31.1 C
Jakarta
29 Nov, 2021.

Mengapa Hyundai Mulai Menyasar Industri Tambang?

Hyundai Construction Equipment makin fokus menggarap mesin-mesin pertambangan. Apa rencana-rencana besar Hyundai untuk semakin memperkuat pangsa pasarnya di Indonesia?

Hyundai Construction Equipment atau yang lebih dikenal dengan sebutan Hyundai terus berekspansi di pasar Indonesia dengan memperkenalkan produk-produk baru. Semenjak dua tahun silam, PT. Hyundai Construction Equipment Asia selaku  anak usaha Hyundai Construction Equipment di tanah air mulai menawarkan mesin-mesin besar untuk aplikasi pertambangan. Perusahaan ini menilai potensi tambang mineral dan batu bara di Indonesia semakin menjanjikan.

Sejak akhir tahun 2020, harga batu bara terus menguat dan baru-baru ini tercatat menyentuh angka USD 206,25/ton – rekor tertinggi sejak tahun 2008.  Lonjakan harga komoditas yang juga disebut emas hitam itu dipicu oleh meningkatnya permintaan dari negara-negara seperti Tiongkok, India, Korea Selatan dan kawasan Eropa. Sebetulnya bukan hanya batu bara yang permintaanya naik tetapi juga minyak dan gas bumi. Namun, harga kedua sumber energi ini menguat signifikan sehingga memaksa beberapa negara beralih ke batu bara yang harganya relatif lebih murah.

Kenaikan harga batu bara yang begitu signifikan di tengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung tuntas hingga kini berdampak terhadap eskalasi aktivitas penambangan. Perusahaan-perusahaan tambang batu bara menggenjot aktivitas produksi mereka guna memenuhi kebutuhan pasar, baik domestik maupun ekspor. Kondisi ini mendorong peningkatan kebutuhan peralatan berat. Tidak heran penjualan alat-alat tambang, termasuk Hyundai, meningkat signifikan sejak semester pertama tahun ini. Sayangnya, problem rantai pasokan menghambat proses produksi dan pengiriman. Akibatnya, waiting list-nya panjang.

“Saat ini terdapat sekitar 500-an unit produk Hyundai yang masih waiting list karena problem rantai pasok. Butuh waktu empat hingga lima bulan untuk yang besar. Tapi kalau sudah datang, alat-alat itu langsung dikirim ke lokasi para pelanggan,” kata HeeBum Chae, President Director PT Hyundai Construction Equipment Asia dalam perbincangan dengan Equipment Indonesia di Jakarta pertengahan Oktober 2021 silam. Menurut pria yang akrab disapa Chae ini, problem rantai pasok tidak hanya mendera Hyundai Construction Equipment tetapi dialami oleh hampir semua produsen alat berat karena imbas dari pandemi Covid-19.

Makin fokus garap mesin tambang

HeeBum Chae, President Director PT Hyundai Construction Equipment Asia (Kredit foto-foto: EI)

Meski termasuk pemain lama di industri alat berat Indonesia, namun Hyundai tergolong pemain baru di segmen peralatan tambang. “Pasar alat berat di Indonesia terlalu luas, dan kebetulan yang menjadi trennya saat ini adalah industri tambang. Itu sebabnya kami makin fokus menggarap alat-alat tambang agar produktivitas industri ini benar-benar optimal,” Chae menjelaskan alasannya.

Alat-alat besar yang diperkenalkan Hyundai Construction Equipment untuk industri pertambangan di tanah air sudah terbukti keandalannya di belahan dunia lain, seperti Rusia, Uzbekistan dan beberapa negara Eropa Timur lainnya. “Di kawasan Eropa Timur seperti Rusia, Uzbekistan, dan lain-lain, mesin-mesin tambang Hyundai sudah sangat populer dan penjualannya sangat bagus. Populasinya banyak,” ujarnya.

Terbukti, ketika mulai dipasarkan di Indonesia sejak dua tahun lalu, permintaannya makin banyak,”  Yonathan Karyanto selaku Regional Sales Manager PT. Hyundai Construction Equipment Asia menambahkan. “Inilah alasannya mengapa kami makin fokus menggarap big machines ini. Selama dua tahun belakangan kami terus berpenetrasi di area Kalimantan dengan menawarkan mesin-mesin besar Hyundai dan sekarang sudah kelihatan hasilnya. Terjadi kenaikan permintaan khususnya di kelas 38 ton, 48 ton, 85 ton dan 125 ton.”

Bahkan Chae mengklaim, di kelas excavator 85 ton, Hyundai bersama counterpart-nya, Doosan, menguasai market share hingga lebih dari 50 persen sejak awal tahun 2021 ini. Seperti diketahui Doosan Infracore sudah diakuisisi oleh Hyundai Heavy Industries sekarang ini, yang memungkinkan perusahaan gabungan ini menjadi 10 produsen peralatan konstruksi teratas secara global. Kini Doosan Infracore menjadi anak perusahaan dari grup Hyundai Genuine yang baru. Hyundai Construction Equipment juga menjadi anak perusahaan. Kedua anak perusahaan konstruksi Hyundai dan Doosan yang berbasis di Korea Selatan ini beroperasi secara independen. Hyundai dan Doosan akan secara mandiri “tumbuh bersama, saling melengkapi, bahkan bersaing dengan itikad baik di semua bidang, termasuk teknologi, produksi, pembelian, penjualan, dan kualitas.”

Merujuk pada testimoni para customer, Yonathan mengatakan mereka puas dengan produktivitas, keekonomian, tingkat ketersediaan (mechanical availability) dan product support dari mesin-mesin tambang Hyundai tersebut.

Dia menambahkan, saat ini Hyundai memiliki product lineup yang komplit di segmen excavator, mulai dari kelas 1 ton hingga 125 ton. Kondisi pasar masing-masing segmen berbeda-beda. Di segmen mini hingga medium excavator, pasarnya sangat kompetitif, apalagi excavator kelas 20 ton, karena pemainnya banyak. Tetapi tidak demikian di jajaran excavator besar untuk aplikasi pertambangan. Pemainnya belum banyak. “Didukung pula oleh kondisi pasar saat ini ketika harga batu bara sedang bagus, Hyundai terus mendorong penjualan mesin-mesin tambang seperti HX340SL, R480LC-9S, R850 LC-9 dan R1250-9.”

Perkuat infrastruktur

HeeBum Chae bersama Intianto Soekaimi selaku GM Marketing & Sales PT. Hyundai Construction Equipment Asia

Meski secara global Hyundai Construction Equipment termasuk Top Ten Brand dan potensi pasarnya di sektor pertambangan Indonesia semakin menjanjikan, namun secara keseluruhan market share-nya belum bagus. “Market positioning kami berada di urutan ke-6, dan terus  berusaha untuk  berada di posisi yang lebih baik dari waktu ke waktu,” kata Intianto Soekaimi, GM Marketing & Sales PT. Hyundai Construction Equipment Asia.

Untuk semakin memperkuat pasarnya di Indonesia, Hyundai saat ini sedang melakukan beberapa improvement. Langkah pertama yang dilakukan oleh pabrikan asal Korea Selatan ini adalah pembenahan after sales support. “Kami melihat bahwa hal terpenting pada masa yang akan datang adalah after sales support yang bagus. Mulai sekarang kami sendiri akan semakin intensif mendukung dealer kami di Indonesia. Kami sendiri akan menyetok mesin-mesin, menyetok suku cadang, sehingga dealer hanya fokus pada penjualan dan mendukung pelanggan-pelanggan mereka,”  Chae menjelaskan strategi baru yang akan ditempuh Hyundai Construction Equipment.

Ia menyadari bahwa karakter pasar alat berat di Indonesia sedikit berbeda dari beberapa negara lain di kawasan Asia Tenggara. Sebagai perbandingan dia mencontohkan Filipina. “Di Filipina, posisi pasar Hyundai berada di urutan keempat. Di sana dealer yang mengimpor mesin-mesin dan menyetok suku cadang. Sementara di Indonesia, dengan cakupan pasar yang luas dan banyak sektor yang harus menjadi pusat perhatian, principal dituntut untuk tidak hanya mengandalkan dealer, tetapi pabrikan sendiri harus terlibat sangat dalam. Artinya, keterlibatan produsen akan makin intens pada masa mendatang untuk meng-cover cakupan bisnis yang begitu besar.”

Sementara dari sisi spareparts, Hyundai Construction Equipment dalam waktu dekat akan membangun Parts Distribution Center di beberapa kota, sehingga nantinya dealer tidak perlu mengimpor unit dan suku cadang secara langsung. “Kami sendiri yang menyetok semuanya di Indonesia, sehingga dealer hanya fokus pada pekerjaan-pekerjaannya, yaitu menjual peralatan dan mendukung pelanggan-pelanggan mereka,” kata Chae. Rencananya, beberapa warehouse ini akan dibangun di Jakarta dan Balikpapan.

Pendekatan lain yang sudah dirintis Hyundai adalah terjun langsung ke customer mengingat wilayah Indonesia yang begitu luas dan kondisi medan yang menantang. Yang dilakukan oleh Hyundai, menurut Yonathan, adalah menempatkan tim-tim servis di beberapa wilayah seperti Kalimantan dan Sulawesi dan akan disusul oleh daerah-daerah lain dalam waktu dekat. Tim-tim itu dibekali dengan ketersediaan stok suku cadang dan siap melakukan servis. 

“Belum ada principal lain yang melakukan seperti ini di Indonesia. Hyundai tergolong pionir dari sisi ini. Jadi, kami benar-benar terjun ke lapangan untuk menunjukkan kepada para pelanggan bahwa Hyundai exist untuk memberikan dukungan langsung kepada mereka,” ujarnya sambil menambahkan bahwa pasukan siap tempur itu dimaksudkan untuk menciptakan konfiden di kalangan pelanggan bahwa Hyundai selalu hadir di mana pun unit-unit mereka beroperasi.

“Jadi, berbarengan dengan dealer kami memberikan product support yang terbaik kepada pelanggan-pelanggan Hyundai. Dengan cara ini Hyundai hendak menunjukkan bahwa product support merupakan inti dari bisnis alat berat.”

Kondisi saat ini menuntut pengembangan cara-cara baru untuk mendekati pasar. Cara pemasaran konvensional tetap dibutuhkan tetapi bukan satu-satunya. Lantas, apa saja terobosan-terobosan yang dilakukan Hyundai dalam mempromosikan produk-produknya di tengah kondisi persaingan pasar yang makin ketat? Yonathan mengatakan bahwa sekarang Hyundai sudah mengembangkan digital marketing dengan memanfaatkan media sosial (Instagram dan Facebook) dan blasting infromasi via WhatsApp, serta memanfaatkan media cetak maupun digital untuk promosi berbagai produk dan edukasi pasar.

Sementara untuk memudahkan para pelanggan memiliki produk-produk Hyundai Construction Equipment, saat ini terdapat delapan perusahaan finansial asal Korea Selatan yang tergabung dalam asosiasi Korean Multi Finance Corporation (KMFC) menyediakan fasilitas pembiayaan alat berat Hyundai. “Kami merasa dukungan finansial dari perusahaan-perusahaan pembiayaan ini sangat penting untuk memperkuat pasar Hyundai di Indonesia,” tutup Chae. Bersama dengan KMFC, Hyundai menawarkan harga-harga dengan bunga yang sangat menarik. EI

 

Untuk informasi lebih lanjut tentang produk-produk Hyundai, silahkan kunjungi website www.hyundai-ce.com atau menghubungi dealernya, PT United Equipment Indonesia (Uniquip)

 

Related posts