Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BusinessTop News

Posisi Komatsu di Cina Semakin Tergerus oleh Brand-brand Lokal

182
×

Posisi Komatsu di Cina Semakin Tergerus oleh Brand-brand Lokal

Share this article
Pangsa pasar Komatsu di pasar Cina menyusut ke 4% dari 15% hanya dalam waktu satu dekade (Foto: Annu Nishioka)
Example 468x60

Pangsa pasar mesin-mesin Komatsu di pasar Tiongkok semakin tertekan oleh kehadiran pemain-pemain lokal yang semakin dominan.

ALTRAK

Dominasi Komatsu di pasar alat berat Tiongkok semakin tersingkir oleh kehadiran brand-brand lokal, seperti Sany Heavy Industry atau yang lebih dikenal dengan SANY. Lonjakan kebutuhan alat untuk mengerjakan berbagai proyek infrastruktur pasca-pandemi Covid-19 di negeri itu sebagian besar disuplai oleh pemain-pemain lokal. Padahal, Komatsu pernah menjadi pemasok peralatan konstruksi terkemuka di Tiongkok.

Menurut laporan Nikkei (19/5), Komatsu telah gagal memanfaatkan peluang yang ada di Cina pasca wabah virus corona. Perekonomian negeri tirai bambu itu diketahui pulih lebih cepat dari negara-negara lain di dunia setelah didera pandemi Covid-19. Untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, pemerintah Cina membangun berbagai proyek infrastruktur, yang memicu kenaikan drastis permintaan alat konstruksi.

Berdasarkan data dari Asosiasi Mesin Konstruksi Cina, penjualan excavator secara nasional di Cina melonjak 65% pada bulan April tahun ini mencapai 43.000 unit, mencapai pertumbuhan tertinggi sepanjang masa untuk bulan tersebut. Ketika kebutuhan makin tinggi, produsen-produsen Cina menaikkan harga hingga 10%. Hebatnya, meski SANY dan pesaing-pesaing lokalnya menaikkan harga, permintaan tetap kuat.

Menurut laporan Nikkei itu, Komatsu hanya menguasai sekitar 4% dari pasar Cina tahun lalu. Pendapatan Komatsu di Cina turun 23% menjadi 127 miliar yen ($1,18 miliar) untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret, sebesar 6% dari penjualan konsolidasi.

Pada tahun 2007, pangsa pasar Komatsu di Cina mencapai 15%. Tapi SANY dan produsen-produsen lokal lainnya mencukur harga dari rival-rival mereka yang  berasal dari Jepang sekitar 20%, menjatuhkan Komatsu.

Cina menghasilkan sekitar 30% dari permintaan global untuk mesin konstruksi, dan Sany menguasai 25% pangsa pasar yang besar itu. Kapitalisasi pasar perusahaan Cina itu melampaui Komatsu pada Februari untuk pertama kalinya. Nilai pasar Sany mencapai 167,1 miliar yuan ($ 23,5 miliar), sekitar 30% lebih tinggi dari Komatsu, tulis Nikkei.

Baca Juga :  Kalmar Perkenalkan Collision Warning System

Ruang luas Sany untuk berekspansi secara global rupanya mengangkat profilnya di pasar saham. Di tengah pandemi virus corona, perusahaan ini menyumbangkan total 1 juta masker ke 34 negara, termasuk Jerman, India, Malaysia dan Uzbekistan. Negara-negara tersebut sudah menghasilkan 20% dari pendapatan Sany. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk meningkatkan ekspornya ke depan.

Sementara Komatsu sedang dihimpit oleh saingan-saingannya, perusahaan ini menjauhkan dirinya dari perang harga, mempertahankan kebijakan tidak menjual produk-produknya dengan harga murah. Pabrikan alat berat asal Negeri Sakura ini ingin membuat perbedaan dengan bersandar lebih besar pada pasar Amerika Utara dan Indonesia.

Amerika Utara menyumbang 26% dari penjualan Komatsu pada tahun fiskal 2019, naik dari 22% tiga tahun sebelumnya. Namun mulai merosotnya pembangunan perumahan di kawasan itu diperkirakan akan terus berlanjut karena epidemi COVID-19.

Produsen peralatan berat yang berbasis di AS, Caterpillar, melaporkan penurunan pendapatan di pasar Amerika Utara sebesar 30% untuk kuartal pertama tahun ini.

Komatsu berencana untuk bangkit mengatasi kesulitan ini dengan bertumpu pada bisnis yang berfokus pada teknologi. “Di Jepang, AS, Eropa dan tempat-tempat lain, kami akan mengembangkan  digitalisasi secara global,” kata Ogawa.

Pabrikan ini menaruh harapan besar pada pengembangan konstruksi cerdas, yang memanfaatkan drone untuk survei dan mesin semi-otomatis. Komatsu menggabungkan layanan-layanan berbasis biaya ini dengan peralatan konstruksinya. Model bisnis ini telah diadopsi di Jerman, Prancis, dan Inggris – untuk menyebutkan beberapa contoh di antara pasar-pasar Barat lainnya.

Di Jepang, Komatsu mulai menyediakan peralatan-peralatan pemantauan untuk klien-kliennya pada bulan April. Perangkat-perangkat ini dipasang pada alat-alat yang dibeli dari perusahaan-perusahaan lain, memungkinkan mata manusia untuk memeriksa kondisi operasi dari jarak jauh. Spesifikasi-spesifikasi penggalian dapat dimasukkan ke dalam tablet untuk memudahkan pekerjaan konstruksi.

Baca Juga :  Sembilan Puluh Tahun Inovasi Kobelco

Komatsu menghasilkan margin keuntungan operasi konsolidasi sekitar 10% pada tahun fiskal sebelumnya.

“Jika mereka memanfaatkan data tersebut, ada potensi pertumbuhan yang makin besar dari bisnis suku cadang dan perawatan” kata Akira Mizuno, analis di UBS Securities Jepang. “Hal itu akan menjadi kunci dalam memperkuat bisnis berhadapan dengan perusahaan-perusahaan Cina.” (Sumber: Nikkei)

Iklan Berca