ROAD TEST TRUCK BBG
Indonesia kelimpahan bahan bakar alternatif, tetapi mengapa bangsa ini kerap mengalami krisis krisis bahan bakar? Perut bumi negeri ini menyimpan kekayaan gas alam yang melimpah. Potensi bahan bakar nabati juga melimpah ruah. Namun, mengapa kita masih ngotot mengkonsumsi BBM?
Sebuah terobosan berarti dilakukan PT Indo Dongfeng Motor beberapa waktu lalu. Perusahaan itu melakukan road test di jalan tol Cipularang untuk satu unit tractor head yang yang menarik sebuah kontainer bermuatan penuh dengan kecepatan rata-rata 60km/jam. Truk tiga sumbu (6×4) itu adalah keluaran Huling Xingma Automobile, salah satu pabrikan kendaraan terkemuka di Cina.
Saat dilakukan pemeriksaan ketika rehat di rest area, diketahui tingkat kepanasan engine truk itu 90 derajat celsius, jauh dari batas overheating. Demikian pula, tingkat kepanasan oli dan exhaust masih dalam batasan normal. Padahal, truck head CAMC 380HP itu menarik muatan penuh berupa tabung berisi CNG sekitar 50 Ton beratnya.
Apa yang membedakan truk ini dengan kendaraan-kendaraan lainnya yang melintasi jalan tol itu? “Partner kami menginginkan jenis truk yang menggunakan gas. Karena itu CAMC 380HP ini merupakan produk yang tepat bagi mereka,” kata Imam Dwi Prio, Technical Manager PT Indo Dongfeng Motor. Road test kali ini merupakan kerjasama antara Indo Dongfeng Motor dan PT. IEV Gas, sebuah perusahaan yang menyuplai gas ke pabrik-pabrik.
Truk ini mengkonsumsi CNG sebagai bahan bakarnya. Ini tampak jelas dari keberadaan sebuah kompartemen yang tepasang di belakang kabin kendaraan itu. Kompartemen itu berisi delapan buah tabung CNG yang masing-masing berkapasitas 140 liter.
Iman menegaskan, kegiatan road test ini sekaligus sebagai keinginan Indo Dongfeng Motor untuk menjadi promotor penggunaan truk-truk berbahan bakar CNG di Indonesia. Ia merujuk pada keberhasilan Thailand dalam mengoperasikan truk-truk berbahan bakar CNG. “Thailand berhasil melakukan konversi dari bahan bakar konvensional ke gas. Indonesia harus meniru langkah Thailand agar tidak terus-menerus bergantung pada impor BBM yang menguras devisa,” tukasnya.
Para pemain di bisnis kendaraan niaga tampaknya memberi respon positif terhadap usaha Indo Dongfeng Motor memperkenalkan truk berbahan bakar CNG di Indonesia. Ini ditandai dengan keinginan beberapa customer mereka untuk mencoba truk CAMC berbahan bakar CNG. “Biaya operasional yang murah menjadi poin yang membuat mereka tertarik,” Imam menambahkan.
Tanpa konverter
CAMC 380HP bukanlah jenis truk konvensional yang dimodifikasi dengan menambahkan converter sehingga dapat memanfaatkan CNG. Hartono Gani, Advisor PT. Indo Dongfeng Motor dalam presentasinya menjelaskan, truk ini memanfaatkan mesin Weichai yang memang khusus dibangun untuk bahan bakar gas.
“Material mesin dibuat lebih kuat sehingga tahan terhadap suhu panas pembakaran gas. Berbeda dengan mesin biasa yang dikonversi, di mana sangat mungkin terjadi kerusakan komponen seperti piston sebagai akibat ketidakmampuannya menahan panas yang dihasilkan pada saat pembakaran,” jelasnya.
Lebih lanjut dijelaskannya, mesin Weichai yang digunakan memiliki tipe four stroke, water cooler, in line four valve, direct-injection. Mesin ini mampu menyemburkan kekuatan maksimum 380 tenaga kuda pada 2200rpm. Sementara torsi maksimum yang dihasilkan oleh mesin enam silinder ini adalah 1500Nm/1400-1600rpm. “Memang, dibandingkan dengan yang berbahan bakar solar, truk berbahan bakar gas memiliki torsi lebih rendah 15 persen. Namun, pada jalanan rata hal tersebut tidak menjadi masalah lantaran momen puntir hanya digunakan pada saat tanjakan,” Gani menjelaskan.
Hadir dengan 12 transmisi dengan 2 reverse, CAMC 380HP memberikan keleluasaan bagi operator untuk berakselerasi. Sementara front axle kendaraan ini memiliki kapasitas 7,5 ton dan drive axle maksimum mencapai 16 ton. “Lantaran menggunakan CNG, CAMC 380HP masuk kategori kendaraan ramah lingkungan dan sudah memenuhi standar emisi gas buang Euro 4. Di samping itu, karena menggunakan gas, tentu saja biaya operasional kendaraan ini lebih murah ketimbang kendaraan yang menggunakan jenis bahan bakar lain,” pungkas Gani. EQ

















