayar denda atau dana kompensasi atas kekurangan DMO tahun 2021 belum diizinkan untuk melakukan penjualan batu bara ke luar negeri.
Izin ekspor diberikan kepada perusahaan-perusahaan tambang yang telah memenuhi kriteria, yakni realisasi DMO 2021 sebesar 100 persen atau lebih, realisasi DMO 2021 kurang dari 100 persen dan telah menyampaikan surat pernyataan bersedia membayar dana kompensasi atas kekurangan DMO 2021, dan tidak memiliki kewajiban DMO tahun 2021.
Selama periode pelarangan ekspor batubara bulan Januari 2022, Pemerintah, PT PLN (Persero), Indonesian National Shipowners Association (INSA), dan perusahaan-perusahaan pemasok batubara telah bekerja keras untuk memastikan pasokan batubara ke PLTU dapat terkirim dengan lancar untuk memenuhi kebutuhan batubara pada Januari 2022.
Adapun untuk tahun 2022, Pemerintah menargetkan produksi batubara dapat mencapai 663 juta ton. Angka ini naik 6,08 persen, dari target tahun 2021 sebanyak 625 juta ton, meski hanya terealisasi 98,2 persen atau 614 juta ton. Dari total target tahun 2022, Pemerintah mewajibkan perusahaan tambang memenuhi DMO batubara dengan total 165,7 juta ton dan sisanya untuk kebutuhan ekspor.
Setelah keran ekspor batubara dibuka kembali, bagaimana harga komoditas ini di pasar global? Apakah produsen batubara banjir pesanan? Meski Indonesia telah membuka kembali keran ekspor pada tanggal 01 Februari 2022, harga batubara diperkirakan tetap meningkat.
Menurut Djoko Widajatno, Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), harga batubara akan menguat, tapi perubahan tidak terlalu besar, mungkin di kisaran US$220 per ton batas atas dan US$150 per ton batas bawah.
Penguatan harga disinyalir akibat masih tinggi permintaan batubara Indonesia bagi sejumlah negara seperti Cina, India serta kawasan Asia Timur. Kenaikan permintaan batubara juga ditopang oleh faktor cuaca.
Sedangkan Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengemukakan, harga batubara masih tidak dapat diprediksi. Meski begitu, Hendra mengakui penguatan harga terus berlangsung sejak Pemerintah memutuskan melarang ekspor batubara demi pemenuhan pasokan bagi PLTU dalam negeri.
Di sisi lain, bursa ICE Newcastle memperdagangkan batubara pada level US$222,75 per metrik ton untuk kontrak Februari pada Senin (31/1/2022) dan pada level US$199,95 per metrik ton untuk kontrak Maret 2022.
Dampak Positif

Ternyata, pencabutan larangan ekspor batubara pada tanggal 01 Februari 2022 membawa dampak positif bagi produsen batubara tanah air. PT Bumi Resources Tbk (BUMI), misalnya, siap melakukan ekspor setelah larangan dicabut. BUMI telah mendapat banyak pesanan batubara, bahkan sebelum larangan ekspor resmi dicabut Pemerintah.
Dileep Srivastava, Direktur BUMI mengemukakan, pihaknya sudah memenuhi ketentuan penjualan batubara untuk kebutuhan dalam negeri (DMO). Sebelum larangan ekspor resmi dicabut, BUMI sudah memulai kembali ekspor batubara ke Cina, India, Jepang, Taiwan, Korea, Filipina, Vietnam, Malaysia dan beberapa negara lain.
Dileep memperkirakan, harga batubara akan tetap tinggi karena pasokan komoditas ini belum mendekati tingkat permintaan global. Menurut Dileep, harga batubara kualitas standar ekspor kini ada di kisaran US$250 per ton. Pasokan batubara global saat ini jauh dari jumlah permintaan. Karena itu, harga batubara untuk ekspor akan tetap tinggi beberapa waktu ke depan.
Meski diprediksi akan tetap tinggi, harga batubara dinilai Dileep bisa terpengaruh kebijakan Indonesia yang kembali membuka keran ekspor komoditas ini. Dibuka kembali keran ekspor batubara Indonesia dapat mempengaruhi pergerakan harga, karena Indonesia merupakan eksportir batubara terbesar di dunia.
Ke depan, BUMI tetap berkomitmen mengutamakan penjualan batubara untuk kebutuhan dalam negeri, meski saat ini kebanjiran permintaan dari luar negeri. Ekspor batubara dilakukan BUMI setelah memenuhi kebutuhan pasokan untuk dalam negeri, termasuk bagi pembangkit listrik yang dikelola PT PLN (Persero).
Menurut Dileep, pihaknya memprioritaskan penjualan domestik dibanding ekspor, dengan rata-rata 65 persen hingga 70 persen batubara diekspor, dan 30 persen hingga 35 persen untuk suplai dalam negeri, termasuk PLN. Pada 2022, BUMI menargetkan produksi batubara 85 – 90 juta ton. Sepanjang 2021, produksi batubara BUMI mencapai 78 – 80 juta ton.
Ekspor batubara dari Indonesia kerap dinanti banyak negara demi memenuhi kebutuhan dunia terhadap komoditas ini. Apalagi, saat ini kebutuhan batubara dunia diprediksi meningkat seiring terjadinya pemulihan ekonomi pasca pandemi.
Organisasi Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan batubara pada 2021 tumbuh 6 persen menjadi 7,9 miliar ton. Pada 2022, permintaan batubara diprediksi akan menyentuh rekor tertinggi setelah sebelumnya terjadi pada 2013 dan 2014.
Sebagian besar peningkatan konsumsi batubara pada 2021 berasal dari tiga negara yaitu Cina, India, dan Amerika Serikat (AS). Penggunaan batubara ketiga negara tersebut melesat karena pembangkit listrik meningkat signifikan.
Konsumsi batubara Cina diperkirakan naik 159 juta ton (+4 persen). Sementara permintaan naik 125 juta ton (+13 persen) di India, dan 74 juta ton (+17 persen) di AS. Konsumsi batubara pada 2021 juga diperkirakan pulih di kawasan lain, termasuk Uni Eropa yang naik 45 juta ton dan Asia Tenggara naik 14 juta ton. Berdasarkan data BP Statistical Review 2021, Cina menjadi negara konsumen batubara terbesar di dunia pada 2020.
Konsumsi batubara negara itu setara 54,3 persen dari total penggunaan batubara di dunia. Menyusul Cina, ada India yang konsumsi batubaranya setara 11,6 persen pemakaian global. Konsumsi batubara di AS setara 6,1 persen pemakaian global dan menempatkan negara itu di urutan ketiga.
Dibukanya kembali keran ekspor batubara juga dinikmati oleh PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Pembukaan kembali ekspor batubara akan memberikan dampak positif terhadap kinerja ITMG.
Menurut Yulius Gozali, Direktur Komunikasi Korporat dan Hubungan Investor ITMG, dibuka kembali ekspor komoditas ini memberikan kepastian bisnis bagi industri batubara dan menjawab kecemasan pelanggan mancanegara. Penjualan kepada pelanggan mancanegara akan berangsur pulih.
ITMG berupaya untuk memastikan target penjualan 2022 terealisasi sesuai rencana. Saat ini, seluruh anak usaha ITMG, yang pasar utamanya merupakan pasar ekspor, telah mendapatkan persetujuan dari Pemerintah untuk melakukan ekspor batubara.
Pada 2021, ITMG tercatat menargetkan produksi sebanyak 19 juta – 19,9 juta ton. Pendapatan ITMG dari ekspor mencapai 77 persen dari total keseluruhan dengan Cina sebagai negara tujuan utama.
Sementara itu, Febriati Nadira, Head of Corporate Communication PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mengapresiasi keputusan Pemerintah yang kembali membuka izin ekspor batubara. Febriati berharap, peraturan di industri batubara dapat membuat perusahaan nasional seperti ADRO tetap bisa ikut mendukung ketahanan energi nasional sekaligus memberikan kontribusi kepada negara dalam bentuk royalti, pajak, tenaga kerja, dan lain-lain.
Adapun Sudin Sudirman, Sekretaris Perusahaan PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) mengemukakan, pihaknya berencana meningkatkan produksi batubara tahun ini, pasca dicabutnya larangan ekspor. Manajemen GEMS menargetkan produksi batubara mencapai 40 juta ton pada 2022. Jumlah ini naik 1,01 persen dari total target produksi batubara pada tahun 2021 sebanyak 39,6 juta ton. Manajemen GEMS berharap kenaikan produksi sejalan dengan permintaan dan harga batubara yang bertahan di level yang tinggi saat ini.
Mengomentari dibukanya kembali ekspor batubara pada awal bulan Februari 2022, Dessy Lapagu, analis pasar modal PT Samuel Sekuritas Indonesia, Jakarta, mengemukakan, pembukaan kembali ekspor batubara menjadi angin segar bagi pelaku usaha dan industri batubara. Utamanya bagi sejumlah emiten yang sumber pemasukannya mayoritas berasal dari aktivitas penjualan di luar negeri.
Dibuka kembali ekspor batubara, tentu menjadi katalis bagi emiten, karena potensi hilangnya pendapatan ekspor mereda setelah larangan ekspor dicabut. Menurut Dessy, kebijakan ini bisa memberikan keuntungan bagi emiten yang memiliki porsi ekspor besar seperti PT Harum Energy Tbk (HRUM), ITMG dan ADRO.
Senada dengan Dessy, Juan Harahap, analis pasar modal PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengemukakan, pembukaan kembali keran ekspor tersebut telah ditindaklanjuti emiten batubara dengan mulai mengapalkan komoditas tersebut ke beberapa negara. Hal ini tentu akan berimbas positif terhadap kinerja emiten sektor pertambangan. (ws/ym)

















