Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Iklan Multi
Iklan Multi
Example 728x250
BusinessTop News

Luar Biasa, Produksi Batubara Nasional Semester I 2022 di Atas 300 Juta Ton

102
×

Luar Biasa, Produksi Batubara Nasional Semester I 2022 di Atas 300 Juta Ton

Share this article
Example 468x60

Menurut Data Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dikutip Rabu (10/8), realisasi produksi batubara nasional mencapai 317,57 juta ton selama enam bulan pertama 2022.

Excavator tambang Sumitomo SH350 sedang memuat batubara ke dalam dump truck Sinotruk. Foto: Sinotuk

Jumlah tersebut sekitar 47,90% dari target produksi batubara nasional pada 2022 yang mencapai 663 juta ton. Kementerian ESDM menetapkan target produksi batubara sebanyak 663 juta ton pada 2022, naik sebanyak 52,97 juta ton atau tumbuh 8,68% dari realisasi produksi batubara nasional pada 2021 yang mencapai 610,03 juta ton.

ALTRAK

Data MODI memperlihatkan, pada semester I 2022, realisasi batubara domestik mencapai 96,52 juta ton, realisasi ekspor batubara sebanyak 128,2 juta ton, dan realisasi Domestic Market Obligation (DMO) batubara nasional mencapai 54,03 juta ton.

Realisasi produksi batubara nasional selama semester I 2022 tidak terlepas dari kondisi pasar dan harga batubara yang terus memanas. Beberapa emiten menikmati keuntungan dari situasi harga batubara saat ini. Hal ini mendorong pengusaha dan pengelola tambang batubara untuk mengevaluasi dan bahkan merevisi naik target produksi tahun ini.

PT Golden Energy Tbk (GEMS), misalnya, membidik produksi 40 juta ton batubara tahun ini. Selama enam bulan pertama 2022, volume produksi dan penjualan batubara GEMS masing-masing mencapai 17,6 juta ton dan 18,10 juta ton.

Adapun volume produksi dan realisasi penjualan batubara GEMS pada 2021 masing-masing sebanyak 29,11 juta ton dan 29,49 juta ton. Pangsa pasar GEMS meliputi pasar dalam negeri, Cina dan India.

Kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga terkerek harga batubara. Volume produksi batubara ITMG ditargetkan 18,8 juta ton pada 2022, naik 3,30%, dari realisasi tahun 2021 sebanyak 18,2 juta ton.

Demikian pula PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO). Volume produksi batubara ADRO selama semester I 2022 naik 5,74% menjadi 28,01 juta ton, dari realisasi 26,49 juta ton pada semester I 2021.

Pada semester II 2022, produksi batubara ADRO ditargetkan sebanyak 30 juta ton, setelah berhasil merealisasikan produksi sebanyak 28,01 juta ton batubara, sehingga total produksi batubara perseroan tahun ini ditargetkan 60 juta ton.

Volume penjualan batubara ADRO naik 6,67% menjadi 27,50 juta ton pada semester I 2022, dari 25,78 juta pada periode yang sama 2021. Kontribusi penjualan batubara ADRO adalah pasar Indonesia 23%, Asia Tenggara 23%, Asia Timur Laut 27%, India 15%, Cina 10%, Eropa 1%, dan lainnya 1%.

RHB Sekuritas Indonesia belum lama ini merevisi naik target harga saham ADRO, dari Rp3.600 menjadi Rp4.400 dengan rekomendasi “buy” (beli). Ini didukung volatilitas harga batubara yang cenderung di level tinggi dan diharapkan dapat menopang lonjakan laba bersih ADRO hingga akhir tahun 2022.

RHB Sekuritas merevisi naik perkiraan laba bersih ADRO, dari US$ 1,17 miliar menjadi US$ 1,58 miliar sepanjang 2022. Sedangkan target pendapatan ADRO direvisi naik, dari US$ 5,27 miliar menjadi US$ 5,53 miliar pada 2022.

“Harga future batubara Newcastle telah meningkat, setidaknya sampai akhir tahun, sehingga berimbas posisif terhadap ADRO,” tutur analis RHB Sekuritas, Ryan Santoso dalam risetnya.

Berikut, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) berhasil mencatat kenaikan produksi batu bara sebesar 7% menjadi 1,53 juta ton pada semester I 2022, dibandingkan 1,43 juta ton pada periode yang sama tahun 2021.

Baca Juga :  United Tractors Beberkan Kinerja 2024, dari Operasional hingga Laba

Heri Gunawan, Direktur dan Sekretaris Perusahaan ADMR mengemukakan dalam keterbukaan informasi ke BEI, dikutip Rabu (10/8), pihaknya mempertahankan target produksi batubara pada 2022 sebesar 2,8 juta ton hingga 3,3 juta ton. Penjualan batubara meningkat 9% menjadi 1,28 juta ton per Juni 2022, dari 1,17 juta ton per Juni 2021 karena perseroan terus mengembangkan pasar baru untuk batubara kokas kerasnya. Pada paruh pertama 2022, ADMR menambah pelanggan baru dari India dan Eropa.

Pengupasan lapisan penutup meningkat 15% menjadi 3,50 juta bank cubic meter (Mbcm) di semester I 2022 dibandingkan 3,05 Mbcm di semester I 2021. Ini berkontribusi pada kenaikan nisbah kupas dalam enam bulan pertama 2022 menjadi 2,29 kali dibandingkan 2,13 kali pada periode yang sama tahun lalu.

Saat ini, ADMR bekerja sama dengan PT Maritim Barito Perkasa (MBP) untuk meningkatkan logistik batubara melalui transfer tongkang ke tongkang di intermediate stockpile, dan menambah lokasi transfer tongkang ke tongkang di Kelanis Utara. MBP sedang mengerjakan hal-hal yang diperlukan di Kelanis Utara, termasuk membangun jetty yang diharapkan mulai beroperasi pada awal 2023.

ADMR akan meningkatkan kapasitas pelabuhan Tuhup untuk mendukung rencana pertumbuhan produksi jangka menengah yang mencapai 6 juta ton per tahun. Pada kuartal II 2022, perseroan melakukan studi tanah untuk mendapatkan informasi geoteknik yang lebih baik.

Heri mengemukakan, pada 2022, aset utama ADMR adalah konsesi Maruwai yang memproduksi batubara kokas keras, yang dijual dengan nama Lampunut Coal. Karakteristik Lampunut Coal yang premium – dengan kandungan abu dan fosfor yang rendah dan vitrinit yang tinggi, menjadikannya produk yang cocok untuk digunakan produsen baja. Lampunut Coal telah diterima dengan baik oleh pelanggan dan mendapatkan permintaan yang kuat dari pasar domestik dan ekspor.

Tren positif harga batubara selama semester I 2022 turut memberikan efek positif terhadap kinerja keuangan PT Indika Energy Tbk (INDI). Equipment Indonesia mencatat, hingga semester I 2022, INDI membukukan laba bersih sebesar US$ 200,7 juta, meningkat signifikan sebesar 1.571,2% dibandingkan US$ 12 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba Inti tercatat di enam bulan pertama 2022 sebesar US$ 240,8 juta, atau meningkat 331,7% dari US$ 55,8 juta pada periode sama 2021.

Didorong oleh kinerja keuangan yang positif per Juni 2022, INDI juga mengumumkan pembagian dividen interim sebesar US$ 40 juta untuk tahun buku 2022, atau Rp 114,46 per saham berdasarkan kurs BI (US$/Rp14.888 pada 3 Agustus 2022). Pembayaran rencananya akan dilakukan pada 30 Agustus 2022.

Wakil Direktur Utama dan Group CEO INDI, Azis Armand, mengemukakan, peningkatan kinerja anak-anak perusahaan, serta peningkatan harga batubara mendongkrak kinerja INDI secara sangat signifikan.

“Perseroan juga terus melakukan diversifikasi usaha pada sektor non-batubara dan fokus pada keberlanjutan untuk mewujudkan komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) Perseroan menuju netral karbon pada tahun 2050,” katanya dalam keterbukaan informasi, dikutip Rabu (10/8).

Sepanjang enam bulan pertama 2022, INDI membukukan pendapatan US$ 1,939 miliar, atau meningkat 66,5% dari US$ 1,165 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan pendapatan terutama berasal dari PT Kideco Jaya Agung (Kideco) yang didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata batubara sebesar 86,7% menjadi US$ 89,2 per ton per Juni 2022.

Baca Juga :  John Deere investasi teknologi engine bersih

Kideco juga mencatat volume penjualan batubara sebesar 17 juta ton per Juni 2022. Dari volume tersebut, Kideco memasarkan 4,9 juta ton atau 29% di antaranya untuk pasar domestik, melebihi Domestic Market Obligation (DMO) batubara sebesar 25%. Sementara itu, volume penjualan batubara untuk pasar ekspor mencapai 12,1 juta ton dengan negara tujuan Cina, India, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Peningkatan pendapatan juga dikontribusikan oleh PT Indika Indonesia Resources yang mencatat kenaikan pendapatan sebesar 138,1% menjadi US$ 377,3 juta per Juni 2022, dari periode yang sama sebelumnya sebesar US$ 158,5 juta, didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata batubara di PT Multi Tambang Jaya Utama (MUTU) dan perdagangan batubara.

Pendapatan MUTU naik 73,4% menjadi US$ 122,9 juta per Juni 2022. Ini karena kenaikan harga jual rata-rata batubara sebesar 136,6% menjadi US$ 194,6 per ton, meskipun volume penjualan turun 26,7% menjadi 0,6 juta ton sebagai dampak dari larangan ekspor batubara di Januari 2022 serta tantangan di pengangkutan.

Perusahaan lainnya, seperti perusahaan logistik terintegrasi PT Interport Mandiri Utama (Interport) dan PT Tripatra juga berkontribusi positif terhadap meningkatnya pendapatan INDI. Pendapatan Interport meningkat 15,6% menjadi US$ 16,8 juta per Juni 2022, dimana US$ 13 juta di antaranya berasal dari terminal penyimpanan bahan bakar PT Kariangau Gapura Terminal Energi (KGTE).

Pendapatan Tripatra juga meningkat sebesar 39,3% menjadi US$ 134,1 juta per Juni 2022. Ini terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan proyek BP Tangguh dan proyek baru seperti Star Energy Geothermal Salak dan Cabott.

Sebagai hasilnya, secara konsolidasi INDI mencatat laba kotor per Juni 2022 sebesar US$ 668,9 juta, atau meningkat 158,3% dibandingkan US$ 258,9 juta per Juni 2021. Marjin laba kotor INDI juga naik menjadi 34,5% per Juni 2022, dari sebelumnya 22,2% per Juni 2021. Ini terutama disebabkan oleh peningkatan harga batubara.

Beban penjualan, umum dan administrasi meningkat sebesar 63% menjadi US$ 92,6 juta per Juni2022 dibandingkan US$ 56,8 juta per Juni 2021. Laba operasi melonjak 185,1% menjadi US$ 576,2 juta per Juni 2022, dari US$ 202,1 juta per Juni 2021, dan marjin operasi meningkat menjadi 29,7% dari 17,4%.

Per Juni 2022, posisi kas, setara kas dan aset keuangan lain INDI mencapai US$ 1.072,5 juta. Realisasi biaya modal (capital expenditure) per Juni 2022 mencapai US$ 19,3 juta. Ini termasuk untuk Kideco sebesar US$ 3,7 juta, Interport sebesar US$ 1,3 juta, Indika Indonesia Resources sebesar US$ 1,4 juta, dan proyek Awakmas sebesar US$ 7,2 juta terkait dengan kegiatan eksplorasi pertambangan emas.

Selain biaya modal, INDI mengucurkan US$ 53,2 juta untuk investasi baru per Juni 2022. Sebagian besar dialokasikan untuk Awakmas US$ 34,0 juta, PT Indika Multi Properti (IMP) US$ 8,5 juta, PT Ilectra Motor Group (IMG) US$ 4,6 juta, dan PT Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS) US$ 5,1 juta.

Azis menambahkan, pada 28 Juli 2022, INDI telah menyelesaikan transaksi penjualan keseluruhan 704.014.200 saham yang mewakili 69,8% kepemilikan saham perusahaan di PT Petrosea Tbk. (Petrosea) kepada PT Caraka Reksa Optima (Caraka).

Baca Juga :  Mengintip Aftermarket Parts & Services Volvo CE

Berdasarkan PSAK 58, laba dan rugi Petrosea tidak lagi dicantumkan dalam laporan keuangan INDI untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2022. Seluruh aset dan liabilitas Petrosea diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual dan disajikan secara terpisah dari aset dan liabilitas pada laporan posisi keuangan konsolidasi pada tanggal 30 Juni 2022.

“Penjualan saham INDI di Petrosea merupakan langkah nyata perusahaan untuk mengurangi eksposur di bisnis batubara. Ini sejalan dengan komitmen INDI untuk mencapai 50% pendapatan dari sektor non-batubara pada 2025 dan netral karbon pada 2050,” tegas Azis.

PT Harum Energy Tbk (HRUM) pun tidak ketinggalan mengumumkan kinerja sepanjang paruh pertama 2022. Pada periode tersebut, HRUM berhasil mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 145,99 juta, atau sekitar Rp 2,17 triliun (kurs Rp 14.859 per dolar AS). Laba HRUM sungguh harum hingga melejit 1.309,57% dibanding periode sama tahun 2021 sebesar US$ 10,36 juta.

Raihan itu sejalan dengan pendapatan HRUM  yang tumbuh 226% menjadi US$ 377,46 juta, atau sekitar Rp 5,60 triliun pada semester I 2022 jika dibanding semester I 2021 sebesar USD 115,72 juta atau sekitar Rp 1,71 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan ke BEI, dikutip Rabu (10/8), pendapatan HRUM paling banyak dikontribusi dari pertambangan sebesar US$ 371,04 juta dan sekitar US$ 15,21 berasal dari sewa dan jasa, dengan eliminasi senilai US$ 8,79 juta.

Kenaikan pendapatan berbanding lurus dengan kenaikan beban pendapatan menjadi US$ 132,97 juta dibanding semester I 2021 sebesar US$ 60,47 juta. Kendati begitu, HRUM mampu mencatatkan laba bruto sebesar US$ 244,49 juta, melambung 342,48% dibanding periode yang sama tahun 2021 sebesar US$ 55,25 juta.

Pada periode yang sama, HRUM mencatatkan beban penjualan sebesar US$ 30,86 juta, beban umum dan administrasi US$ 13,24 juta, beban lainnya US$ 1,4 juta, beban keuangan US$ 1,83 juta, dan beban pajak final US$ 102,81 ribu.

Demikian pula PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) berhasil meningkatkan kinerjanya sepanjang semester I 2022. Emiten kontraktor pertambangan ini membukukan laba bersih senilai US$ 5,65 juta per Juni 2022.

Kondisi ini membalikkan keadaan dimana DOID mengalami rugi bersih US$ 32,70 juta pada periode sama 2021. DOID pun berhasil membukukan laba per saham dasar sebesar US$ 0.00067, dibandingkan sebelumnya rugi per saham dasar sebesar US$ 0.00377.

Melansir laporan keuangan di laman BEI, dikutip Rabu (10/8), kenaikan laba bersih ini sejalan dengan kenaikan topline. DOID membukukan pendapatan sebesar US$ 722,87 juta, atau melejit 107,16% dari pendapatan di semester I 2021 yang hanya US$ 348,93 juta.

Secara rinci, pendapatan terbesar DOID berasal dari PT Berau Coal, yaitu sebesar US$ 206,49 juta atau 29% dari pendapatan total, disusul pendapatan dari PT Indonesia Pratama sebesar US$ 120,83 juta atau 17%, PT Adaro Indonesia sekitar US$ 104,82 juta atau 15%, dan BM Alliance Coal Operations Pty Ltd  senilai US$ 84,32 juta atau 12% dari pendapatan total DOID. #

Iklan Berca