25.9 C
Jakarta
Apr 2, 2020.
Aftermarket Top News

Shell Tambah Kapasitas Produksi Pabrik Pelumas

Wabah Coronavirus (Covid-19) yang sedang menghantui seluruh umat manusia di bumi saat ini tak menyurutkan Shell Indonesia untuk merealisasikan komitmen investasinya di Indonesia. Dalam suasana was-was menghadapi penyebaran Coronavirus di Indonesia, Kamis (12/3) lalu, perusahaan asal Belanda ini memulai peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Lubricant Oil Blending Plant atau LOBP di kawasan Marunda, Bekasi, Jawa Barat.

Ini merupakan proyek perluasan atau peningkatan kapasitas pabrik eksisting saat ini yang sudah berdiri sejak 2015 lalu di lahan seluas 7,5 hektar. Pabrik yang ada ini memiliki kapasitas produksi sebesar 136 juta kiloliter (kl) pelumas per tahun. Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat dari tahun ke tahun, Shell meningkatkan kapasitas pabrik yang ada menjadi 300 juta kl per tahun. Luas pabrik pun bertambah menjadi 9 hektar.

Pada kesempatan peletakan batu pertama ini hadir langsung Carlos Maurer selaku Executive Vice President Shell Global Commercial. Turut hadir juga pimpinan Shell Indonesia, Dian Andyasuri. Sementara Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian, Muhammad Khayam, mewakili unsur pemerintah.

Carlos dalam sambutannya maupun sesi konferensi pers dengan media berulang kali mengungkapkan bahwa bagi Shell investasi ini sangat strategis dan penting. Hal itu tak lain karena Indonesia, menurut dia, merupakan pasar pelumas yang legit. Dengan pertumbuhan ekonomi agresif yang didukung oleh jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 250 juta dan pertumbuhan kelas menengah yang tinggi, Indonesia, menurutnya, merupakan “pasar yang menjanjikan” untuk industri pelumas.

Bagi Shell, Indonesia adalah salah satu pasar kunci, selain China dan India, untuk produk pelumas. “Ini karena Indonesia adalah salah satu dari 10 pasar pelumas terbesar di dunia, satu dari lima pasar pelumas terbesar di Asia, dan pasar pelumas terbesar di Asia Tenggara,” ujarnya.

Dian Andyasuri, President Director & Country Chair Shell Indonesia, menambahkan peningkatan kapasitas produksi dilakukan karena Shell percaya dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang didukung oleh populasi yang besar. “Kami berkomitmen untuk terus berada di Indonesia, terus tumbuh di Indonesia dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia,” ujarnya.

Terkait nilai investasi untuk pengembangan proyek ini, baik Carlos maupun Dian, tidak bersedia mengungkapkannya. Carlos mengatakan yang pasti ini adalah investasi yang sangat strategis dan sangat penting bagi Shell. Sedangkan Dian mengatakan nilai investasi baru akan disampaikan saat proyek perluasan kapasitas ini sudah beroperasi komersial. Proyek ini sendiri diperkirakan akan memakan waktu dua tahun. “Kalau sudah selesai kita akan ceritakan,” ujar Dian.

Pemerintah mengapresiasi peningkatan kapasitas produksi pabrik pelumas Shell ini. Muhammad Kayam yang mewakili Menteri Peridustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sambutannya mengatakan industri pengolahan non migas tumbuh sebesar 4,34% pada tahun 2019 lalu. “Sektor industri pengolahan masih menjadi penggerak utama perekonomian nasional dengan kontribusi mencapai 19,7%. Dimana 17,58% merupakan kontribusi industri pengolahan non migas,” ungkapnya.

Menurutnya, daya tarik investasi di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami perbaikan yang terlihat dari indikator Ease of Doing Business yang dirilis oleh Bank Dunia. “Dalam laporan Doing Business 2020 yang dirilis oleh Bank Dunia indonesia meraih indeks 69,6 atau naik 1,64 dibandingkan tahun 2019. Kenaikan ini juga sedikit lebih tinggi dari kenaikan indeks tahun sebelumnya (2018) sebesar 1,42,” ujarnya.

Kayam mengugkapkan saat ini terdapat 44 perusahaan pelumas di Indonesia dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 2 juta kl per tahun. Sedangkan tingkat produksi per tahun sebesar 908.360 kl. Sekitar 781.000 di antaranya adalah pelumas untuk otomotif, sedangkan 127.000 kl lainnya pelumas industri.

Untuk melindungi konsumen dan menciptakan persaingan usaha yang sehat, Kayam mengatakan Kementerian Perindustrian telah memberlakukan Standar Nasional Indonesia pelumas secara wajib. “Kementerian Perindustrian sangat mengapresiasi PT Shell Indonesia yang telah berhasil memperoleh sertifikat produk pengguna standar nasional Indonesia untuk seluruh varian produk pelumas otomotif dan berhak membubuhkan tanda SNI pada label produk pelumas,” ujarnya.

Tiga produk pelumas dari Shell yaitu Argina (pelumas untuk mesin diesel berkecepatan medium), Rimula (pelumas untuk mesin diesel heavy duty) dan Tellus (pelumas untuk peralatan hidrolik) mendapatkan sertifikat dari Kementerian Perindustrian karena telah memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang ditetapkan pemerintah.

47 total views, 1 views today

Related posts