30.7 C
Jakarta
Feb 18, 2020.
Image default

Mengintip Rencana Bisnis Agen Alat Berat Tahun 2020

Pasar alat berat Indonesia diperkirakan akan turun pada tahun 2020 karena harga komoditas tambang, khususnya batubara, yang belum stabil. Bagaimana distributor-distributor alat mengantisipasi gejolak pasar itu?

Industri alat berat sepanjang tahun 2019, secara umum, mengalami kelesuan dibandingkan tahun sebelumnya.  Ketua Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi), Jamaludin, memperkirakan kondisi ini bakal berlanjut pada tahun 2020. Ia memprediksikan, industri alat berat secara keseluruhan akan mengalami kontraksi 5% hingga 10%. “Secara keseluruhan turun, karena demand-nya tidak ada,” kata  Jamaludin saat berbincang dengan Equipment Indonesia, Selasa (19/11).

Penyebab utamanya, lanjut Jamaludin, adalah karena harga komoditas terutama batubara diperkirakan masih lesu. Padahal, pertambangan batubara merupakan industri yang paling banyak membutuhkan alat berat. “Boleh dibilang alat berat itu identik dengan batubara,” ujarnya.

Memang sektor konstruksi masih menjanjikan karena pemerintah berkomitmen untuk terus melanjutkan pembangunan infrastruktur yang telah mulai dilakukan sejak lima tahun lalu. Masalahnya, menurut Jamaludin, kebutuhan alat berat di sektor konstruksi tidak sebesar kebutuhan di sektor pertambangan. Selain itu, proyek-proyek skala besar cenderung berkurang.

Lantas, bagaimana perusahaan-perusahaan distributor alat berat konstruksi di Indonesia menghadapi tahun 2020?

United Tractors Tbk (UNTR)

Sampai dengan  September 2019, pendapatan bersih konsolidasi PT United Tractors Tbk (UT) tumbuh sebesar 7%. Namun demikian, laba bersih distributor brand Komatsu itu turun sebesar 5%. Tanpa adanya efek translasi mata uang asing, sebenarnya laba bersih UT masih sedikit tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun 2018.

Menghadapi tahun baru 2020, UT tetap optimis di tengah berbagai prediksi bahwa ekonomi akan lesu. Salah satu sektor yang menjadi andalan UT adalah konstruksi. Pendapatan dari lini usaha mesin konstruksi sampai dengan September 2019 menyumbang sekitar 28% dari total pendapatan konsolidasi UT.

“Menurut pandangan kami, ke depan Pemerintah tetap akan fokus dalam pembangunan infrastruktur. Namun demikian, Pemerintah akan lebih selektif dalam memprioritaskan pembangunan infrastuktur yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, sehingga permintaan alat berat dari sektor konstruksi akan tetap tumbuh. Mempertimbangkan prospek tersebut, UT berupaya meningkatkan penetrasi dan coverage serta meningkatkan layanan purna jual, khususnya di sektor konstruksi,” kata Sara K. Loebis, Head of Corporate Communication Division UT kepada Equipment Indonesia.

Sara mengatakan permintaan alat berat dari sektor konstruksi pada 2019 ini memang berkurang karena dampak dari tahun politik. Tetapi tahun depan, diperkirakan permintaan dari sektor konstruksi akan terus tumbuh.

Bagaimana dengan sektor agrikultur dan forestry? Menurut Sara, sektor perkebunan dan kehutanan kemungkinan masih sama seperti tahun ini. Sementara sektor pertambangan tahun depan kemungkinan akan sedikit lebih rendah dibanding tahun ini, mengingat investasi alat berat baru dan pergantian alat berat telah banyak dilakukan sejak tahun 2017 – 2019.

Intraco Penta Tbk (INTA)

INTA membukukan pendapatan sebesar Rp 1,64 triliun pada periode Januari – September 2019, menurun 26,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Penurunan pendapatan ini merupakan imbas dari penurunan harga batubara global yang berdampak pada penurunan penjualan alat berat ke sektor tambang, khususnya tambang batubara,” kata Ferdinand Dion, Investor Relations Strategist, INTA kepada Equipment Indonesia.

Jumlah penjualan alat berat INTA per 30 September 2019 adalah sebanyak 516 unit. Sekitar 30% dari total penjualan unit tersebut berasal dari sektor pertambangan, sedangkan sisanya berasal dari sektor infrastruktur, industri dasar, pertanian, dan lainnya.

Dion mengatakan berdasarkan konsensus pasar, pergerakan harga batubara tahun 2020 diproyeksikan masih lemah dan akan berdampak pada pasar alat berat. Untuk itu, perseroan akan mengembangkan penjualan alat berat ke sektor-sektor lain seperti konstruksi, industri dasar, pertanian dan lainnya, serta terus mengembangkan bisnis lainnya di luar alat berat seperti jasa pembiayaan dan pembangkit listrik.

Menghadapi kondisi pasar demikian, INTA tetap fokus dalam mengembangkan distribusi merek-merek alat berat yang ada, selain juga melihat potensi merek alat berat lainnya yang memiliki prospek yang bagus. INTA juga terus melakukan diversifikasi bisnisnya di tengah kelesuan bisnis alat berat.

Salah satu bentuk diversifikasi pasar yang dilakukan oleh perseroan adalah kerja sama antara anak usaha PT Intraco Penta Wahana  (IPW), yaitu PT Pratama Wana Motor dengan PT Tata Motors Distribusi Indonesia dimana saat ini PT Pratama Wana Motor telah meresmikan dealer 3S (Sales, Service & Spare parts) di Balikpapan untuk mendistribusikan produk-produk kendaraan niaga Tata Motor seperti kendaraan truk terutama Tata Prima 2528.K, Tata Ultra 1014, Tata Xenon XT (Double Cabin), dan Tata LPT 913.

Kinerja bisnis pembiayaan INTA melalui anak usaha PT Intan Baruprana Finance Tbk (IBFN) juga sudah mengalami perbaikan dari sisi pendapatan pada periode Januari – September 2019. “Untuk tahun depan, IBFN akan terus mengembangkan jasa pembiayaan yang didukung oleh kemampuan pendanaan yang baik, meningkatkan kualitas pembiayaan, dan menjaga pengelolaan biaya dengan baik,” kata Dion.

Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN)

Di tengah kondisi industri yang secara keseluruhan lesu, catatan keuangan PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN) masih kinclong sepanjang Januari – September 2019. Perusahaan dengan kode saham SKRN di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini membukukan pendaptan sebesar Rp 553,58 miliar, naik 23,1% bila dibandingkan periode Januari – September 2018. Pada periode yang sama tahun lalu, pendapatan SKRN sebesar Rp 449,69 miliar.

Semua pendaptan perusahaan pada periode Januari – September 2019 ini berasal dari penyewaan krane. Sedangkan, segmen jasa konstruksi membukukan pendaptan Rp 0. Tahun lalu, segmen jasa konstruksi memberikan kontribusi sebesar Rp 46,65 miliar.

Tak hanya pendapatannya yang tumbuh positif, laba perusahaan juga tumbuh cemerlang. Sepanjang periode Januari-September 2019, laba periode  berjalan SKRN sebesar Rp 107,93 miliar, naik 34,87%. Tahun lalu, laba yang diperoleh perusahaan sebesar Rp 80,03 miliar.

Eddy Gunawin, Corporate Secretary SKRN mengatakan permintaan penyewaan crane memang masih tinggi pada tahun 2019. “Tahun 2020 kita proyeksikan permintaannya kurang lebih hampir sama (dengan 2019), mungkin naik sekitar 10%-15%,” ujar Eddy kepada Equipment Indonesia.

Menurut Eddy dalam waktu 3-4 tahun ke depan proyek-proyek konstruksi pemerintah masih akan tinggi. Kalau pun akan berkurang, SKRN bisa fokus ke bidang lain seperti manufaktur. “Karena dengan banyaknya pabrik-pabrik yang sudah dibangun, semuanya itu butuh servis. Kalau diservis secara berkala, mereka memerlukan crane. Jadi, kita akan fokus ke sana,” ujarnya.

Eddy mengatakan saat ini perusahaan fokus pada penyewaan crane dan tidak lagi bermain di jasa konstruksi. “Dari sisi profit margin juga sebenarnya rental itu lebih bagus. Kalau kita ada kerjaan rental ya, untuk sementara kita tidak fokus di jasa konstruksi,” ujarnya.

Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA)

Saat industri alat berat secara keseluruhan mengalami kelesuan, Hexindo Adiperkasa Tbk justru membukukan kinerja keuangan yang cemerlang.  Baik pendapatan maupun perolehan laba perusahaaan tercatat tumbuh positif untuk periode laporan April – September 2019. Pendapatan tercatat sebesar US$ 220,36 juta, naik 15,29%. Periode yang sama tahun lalu, pendapatan yang diperoleh HEXA sebesar US$ 191,13 juta.

Perusahaan ini juga berhasil menjaga efisiensi operasionalnya sehingga bisa membukukan laba bersih. Laba yang diperoleh perushaaan untuk periode laporan April – September 2019 sebanyak US$ 23,23 juta, naik 93,5%. Periode yang sama tahun lalu, laba yang dibukukan sebanyak US$ 12,01 juta.

“PT Hexindo Adiperkasa Tbk berkomitmen untuk memberikan produk dan layanan terbaik bagi para pelanggan. Karena itu, meski pasar sedang lesu, bukan berarti kami tidak dapat berbuat banyak untuk tetap optimal melayani kebutuhan industri. Strategi  perusahaan di antaranya proaktif mendatangi customer untuk create penjualan unit, parts dan service. Kami memiliki sejumlah paket penjualan dengan binding unit dan product support bagi prime customers serta sejumlah skema pembiayaan yang menarik,” kata Presiden Direktur HEXA Djonggi TP. Gultom kepada Equipment Indonesia.

Dari jumlah penjualan unit, sebenarnya penjualan alat berat Hitachi yang diageni HEXA untuk periode April – September 2019 turun sekitar 24,6% dari 965 unit menjadi 774 unit. Penurunan tersebut disebabkan kondisi pasar, terutama pertambangan dan kehutanan. Penjualan unit-unit Hitachi merata di empat sektor yaitu pertambangan sebanyak 198 unit, kehutanan sebanyak 195 unit, konstruksi sebanyak 192 unit, dan agro sebanyak 170 unit.

Mengantisipasi makin berkurangnya proyek-proyek konstruksi Pemerintah yang berskala besar, Djonggi mengatakan Hexindo gencar membidik proyek-proyek infrastruktur swasta. “Kami tetap gencar membidik sektor swasta yang mengerjakan proyek-proyek infrastuktur untuk di perkebunan swasta, HTI dan tambang,” ujarnya.

“Menurut pandangan kami, sektor yang masih potensial untuk digali pada tahun 2020 di antaranya nikel, bauksit, timah, tambang emas, plantation, palm oil dan forestry, pulp and paper,” tambahnya.

Lantas, seperti apa proyeksi pasar alat berat tahun depan menurut Hexindo? Direktur Sales, Hexindo Dwi Swasono mengatakan penjualan alat berat Hexindo tahun 2020 diperkirakan akan turun. “Penjualan alat berat Hexindo di FY2020 diperkirakan turun sekitar 11% dibandingkan FY2019. Ini seiring dengan permintaan pasar di tingkat global maupun nasional yang menurun. Tak hanya itu, harga komoditas pun belum stabil,” tutup Dwi.

Related posts