34.8 C
Jakarta
Nov 26, 2020.
Business Top News

Rapor Merah United Tractors Selama Sembilan Bulan Pertama 2020

Semua unit bisnis UNTR mengalami kontraksi selama sembilan bulan pertama tahun 2020, namun ada potensi pemulihan pada tahun 2021.

Beberapa tipe excavator Komatsu untuk beragam aplikasi (Foto: EI)

Nyaris tak ada catatan hijau untuk laporan keungan PT United Tracors Tbk. Selama periode sembilan bulan selama tahun 2020 ini semua kinerja unit bisnis emiten dengan kode saham UNTR ini merah merona alias turun. Tetapi ada harapan, tahun depan harga komoditas kembali naik. Dan pandemi Covid-19 yang mendera perekonomian dunia akan berakhir seiring dengan program vaksinasi yang direncanakan mulai awal tahun depan. Dus, roda ekonomi pun diharapkan kembali berjalan normal pada tahun depan.

Sampai dengan triwulan ketiga tahun 2020 (Januari-September),  pendapatan bersih konsolidasian UNTR mencapai Rp46,5 triliun atau turun sebesar 29% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019. Masing-masing unit usaha, yaitu Mesin Konstruksi, Kontraktor Penambangan, Pertambangan Batu Bara, Pertambangan Emas, dan Industri Konstruksi secara berturut-turut memberikan kontribusi sebesar 22%, 48%, 16%, 12% dan 2% terhadap total pendapatan bersih konsolidasian.

Seiring dengan penurunan pendapatan, laba bruto UNTR turun sebesar 37% dari Rp16,2 triliun menjadi Rp10,2 triliun sehingga laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih turun sebesar 38% menjadi Rp5,3 triliun dari Rp8,6 triliun pada periode yang sama tahun 2019.

Bila ditelisik lebih dalam, semua unit bisnis UNTR mengalami kontraksi. Unit Usaha Mesin Konstruksi, misalnya, sampai dengan September 2020, volume penjualan alat berat Komatsu tercatat sebanyak 1.191 unit, turun 54% jika dibandingkan dengan periode September 2019 sebanyak 2.568 unit. “Turunnya harga komoditas dan penurunan aktivitas di semua sektor pengguna alat berat berdampak pada berkurangnya permintaan alat berat,” tulis manajemen UNTR dalam keterangan tertulis yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dari total keseluruhan penjualan alat berat, sebanyak 37% diserap sektor pertambangan, 31% diserap sektor konstruksi, 20% diserap sektor kehutanan, dan sisanya sebesar 12% ke sektor perkebunan.

Masih di Unit Usaha Mesin Konstruksi, pendapatan UNTR dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat turun sebesar 31% menjadi Rp4,7 triliun. Penjualan produk-produk merek lainnya, yaitu UD Trucks, mengalami penurunan dari 387 unit menjadi 154 unit serta penjualan produk Scania turun dari 382 unit menjadi 129 unit. Dus, secara keseluruhan pendapatan bidang Mesin Konstruksi turun sebesar 43% menjadi Rp10,3 triliun dibandingkan Rp18,2 triliun pada tahun 2019.

Produksi batu bara lesu

Tractor Head Scania, salah satu brand alat berat yang diageni UT (Foto” EI)

Kondisi yang sama juga terjadi pada Unit Usaha Kontraktor Penambangan yang dijalankan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA). Sampai dengan triwulan ketiga tahun 2020, unit usaha Kontraktor Penambangan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp22,1 triliun atau turun sebesar 26% dibandingkan periode yang sama tahun 2019. PAMA mencatat penurunan volume produksi batu bara sebesar 12% dari 96,5 juta ton menjadi 85,3 juta ton, dan volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) turun sebesar 16% dari 749,8 juta bcm menjadi 630,8 juta bcm.

Unit Usaha Pertambangan Batu Bara yang dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (TTA) juga mengalami kelesuan, terutama karena harga batu bara yang turun. Total penjualan batu bara sampai triwulan ketiga tahun 2020 mencapai 7,1 juta ton termasuk 1,2 juta ton batu bara kokas, atau naik sebesar 11% dari periode yang sama tahun 2019 sebesar 6,5 juta ton. Namun pendapatan unit usaha Pertambangan Batu bara mencatat penurunan sebesar 11% dari periode yang sama di tahun 2019 menjadi Rp7,5 triliun karena penurunan rata-rata harga jual batu bara.

Momentum harga emas yang naik selama krisis ekonomi global ini juga tak serta-merta membuat kinerja PT Agincourt Resources, unit usaha UNTR yang bergerak di pertambangan emas berkemilau. Sampai dengan September 2020, total penjualan dari tambang emas Martabe yang dioperasikan PT Agincourt Resources mencapai 256,0 ribu ons atau turun sebesar 16% dari periode yang sama tahun 2019 sebesar 306,2 ribu ons. Dus, pendapatan bersih unit usaha Pertambangan Emas sampai dengan bulan September 2020 turun sebesar 6% menjadi Rp5,5 triliun.

Sektor konstruksi yang mengalami kontraksi akibat pandemi juga berimbas pada kinerja PT Acset Indonusa Tbk (ACSET), perusahaan yang sahamnya sebanyak 64,8% dimiliki oleh PT Karya Supra Perkasa (KSP), anak perusahaan UNTR.

Sampai dengan triwulan ketiga tahun 2020, unit usaha Industri Konstruksi UNTR yang dijalankan oleh ACEST membukukan pendapatan bersih sebesar Rp958 miliar atau turun 69% dari sebelumnya sebesar Rp3,1 triliun pada periode yang sama tahun 2019. ACSET membukukan rugi bersih sebesar Rp753 miliar yang disebabkan oleh perlambatan pekerjaan beberapa proyek yang sedang berlangsung dan berkurangnya peluang memperoleh kontrak baru akibat dampak pandemi COVID-19.

Harapan di tahun 2021

UD Trucks tipe Kuzer yang siap mengkonsumsi B30 (Foto: EI)

Ada harapan kinerja UNTR kembali pulih pada tahun depan. Analis memperkirakan harga komoditas pertambangan dan sektor konstruksi akan membaik pada tahun depan. Diharapkan, kondisi ini akan berdampak pada kinerja unit-unit bisnis UNTR.

Goldman Sachs, memperkirakan pelemahan dollar Amerika Serikat dan meningkatnya risiko inflasi akibat stimulus fiskal dari bank-bank sentral negara maju mendorong kenaikan harga komoditas pada tahun 2021. Bank asal Amerika Serikat itu memprediksikan Indeks Komoditas S&P atau Goldman Sachs (GSCI) meningkat 28% lebih dari 12 bulan kedepan, logam mulia naik 17,9%, energi 42,6%, logam industri 5,5% dan komoditas pertanian turun 0,8%.

Kebijakan fiskal dan moneter ekspansif di negara-negara maju dengan terus mempertahankan suku bunga rendah, mendukung permintaan logam mulia sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kata bank tersebut, seperti dilansir ieconomy.io.

Goldman Sachs memperkirakan harga rata-rata emas pada tahun 2020 akan mencapai US$1.836 per ounce (31.1 gram) dan US$ 2.300 per ons pada tahun 2021. Harga perak akan naik menjadi US$30 per ounce tahun depan dari US$22 per ons tahun ini.

Hans Kwee, analis pasar modal dan Direktur PT Anugerah Mega Investama mengatakan selain karena stimulus fiskal dari negara-negara maju, kenaikan harga komoditas pada tahun depan juga karena sentimen mobil listrik dimana bahan baku untuk batrei berasal dari nikel, kobalt, mangan, tembaga dan juga timah.  Hal ini akan mendorong kenaikan harga komoditas tersebut pada waktu yang akan datang.

Soal mobil listrik ini, tiga Badan Usaha Milik Negara yaitu MIND ID, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero) juga bakal patungan membuat Indonesia Battery Holding (IBH) untuk pengelolaan industri baterai kendaraan listrik. Perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla, juga berencana membangun pabrik batrei mobil listrik di Jawa Tengah. Indonesia dipilih untuk pembangunan pabrik tersebut karena cadangan nikel Indonesia yang besar.

Presiden Direktur CSE Institute, Aria Santoso, mengatakan selain komoditas tambang, komoditas sawit juga diperkirakan bakal menguat pada tahun depan. Ia beralasan permintaan CPO dari Eropa diperkirakan masih akan tetap tinggi. Sebab meski ada kampanye negatif soal sawit, tetapi benua biru itu belum sepenuhnya bisa menggantikan minyak sawit, meski di sisi lain secara bertahap mereka akan menggantikannya  dengan minyak benih bunga matahari (sun flower seed oil). “Ketika terjadi pandemi seperti ini mereka kelihatannya tidak sebegitu cepat untuk memindahkan dari penggunaan palm oil ke sun flower seed oil,” ujarnya.

Selain komoditas, Aria juga melihat sektor konstruksi masih memiliki prospek yang bagus pada tahun depan. Menurutnya, pemerintah masih akan membangun banyak fasilitas seperti jembatan, jalan, gedung-gedung, bendungan, Pelabuhan dan lain-lain. Ia memperkirakan belanja infratruktur ini akan kembali masif pada paruh kedua tahun depan.

110 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Related posts