26.1 C
Jakarta
Nov 21, 2019.
Image default

Penjualan Alat Masih Lesu, Segmen Jasa Jadi Penopang

Secara umum, performa laporan keuangan emiten alat berat tidak begitu menggembirakan. Bisnis pertambangan, terutama batubara yang masih lesu, membuat pendapatan dari lini bisnis penjualan alat menurun.

Harga komoditas yang masih lesu, terutama batubara, membuat penjualan alat berat masih belum bisa menopang kinerja keuangan emiten alat berat yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Meski porsinya terbilang kecil, segmen jasa penyewaan dan perbaikan bisa menyelamatkan performa perusahaan.

PT Intraco Penta Tbk pada semester pertama 2019 membukukan pendapatan sebesar Rp 1,1 triliun. Tidak begitu menggembirakan. Karena pada periode yang sama tahun lalu, pendapatan perusahaan dengan kode INTA ini sebesar Rp 1,57 triliun. Artinya, pendapatan INTA turun 28,57%.

Tetapi kabar baiknya, bottomline perusahaan sudah makin baik. Semester pertama tahun ini, perusahaan sudah berhasil mengurangi rugi bersih dari Rp 110,16 miliar menjadi Rp 52,52 miliar.

Beda dengan INTA, PT Hexindo Adiperkasa Tbk membukukan kinerja keuangan yang relatif baik. Di tengah kondisi industri yang masih lesu, pendapatan perusahaan dengan kode saham HEXA ini masih tumbuh, meski tipis 0,77% menjadi US$ 84,89 juta. Pada semester pertama 2018 lalu, pendapatan HEXA sebesar US$ 84,24 juta.

HEXA juga berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signfikan yaitu 108,73%. Pada semester pertama 2019 ini, laba bersih HEXA mencapai US$ 9,7 juta, naik dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 4,35 juta.

Penyebab lesunya kinerja keuangan emiten alat berat ini tak lain tak bukan adalah karena penjualan di segmen alat berat yang menjadi lini bisnis utama turun. Penurunan ini sudah terjadi sejak kuartal pertama tahun ini sebagai imbas dari lesunya sektor pertambangan, terutama batubara.

INTA misalnya. Penjualan alat beratnya sepajang semester pertama 2019 ini turun signifikan sebesar 45,74% dari Rp 1,12 triliun menjadi Rp 607,94 miliar. Ferdinand D, Investor Relation Intraco beberapa waktu lalu mengatakan penurunan penjualan alat berat ini terjadi pada semua perusahaan pemain alat berat. “Karena adanya penurunan permintaan alat berat yang mencapai puncaknya di 2017 dan 2018 serta dibarengi dengan kecendrungan turunnya harga batubara global,” ujarnya.

Sebagian besar penjualan alat berat INTA memang menyasar industri pretambangan terutama batubara. Pada 2018 lalu, porsi penjualan untuk segmen batubara ini mencapai 46% dari total penjualan alat berat INTA. INTRACOPENTA GROUP merupakan agen penjualan untuk alat berat merek Volvo, SDLG, Dozer Dressta, Bobcat dan Sinotruk.

Meski penjualan alat berat turun, penjualan INTA di segmen suku cadang masih tumbuh sekitar 5%. Sepanjang semester pertama lalu, penjualan suku cadangnya sebesar Rp 216,66 miliar. Sebelumnya pada periode yang sama tahun lalu, penjualan segmen suku cadagan INTA sebesar Rp 206,29 miliar.

Penurunan penjualan alat berat juga dialami HEXA yang merupakan dealer untuk excavator Hitachi. Meski secara keseluruhan pendapatannya naik pada semester pertama 2019 ini, tetapi segmen penjualan alat berat dan suku cadang menurun. Penjualan segemen alat berat HEXA sepanjang semester pertama 2019 sebesar US$ 44,94 juta, turun 1,27% bila dibandingkan semester pertama tahun lalu yang mencapai US$ 45,52 juta. Penjualan suku cadang HEXA juga turun cukup dalam yaitu 4,15% dari US$ 22,17 juta menjadi US$ 21,25.

Kelesuhan penjualan alat berat juga dialami oleh United Tractor Tbk (UNTR). Distributor alat berat Komatsu ini memang secara keseluruhan masih membukukan pertumbuhan pendapatan yang positif karena memiliki banyak lini bisnis di luar alat berat. Pada semester pertama pendapatan UNTR naik 11,23% menjadi Rp 43,3 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, pendapatannya sebesar Rp 38,9 triliun. Tetapi UNTR tertolong karena pendapatan dari penjualan batubaranya masih naik sebesar 13,37% menjadi Rp 6,7 triliun. Selain itu, tahun ini pertambangan emas UNTR juga sudah beroperasi komersial dan memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp 3,6 triliun.

Sedangkan lini bisnis alat berat UNTR juga lesu, seperti halnya dealer alat berat lainnya. PenjuAlan segmen mesin konstruksi UNTR tercatat turun 13,95% menjadi Rp 10,94 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, segmen ini memberikan kontribusi sebesar Rp 12,72 triliun.

Segmen jasa jadi penolong

Meski porsinya terbilang kecil, pendapatan emiten alat berat dari segmen jasa mampu menopang pendapatan perusahaan di tengah kondisi pasar alat berat yang lagi lesu. INTA, misalnya pendapatan dari segmen jasa perbaikan naik 18,7% menjadi Rp 138,01 miliar pada semester pertama 2019 ini. Pada periode yang sama tahun lalu, segmen ini memberikan kontribusi sebesar Rp 116,26 miliar.

Hanya saja untuk jasa penyewaan alat berat, INTA membukukan kinerja yang negatif. Sepanjang semester pertama 2019, jasa penyewaan turun 29,9% menjadi Rp 74,22 miliar. Padahal, segmen jasa penyewaan ini semester pertama tahun lalu memberikan kontribusi sebesar Rp 105,98 miliar.

Kinerja keuangan INTA juga tertolong oleh lini bisnis pembiyaan yang sudah mulai memberikan kontribusi pendapatan ke perusahaan. Pada semester pertama tahun ini, pendapatan perusahaan dari segmen pembiayaan ini sebesar Rp 30,4 miliar. Padahal pada tahun lalu, segmen ini masih membukukan kerugian kepada perusahaan.

Kontribusi positif segmen pembiayaan ini terjadi karena salah satu anak usaha INTA, PT Intan Baruprana Finance Tbk (IBF) di akhir 2018 telah selesai melakukan Right Issue dan mendapat investor baru untuk mulai menyalurkan pembiayaan kembali. Selain itu, IBF juga intensif melakukan recovery pembiayaan yang bermasalah.

Segmen jasa juga mampu menopang bisnis HEXA sepanjang semester pertama tahun ini. Meski masih terbilang kecil, jasa pemeliharaan dan perbaikan HEXA memberikan kontribusi sebesar Rp 18,69 miliar, tumbuh 12,9% dibandingkan semester pertama 2018 yang sebesar Rp 16,54 miliar.

Segmen bisnis jasa juga terbukti mampu membuat kinerja PT Superkrane Mitra Utama Tbk tetap terjaga di tengah bisnis alat berat yang lesu. Ini adalah perusahaan yang fokus pada jasa penyewaan krane dan juga jasa konstruksi.

Pada semester pertama 2019 ini, kinerja keuangan emiten dengan kode saham SKRN di bursa efek Indonesia ini masih kinclong. Dari sisi pendapatan, SKRN tumbuh dua digit yaitu 23,15% menjadi Rp 365,47 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, pendapatannya sebesar Rp 296,76 miliar.

SKRN juga mampu menjaga efisiensi operasional perusahaan yang terbukti dari kinerja bottmline atau laba bersih yang juga positif. Sepanjang semester pertama 2019, laba bersih SKRN sebesar Rp 59,69 miliar, tumbuh 14,28%. Pada semester pertama tahun lalu, laba bersih SKRN sebesar Rp 52,23 miliar.

Semua pendapatan SKRN pada paruh pertama 2019 tersebut, bersal dari jasa penyewaan. Sedangkan segmen jasa konstruksi tidak memberikan kontribusi pendaptan sama sekali pada semester pertama 2019.

Related posts

Deere Rampungkan Akuisisi Wirtgen Group

William Syukur

15 Tahun Daya Kobelco: Kami Harus Belajar Dari Krisis

Mengintip Inovasi Futuristik Industri Alat Volvo CE