Pada tahun 2021, total belanja modal PPRE untuk alat berat mencapai Rp336 miliar dan akan ditingkatkan pada tahun 2022. Untuk belanja modal tahun 2022, PPRE mengalokasikan Rp420 miliar hingga Rp500 miliar.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pembangunan Perumahan (PP Persero) Tbk (PTPP), melalui anak usahanya PT PP Presisi Tbk (PPRE), makin gencar melakukan ekspansi ke sektor pertambangan dan alat berat.
Direktur Utama PPRE, Rully Noviandar, mengemukakan, sektor pertambangan dan alat berat akan menjadi fokus ekspansi PPRE pada tahun 2022. Hilirisasi bidang pertambangan, menurut Rully, berkontribusi mendongkrak kontrak-kontrak baru PPRE ke depan.
“Pengembangan kami pada jasa pertambangan, kami mencoba ke tambang-tambang lain, seperti bauksit, emas, dengan perolehan kontrak meningkat, kami akan ekspansi lebih pada menambah armada alat berat pada jasa pertambangan,” katanya.
Ekspansi ke armada pertambangan untuk meningkatkan kapasitas proyek juga menjadi salah satu fokus PPRE. Selain itu, peningkatan di sektor perumahan dan infrastruktur, masih memberikan ruang untuk PPRE meningkatkan kinerja, selain dari pertambangan dan alat berat.
“Pembangunan smelter juga membuat kami optimis, kami berbasis alat berat dan mengacu pada pencapaian 2021, PPRE menetapkan pertumbuhan kinerja sebesar 60 persen dan laba bersih 23 persen. PPRE fokus pada dua sektor civil dan jasa pertambangan,” kata Rully di Jakarta, Jumat (04/3/2022).
Sektor pertambangan menjadi salah satu yang paling berkontribusi pada tahun 2021, dengan peningkatan kontrak baru secara signifikan. Aktivitas mining mulai dari ekplorasi dan jasa pertambangan lainnya. “Dilihat dari pasar Indonesia, yang akan menjadi fokus di batubara dan nikel. Rencana ke depan akan masuk ke lain, bauksit, tembaga, dan timah,” katanya.
Asal tahu, sebagai perusahaan jasa konstruksi terintegrasi berbasis alat berat, PPRE telah merambah pada sektor jasa pertambangan sebagai kontraktor sejak awal tahun 2021. Lingkup pekerjaan PPRE di bidang jasa pertambangan sangat komprehensif, yaitu mulai dari mining development infrastructure seperti pekerjaan pembangunan dan maintenance jalan hauling dan pembangunan infrastruktur tambang lainnya (stockpile, jembatan, dll) hingga pekerjaan mining contractor yakni mulai pengupasan lapisan tanah penutup (overburden) hingga pengangkutan ore nickel (hauling services).
“Hingga Desember 2021, total kontrak baru dari jasa pertambangan telah kami dapatkan sebesar Rp2,9 triliun. Kontrak ini mayoritas berasal dari PT Weda Bay Nickel (Kabupaten Halmahera Tengah, Propinsi Maluku Utara) sebagai kontraktor mining development dan tambang nikel Morowali (Propinsi Sulawesi Tengah) sebagai kontraktor tambang. Dari Weda Bay Nickel, kami telah mengantongi total Rp1,8 triliun hingga Desember 2021 dan mendapatkan tambahan nilai kontrak baru sebesar Rp311 miliar pada Januari 2022 untuk pekerjaan jasa hauling,” ujar Rully.
Seperti diketahui, Indonesia merupakan pemilik cadangan dan sumber daya nikel terbesar di dunia. Dengan potensi tersebut, peluang Indonesia akan semakin meningkat dengan naiknya harga nikel yang tembus US$24.940 per ton di bursa perdagangan logam dunia. Harga tersebut hampir mencapai puncak harga tertinggi nikel sejak tahun 2011, yakni US$25.135 per ton.
Menurut Rully, peningkatan harga nikel yang terus bertambah menjadi kabar baik bagi aktivitas pertambangan. Peningkatan harga ini didorong oleh permintaan akan bahan baku baterai yang ditandai oleh pembangunan smelter dan pabrik pembuatan baterai.
“Kinerja lini bisnis jasa pertambangan yang cukup menggembirakan dalam waktu yang relatif singkat, termasuk mendapat kepercayaan dari salah satu tambang nikel terbesar di Indonesia, mendorong kami semakin fokus mengembangkan jasa pertambangan sebagai sumber pendapatan berulang (recurring income),” ungkap Rully.

PPRE menargetkan jasa pertambangan akan memberikan kontribusi sebesar 50 persen terhadap total pendapatan dan menjadi yang terbesar di antara lini bisnis lainnya pada tahun 2025. Untuk mencapai tujuan tersebut, PPRE telah menyusun winning target 2022 melalui strategi optimalisasi alat berat, peningkatan kapasitas keuangan, peningkatan kapabilitas sumber daya manusia (SDM), penerapan centralize Supply Chain Management (SCM), dukungan teknologi informasi dan equipment technology, serta peningkatan tata kelola perusahaan.
Di sisi lain, dorongan dari pemerintah melalui program hilirisasi hasil tambang yang telah berjalan hingga saat ini telah menghasilkan surplus pada neraca perdagangan dimana terdapat lompatan yang sangat signifikan dari ekspor nikel yang dahulu hanya menghasilkan US$2 miliar setahun menjadi US$20,8 miliar setahun. Keberhasilan hilirisasi ini akan dilanjutkan juga dengan tambang mineral lainnya seperti bauksit, timah dan tembaga yang cadangannya juga dimiliki oleh Indonesia dengan jumlah yang besar.
Kebijakan perluasan hilirisasi tersebut diambil karena pemerintah meyakini bauran energi yang salah satunya melalui Energi Baru Terbarukan (EBT) harus secepatnya dilakukan sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan batubara dan pengurangan dampak karbon. Seperti yang juga diketahui, tembaga, bauksit, silika, lithium dan cobalt merupakan sebagian dari jenis metal penting yang akan digunakan dalam teknologi masa depan serta merupakan elemen vital bagi kebangkitan Energi Terbarukan.
Dengan perolehan kontrak baru pada jasa tambang yang cukup signifikan pada tahun 2021, PPRE optimis dapat memperoleh kontrak baru jasa tambang yang besar juga pada tahun 2022, terutama untuk lingkup pekerjaan kontraktor tambang. Weda Bay Nickel, yang merupakan salah satu tambang nikel terbesar di dunia dengan total produksi per tahunnya mencapai 25 hingga 30 juta ton, tentu menjadi salah satu incaran PPRE untuk mendapatkan peluang pekerjaan sebagai kontraktor utama.
Tahun 2021, Weda Bay bekerja dengan 5 (lima) kontraktor penambangan untuk mencapai target produksi sebesar 16-20 juta ton. Namun dengan adanya peningkatan target hingga 30 juta ton per tahun, maka Weda Bay juga akan menambah kapasitas kontraktornya. Hal ini tentunya menjadi salah satu peluang besar bagi PPRE untuk dapat berperan, mengingat PPRE telah terlibat dalam beberapa lingkup pekerjaan pertambangan lainnya di Weda Bay.
“Selain Weda Bay, kami juga tengah melakukan penjajakan pada beberapa potensi lain untuk tambang nikel maupun mineral lainnya seperti bauksit, silika dan emas baik di wilayah Sulawesi maupun Kalimantan, dengan lingkup pekerjaan mining development maupun mining contractor. Adapun total potensi tersebut dapat mencapai lebih dari Rp5 triliun. Dengan total potensi yang besar tersebut, kami tentunya juga akan meningkatkan kapasitas alat berat kami,” katanya.
Pada tahun 2021, total belanja modal PPRE untuk alat berat mencapai Rp336 miliar dan akan ditingkatkan pada tahun 2022. Untuk belanja modal tahun 2022, PPRE mengalokasikan Rp420 miliar hingga Rp500 miliar.
Sebagian besar dialokasikan sebagai ekspansi belanja modal untuk jasa pertambangan melalui penambahan jumlah alat berat yang dibutuhkan seiring dengan penambahan kontrak baru. “Dengan meningkatnya belanja modal tersebut, mudah-mudahan bisa meningkatkan produksi kami. Kami juga punya kapasitas besar, dengan alat berat mencapai 2.895 unit,” kata Rully.
Adapun pendapatan PPRE diatargetkan sebesar Rp3,6 triliun pada tahun 2022, atau naik sebesar 33,4 persen jika dibandingkan perkiraan pendapatan sepanjang 2021. Sementara laba bersih PPRE ditargetkan mencapai Rp180 miliar pada tahun 2022, naik hampir 30 persen dibandingkan tahun 2021.
Untuk tahun 2022, PPRE memproyeksikan sektor pertambangan dan alat berat akan berkontribusi besar, seiring dengan ramainya hilirisasi. Adapun target kontrak baru tahun 2022 diproyeksikan mencapai Rp6 triliun, naik 6 persen dibandingkan perolehan tahun 2021 senilai Rp5,6 triliun. @


















