26.2 C
Jakarta
23 Jun, 2021.

Pasca Imlek, Harga Batu Bara Mulai Terkoreksi

Pengangkutan batu bara dengan Articulated Hauler Volvo A60H. (Foto: VCE)

Setelah menguat selama enam bulan berturut-turut, Harga Batubara Acuan (HBA) akhirnya mengalami koreksi. Untuk bulan Maret, HBA ditetapkan di angka USD 84,49 per ton. Ini berarti turun dari HBA pada bulan Februari yang ditetapkan di angka USD87,79/ton. Meski melemah tipis namun setidaknya ini menjadi pelemahan pertama setelah enam bulan sejak Oktober 2020 dalam tren menguat.

Dijelaskan bahwa pelemahan ini terjadi karena konsumsi listrik di Tiongkok yang mulai menurun sehingga berdampak pada minimnya permintaan batu bara ke negara tersebut. “Setelah berakhirnya perayaan tahun baru imlek dan menjelang berakhirnya musim dingin, konsumsi listrik di pusat-pusat bisnis Tiongkok mulai lesu,” terang Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi.

Hal lain yang juga disampaikan Agung, pelemahan koreksi harga batu bara ini dipicu oleh kebijakan beberapa negara konsumsi batu bara terbesar dunia untuk meningkatkan produksi batu bara domestik. “Baik Pemerintah Tiongkok dan India mendorong peningkatan produksi batu bara dalam negeri untuk mengimbangi kebijakan relaksasi impor batu bara kedua negara tersebut,” ujarnya.

Bulan Oktober 2020 menjadi titik balik setelah sejak awal tahun harga batu bara melemah. Bahkan pada September 2020 HBA sempat menyentuh USD 49,42 per ton, harga terendah sepanjang 2020. Namun pada Oktober terjadi pembalikan menjadi USD51 per ton. Kemudian berlanjut pada November 2020 kembali menguat sebesar USD55,71 per ton.

Di akhir tahun, tepatnya di Desember 2020, HBA menyentuh harga USD59,65 per ton. Lalu pada Januari menguat signifikan menyentuh USD75,84 per ton. Pada bulan Februari kembali menguat menjadi USD87,79 per ton.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan pada dasarnya kalau permintaan berkurang sementara supply terkendala berarti harga atas terkerak naik. “Dalam hal ini jika Cina bisa memenuhi kebutuhan domestik mereka berarti impor (demand) Cina berkurang sehingga harga akan terkoreksi,” terangnya.

Ia juga belum bisa memastikan bagaimana tren sepanjang tahun. “Ini masih terlalu dini. Karena demand pada umumnya juga seasonal atau musiman dan juga tergantung dengan banyak faktor lain termasuk kondisi ekonomi, apalagi di tengah situasi pandemi covid-19,” terang Hendra.

Ia menegaskan bahwa pasca tahun baru China dan musim dingin tentu akan berpengaruh terhada permintaan. “Prospek harga ke depan ya sangat tergantung dengan permintaan batu bara yang kemungkinan tidak setinggi demand pada saat akhir tahun lalu dan awal tahun ini,” urjarnya.  

Penetapan HBA diperoleh dari rata-rata empat indeks harga batu bara dunia, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya.

Cina tetap jadi penentu

Cina merupakan konsumen sekaligus produsen batu bara terbesar dunia. Tidak heran jika apa pun yang dilakukan Cina terkait batu bara akan berimbas pada pasar salah satu sumber energi ini. Meski Pemerintah Cina mulai serius untuk mengembangkan energi yang lebih ramah lingkungan, namun konsumsi batu bara China masih akan terus meningkat termasuk pada 2021.

Tujuannya untuk menekan emisi gas rumah kaca. China sebagai konsumen batu bara terbesar dunia mengalami peningkatan konsumsi bahan bakar fosil secara keseluruhan sebesar 0,6% pada tahun 2020 sekitar 4,04 miliar ton.

Di tempat lain produksi domestik juga meningkat dipasok oleh beberapa wilayah pertambangan seperti Shanxi, Shaanxi, Mongolia Dalam, dan Xinjiang. Sementara wilayah Cina tengah seperti Hunan dan Jiangxi akan menutup tambang batu bara yang terbilang berumur tua. Tahun 2020, China berhasil memproduksi 3,84 miliar ton batu bara.

Dengan kapasitas produksi batu bara nasional sebesar itu diperkirakan akan mempengaruhi jumlah impor. Diprediksikan impor batu bara pada tahun 2021 masih akan tetap sama seperti pada level tahun lalu, meskipun sumber pengiriman batu bara akan lebih beragam.

China telah meningkatkan impor batu bara dari Rusia, Mongolia, dan Indonesia. Cina sejak beberapa tahun lalu menutup kran impor dari Australia. Ini karena hubungan antara Beijing dan Canberra semakin tegang di tengah serangkaian perselisihan.

Menariknya lagi Cina mulai mencatat pertumbuhan ekonomi yang positif. Negeri panda ini merupakan negara yang paling cepat mencatat pemulihan ekonomi di tengah pandemi covid-9. Ini tentu akan meningkatkan kebutuhan energi. Meski mulai mengoptimalkan produksi batu bara dalam negerinya. Namun tetap butuh impor termasuk dari Indonesia.

Ini yang membuat sebagian orang masih optimis kinerja sektor pertambangan khusus batu bara akan lebih baik dibanding tahun 2020 silam.

Related posts

005852
Users Today : 2056
Views Today : 11750
Total views : 159190
Who's Online : 132
Your IP Address : 3.235.223.5
Server Time : 2021-06-23