Alat Berat
Business Mining Top News

MT60: Truk Sekelas HD Dengan Harga DT

PT LGMG Machinery Indonesia memperkenalkan Dump Truck MT60, satu solusi bagi kontraktor-kontraktor tambang yang ingin meningkatkan kapasitas produksi dengan Hauler OB yang lebih besar tanpa harus mengganti mesin-mesin loader/digger yang sudah ada dengan kelas yang lebih besar.

Rigid Dump Truck LGMG MT60 untuk aplikasi overburden di pertambangan. Foto: LGMG

Kontraktor-kontraktor tambang yang ingin meningkatkan kapasitas produksi batubara kerap dihadapkan pada beberapa persoalan. Mereka mungkin harus melakukan investasi armada baru yang lebih besar kapasitasnya, mulai dari mesin penggali (excavator) hingga dump truck. Hal itu berarti mereka harus mengalokasikan dana yang tidak sedikit untuk mendapatkan mesin-mesin tersebut. Di sisi lain, mereka harus menjaga keselarasan antara input dan output, yaitu kesimbangan antara output pekerjaan OB (overburden) dan output pekerjaan hauling (pengangkutan) batubara sehingga tercipta efektivitas dan efisiensi.

“Berapa pun kapasitas kemampuan produksi batubara perusahaan Anda, kalau armada peralatan yang digunakan tidak sesuai dan tidak mempertimbangkan kendala-kendala yang ada di lapangan, efektifitas dan efisiensi yang diinginkan tidak akan tercapai,” kata Doddy Sitompul, Sales Manager LGMG Machinery Indonesia kepada majalah Equipment Indonesia baru-baru ini.

Beberapa operasi tambang di Indonesia memiliki tantangan lingkungan dalam hal transportasi batubara sehingga membatasi target yang ingin dicapai. Di sisi lain, mereka ingin melakukan improvisasi di lini belakang untuk meningkatkan kualitas operasi seperti keselamatan, produktivitas yang lebih baik dan penghematan biaya tetapi tidak melupakan sinkronisasi dengan lini depan.

Pada stripping ratio di bawah 5 (lima) kadang-kadang alat angkut OB yang digunakan terasa lebih banyak dibanding alat angkut batubara karena kelas alat angkut antara lini depan dan belakang sama. Kemudian terdapat tantangan lain, yaitu jika ingin menggunakan alat angkut OB yang lebih besar 3 sampai 4 kali lebih besar dari alat angkut batubara, tetapi kondisi lahan yang ada tidak memungkinkan alat angkut yang lebih besar dapat beroperasi dengan maksimal di lokasinya, ditambah peningkatan kelas dari alat gali dan alat muat OB.

Doddy menginformasikan, LGMG tidak hanya memproduksi WDT kelas 55 ton sampai 90 ton, tetapi juga membuat beberapa kelas dump truck yang lebih kecil untuk menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan para pelanggan. Ia mengatakan, setiap kontraktor tambang memiliki target produksi sendiri. “Kalau target produksinya kecil, maka yang digunakan untuk pengangkutan adalah truk-truk yang kapasitas muatnya lebih kecil. Sebaliknya, makin tinggi target produksi, maka diperlukan truk-truk dengan kapasitas yang lebih besar pula. Kalau target produksi tidak sesuai dengan ukuran truk yang digunakan, maka biayanya akan lebih mahal,” ungkapnya.

Sebab itu, lanjut Doddy, LGMG memiliki model dump truck seperti MT50 (daya angkut 35 ton), MT60 (daya angkut 45 ton) dan CMT60A (daya angkut 35 ton, axle 6×6 dengan transmisi otomatis) untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan yang beragam itu. Dan truk-truk kelas ini sudah “proven” di negara asalnya China, juga di luar China seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam.

Ketiga model ini sangat cocok untuk operasi tambang batubara dengan target produksi batubara 20.000 sampai 50.000 MT per bulan. Menurut Doddy, bagi kontraktor-kontraktor yang menggunakan dump truck kelas 20–30 ton untuk pekerjan OB, maka mereka tidak perlu mengganti alat gali/muat jika mereka investasi pada ketiga kelas hauler tersebut.

Apa keuntungan yang mereka peroleh? “Biaya operasi dijamin akan lebih hemat karena populasi truk OB yang berkurang sehingga akan berdampak pada efisiensi man power, dan juga penggunaan bahan bakar lebih hemat karena ketiga model truk ini hanya mengkonsumsi bahan bakar sekitar 10 sampai 20 liter per jam,” jawab Doddy.

Ia menambahkan, infrastruktur jalan juga tidak memerlukan perubahan yang signifikan dari sisi lebar jalan, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk membuat jalan OB tidak banyak dan untuk perawatan jalan selanjutnya juga masih bisa menggunakan alat-alat support seperti Motograder dan Compactor dengan kelas yang sama seperti sebelumnya. “Hal ini merupakan salah satu dampak yang luar biasa karena kita tahu untuk jalan OB di pertambangan batubara intensitas perubahannya cukup tinggi.”

Untuk memenuhi kebutuhan para penambang yang ingin menaikkan kapasitas produksi, tetapi mereka tidak perlu mengganti excavator untuk OB, LGMG Machinery Indonesia menawarkan MT60. “Mungkin tadinya mereka sudah menggunakan excavator kelas 40 atau 50 ton, tetapi hauler OB-nya menggunakan truk dengan berat kotor 40 ton dengan kapasitas angkut 8 hingga 12 BCM. Jika mereka menggunakan MT60, mereka tetap dapat memuat dengan excavator yang sama, produktivitas dari excavator tetap terjaga tetapi populasi truk OB per fleet akan menjadi lebih ramping,” Doddy menjelaskan.

Jadi, ia melanjutkan, mereka tidak perlu investasi excavator yang lebih besar lagi karena kesesuaian antara excavator dan truk masih cukup baik dengan bucket excavator sekitar 2,8 sampai 3,2 m3. Produktivitas per truk yang dapat dicapai berkisar 50 sampai 100 BCM per jam.  

Doddy mengatakan MT60 biasanya dipakai di tambang-tambang batubara ukuran menengah ke bawah, tambang mineral  dan quarry (tambang batu) seperti granit, andesit dan lainnya yang skala produksinya cukup besar dan juga termasuk pada pabrik semen untuk pekerjaan mengangkut batu kapur dan clay. Produktivitas MT60, jika beroperasi pada tambang-tambang  batu dan mineral, sekitar 135 sampai 225 ton per jam. @

Berita Terkait