27 C
Jakarta
21 Sep, 2021.

Pasar Makin Kuat, Apa Ambisi Global Sany Excavator?

Sany Heavy Machinery (Excavator) berambisi untuk terus mengembangkan mesin-mesin konstruksi yang pintar, otonom dan makin ramah lingkungan yang menjadi tren industri ini pada masa mendatang.

Salah satu produk Sany Excavator. Foto: Sany Indonesia

Sany tampil makin gemilang di panggung industri alat berat dunia dan menjadi juara di negeri asalnya. Dalam daftar Forbes Global 2000 untuk tahun 2021, pabrikan ini menduduki peringkat ke-468, menempati peringkat pertama di antara produsen-produsen Cina dan kedua di dunia setelah Caterpillar.

Daftar tahunan itu memeringkatkan 2.000 perusahaan publik terbesar di dunia menggunakan ukuran-ukuran seperti penjualan, keuntungan, aset, dan nilai pasar. Dalam Yellow Table 2020, peringkat OEM terbesar dunia berdasarkan penjualan versi International Construction – dengan jenis excavator sebagai alat berat yang paling banyak dibeli secara global, Sany bergerak naik dari posisi lima tahun sebelumnya  ke nomor empat.

Presiden Sany Heavy Machinery (Excavator), Yu Hong Fu, saat diwawancarai oleh Andy Brown dari International Construction (26/7/2021) berbicara tentang penjualan excavator global, peralatan elektrik,  mesin-mesin otonom serta ambisi global Sany. 

Presiden Sany Heavy Machinery (Excavator), Yu Hong Fu. Foto: International Construction

Yu Hong Fu bercerita tentang penjualan excavator Sany yang sangat substansial tahun lalu ketika dunia sedang mengalami pandemi Covid-19. Divisi excavator Sany mencatatkan penjualan lebih dari 98,000 unit. Meski sekitar 90 persen dari penjualan itu berasal dari dalam negeri Cina sendiri, namun Yu menyatakan bahwa perjualan yang terus meningkat di pasar-pasar luar negeri menjadi area kunci untuk bisnis alat berat, khususnya excavator.

 “Di pasar-pasar luar negeri, tidak termasuk Cina, Sany telah meningkatkan penjualan 80 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pasar nomor satu Cina di luar negeri adalah India, dan untuk negara-negara AS dan Eropa pertumbuhan bisnisnya juga berjalan sangat bagus,” ujarnya.

Peningkatan penjualan sebesar 80% jelas merupakan pertumbuhan yang substansial, meski levelnya masih relatif rendah. Dia memperkirakan secara keseluruhan kontribusi penjualan luar negeri kepada Sany Group hanya sekitar 10%.

Yu menambahkan, “Untuk menjadi perusahaan terkemuka yang mendunia, kami harus meningkatkan penjualan dari pasar-pasar luar negeri. Produk kami menjadi makin populer dan lebih diterima oleh para customer dari pasar-pasar luar negeri. Membuat produk-produk yang berkualitas baik telah menjadi fondasi kami, ini adalah dasar kami untuk semuanya.”

Fu juga mengklaim bahwa saat ini excavator Sany sudah menjadi pemain terbesar di pasar Asia Tenggara, seperti di Indonesia dan Thailand. Di luar itu, dia menyebut empat pasar strategis lain yang dibidik Sany: Australia, Jepang, kawasan Eropa dan Amerika Utara.

Tetapi terdapat banyak tantangan yang dihadapi Sany dalam  menjadi perusahaan global. Untuk meningkatkan penjualan di pasar-pasar di seluruh dunia, pabrikan ini harus mengadaptasi produk-produknya ke berbagai peraturan emisi yang berbeda dan memenuhi permintaan pelanggan-pelanggan pasar. Apa yang diinginkan para pelanggan di UEA, kata Yu, akan sedikit berbeda dengan apa yang diinginkan oleh pasar-pasar di Argentina, Kanada, dan/atau Jerman, misalnya.

“Tuntutan-tuntutan para pelanggan di berbagai negara dan wilayah di seluruh dunia bervariasi. Yang dapat dilakukan Sany adalah menggunakan kemampuan R&D kami yang kuat untuk memenuhi berbagai persyaratan dari seluruh dunia,” kata Yu.

“Kami ingin menyediakan produk-produk dengan berbagai pilihan bagi para pelanggan, sehingga mereka dapat memilih apa yang mereka inginkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik mereka sesuai aplikasi-aplikasi yang beragam.”

Untuk mewujudkan ambisi besarnya itu, penjualan Sany harus terus meningkat di pasar-pasar di seluruh dunia. Namun, karena kondisi pasar yang tidak menentu di berbagai belahan dunia saat ini, Sany tetap  lebih fokus menggarap pasar domestik Cina mengingat tingginya kebutuhan peralatan berat untuk menopang pembangunan infrastruktur skala besar yang didorong oleh pemerintah.

Garap mesin listrik dan otonom

Sany melakukan investasi untuk mengembangkan mini excavator bertenaga listrik. Foto: Sany

Pada tahun 2020, ketika seluruh dunia mengalami penurunan penjualan karena dampak pandemi, penjualan alat berat di Cina justru semakin meningkat dari kondisi  yang kuat pada 2019.

Tetapi, tidak dipungkiri bahwa terdapat kekhawatiran jika konstruksi di Cina akan mengalami penurunan dari lonjakan luar biasa yang sedang terjadi saat ini. Cina telah mengalami penurunan substansial setelah menorehkan pencapaian tertinggi sebelumnya, namun ekspektasi saat ini adalah bahwa penurunan apa pun akan lebih mulus dari apa yang kita lihat sebelumnya.

Yu, kepada International Construction, menyatakan keyakinannya tentang Cina yang akan tetap menjadi pasar yang sangat besar. “Dalam beberapa tahun ke depan tidak diragukan lagi bahwa pasar Cina akan tetap menjadi pasar yang sangat besar. Sudah menjadi sebuah tren di Cina bahwa mesin-mesin semakin populer untuk menggantikan tenaga manusia,” ujar Yu. Tren ini sebetulnya tidak hanya terjadi di negeri tirai bambu itu tetapi juga di banyak negara lainnya di dunia dewasa ini.

“Yang menjadi fokus utama kami selama dekade terakhir adalah membuat mesin-mesin kami lebih tahan lama dan dapat diandalkan, ini adalah faktor kunci. Tapi sekarang sangat penting untuk membuat mesin-mesin kami menjadi pintar.

Menurut Yu, seluruh tim R&D dari Sany telah menghabiskan banyak upaya untuk memformulasikan bagaimana membuat excavator-excavator canggih dan bagaimana menerapkan lebih banyak perangkat telematika pada mesin-mesin itu untuk membuat mereka makin pintar.

“Kami juga telah berupaya keras untuk memproduksi mesin-mesin listrik yang seratus persen bertenaga listrik dan mesin-mesin otonom. Di pasar-pasar yang sudah maju, Anda akan segera melihat excavator-excavator Sany yang bertenaga listrik dan otonom.”

Yu mengklaim Sany sudah punya teknologi untuk excavator berpenggerak otonom. Namun, ini lebih pada persoalan tentang bagaimana teknlogi itu akan diterapkan, serta menentukan titik harga dan nilai yang tepat bagi para pelanggan.

Menyasar tujuan dekarbonisasi ’30·60′ Cina

Mayoritas mini excavator Sany dijual di China, meski penjualan di pasar-pasar luar negeri kini semakin naik.

Salah satu mega tren dunia sekarang ini adalah keberlanjutan (sustainability). Seiring dengan kebijakan pemerintah Cina yang terus mendorong isu sustainability, produsen-produsen alat Cina dapat memainkan peran kunci dalam mengembangkan peralatan bertenaga listrik, yang diprediksikan akan semakin populer pada masa mendatang.

Yu mengacu pada kebijakan dekarbonisasi ’30-60′ pemerintah Cina sebagai pendorong utama di balik perusahaan-perusahaan yang menginvestasikan lebih banyak waktu, uang, dan sumber daya dalam mengembangkan peralatan listrik.

Inti dari kebijakan tersebut adalah komitmen pemerintah Cina untuk menekan emisi karbon pada tahun 2030, dan Cina akan bebas karbon pada tahun 2060.

Saat ini Cina merupakan penghasil karbon terbesar di dunia, dan itu sebabnya kebijakan mengurangi karbon harus direalisasikan. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa pemerintah Cina memprioritaskan dan mendorong pengembangan peralatan berat yang bertenaga listrik.

Sebagai perbandingan, pasar mobil listrik cukup besar di Cina. Sekitar 1,3 juta mobil listrik terjual, sekitar 40% dari total pasar global, pada tahun 2020.

“Untuk produk-produk listrik, kami memiliki fondasi yang sangat kuat di Cina untuk membangun mesin jenis ini. Industri tenaga listrik di Cina memiliki fondasi yang baik. Industri mobil di Cina telah memberi banyak dukungan kepada kami. Jadi, kami bekerja sama dengan industri mobil dan melihat perkembangan mereka,” Yu menambahkan.

Melihat ke masa depan, ia mengklaim – seperti terjadi di banyak pasar di seluruh dunia – terjadi kekurangan operator terampil di Cina, dan itu sebabnya tahun depan Sany akan meluncurkan berbagai produk untuk mempermudah pekerjaan para operator. Upaya ini akan meliputi Artificial Intelligence (AI), yang mempelajari kebiasaan-kebiasaan operator dan membantu mereka memilih opsi yang tepat.

Selanjutnya, pada masa mendatang, Yu mengatakan Sany membayangkan lokasi-lokasi kerja yang saling terhubung di mana mesin-mesin berbicara satu sama lain dan bekerja secara mandiri, meskipun hal itu masih jauh dari kenyataan.

Yu menyimpulkan, untuk excavator otonom dan yang bertenaga listrik, tidak diragukan lagi bahwa keduanya sudah menjadi tren. “Seluruh industri sedang menuju ke arah ini, tetapi sejauh mana kita perlu waktu untuk melihatnya,” pungkasnya. @

Related posts